Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Gema Masa Lalu
Di depan gerbang megah Markas Besar Dinasti Tianjian, suasana yang semula tenang mendadak berubah mencekam.
Han Li berdiri kaku, menatap tajam sosok bertopeng perak yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Udara di sekitar mereka terasa berat, seolah tekanan tak kasatmata sedang menekan lorong batu itu.
Tangannya bergerak pelan ke arah gagang senjatanya.
Bukan karena ia benar-benar berniat menyerang di tempat itu, melainkan karena naluri seorang panglima perang memaksanya untuk waspada.
Pria di depannya terlalu aneh.
Terlalu tenang.
Dan yang paling mengganggu adalah... pria itu berbicara seolah mengenalnya dengan sangat baik.
“Siapa kau sebenarnya?” desis Han Li dengan suara rendah namun tajam. “Kita jelas belum pernah bertemu, tapi caramu bicara seolah kau tahu banyak tentangku.”
Sosok bertopeng itu mengeluarkan tawa pendek dari balik topeng peraknya.
Tawa itu tidak keras.
Namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin dingin.
“Tentu saja aku mengenalmu, Panglima Han Li,” ucapnya pelan. “Bagaimanapun juga, namamu cukup terkenal... terutama setelah perang besar enam belas tahun yang lalu.”
Mendengar kalimat itu, sorot mata Han Li langsung berubah.
Tatapannya menjadi lebih tajam.
Sementara di sampingnya, Kaisar Chu Yu dari Dinasti Huangtu melangkah maju dengan wajah dingin.
“Cukup dengan permainan kata-kata ini,” katanya tegas. “Kalau kau memang punya hubungan dengan masa lalu itu, lepaskan topengmu sekarang juga.”
Ia menatap lurus ke arah pria bertopeng tersebut.
“Atau jangan-jangan...” suara Chu Yu merendah, “kau adalah Lu Feng yang ternyata masih hidup?”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu pria bertopeng itu sedikit memiringkan kepala, seolah mendengar sesuatu yang lucu.
“Bukankah Lu Feng sudah dibunuh oleh panglimamu sendiri?” katanya dengan nada mengejek. “Kalau begitu, bagaimana mungkin orang mati bisa berdiri di sini?”
Kalimat itu membuat wajah Han Li sedikit menegang.
Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.
Bukan hanya suaranya yang terasa familiar.
Tetapi juga tekanan aneh yang memancar dari tubuhnya.
Perasaan itu seperti luka lama yang mendadak dibuka kembali.
Sebelum ketegangan di antara mereka berubah menjadi keributan terbuka, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah dalam gedung.
Seorang prajurit elit Dinasti Tianjian datang dengan napas tertahan, lalu segera membungkuk hormat di depan mereka.
“Mohon maaf, Yang Mulia Kaisar sekalian,” ucapnya sopan. “Rapat Sepuluh Kaisar Benua Tian Zhu akan segera dimulai. Semua peserta dimohon segera memasuki aula utama.”
Suasana hening sejenak.
Chu Yu mengalihkan pandangannya dari pria bertopeng itu, lalu mendengus pelan.
“Keberuntunganmu cukup baik hari ini,” katanya dingin.
Pria bertopeng itu tidak menjawab.
Ia hanya berdiri diam, seolah ancaman seperti itu tidak berarti apa-apa baginya.
Akhirnya, ketiganya melangkah masuk ke dalam gedung pertemuan paling sakral di benua tersebut, masing-masing membawa pikiran dan kecurigaan mereka sendiri.
Namun jauh di dalam hati Han Li, satu pertanyaan terus bergema tanpa henti—
siapa sebenarnya pria di balik topeng perak itu?
Desa Jianxin
Sementara itu, jauh dari intrik politik para kaisar, suasana di Desa Jianxin jauh lebih tenang.
Langit siang terlihat cerah.
Angin lembut berembus melewati pepohonan di sekitar rumah Ye Ruoxi, membawa aroma tanah dan dedaunan yang menenangkan.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar sampai ke hati Cang Li.
Pemuda itu duduk sendirian di halaman rumah, menunduk sambil menatap kosong ke arah tanah.
Tangannya beberapa kali menyentuh lehernya secara refleks.
Setiap kali ia melakukannya, rasa hampa yang sama kembali muncul.
Kalung perak bertuliskan Yel Feng yang selama ini selalu menggantung di lehernya kini telah hilang.
Dan entah kenapa, hilangnya benda itu terasa seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar peninggalan lama.
“Masih memikirkan kalung itu?”
Suara santai tiba-tiba terdengar dari samping.
Cang Li mengangkat kepala.
Seorang pemuda sebaya sedang berjalan mendekat sambil mengunyah keripik dengan suara berisik tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Rambutnya sedikit berantakan, langkahnya santai, dan ekspresinya seperti orang yang tidak pernah punya beban hidup.
Dia adalah Dao Yan.
Teman masa kecil Cang Li.
Salah satu dari sedikit orang yang selamat dari tragedi kebakaran Sword Academy.
“Dao Yan...” gumam Cang Li pelan. “Ada perlu apa kau ke sini?”
Dao Yan berhenti di depannya lalu mengangkat bahu santai.
“Tidak ada urusan besar,” jawabnya ringan. “Aku cuma bosan melihat wajahmu yang suram terus sejak kejadian di bukit itu.”
Cang Li menghela napas pelan.
“Aku baik-baik saja.”
“Bohong.”
Jawaban Dao Yan datang terlalu cepat.
Ia langsung duduk di samping Cang Li tanpa izin, masih mengunyah keripik dengan santai.
“Orang yang baik-baik saja biasanya tidak menatap tanah seperti sedang mencoba berbicara dengan semut.”
Cang Li menatapnya datar.
“Ucapanmu tidak membantu.”
“Tapi setidaknya berhasil membuatmu menjawab.”
Cang Li terdiam.
Dao Yan tersenyum kecil, lalu menepuk lututnya sendiri.
“Ayo, ikut aku keliling desa.”
“Tidak mau.”
“Kau bahkan belum mendengar alasannya.”
“Aku tetap tidak mau.”
Dao Yan menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas berlebihan seperti seorang aktor panggung yang gagal mendapat perhatian.
“Baiklah,” katanya sambil berdiri. “Kalau begitu aku akan berjalan sendiri sambil makan jajanan enak, melihat para pedagang cantik di pasar, dan mungkin mendengar rumor-rumor menarik tentang turnamen besar nanti.”
Cang Li sedikit mengernyit.
Dao Yan diam-diam melirik reaksi itu, lalu melanjutkan dengan nada sok santai.
“Ah iya, katanya ada penjual daging bakar baru juga. Baunya luar biasa. Sayang sekali kalau ada orang yang terlalu murung untuk menikmatinya.”
Cang Li memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang.
“...kau benar-benar menyebalkan.”
Dao Yan langsung tersenyum lebar.
“Itu artinya kau ikut?”
Cang Li bangkit perlahan.
“Hanya sebentar.”
“Bagus! Itu baru teman yang waras.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Cang Li untuk berubah pikiran, Dao Yan langsung berjalan lebih dulu sambil melambai seenaknya.
Dengan ekspresi pasrah, Cang Li pun akhirnya mengikutinya.
End Chapter 13