NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak dan Tak Bisa Berbuat Banyak

“Ah, kenapa jadi kacau balau kayak gini, sih?!” Sean menggeram kesal di kamar mandi sambil menyalakan pancuran air agar suaranya tidak terdengar oleh Vera yang berada di luar. “Sial! Maju kena mundur pun kena.”

Selama hidupnya baru kali  ini Sean merasa gamang. Sekarang dia sama dengan sedang berjudi.

Nasibnya ditentukan dari sejauh mana dia bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk mengontrol gairahnya.

Ini seperti Vera sedang menguji kesungguhan cinta Sean, dia sengaja melakukan hal itu untuk melihat sejauh apa Sean mampu bertahan dari godaan perempuan di luar sana. Atau secara kasar sedang menguji kesetiannya. Yang jadi masalah besar bagi Sean adalah dia sulit untuk bisa menahan diri jika melihat gadis cantik yang memiliki lekuk tubuh sempurna.

Gairahnya akan menggelora, melumpuhkan kesadaran dan akal sehatnya. Itu adalah kelemahan terbesar yang dimiliki Sean.

“Huh! Kalau begini keadaannya, mau nggak mau aku harus  mencari cara supaya Christaly benci dan sebal padaku. Ya, dengan begitu dia nggak akan mau dekat-dekat denganku,” kata Sean pada dirinya sendiri.

“Tapi, sialnya aku sudah mengambil langkah yang salah di awal. Ahh!” Sean mengacak-acak rambutnya sambil mengerang frustrasi karena merasa buntu.

Sean melangkah ke bawah pancuran yang airnya sedingin es. Dia membasahi sekujur tubuhnya dari puncak kepala hingga ujung kaki dengan air dingin berharap hal itu akan mengurangi rasa frustrasinya. Membantu dia sedikit lebih tenang.

Sambil menengadahkan wajahnya ke atas agar terkena air secara langsung, Sean memjamkan mata. Dia berusaha keras agar melihat apa yang sedang terjadi kepada dirinya dari sudut pandang yang lain, mencoba mencari pengalihan fokus agar dia tidak menjadi cemas dan tertekan. Sebab, dia harus menyelidiki kasus besar yang juga tidak boleh gagal.

“Coba lihat sisi baiknya, Sean. Kalau kamu bisa meyakinkan Vera kamu orang yang setia dan bisa diandalkan, kamu pasti akan bisa mendapat lampu hijau dari ibunya Vera. Kamu akan mendapatkan restu untuk menikahi anak gadis kesayangannya itu. Bayangkan, kamu akan menjadi bagian dari keluarga Adiguna yang terhormat itu. Kamu akan dihormati semua orang, disegani dan tentu saja kariermu pasti akan jauh lebih cemerlang dari nanti,” gumam Sean memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

“Christaly dia nggak semenarik yang kamu pikirkan. Dia gadis cerewet, menyebalkan dan sembrono. Kamu pasti bisa mengendalikan dirimu dan bertahan sampai akhir.”

“Sayang, cepetan dong! Kamu lama banget, sih!” terdengar suara Vera berteriak dari luar yang kemudian disusul oleh gedoran pintu.

“Sayang, ini sudah siang lho! Kalau kamu telat, kamu bakalan kejebak macet nanti.”

Sean mengecilkan pancuran mandinya lalu berseru, “Iya, Sayang. Aku sebentar lagi keluar.”

“Baju-baju semua sudah aku masukin ke koper.  Laptop, ponsel gengam, kaca mata, dokumen-dokumen penting dan obat-obatan aku masukkan ke ransel sesuai permintaanmu,” kata Vera.

“Iya, Sayang. Makasih banyak, ya,” sahut Sean sambil terburu-buru menyabuni seluruh tubuhnya yang telanjang bulat lalu membilasnya.

“Makasihnya nanti saja. Cepetan mandinya!”

“Iya, iya. Ini udah mau selesai, kok.”

“Ya udah, kalau gitu aku tunggu di bawah. Sekalian aku mau bicara sama Christaly.”

Setelah mengatakan itu terdengar suara langkah kaki Vera yang menjauh dari depan pintu kamar mandi. Kemudian terdengar suara pintu yang ditutup.

Mendengar Vera akan bicara dengan Christaly, Sean terburu-buru mengambil jubah kamar mandi, memakainya dan bergegas keluar.

