NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anin Tak Berdaya

Pagi harinya, meski hati masih berat dan pikiran penuh beban, Anin memacu mobilnya dengan kecepatan stabil menuju kediaman utama keluarga Wiguna.

Hari ini ia datang bukan sebagai putri yang manis, melainkan dengan tekad baja. Ia ingin menuntut penjelasan. Bagaimana bisa Aldi, anak buah ayahnya, seenaknya masuk ke wilayah pribadinya tanpa izin? Itu sudah melanggar batas!

BRAKK!!

Pintu utama kembali terbuka keras, kali ini oleh Anin. Wajahnya tampak tegang, alisnya terangkat tinggi menandakan amarah yang siap meledak.

Tanpa peduli pada pelayan yang menyapa, Anin melangkah lebar menuju ruang kerja sang ayah yang memang selalu terbuka lebar.

Dan benar saja, di sana Wiguna sudah duduk santai di kursi kebesarannya, seolah sudah menunggu kedatangan putrinya itu sejak lama.

"Papa!" seru Anin dengan nada tinggi, suaranya bergetar menahan emosi. "Apa maksud dari semua ini? Kenapa Papa menyuruh Aldi seenaknya masuk ke rumah saya? Itu wilayah pribadi saya, Pa! Bukan tempat sembarangan orang bisa masuk seenak jidat!"

Wiguna tidak langsung menjawab. Ia menatap Anin dengan tatapan dingin dan tajam, membiarkan putrinya itu meluapkan kekesalannya terlebih dahulu.

"Saya tidak terima, Pa! Aldi datang tanpa pemberitahuan, memaksa masuk, dan mengintai keadaan di sana! Apa Papa pikir rumah saya itu pasar atau apa?!" Anin terus berkacak pinggang, melontarkan protesnya satu per satu.

Hening sejenak.

Hingga akhirnya Wiguna menghela napas panjang, lalu membuka suara dengan nada yang jauh lebih dingin dan berwibawa, membuat suara Anin seketika tertelan oleh aura mengerikan sang ayah.

"Jadi... kau masih berani menuntut padaku, Anin?" tanya Wiguna pelan namun menusuk.

Anin menegang, "Maksud Papa apa? Tentu saja saya berani! Itu hak saya menjaga privasi keluarga saya!"

"Hak?" Wiguna mendecak pelan, lalu perlahan berdiri dan berjalan mendekati putrinya.

"Darimana kau mendapatkan hak itu, hm? Dan kau pikir aku menyuruh Aldi ke sana hanya untuk main-main?"

Ya Papanya tidak salah, perusahaan Wiguna memang bukan miliknya tapi dirinya lah yang membuat perusahaan itu menjadi perusahaan raksasa. Jadi ia tetap memiliki hak dari perusahaan yang ia sulap menjadi besar seperti sekarang, semua kakaknya tidak menginginkan perusahaan yang dulunya hampir hancur diambang kebangkrutan. Tapi tidak dengan Anin, ia ingin membuktikan jika wanita juga bisa berbisnis bahkan bisa lebih baik dari pria.

Wiguna berhenti tepat di hadapan Anin, matanya menyipit tajam.

"Aku dengar... di rumahmu itu ada seorang wanita. Wanita yang dulu pernah menjadi perebutan antara Gunawan dan Langit. Wanita yang pernah dibeli Gunawan... Gladys"

JEDAR!

Wajah Anin seketika pucat pasi. Darah seakan berhenti mengalir di pembuluh darahnya.

Jadi... tujuan utama Papa bukan sekadar cek lokasi. Papa tahu tentang Gladys!

"Da-dari mana Papa tahu..." Anin terbata-bata, kakinya terasa lemas ingin roboh.

"Jangan anggap aku buta dan tuli, Anin!" bentak Wiguna tiba-tiba, suaranya menggema keras. "Aku tahu segalanya! Dan kau berani menyembunyikan wanita itu di rumahmu?! Kau tahu kan siapa dia? Kau tahu kan sejarah buruk tentang dia dan keluargaku?!"

"Ta-tapi Pa... dia tidak bersalah! Dia cuma anak kecil yang tidak tahu apa-apa!" bela Anin dengan suara parau, air matanya mulai menetes.

"Anak kecil?!" Wiguna tertawa sinis. "Dia adalah masa lalu yang kelam! Dia adalah alasan pertengkaran antara anak-anakku! Dan kau malah memelihara dia di rumahmu sendiri?! Apa yang kau pikirkan, hah?! Kau ingin membawa sial bagi keluarga Wiguna?!"

