NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 18: KEKUATAN DOA DAN KASIH SAYANG

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 18: KEKUATAN DOA DAN KASIH SAYANG

Malam telah larut, kegelapan pekat mulai menyelimuti seluruh pelosok desa, menyusup masuk ke celah-celah dinding rumah kayu yang sudah tua dan tak rapat lagi. Angin malam bertiup dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah ikut merasakan kesedihan yang sedang menyelimuti isi rumah kecil sederhana itu. Di dalam ruangan yang remang-remang hanya diterangi satu lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang, suasana terasa sangat hening, mencekam, dan penuh kekhawatiran. Tak satu pun penghuni rumah itu yang berani memejamkan mata atau beranjak pergi ke tempat tidur masing-masing. Semuanya masih terjaga, duduk berkerumun di sisi sebuah kasur tipis yang terbuat dari anyaman bambu, menatap dengan cemas wajah pucat Ria yang masih terbaring lemah dan tak berdaya di atasnya.

Sosok remaja putri kelas 3 SMP itu terlihat begitu menyedihkan namun juga begitu menguatkan hati siapa saja yang melihatnya. Tubuhnya tinggi menjulang, sama tingginya dengan anak seusianya, bahkan terlihat lebih tinggi sedikit, namun badannya sangat kurus kering, tulang-tulangnya terlihat jelas menonjol di bahu, lengan, hingga ke pipinya yang cekung. Kulitnya tampak pucat dan kering, bukan karena penyakit, tapi karena kenyataan hidup yang pahit: mereka ini keluarga yang serba kekurangan, makan saja susah, sehari-hari hanya bisa makan sekadar masuk perut saja, mana ada uang lebih untuk membeli makanan yang bergizi atau bernutrisi? Wajar sekali kalau tubuh Ria jadi lemah, kurang darah, dan daya tahan tubuhnya sangat rendah hingga mudah sekali jatuh sakit seperti sekarang ini. Ditambah lagi, selama dua tahun belakangan ini, ia harus berjuang sendirian, banting tulang membantu Bu Rini guru ngaji, membantu urusan sekolah, menyapu halaman, dan mengerjakan tugas-tugas berat lainnya hanya demi mendapatkan sedikit uang jajan dan biaya sekolahnya sendiri, sementara ketiga kakaknya dulu bersikap sangat dingin, acuh tak acuh, seolah tak punya adik, membiarkannya menanggung semua beban itu sendirian tanpa sedikit pun peduli.

Suhu tubuh Ria masih terasa sangat panas membara, menyengat setiap kali ada tangan yang menyentuh kulitnya. Napasnya terdengar berat, pendek-pendek, dan sesekali mengerang pelan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Perjuangan tubuhnya yang lemah dan kurang gizi itu melawan demam tinggi ini terasa begitu berat dan melelahkan, seolah-olah setiap helaan napas adalah pertarungan hidup dan mati. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah masih duduk bersimpuh di sisi tempat tidur, wajah mereka pucat pasi dan penuh penyesalan yang tak terkira. Mereka bergantian membasahi kening, pipi, dan telapak tangan Ria yang kurus, panjang, dan terasa kasar karena sering bekerja itu, hanya menggunakan kain lap yang dibasahi air biasa. Itu saja yang bisa mereka berikan, karena memang tak ada obat, tak ada minyak, atau penawar lain yang ada di rumah itu. Hati mereka terasa disayat-sayat, perih sekali rasanya menyadari kenyataan pahit ini.

"Andai kami tidak bersikap dingin dulu... andai kami mau peduli sedikit saja... mungkin adik kami tidak akan sampai seterlantar ini, tidak akan sekurus ini, dan tidak akan selemah ini..." batin mereka berulang kali, rasa bersalah itu menjadi beban terberat yang pernah mereka rasakan seumur hidup.

Di sudut ruangan, dekat jendela yang terbuka sedikit, Bunda Maria duduk bersimpuh di atas sajadah usang yang sudah menipis. Kedua tangannya terangkat tinggi ke langit-langit rumah yang berasap debu, bibirnya terus bergerak lirih melantunkan doa-doa panjang, penuh kepasrahan, dan permohonan yang sangat mendalam kepada Yang Maha Kuasa. Air mata Bunda terus menetes tak berhenti, membasahi pipi keriputnya yang penuh garis tanda perjuangan hidup yang berat. Isak tangisnya tertahan, namun terdengar jelas dan menyayat hati di keheningan malam itu.

