NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Cahaya matahari yang mulai bergeser ke arah barat menembus kaca besar ruangan CEO, menyinari kelopak mata Sheila yang tertutup rapat. Suasana sunyi di dalam ruangan itu, hanya menyisakan suara mesin AC yang berdengung halus, membuat tidur singkatnya terasa sangat lelap.

Sheila mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. Pandangannya masih agak kabur, tapi ia menyadari satu hal: ia tidak sedang berada di atas kasur empuk rumahnya. Ia mencium aroma kayu cendana yang kuat dan maskulin—aroma yang sangat ia kenal.

"Aduh... aku ada di mana?" gumamnya serak, suaranya khas orang bangun tidur.

Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, jantung Sheila seolah berhenti berdetak. Ia menyadari kepalanya bersandar di tepian sofa kulit yang dingin, dan tepat di depannya, sesosok pria sedang duduk menyandar sambil memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Eh... Bapak... Bapak sudah bangun?" pekik Sheila spontan. Ia langsung menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan panik.

Jeremy tidak menjawab. Pria itu hanya menatapnya diam. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi pagi, tapi gurat kelelahan masih terlihat jelas di bawah matanya.

Sheila, yang naluri asistennya (dan rasa kemanusiaannya) masih bekerja, secara refleks mengulurkan tangan. Ia menempelkan telapak tangannya di dahi Jeremy, lalu bergeser ke leher pria itu untuk memastikan suhunya.

"Udah nggak panas," desah Sheila lega, meski jantungnya kini berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat dekat. "Syukurlah. Sepertinya kompresnya tadi berhasil. Ya sudah, kalau begitu saya balik ke meja saya ya, Pak. Masih banyak kerjaan, draf anggaran itu belum saya input semua."

Sheila berusaha berdiri dengan cepat. Namun, karena ia tidur dalam posisi duduk di lantai selama lebih dari satu jam, kakinya mengalami kesemutan yang hebat. Rasa kebas menjalar dari ujung jari kaki hingga ke lutut, membuat tumpuannya hilang seketika.

"Eh... eh... aduhhh!"

Badan Sheila yang masih kaget karena baru bangun dan kaki yang lemas kehilangan keseimbangan. Alih-alih berdiri tegak, ia justru terhuyung ke arah depan. Secara refleks, Jeremy yang sedang duduk di sofa merentangkan tangannya untuk menangkap tubuh Sheila agar tidak jatuh terjerembap ke lantai.

Bruk.

Dalam hitungan detik, Sheila berakhir jatuh tepat di pangkuan Jeremy.

Suasana ruangan itu mendadak membeku. Waktu seolah berhenti berputar. Sheila bisa merasakan detak jantung Jeremy yang berpacu cepat di bawah dadanya, sementara kedua tangan kekar Jeremy melingkar di pinggangnya untuk menahan posisinya agar tidak merosot.

Napas Sheila tertahan. Wajahnya terkunci tepat di depan wajah Jeremy. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter—begitu dekat hingga Sheila bisa melihat pantulan dirinya di manik mata cokelat gelap milik Jeremy. Bau parfum dan sisa panas tubuh karena demam tadi menciptakan sensasi yang membuat kepala Sheila makin pening.

"Mau sampai kapan begini, Sheila?" bisik Jeremy. Suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh saraf Sheila.

"Ma... maaf, Pak! Kaki saya kesemutan!" Sheila mencoba bangkit, tapi tangannya yang bertumpu di bahu Jeremy malah terpeleset karena kain kemeja Jeremy yang licin, membuatnya justru semakin terbenam di pelukan pria itu.

"Jangan banyak gerak. Nanti kamu jatuh beneran," ucap Jeremy. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sheila sejenak, menghirup aroma vanila dari rambut asistennya itu. "Kamu yang bilang tadi, aku sudah nggak panas. Jadi sekarang, biarkan aku begini sebentar saja. Anggap saja ini... biaya pengobatan karena kamu sudah bikin aku sakit gara-gara kepikiran kamu terus."

"Jeremy! Lepasin! Nggak lucu!" Sheila meronta kecil, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga. "Nanti kalau ada yang masuk gimana? Mbak Niken atau siapa saja bisa lihat!"

"Pintu sudah aku kunci dari tadi pagi, Shei. Nggak akan ada yang masuk," balas Jeremy tenang, tapi ada nada posesif yang sangat kuat di sana. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, menatap bibir Sheila yang bergetar karena emosi. "Kenapa kamu selalu mau lari? Padahal tadi pas tidur, kamu kelihatan sangat nyaman bersandar di sampingku."

"Itu karena aku kasihan! Aku pikir Bapak bakal mati karena demam!" balas Sheila galak, mencoba menutupi rasa gugupnya.

