NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 28: Manuver Data Laut

​Daniel menatapku dengan kerutan di dahi, lalu beralih menatap bosnya.

​Sebagai seorang asisten eksekutif yang dilatih untuk menghadapi krisis kelas atas, disuruh menyerahkan tablet berisi data rahasia perusahaan kepada seorang 'istri kontrak' jelas melanggar seluruh protokol keamanan yang ia pelajari.

​Namun, Rayan tidak sedang dalam mode mengikuti buku panduan. Pria itu menatap mataku selama tiga detik—mencari keraguan di sana, dan tidak menemukan apa pun—lalu ia mengangguk tegas.

​"Berikan aksesnya, Daniel," perintah Rayan mutlak.

​Daniel menelan ludah, membuka kunci tablet miliknya, dan menyerahkannya padaku. Aku langsung meletakkannya di atas meja marmer, membuka laptopku sendiri di sebelahnya, dan mulai memindahkan data manifes kapal tersebut.

​"Nyonya," sela Daniel ragu-ragu. "Tim keamanan bersenjata kita sedang berkoordinasi. Mereka bisa diturunkan menggunakan helikopter dalam waktu—"

​"Kita bukan di film aksi Hollywood, Daniel," potongku datar, jari-jariku mulai menari di atas keyboard. "Kalau kalian kirim tim bersenjata ke tengah laut untuk baku tembak, proses pembebasan sandera bisa memakan waktu berhari-hari. Kapal itu akan ditahan sebagai barang bukti kepolisian. Adristo Group tetap akan gagal memenuhi tenggat waktu bongkar muat pagi ini, dan penalti kementerian tetap akan memotong leher bosmu."

​Aku melirik sekilas ke arah Rayan yang berdiri tegang di seberang meja.

​"Paman Haris tidak peduli apakah perompaknya menang atau kalah. Tujuan utamanya cuma satu: menahan kapalmu agar tidak bersandar tepat waktu. Dia menggunakan taktik mafia tahun sembilan puluhan dengan mencegat fisik barangnya," jelasku, mataku memindai deretan kode asuransi kargo di layar.

​"Dan bagaimana cara Anda mengatasinya dengan data?" tanya Rayan, suaranya rendah, penuh dengan skeptisisme namun juga secercah harapan yang dipaksakan.

​"Di era digital, barang fisik tunduk pada kertas," jawabku sinis. "Pamanmu mungkin menyandera kapalnya, tapi dia lupa bahwa dia tidak memiliki muatannya secara legal."

​Aku menemukan dokumen yang kucari. Klausul Asuransi dan Hak Kepemilikan. Senyum tipis, murni dari kepuasan analitik, muncul di sudut bibirku.

​"Rayan, kamu pasti punya entitas perusahaan cangkang (dummy corporation) di luar negeri yang tidak terikat langsung dengan Adristo Group, kan? Sesuatu di yurisdiksi internasional?" tanyaku.

​Rayan memicingkan matanya, insting bisnisnya langsung menangkap arah pertanyaanku. "Ada. Aether Holdings di Singapura. Apa yang mau kamu lakukan?"

​"Aku butuh login credentials perusahaan itu. Sekarang."

​Rayan tidak membuang waktu. Ia berjalan ke sisiku, mencondongkan tubuhnya, dan mengetikkan sederet password tingkat eksekutif langsung ke dalam sistem di laptopku. Aroma parfum maskulinnya menguar, menabrak penciumanku, tapi otakku terlalu sibuk mengkalkulasi variabel untuk peduli pada detak jantungku sendiri.

​"Perhatikan baik-baik, Pak CEO," kataku, menarik napas panjang.

​Aku masuk ke dalam portal otoritas pelabuhan dan sistem asuransi logistik maritim.

​"Baja ringan yang ada di kapal itu sekarang berstatus milik Adristo Group. Kalau telat sandar, Adristo Group kena denda," jelasku sambil terus mengetik, memodifikasi formulir perpindahan hak milik.

​"Tapi, ada yang namanya klausul In-Transit Transfer—transfer barang dalam perjalanan. Ini biasanya dipakai kalau sebuah perusahaan bangkrut di tengah laut dan muatannya harus dijual mendadak."

​Daniel menahan napasnya. "Anda mau menjual muatan triliunan itu sekarang?"

