CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESALAHPAHAMAN YANG FATAL
Malam semakin larut. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat. Suasana di dalam rumah yang tadi sempat panas karena kedatangan Dika, kini berubah menjadi hening yang mencekam.
Giovani duduk di kursi kerjanya, memunggungi ruangan. Punggungnya tegak kaku, bahunya terlihat menahan beban yang berat. Sejak tadi, dia tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Tidak ada tawa, tidak ada omelan, bahkan tidak ada suara napas yang terdengar jelas.
Ayunda yang duduk di ujung sofa, mulai merasa gelisah. Jantungnya berdegup tidak karuan. Dia tahu Gio pasti masih emosi, tapi diamnya Gio ini jauh lebih menakutkan daripada kalau dia marah-marah.
"Gio..." panggil Ayunda pelan, suaranya terdengar ragu. "Lo... kenapa sih dari tadi diem aja? Marah ya? Ya udah kan Dika nya udah pergi. Tangan lo juga udah aku obatin, kan?"
Giovani tidak menjawab. Dia tidak berbalik. Dia hanya menatap kosong ke dinding yang gelap, seolah sedang beradu argumen dengan pikirannya sendiri.
"Gio..." Ayunda berdiri perlahan, melangkah mendekat ke belakang cowok itu. "Jangan diem dong gini. Ngeri tau gak. Ngomong dong apa yang lo rasain."
Perlahan, Gio mulai berbalik. Gerakannya lambat, berat, dan penuh tekanan.
Ketika wajahnya terlihat, Ayunda langsung tertegun.
Wajah Gio datar, tanpa ekspresi. Tapi matanya... matanya menatap Ayunda dengan tatapan yang sangat dingin, tajam, dan penuh kekecewaan yang mendalam. Tatapan yang belum pernah Ayunda lihat sebelumnya selama mereka menikah.
"Kamu tanya kenapa?" suara Gio keluar rendah, datar, tapi setiap katanya terasa seperti pisau yang menusuk. "Aku cuma mikir... apa benar semua kata-kata Dika tadi?"
Ayunda mengernyitkan dahi, bingung dan mulai merasa tidak enak hati. "Kata apa? Dia kan cuma ngomong omong kosong semua Gio. Lo tau kan orang kayak dia emang suka ngarang."
"Dia bilang..." Gio menarik napas panjang, seolah menahan amarah yang mau meledak. "Dia bilang... kamu masih sayang sama dia. Dia bilang... kamu nikah sama aku cuma karena terpaksa. Karena perintah orang tua. Karena kamu emang dasarnya cewek yang gampang nyerah sama keadaan."
Gio melangkah maju selangkah, membuat jarak di antara mereka semakin dekat dan semakin menekan.
"Dan yang paling bikin aku sakit... dia bilang, kamu masih sering chat dia. Kamu cerita tentang aku yang kaku ini. Tentang aku yang banyak aturan. Tentang aku yang membosankan. Kamu bandingin aku sama dia, dan bilang kalau hidup kamu bakal lebih bahagia kalau sama dia."
JLEB!
Seperti disambar petir di siang bolong, tubuh Ayunda langsung kaku. Matanya membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"APA?!" bentak Ayunda, suaranya pecah menahan emosi. "DIA BILANG GITU?! ITU SEMUA BOHONG GIO! BOHONG BESAR! LO GILA YA PERCAYA SAMA OMONGAN SAMPAH DIA?!"
"BUKTI MANA KALAU ITU BOHONG?!" Gio akhirnya meledak juga. Suaranya meninggi, menggema di ruangan yang luas itu. "SELAMA INI KAN EMANG BENAR AKU KAKU! AKU BANYAK ATURAN! AKU SERING BIKIN KAMU KESEL! WAJAR DONG KALAU KAMU CARI PELAMPIASAN CERITA KE DIA! WAJAR DONG KALAU KAMU BANDING-BANDINGIN AKU SAMA DIA YANG KATANYA LEBIH ASIK DAN BISA NGAERTI KAMU!"
"GILA LO YA GIO! GILA TOTAL!" Ayunda tidak mau kalah. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, campuran antara marah dan sakit hati yang luar biasa. "GUE KIRA LO BEDA! GUE KIRA LO ITU ORANG YANG PALING NGERTI GUE! GUE KIRA LO PERCAYA SAMA GUE! TERNYATA SAMA AJA! LO JUGA SAMA KAYAK ORANG LAIN YANG GAMPANG DIADU DOMBA, GAMPANG PERCAYA OMONGAN ORANG LAIN TANPA MAU DENGER PENJELASAN GUE DULUAN!"