Jeremy terkekeh, sebuah tawa pendek yang terdengar tulus. "Oh, jadi kamu takut aku mati? Ternyata di balik semua omelan kamu, ada sedikit rasa cinta ya?"

"Nggak ada! Sumpah nggak ada!" Sheila akhirnya berhasil mendapatkan kekuatan di kakinya. Dengan sekali hentakan, ia melepaskan diri dari pangkuan Jeremy dan berdiri dengan napas terengah-engah. Ia merapikan roknya dengan kasar, wajahnya panas seperti baru saja terbakar matahari.

"Bapak beneran menyebalkan! Orang sakit itu harusnya insyaf, bukan malah makin jadi!" Sheila menunjuk Jeremy dengan jari gemetar. "Aku balik ke meja! Jangan panggil-panggil aku kalau bukan urusan kantor!"

Sheila segera menyambar tas dan map birunya, lalu berlari menuju pintu. Ia memutar kunci dengan cepat dan keluar dari ruangan itu seolah-olah sedang dikejar hantu. Ia bahkan tidak memedulikan tatapan bertanya-tanya dari Mbak Niken di depan.

Begitu sampai di mejanya, Sheila menelungkupkan wajahnya di atas meja. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. "Sial... sial... sial! Kenapa aku harus jatuh di pangkuannya sih?"

Sementara itu, di dalam ruangan, Jeremy menyentuh dadanya sendiri, tempat Sheila tadi bersandar. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang jauh lebih manis daripada keberhasilan memenangkan tender miliaran rupiah. Ia kemudian melirik ponsel Sheila yang tertinggal di atas mejanya. Ada pesan masuk dari Malik yang belum terbaca.

Jeremy mengambil ponsel itu, jemarinya gatal ingin menghapus pesan itu, tapi ia menahannya. Ia tahu, mulai hari ini, posisi Malik di hati Sheila sedang ia guncang sehebat-hebatnya.

"Satu poin buat aku, Sheila Nasution," gumam Jeremy pelan, lalu ia mulai membuka map biru yang tadi ditaruh Sheila, kali ini dengan semangat kerja yang berlipat ganda.

***

Sore itu, lobi kantor Nasution Property Group mulai dipadati karyawan yang bersiap pulang. Sheila melangkah terburu-buru, sesekali melirik jam besar di dinding. Ia sudah berjanji pada Malik untuk bertemu di lobi tepat jam lima sore. Namun, saat tangannya meraba-raba ke dalam tas kulitnya untuk mengambil ponsel, jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Kok nggak ada sih? Perasaan tadi aku—"

Ingatannya berputar cepat. Bayangan kejadian di sofa tadi siang melintas. Wajah Jeremy yang pucat, tangannya yang menempel di dahi pria itu, lalu... momen memalukan saat ia jatuh di pangkuan Jeremy.

"Astaga! Ketinggalan di ruangan CEO sengklek itu! Aduh, mampus aku!" pekik Sheila tertahan.

Tanpa pikir panjang, Sheila berbalik arah. Ia mengabaikan lift yang penuh sesak dan memilih berlari menuju lift privat yang syukurnya sedang kosong. Gadis itu berlari di koridor lantai 25 yang mulai sepi, napasnya tersengal, dan rambutnya yang tadi tertata rapi kini acak-acakan karena keringat dan kepanikan.

"Pak! Pak Jeremy!" Sheila menggedor pintu jati besar itu tanpa ampun.

"Masuk," suara berat dari dalam menyahut pendek.

Sheila mendorong pintu dengan kasar, dadanya naik turun karena lelah berlari. "Bapak... Bapak lihat ponsel saya? Ketinggalan ya di sini?"

Jeremy sedang duduk tenang di balik meja kerjanya, menyesap segelas air putih seolah-olah demamnya tadi pagi hanyalah mitos. Ia menunjuk ke arah sudut meja kayu mahoninya dengan dagu. "Tuh, di atas meja. Lain kali kalau mau lari dari aku, barangnya jangan ada yang ketinggalan. Itu namanya sengaja pengen balik lagi."

Sheila tidak memedulikan sindiran itu. Ia menyambar ponselnya dengan cepat. Layarnya menyala, menunjukkan sepuluh panggilan tak terjawab dari Malik. Gawat, Malik pasti sudah menunggu di lobi!

Namun, baru saja Sheila hendak berbalik untuk keluar, tiba-tiba...

JEBRET!

Seluruh ruangan mendadak gelap gulita. Bunyi mesin AC yang berdengung langsung mati, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Lampu-lampu gedung padam total.

"Akhhh!" Sheila memekik kaget. Dalam kegelapan yang pekat, ia kehilangan arah dan secara refleks mundur hingga punggungnya membentur tepian meja kerja Jeremy yang keras.

"Tenang, Sheila. Cuma pemadaman bergilir atau gangguan trafo lagi," suara Jeremy terdengar sangat dekat, lebih dekat dari yang Sheila duga.

