NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Bima

Bab 8 – Bima

Studio tari tempat latihan teater itu dikelilingi oleh cermin. Aku duduk di salah satu sisi bersama Celsi, sutradara dan dua orang produser lainnya. Setelah menerima chat dari Naya, aku tidak bisa berhenti tersenyum.

“Eh kamu yang belakang, kenapa belum hafal juga gerakannya!” sutradara teater, Bang Agus berdiri sambil tolak pinggang. “Ayo coba ulang lagi dari awal!”

Terdengar teriakan kecewa dari anggota teater yang lainnya.

“Satu gagal, semua gagal. Ayo, ulang lagi!” Bang Agus menepuk kedua tangannya, meminta para pemain teater untuk mengambil posisi dari awal. “Ini tarian pembuka, harus bener!”

Ketika para pemain mengambil posisi. Aku berdiri menghampiri Bang Agus lalu berbisik, “Aku ada urusan, Bang. Nggak bisa sampe selesai.”

“Oh oke!” Bang Agus memberikan jempol. “Elu tenang aja, semua pasti kompak!”

“Oke. Tapi nggak usah galak-galak lah! Kasian mereka juga cape, Bang.”

“Kalau nggak digalakin, mana bisa sukses!”

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu keluar dari studio sambil menelepon Pak Mardi, “Halo, Pak siapin mobil.”

Celsi menyusulku dari belakang, “Heh! Kenapa buru-buru amat? Mau ke mana?”

“Ada deh.”

“Dari tadi gue liat elu senyam-senyum. Ada apa?”

Aku dan Celsi keluar dari studio di daerah Senopati, Jakarta. Mobil Alphard putihku muncul di hadapanku. Aku langsung masuk ke mobil, diikuti Celsi.

“Gue ada ketemuan sama temen,” jawabku singkat.

“Naya?”

“Kok tahu?”

“Elu mau ngapain sama dia?”

“Maaf, ini kita ke mana?” tanya Pak Mardi dari depan.

“Ke kafe yang kemaren malem, Pak.”

“Oke, Dan!”

Mobil berjalan.

“Bim!” Celsi minta pertanyaannya dijawab.

“Gue mau serius.”

“Wah, segitu kecenya kah dia? Sampe bisa menaklukan hati sang Bima?”

“Jangan ngejek gitu dong!”

“Oke. Kalau gitu gue perlu kenal dia. Gue ikut ya?”

“Jangan sekarang lah! Gue masih pedekate!”

“Oke, jadi kapan gue bisa kenal dia?”

“Ya kalau dia bilang iya.”

“Iya jadi pacar?”

Aku hanya menatap Celsi.

Celsi menggelengkan kepala, “Elu baru kenal sama ni cewek, langsung elu mau ajak nikah?”

“Kan gue juga udah diminta nikah sih. Apa salahnya?”

“Dianya mau?”

“Doain aja, mau.”

“Anak mana? Asal dari mana, sekolah di mana, kerjaannya apa?”

“Elu polisi apa interpol? Banyak amat nanyanya! Apa perlu gue minta CV dia?”

“Nah! Bener, mintain cv dia!”

Aku menggelengkan kepala, lalu menoleh ke luar jendela.

“Bim. Bukannya gue ngelarang elu nikah. Tapi jangan buru-buru juga lah. Cari tau dulu lah, jangan sampe elu nikah terus cerai, kaya artis-artis lain.”

“Kok elu doainnya gitu sih?”

“Bukannya doain, tapi…”

“Udah, lah. Belum tentu juga dia mau.”

“Eh, mana ada cewek yang nolak elu ajak nikah!”

“Celsi!” aku meninggikan suaraku. “Elu emang manager gue, temen gue, tempat gue curhat. Orang yang gue percaya, tapi kenapa sih, elu nggak percaya sama gue.

Celsi terdiam.

“Banyak juga orang taaruf, baru ketemu langsung nikah, terus baik-baik aja. Udah lah. Gue yang jalanin. Dukung gue aja!”

Tiba-tiba suasana hening. Hanya ada suara klakson saling sahut di luar dan Pak Mardi yang sesekali batuk dan bersin. Sampai akhirnya, mobil berhenti dan Pak Mardi menoleh, “Mau ditunggu atau ditinggal?”

“Ditinggal aja. Anterin Celsi pulang, Pak.”

“Siap, Dan.”

Aku membuka pintu mobil. Celsi menahan lenganku dan berkata, “Sori.”

“Iya.”

“Gue doain semoga sekarang jodoh elu.”

