Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Arasi Bisa Berubah.
Hari demi hari ternyata kondisi Shafiya sudah jauh lebih membaik daripada sebelumnya, kondisinya terlihat begitu tenang, hubungannya dengan Arash juga tampak membaik.
Arash memperlakukannya dengan baik, tidak pernah mengungkit dendam, masa lalu dan bahkan tidak pernah membentaknya.
Arash sangat menjaga Shafiya, meski Arash memiliki kesibukan di kantornya, tetapi Arash terus aja memberi perhatian melalui Bibi yang dia percaya, tetapi setiap Nenek membahas hal itu dan Arash terlihat gengsi dan tidak mengakui bahwa dia sebenarnya memiliki niat untuk memperbaiki rumah tangga Shafiya.
Nenek juga memilih untuk membiarkan Arash melakukan apapun yang bisa membuat istrinya nyaman dan memang lebih baik untuk dia tidak ikut campur terlalu banyak.
Arash membuka pintu kamar setelah baru saja pulang dari kantor. Arash melihat Shafiya duduk di sofa dengan ponsel terus berdering di atas meja.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Arash.
Selama sakit Shafiya memang tidak pernah memegang ponselnya dan mungkin ponsel itu juga lowbat dan entahlah sudah berapa banyak orang yang menghubunginya tanpa dia sadari.
Sampai akhirnya Shafiya kembali menghidupkan ponselnya karena memang kesadarannya dan kejiwaannya sudah membaik.
"Hmmm, Abi yang menelpon," jawabnya dengan gugup.
Wajahnya terlihat takut ketika mengatakan hal seperti itu kepada suaminya.
"Lalu kamu tidak ingin mengangkat telepon dari orang tuamu?" tanya Arash dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Bolehkah?" tanya Shafiya ternyata takut jika Arash marah.
"Silahkan!" jawab Arash tidak mempermasalahkan hal itu.
Letisha menganggukkan kepala dengan mengangkat telepon tersebut pada akhirnya. Wajahnya terlihat berseri dan senyum yang lama hilang itu kembali membuat Arash tiba-tiba saja mendengus tersenyum
Melihat istrinya tersenyum membuatnya seketika menjadi senang, energi istrinya mengalir padanya yang membuat rasa lelahnya berkurang.
****
Arash berada di dalam kamar di atas ranjang tidur bersama dengan Shafiya yang mana Shafiya berbantalkan lengan Arash dengan posisi tubuhnya berbaring miring menghadap suaminya yang terlihat berbaring lurus.
Kedekatan mereka memang sudah seperti pasangan suami istri pada umumnya, sudah tidak pernah membahas masa lalu dan sudah tidak terlihat lagi dendam Adam untuk Shafiya dan mungkin Adam menyadari bahwa tidak seharusnya Shafiya yang menjadi korban.
Dratt-dratt-dratt.
Arash mengerutkan dahi ketika mendengar suara ponsel berdering cukup keras mengganggu tidurnya, sampai membuat Arash menghela nafas, mau tidak mau harus mengangkat telepon tersebut dengan meraba nakas.
Belum mengangkatnya Arash melihat panggilan telepon itu dari Kanaya. Arash kesulitan menelan ludah, sudah cukup lama dia tidak berkomunikasi dengan wanita yang dia janjikan akan dia nikahi itu.
Arash memiliki kesibukan bersama dengan Shafiya dan sudah sepantasnya Arash harus mendahulukan istrinya dibandingkan yang lain.
Tidak ingin mengganggu Shafiya dan takut sang istri terbangun membuat Arash akhirnya mengangkat telpon tersebut. Tetapi mengangkat dengan turun dari ranjang setelah memastikan bahwa Shafiya tidak bangun.
"Ada apa?" tanya Arash mengangkat telepon tersebut di teras kamar yang berdiri di pinggir pagar.
"Kenapa kamu sulit sekali untuk dihubungi? Surat perceraianku dengan suamiku sudah keluar dan kami sudah sah bercerai melalui hukum," ucap Kanaya memberikan informasi kepada Arash.
"Lalu?" tanya Arash.
"Lalu bukankah kamu harus secepatnya menikah denganku? Aku sedang mempersiapkan rangkaian pernikahan yang kamu inginkan. Mungkin minggu depan kita akan bisa kembali menikah setelah menundanya sampai hampir 1 bulan," ucap Kanaya ternyata digantung oleh Arash dengan penundaan pernikahan itu.