Sheila mencoba menyalakan senter ponselnya, tapi jemarinya yang gemetar malah membuat ponsel itu merosot dari genggamannya dan jatuh ke karpet tebal, layarnya menghadap ke bawah sehingga cahaya yang dihasilkan sangat minim.

"Jangan gerak," bisik Jeremy. Sheila bisa merasakan hawa panas dari tubuh Jeremy yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Aroma parfum kayu cendana yang bercampur dengan sisa panas demam pria itu menyeruak, mengunci indra penciuman Sheila.

Dalam kegelapan, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat berat dan intim. Jeremy mengurung tubuh Sheila dengan kedua tangannya yang menumpu di meja kerja, membuat Sheila terjepit di antara meja dan dada bidang pria itu.

"Jer... minggir. Malik nunggu di bawah," suara Sheila bergetar, bukan hanya karena takut kegelapan, tapi karena tarikan gravitasi yang kuat dari pria di depannya.

"Biarkan dia menunggu sejenak," desis Jeremy. Suaranya rendah, serak, dan penuh gairah yang tertahan. Jeremy mencondongkan tubuhnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Sheila. "Tadi siang kamu lari sebelum aku sempat bilang terima kasih karena sudah mengompresku."

"Sama-sama. Sekarang lepasin!" Sheila mencoba mendorong dada Jeremy, tapi telapak tangannya justru merasakan detak jantung Jeremy yang berdentum kencang di balik kemeja tipisnya.

Tangan Jeremy yang tadinya di atas meja, kini perlahan naik, membelai pipi Sheila dengan ibu jarinya. Sentuhannya lembut namun menuntut. "Kamu tahu nggak, Shei? Ruangan gelap begini bikin aku makin susah buat kontrol diri."

Jeremy memiringkan kepalanya, napas hangatnya menyapu bibir Sheila. Ia tidak langsung menciumnya, melainkan membiarkan ketegangan itu menyiksa mereka berdua. Sheila merasa lututnya lemas. Oksigen di sekitarnya seolah menipis, digantikan oleh ketegangan elektrik yang memicu adrenalin.

"Satu menit, Sheila. Beri aku satu menit saja tanpa ada nama Malik di antara kita," bisik Jeremy lagi, kini bibirnya nyaris menyentuh sudut bibir Sheila.

Sheila memejamkan matanya rapat-rapat. Logikanya berteriak untuk pergi, tapi tubuhnya justru seolah terpaku oleh pesona posesif sang CEO. Di luar sana, Malik mungkin sedang gelisah menunggu, tapi di dalam ruangan gelap ini, hanya ada detak jantung mereka yang saling bersahutan, menciptakan irama rahasia yang berbahaya.

Jeremy mengecup kening Sheila lama, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir dengan bisikan yang membuat Sheila merinding. "Kamu itu denda paling mahal yang pernah aku punya, Sheila Nasution. Dan aku nggak akan pernah membiarkan denda ini lunas."

Tepat saat Jeremy hendak memperdalam jarak di antara mereka, lampu gedung mendadak menyala kembali dengan terang benderang.

KLIK!

Cahaya lampu yang tiba-tiba membuat Sheila tersentak dan segera mendorong Jeremy dengan kekuatan penuh. Ia menyambar ponselnya di lantai dengan wajah yang sudah merah padam, bukan lagi karena marah, tapi karena sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.

"Aku... aku pulang!" Sheila berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Jeremy yang berdiri di tengah ruangan dengan napas yang masih memburu dan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.

Di lobi bawah, Malik berdiri dengan wajah cemas di samping motor matic-nya. Saat melihat Sheila keluar dengan rambut acak-acakan dan wajah kemerahan, Malik segera menghampirinya.

"Sayang! Kamu nggak apa-apa? Kok lama banget? Tadi mati lampu ya?" tanya Malik sambil memegang kedua bahu Sheila.

Sheila menatap Malik, pria yang memberinya ketulusan dan rasa aman. Namun, di dalam kepalanya, aroma parfum Jeremy dan bisikan serak di kegelapan tadi masih tertinggal dengan sangat nyata.

"Iya, tadi terjebak mati lampu di atas," jawab Sheila lirih, mencoba menstabilkan napasnya. "Ayo pulang, Malik. Bawa aku pulang sekarang."

Sheila naik ke boncengan Malik, memeluk pinggang pria itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang berusaha berpegangan pada realita agar tidak terseret lebih jauh ke dalam skenario gila sang CEO. Di lantai 25, dari balik jendela kaca besar, Jeremy menatap motor itu menjauh dengan tatapan yang tajam.

"Selamat malam, Sheila. Sampai jumpa di mimpimu," gumam Jeremy sambil menyesap gelas airnya yang kini terasa dingin.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!