“Thanks,” aku keluar dari mobil, lalu menutup pintu mobil. Sambil menarik napas panjang, aku melangkah ke kafe kemarin. Aku hanya ingin ketemu, ketemu, dan ketemu lagi dengannya.

--

“Kamu lagi ada masalah?” tanya Naya setelah aku memesankan minum.

Belum pernah ada yang bertanya seperti ini selain Celsi padaku. Biasanya perempuan yang baru aku kenal, selalu sibuk ngomongin dirinya sendiri.

“Nggak ada. Lagi banyak kerjaan aja.”

Ada masalah, masalahnya kamu. Gimana aku bisa bilang kalau aku cuma pengen serius sama kamu tanpa harus maksa. Celsi ada benarnya juga, aku harus cari tau dulu Naya kaya gimana orangnya, tapi kayanya Naya orangnya bener.

“Aku ganggu ya?” tanyanya tiba-tiba.

“Nggak! Nggak ganggu sama sekali. Gimana?”

“Aku minta ketemu bukan mau kasih jawaban. Sori.”

“Oh, iya. Nggak apa-apa.”

“Aku cuma butuh tahu, kenapa kamu tiba-tiba banget ngajak serius? Kita baru ketemu nggak lama. Aku juga tahu, yah dari berita gosip sih, kamu banyak pacarnya.”

Aku tertawa terbahak-bahak.

Naya tampak bete.

“Sori. Aku nggak pernah punya pacar.”

“Masa?”

“Iya, semua itu gosip, atau cuma buat marketing film aja,” kataku dengan serius.

“Jadi kamu nggak pernah pacaran sama cewek?”

“eh, maksud kamu aku suka sama cowok?”

“Mungkin aja kan. Sekarang lagi banyak yang lavender.”

“Ya, ya. Aku paham. Aku nggak nyalahin mereka yang nikah lavender,” aku berusaha tenang. “Aku nggak dukung mereka, tapi kalau mereka mau melakukan itu, itu urusan mereka, aku nggak bisa ngelarang. Karena mereka yang jalanin hidup mereka dan nggak ganggu hidup kita, kan?”

“Iya sih.”

“Kalau pun aku disuruh milih antara beruang sama laki-laki, mendingan aku meluk beruang! Laki-laki itu semuanya binatang! Buas! Kecuali yang punya nalar ya,” kataku sambil menunjuk ke diri sendiri. “Aku pernah punya pacar, dulu, waktu kuliah. Tapi pas aku terjun ke dunia film. Dia mundur terus nikah sama orang lain.”

“Terus, sekarang kenapa pengen tiba-tiba nikah.”

“Nggak tiba-tiba juga sih. Gimana ya?” aku merapikan poni pendekku ke belakang yang langsung balik lagi ke depan. “Orang tua aku udah meninggal dari aku kecil. Aku diasuh sama bibiku yang udah aku panggil ibu. Ibu nyuruh aku cepet nikah, aku cape dijodohin terus sama pilihan dia. Pilihan dia itu aneh-aneh!”

“Oh.”

“Lagian aku udah umur 35.”

“Hah!”

“Kenapa?”

“Kamu udah 35?”

“Iya. Tahun depan 36.”

“Kita beda 10 tahun dong!” Naya kaget.

Pelayan datang membawakan minuman.

“Makasih,” kataku dan Naya bersamaan. Pelayan pergi sambil tersenyum.

“10 tahun nggak terlalu jauh lah. Biasa aja kan?” tanyaku sambil mengaduk kopi susu dingin di meja.

“Iya sih.”

“Kamu juga udah mau nikah kan?”

“Iya sih.”

“So?”

“Aku harus bilang dulu sama orang tua ku. Aku nggak tau mereka ngerestuin nggak aku nikah sama kamu.”

“Oke. Aku dateng ke rumah kamu, kapan bisanya?”

“Eh, tunggu dulu. Bukan berarti aku jawab iya.”

“Oh,” jawabku kecewa.

“Aku minta waktu lagi.”

“Oke,” kataku sambil menundukkan kepala.

“Aku harus ngobrol dulu sama papa mana.”

“Iya,” aku mengangguk pelan.

“Aku nggak bisa lama-lama. Sudah dua hari pulang malam terus,” katanya sambil merapikan tasnya.

“Aku anter ya?”

“Nggak usah. Aku naik ojol aja.”

“Aku anter plis?”

“Lain kali ya?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku tidak bisa menolak senyumnya itu. Aku mengangguk. Setelah dia pergi, aku mengirimkan pesan padanya.

Bima    : Aku serius ngajak kamu serius.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!