"Kamu tidak perlu melanjutkan persiapan pernikahan itu. Aku tidak akan melanjutkan pernikahan dengan kamu, aku membatalkan semuanya," ucap Arash dengan keputusannya.
"Apah!" pekik Kanaya benar-benar kaget.
"Kamu tidak akan melanjutkan pernikahan kita?" tanya Kanaya lagi.
"Aku pikir kamu tidak tuli dan bisa mendengar pernyataan yang aku berikan. Aku tidak akan melanjutkan pernikahan kita berdua dan hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Jangan pernah menghubungiku dan sampai muncul di hadapanku, masalah kita berdua sudah selesai!" tegas Arash.
"Apa-apaan kamu Arash, kamu yang membujukku untuk menikah denganmu, aku sudah meninggalkan keluargaku dan bahkan sudah bercerai dan sekarang kamu tiba-tiba membatalkan pernikahan ini!" Kanaya tidak terima dengan semua keputusan Arash.
"Kanaya kamu jangan menyalahkanku! Bukan salahku jika kamu tertarik kepadaku dan memiliki impian, halusinasi untuk menikah denganku, jika kamu sudah terlanjur meninggalkan keluargamu dan juga suamimu, itu bukan urusanku, aku tidak bisa diatur dan tidak ada yang bisa mengubah keputusanku untuk tidak jadi menikah denganmu!" tegas Arash
"Tidak bisa Arash, kamu tidak bisa melakukan semua ini kepadaku! Kamu harus menikah denganku. Bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya jika aku sudah meninggalkan semuanya dan kamu juga meninggalkanku?" tanya Kanaya.
"Aku tidak akan mengulangi kalimatmu, aku tidak akan menikah denganmu, tinggallah di apartemen sampai sewanya habis dan setelah pembayaran sewanya habis, kamu bisa meninggalkan apartemen tersebut atau melanjutkan pembayarannya tanpa melibatkanku!" tegas Arash dengan keputusannya dan langsung mematikan panggilan telepon tersebut secara sepihak.
Arash menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, sepertinya dia cukup merasa lega dengan keputusan yang dia buat dan tidak menyangka jika dia bisa mengambil keputusan itu untuk mengakhiri hubungan gilanya dengan Kanaya.
Arash membalikan tubuh dan cukup kaget keberadaan Shafiya hanya sekitar beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Shafiya....!" lirih Arash berjalan menghampiri Shafiya dengan memegang pipi Shafiya.
"Kamu terbangun karena suaraku terlalu keras?" tanya Arash.
Shafiya menganggukkan kepala.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu tidur lagi," ucap Arash tiba-tiba saja menggendong Shafiya ala bridal style.
Shafiya mengalungkan tangannya di leher suaminya dan menatap suaminya yang berjalan membawanya menghampiri ranjang dengan membaringkan di atas tempat tidur secara berhati-hati.
"Tidur lagi!" ucap Arash dengan posisi yang sangat dekatnya dengan Shafiya. Mata mereka berdua saling menatap. Arash mencium lembut kening Shafiya membuat Shafiya memejamkan mata sampai akhirnya kecupan itu terlepas.
"Aku tadi mendengar kamu berbicara lewat telepon dan apakah itu Kak Kanaya?" tanya Shafiya memastikan.
"Benar! Dia menghubungiku dan menuntut pernikahan denganku, aku tiba-tiba saja berubah pikiran untuk tidak menikah dengannya," jawab Arash.
Entah mengapa Shafiya sangat bahagia mendengar pernyataan itu, terlihat wajahnya tampak berseri dengan senyum tipis.
"Kenapa?" kamu senang aku tidak menikah dengannya?" tanya Arash.
Shafiya mengangguk jujur, "baiklah kalau begitu jangan memikirkan apapun, besok aku ingin mengajakmu ke rumah kedua orang tuamu, bukankah kamu sudah lama tidak bertemu dengan mereka," ucap Arash.
"Aku akan bertemu dengan Umi dan Abi?" tanyanya memastikan.
"Iya. Kamu akan bertemu dengan mereka," jawab Arash.
Shafiya terlihat begitu bahagia, Shafiya tidak menyangka jika Arash benar-benar berubah menjadi laki-laki lembut, laki-laki penuh dengan ketulusan yang membuatnya nyaman dan tidak takut pada suaminya itu.
Bersambung.......