"TERUS MAU DENGER PENJELASAN APA LAGI?!" Gio memotong keras. "SITUASINYA UDAH JELAS KAN YUN! DIA ITU MANTAN PACAR KAMU! DIA ORANG YANG PERNAH ADA DI HATI KAMU! MANA TAU KAN SELAMA INI KAMU MASIH SIMPAN RASA SAMA DIA?! MANA TAU KAN KAMU NIKAH SAMA AKU ITU CUMAN ALASAN KARENA GAK ADA PILIHAN LAIN?!"
"SUDAH CUKUP!!"
Teriak Ayunda sekuat tenaga, memotong ucapan Gio dengan suara yang bergetar hebat. Dadanya naik turun, napasnya memburu, dan air mata akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Menetes membasahi pipinya dengan deras.
"Lo tau nggak sih Gio... sakit banget rasanya. Sakit banget denger suami sendiri ngomong gitu ke gue." Ayunda bicara pelan tapi penuh penekanan, suaranya terdengar hancur. "Gue pikir selama ini kita udah bangun rasa percaya. Gue pikir lo udah kenal gue siapa. Gue pikir lo tau kalau gue udah berubah demi lo..."
Ayunda mundur perlahan, menjauh dari Gio. Tatapannya berubah dari marah menjadi kecewa yang sangat dalam.
"Oke... kalau lo pikir gue masih sayang sama dia. Kalau lo pikir gue nikah sama lo karena terpaksa. Kalau lo pikir gue masih ngomongin lo di belakang..."
Ayunda mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan.
"...yasudah. Mungkin emang bener kata orang, cinta itu gak bisa dipaksakan. Dan mungkin... kita emang beda dunia banget sampai gak bisa saling percaya satu sama lain."
"Ayunda..." Melihat air mata itu jatuh, hati Gio tersentak hebat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, tapi gengsi dan amarahnya masih terlalu besar untuk dia akui.
"Gue capek Gio. Capek di salah paham. Capek di tuduh seenaknya. Capek berusaha dimengerti tapi ujung-ujungnya gue yang salah."
Ayunda menatap Gio sekali lagi, tatapan itu kosong dan lelah.
"Malam ini... gue mau tidur di kamar tamu aja. Kita butuh jarak. Biar lo tenang mikirin omongan Dika itu, biar gue juga tenang nenangin hati gue yang lagi hancur ini."
Tanpa menunggu jawaban, tanpa menoleh lagi, Ayunda langsung berbalik badan dan berjalan cepat menuju tangga. Bahunya terlihat gemetar hebat menahan isak tangis yang tertahan.
TAP... TAP... TAP...
Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh, hingga akhirnya terdengar suara pintu yang ditutup dengan cukup keras.
DUG!
Suara itu bergema, seolah menandakan sebuah tembok besar yang tiba-tiba berdiri di antara mereka berdua.
Giovani berdiri mematung di tengah ruangan yang kini terasa sangat sepi dan gelap.
Hening.
Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas.
TIK... TOK... TIK... TOK...
Perlahan, amarah di wajahnya mulai memudar. Digantikan oleh kepanikan dan penyesalan yang luar biasa.
Dia menepuk jidatnya sendiri dengan keras berkali-kali.
BRUK! BRUK! BRUK!
"Sialan! Sialan! Apaan sih yang gue omongin tadi?!" bisiknya pada diri sendiri, suaranya terdengar putus asa.
Gio menyadari semuanya. Dia sadar dia cuma terbawa emosi. Dia sadar dia cuma cemburu buta. Dia takut kehilangan Ayunda, takut kalau-kalau apa yang dikatakan Dika itu benar, jadi dia malah melampiaskan rasa takutnya dengan cara yang salah. Dia malah menyakiti orang yang paling dia sayang.
"Yun... maafin aku. Maafin aku Yun..." tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. "Aku gak bermaksud gitu. Aku cuma takut... aku cuma takut kehilangan kamu."
Tapi semuanya sudah terlambat.
Pintu kamar tamu sudah tertutup rapat. Kunci diputar dari dalam.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah... mereka tidur terpisah.
Dan malam ini juga, sebuah kesalahpahaman kecil yang dipicu oleh kecemburuan, hampir menghancurkan segalanya.