Sean langsung turun ke bawah, berencana menguping pembicaraan antara Vera dengan Christaly. Sebab dia masih belum bisa tenang, terus kepikiran. “Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan di belakangku, aku harus memastikan nggak ada konspirasi.”

Ketika Sean sampai di depan pintu ruang kerja pribadinya terlihat pintu itu tertutup rapat. Dengan sangat hati-hati Sean menempelkan telinga pada celah kecil di daun pintu model lama itu. Berharap dia akan mendengar percakapan yang sedang berlangsung di dalam dengan lebih jelas.

Samar-samar dia memang mendengar Vera sedang bercakap-cakap dengan Christaly, tapi, sialnya Sean tidak bisa mendengar apa persisnya yang sedang mereka bicarakan. Hal ini membuat Sean menjadi gelisah, karena dia takut salah mengambil langkah.

“Sial! Kenapa mereka bicara di sofa itu, sih?! Kan aku jadi nggak bisa dengar apa-apa,” ujar Sean sambil mendengus kesal. “Kalau aku nggak bisa tahu apa yang lagi Vera dan Christaly bicarakan di dalam, aku jadi nggak bisa mengira-ngira apa sebenarnya yang Vera inginkan. Aku harus mencari cara supaya bisa menguping.”

Tanpa banyak berpikir lagi Sean langsung pergi ke dapur untuk mengambil kunci gudang. Ruangan di sebelah ruang kerjanya itu adalah gudang. Ada lubang ventilasi yang tersembunyi di belakang lukisan yang ada di dinding tepat di belakang sofa tempat Vera dan Christaly sedang duduk.

Setelah pintu gudang terbuka, Sean bergegas menuju ke arah lubang ventilasi. Dia mendekatkan telinganya ke lubang ventilasi itu dan mendengarkan secara saksama apa yang sedang dibicarakan kedua gadis di dalam ruangan sebelah sana. Pada saat itu, Sean mendengar Vera yang sedang bicara.

“Kamu nggak usah khawatir, Christaly. Aku  kan minta tolong ke kamu untuk mau melayani Sean hanya selama kalian berada jauh di Malang. Setelah nanti kalian balik lagi ke Jakarta, maka tugasmu sudah selesai.”

Christaly menjawab dengan ragu, “Tapi, apa Sean akan mau denganku?”

“Kamu gila, ya?! Sudah pasti dia mau. Emang ada apa laki-laki yang menolak kamu ajak tidur selama ini?” sahut Vera mencibir Christaly.

“Huh! Aku harap Sean sama dengan pria yang lainnya agar aku nggak terlalu repot nanti,” kata Chrisrtaly. Nadanya menunjukkan ketersinggungan yang sama sekali tidak dia tutup-tutupi.

“Aku tahu kamu ini seorang wanita penghibur yang profesional. Kamu pasti bisa menarik perhatian Sean entah dengan cara merayunya, menggodanya, atau apalah. Yang jelas, kamu harus bisa muasin dia saat libidonya sedang tinggi. Aku nggak peduli caranya, yang penting kamu harus bisa bikin Sean puas. Karena, kalau dia nggak bisa muasin nafsunya, dia nggak akan bisa mecahin kasus apa pun. Dia nggak akan bisa fokus, kemampuan analisisnya juga akan hilang. Kamu mengerti, Christaly?”

“Ya, aku mengerti. Tapi, aku minta dilakukan pembayaran di muka. Sebelum aku dan Sean berangkat ke Malang. Aku butuh uang jaminan buat mencicil hutangku ke Pak Haris. Agar pak tua itu mau memberiku sedikit waktu lebih lama lagi. Bagaimana?”

“Setuju. Aku akan mentransfer sepuluh juta sebagai uang muka. Sekarang mana nomor rekeningmu?”

Sean hanya bisa menelan ludah mendengar pembicaraan itu. Dia benar-benar tak habis pikir dengan kegilaan yang dilakukan oleh Vera.

Entah karena gadis itu begitu mencintainya hingga over protektif, atau dia memiliki alasan dan tujuan yang lain sama sekali. Sean tidak tahu. Yang jelas, Sean sudah terjebak dan tak bisa berbuat banyak.

Selain mengikuti permainan dari Vera dan berusaha keras mempertahankan hubungannya dengan gadis itu demi karier dan masa depannya. Sebab hanya kedua hal itu yang Sean punya dan berharga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!