​"Tepat," jawabku, menekan kursor pada kolom Force Majeure (Keadaan Kahar) akibat pembajakan. "Aku menjual seluruh muatan empat kapal kargo ini secara real-time kepada Aether Holdings di Singapura."

​Aku menekan tombol Enter. Layar memuat selama dua detik yang terasa seperti selamanya, sebelum akhirnya muncul kotak dialog berwarna hijau: TRANSFER OF OWNERSHIP APPROVED.

​Aku menyandarkan punggungku ke kursi bar, melipat tangan di depan dada, dan menatap dua pria yang masih mematung di depanku.

​"Selesai," kataku datar. "Mulai detik ini, baja ringan di tengah Selat Sunda itu secara sah dan legal bukan lagi milik Adristo Group. Itu milik korporasi asing."

​Rayan mengerutkan kening tajam, otaknya memproses manuver gila ini. "Kalau barang itu bukan milik kami, bagaimana kami memenuhi kontrak dengan kementerian?"

​"Itu urusan gampang. Besok pagi, Adristo Group tinggal membelinya lagi dari Aether Holdings sesaat sebelum diangkut dari pelabuhan," jawabku santai. "Yang penting sekarang, karena secara hukum barang itu bukan milikmu saat telat sandar, kementerian tidak punya dasar hukum untuk memberikan denda penalti kepadamu hari ini. Kamu aman dari pemecatan."

​"Tunggu..." Daniel tiba-tiba menyela, matanya membelalak ngeri bercampur takjub saat ia melihat notifikasi darurat yang bermunculan di sistem pelacakan internasional. "Nyonya... kalau kargo itu sekarang milik entitas asing..."

​"Bingo," potongku dengan seringai tipis. Aku menunjuk layar tablet.

​"Paman Haris menyewa preman lokal untuk menakut-nakuti kapal perusahaan lokal. Tapi karena status kargonya baru saja berubah menjadi aset internasional milik Singapura, kejahatan ini otomatis naik kasta."

​Aku mengetukkan telunjukku ke atas meja marmer.

​"Ini bukan lagi sengketa internal Adristo Group. Ini sekarang adalah Insiden Kejahatan Maritim Internasional. Sistem tracking asuransi baru saja mengirimkan sinyal bahaya ke otoritas global."

​Wajah Rayan perlahan berubah. Pemahaman absolut menghantam ego CEO-nya layaknya palu godam.

​"Interpol dan Penjaga Pantai Nasional akan turun tangan secara otomatis tanpa kita perlu melapor," gumam Rayan, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan kekaguman.

​"Tepat sekali," tegasku. "Preman bayaran pamanmu dibayar untuk menyandera awak kapal lokal, bukan untuk baku tembak dengan militer laut dan berhadapan dengan hukum internasional. Begitu mereka melihat radar Penjaga Pantai mendekat, mereka akan lari terbirit-birit meninggalkan kapal itu."

​Keheningan yang tersisa di dapur penthouse itu terasa sangat tebal.

​Rayan Adristo, pria yang membawahi ribuan karyawan bergelar master dan doktor, baru saja melihat krisis senilai triliunan rupiah diselesaikan dalam waktu kurang dari lima belas menit oleh seorang wanita bergaji lima juta yang menggunakan logika hukum kertas.

​Pukul 07:30 pagi.

​Matahari mulai menyinari dinding kaca penthouse. Kami bertiga masih berada di posisi yang sama. Daniel terus menempelkan ponsel pintar ke telinganya, berkomunikasi dengan intelijen pelabuhan.

​Tiba-tiba, bahu Daniel turun. Ia melepaskan ponselnya, menatap Rayan dengan mata berbinar.

​"Pak," lapor Daniel, suaranya bergetar karena euforia. "Kapal patroli Penjaga Pantai tiba di kordinat sepuluh menit yang lalu. Tim sabotase Paman Haris melarikan diri menggunakan speedboat sebelum patroli merapat. Mereka panik karena radio mereka menangkap sinyal Interpol. Keempat kapal kargo kita aman, awaknya selamat, dan sistem navigasi cadangan sudah dinyalakan."

​Daniel menelan ludah. "Kapal sedang digiring masuk ke pelabuhan sekunder sekarang. Kita tidak akan kena penalti kementerian."