"Gladys bukan sial, Pa! Dia..."

"CUKUP!" potong Wiguna tegas. "Aku tidak peduli apa alasanmu! Yang jelas, mulai sekarang... aku tidak ingin melihat wanita itu ada di dekatmu, atau di dekat keluarga ini! Mengerti?!"

Anin menunduk, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis. Ia merasa begitu tidak berdaya di hadapan otoritas sang ayah. Namun demi putrinya, ia harus bertahan.

"Papa tidak bisa melarang..." lirih Anin. "Gladys adalah cucu Papa juga... dan dia adalah anak dari Hendra, orang yang Pap jodohkan dengaku. Papa tidak berhak menghukum dia seperti ini."

Mendengar nama Hendra disebut, mata Wiguna semakin memancarkan api kemarahan.

"Dasar anak durhaka! Kau masih membela mereka padahal aku sudah melarang?! Terserah kau mau bilang apa! Tapi ingat pesan Papa... jika kau nekat tetap mempertahankan dia di sana... jangan salahkan aku jika nanti hal buruk menimpa kalian berdua!"

Anin mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Ia sadar, posisi mereka sekarang semakin genting. Bahaya tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari keluarganya sendiri.

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Anin membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari hadapan sang ayah. Dadanya sesak, rasanya ingin meledak namun ia tak kuasa melawan otoritas Wiguna yang begitu menakutkan.

Di sepanjang perjalanan pulang, air matanya tak henti-henti menetes membasahi pipi. Setiap kenangan dan setiap kata-kata tajam sang ayah terputar ulang di kepalanya, membuat hatinya perih luar biasa. Ia merasa begitu lemah, tak mampu melindungi putrinya sendiri dari kebencian keluarganya.

Hingga akhirnya, mobil yang ia kendarai berhenti di halaman rumahnya.

Di sana, di depan pintu utama, sudah berdiri sosok Fajar. Pria itu terlihat sangat gelisah, mondar-mandir dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya terus mengawasi gerbang, menanti kedatangan kekasih hatinya.

Saat melihat mobil Anin masuk dan wanita itu turun, napas Fajar seketika terhembus lega. Wajahnya yang tadinya pucat dan tegang, perlahan berubah lebih tenang saat melihat Anin dalam keadaan utuh, meski terlihat sangat lelah.

Tanpa menunggu Anin berjalan mendekat, Fajar langsung melangkah cepat dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan kuat.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Fajar dengan suara lembut namun terdengar sangat cemas, tangannya mengelus punggung Anin perlahan.

"Kenapa tidak mengajakku? Aku khawatir..." lanjutnya lagi, hatinya teriris melihat mata Anin yang sembab dan merah.

Namun, Anin tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya membenamkan wajahnya di dada bidang Fajar, membiarkan air matanya mengalir bebas membasahi baju kekasihnya. Tangannya mencengkeram kuat baju Fajar, seolah mencari pegangan satu-satunya di dunia yang bisa memberinya rasa aman.

Isakan tangisnya semakin keras, melepaskan semua beban, ketakutan, dan rasa tidak berdaya yang baru saja ia rasakan di hadapan ayahnya.

Merasakan tubuh kekasihnya yang bergetar hebat menahan isak tangis, hati Fajar teriris bagai disayat sembilu. Ia semakin mengeratkan pelukannya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan ketakutan yang dirasakan Anin ke dalam dirinya sendiri.

Tangan besar Fajar bergerak perlahan, mengusap punggung Anin dengan gerakan memutar yang sangat lembut dan menenangkan, berusaha menetralkan detak jantung wanita itu yang berpacu kencang.

"Sstt... sudah ya, Sayang... tenanglah, aku di sini..." bisik Fajar lembut di telinga Anin.

Ia lalu menunduk sedikit, mengecup pucuk kepala kekasihnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. Ciuman hangat itu seakan menjadi penawar bagi luka hati Anin yang baru saja dihajar kata-kata tajam sang ayah.

Ia membiarkan Anin menangis sepuasnya di dalam pelukannya, melepaskan semua beban yang dipendam selama pertemuan dengan Wiguna tadi. Di sini, di dalam dekapannya, Anin merasa aman. Di sini, ia tidak perlu menjadi wanita yang kuat dan tangguh seperti saat menghadapi ayahnya.

1
Lilik Haryati
jgn seratus tor tp seribu 🤣🤣🤣🤣
Ceriwis07: 🤣🤣🤣 iya yaa..
total 1 replies
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!