​Rayan menutup matanya sejenak, menghembuskan napas panjang yang membuang seluruh beban perusahaannya. Kudeta Paman Haris hancur lebur pagi ini, tanpa satu peluru pun ditembakkan dari pihak Adristo.

​Ia membuka matanya, menoleh perlahan ke arahku.

​Aku sedang sibuk memasukkan kabel charger laptop ke dalam tas kain murahan andalanku. Kepalaku pening luar biasa akibat memproses data kelas kakap di saat asam lambungku belum diisi sarapan apa pun.

​"Masalah korporatmu selesai, Pihak Pertama," kataku tanpa menatapnya, mengalungkan tas itu ke bahuku. "Sampaikan salam sinisku untuk pamanmu. Taktiknya sangat ketinggalan zaman."

​Aku melangkah melewati kitchen island, menuju lorong lift.

​"Kamu mau ke mana?" tanya Rayan, suaranya menghentikan langkahku.

​Aku menoleh, memberikan tatapan jengah yang paling maksimal. "Ke mana lagi? Ke kantor. Aku sudah tertinggal jadwal KRL jam enam dan jam tujuh. Kalau aku nggak sampai di meja kerjaku jam setengah sembilan, manajerku bakal motong gaji bulananku."

​"Kamu baru saja menyelamatkan aset bernilai triliunan rupiah, Nara," kata Rayan, berjalan mendekatiku dengan langkah pelan namun pasti. "Dan kamu masih memikirkan gaji lima juta dari perusahaan logistik menengah itu?"

​"Urusan triliunanmu udah kelar, Rayan," balasku sinis. "Sekarang aku harus ngurusin data paketan yang nilainya nggak nyampe sejuta biar aku bisa bayar token listrik ibuku di kampung. Realitas kita berbeda."

​Aku membalikkan badan, bermaksud menekan tombol lift.

​Namun, sebelum jariku menyentuh panel, sebuah tangan besar dan hangat meraih pergelangan tanganku. Bukan cengkeraman yang menyakitkan, melainkan genggaman yang sangat tegas, melarangku melangkah lebih jauh.

​Aku membeku. Sensasi panas dari kulitnya menembus kain kemejaku, mengirimkan sinyal kejut ke seluruh sistem sarafku. Aku menoleh perlahan, menatap wajahnya.

​Jarak kami sangat dekat. Mata kelam Rayan menatapku dengan intensitas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pertengkaran hebat kami semalam menguap tanpa sisa, tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah rasa hormat absolut, perlindungan, dan... kepemilikan.

​"Kamu tidak akan naik KRL hari ini, Nara," ucap Rayan mutlak, suaranya bariton dan tidak menerima bantahan.

​Aku mengerutkan kening. "Rayan, lepaskan tanganku. Aku bisa telat—"

​"Kamu tidak akan telat," potongnya.

​Rayan melepaskan pergelangan tanganku perlahan, seolah enggan, lalu menoleh ke arah asistennya yang masih berdiri mematung di dekat meja.

​"Daniel," perintah Rayan dengan otoritas penuh seorang CEO yang baru saja memenangkan perang. "Siapkan Maybach di lobi bawah sekarang juga. Saya sendiri yang akan mengantar Nyonya Adristo ke kantornya."

​Daniel mengerjap cepat, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Selama ini, Rayan tidak pernah mau terlihat satu mobil bersamaku di luar agenda resmi keluarga. Ini adalah pelanggaran protokol kerahasiaan besar-besaran.

​"Ba... baik, Bapak Rayan. Segera," jawab Daniel, setengah berlari menuju lift servis.

​Aku menatap Rayan dengan tatapan tidak percaya. "Kamu gila? Kalau kantorku melihat aku turun dari mobil miliaranmu, identitas fiktifku sebagai rakyat jelata bisa hancur!"

​"Kaca mobil saya gelap pekat, Nara. Tidak akan ada yang melihat," jawab Rayan tenang. Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangannya dengan mataku. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyum tipis yang luar biasa tampan dan mematikan.

​"Kamu sudah menyelamatkan kapal saya, Partner," bisiknya pelan, suaranya menggetarkan udara di antara kami. "Biar saya yang memastikan kamu tidak terkena potongan gaji manajermu hari ini."

​Otak analitisku, yang sanggup memproses data asuransi maritim internasional dalam lima belas menit, mendadak mengalami malfungsi total hanya karena senyum dan kalimat sederhana itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!