"Ya Allah... Tuhanku... Engkau Maha Tahu segalanya, Engkau Maha Tahu keadaan hamba sekeluarga... Kami ini keluarga yang serba kekurangan, hidup kami pas-pasan, makan pun kadang sulit didapat... Kami miskin harta, ya Allah... Tapi hamba mohon kepada-Mu, jangan ambil dia dari kami... Ria, putri hamba ini... Engkau tahu betapa berat hidup yang harus dia jalani di umurnya yang masih sangat muda ini..." Doa Bunda mengalir deras, penuh kepedihan. "Dia masih remaja, masa pertumbuhannya, tapi apa yang dia dapat? Hanya rasa lapar, rasa lelah, dan beban berat yang seharusnya tidak dipikul oleh anak seusianya. Dia harus bangun pagi-pagi buta, membantu bersihkan sekolah supaya boleh belajar. Dia harus pergi ke rumah Bu Rini sepulang sekolah, membantu masak, menyapu, mencuci piring, apa saja dia kerjakan, cuma demi dapat sedikit uang jajan dan biaya sekolahnya... Dia berjuang sendirian, Ya Allah... Sementara kakak-kakaknya yang sehat dan kuat justru bersikap dingin, keras hati, membiarkannya menderita, membiarkannya kurus kering, membiarkannya sakit-sakitan seperti ini... Ampuni kami Ya Allah, ampuni kelalaian dan kekejaman hati anak-anak hamba... Jangan hukum kami dengan mengambil nyawa putri kami ini... Dia satu-satunya cahaya dan harapan kami..."

Suara doa dan isak tangis Bunda yang tertahan itu terdengar jelas di telinga ketiga kakaknya, membuat hati mereka semakin remuk redam dan perih tak terkira. Bang Hamza yang sedari tadi berusaha menjadi yang paling tegar dan kuat di antara mereka, akhirnya tak sanggup lagi menahan luapan emosinya. Ia menundukkan wajahnya ke tepi kasur tempat Ria berbaring, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang akhirnya pecah juga. Air mata seorang laki-laki yang biasanya gagah dan teguh itu jatuh membasahi kain kasur yang kasar itu.

"Ya Allah... Hamba sadar... Kami semua adalah kakak-kakak yang paling hina, paling buruk, dan paling tidak berguna di muka bumi ini..." gumam Bang Hamza lirih, suaranya parau dan terputus-putus karena tangis. "Kami tahu kondisi keluarga kami susah, kami tahu kami miskin, kami tahu kami tidak punya apa-apa... Tapi seharusnya kami yang berjuang buat adik kami, bukan malah membiarkan dia yang berjuang sendirian! Kami tahu benar, kalau Ria masih bisa duduk di bangku kelas 3 SMP sampai sekarang itu sama sekali bukan karena bantuan kami, tapi karena keringat, air mata, dan kerja kerasnya sendiri. Kami tahu dia harus bantuin Bu Rini sampai sore, pulang dalam keadaan lelah dan lapar. Kami tahu dia harus bantuin guru di sekolah cuma supaya tidak dikeluarkan karena tidak bayar iuran... Kami lihat itu semua setiap hari, tapi hati kami sekeras batu, kami diam saja, kami cuek saja, kami bahkan pura-pura tidak melihat betapa kurus dan lemahnya dia... Kami pantas disebut kakak? Tidak sama sekali! Kami ini beban buat dia, bukan pelindung..."

Bang Arefin dan Bang Ardiansyah yang berdiri di belakang kakak sulungnya itu, ikut menundukkan kepala dalam-dalam, bahu mereka pun ikut berguncang hebat menahan rasa bersalah yang luar biasa besarnya. Ingatan mereka terputar kembali ke masa dua tahun belakangan ini, betapa dingin dan kejamnya sikap mereka. Mereka ingat betul, sering kali melihat Ria pulang sekolah berjalan kaki jauh sendirian, pakaiannya agak kotor dan lusuh karena habis bekerja, wajahnya lelah tapi tetap berusaha tersenyum. Mereka ingat, sering kali melihat Ria makan hanya dengan nasi dan garam atau sambal saja, porsi sedikit sekali, seolah takut menghabiskan sisa makanan yang ada. Mereka ingat, sering kali mendengar Ria mengeluh pusing atau sakit pinggang karena terlalu banyak bekerja, tapi mereka pura-pura tuli dan pergi meninggalkannya. Semua kenangan pahit itu kini berbalik menjadi duri tajam yang menusuk-nusuk hati mereka, menyiksa batin mereka tak terkira.

"Kami sadar sekarang, Ya Allah... Kekurangan kami bukan cuma harta benda, tapi yang paling parah adalah kekurangan kasih sayang dan rasa kemanusiaan..." sambung Bang Arefin dengan suara bergetar, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. "Kami biarkan dia tumbuh besar dengan tubuh yang kurang gizi, makan seadanya saja, sampai tulang-belulangnya terlihat semua begini. Kami biarkan dia memikul beban hidup yang terlalu berat untuk ukuran anak perempuan, beban yang seharusnya kami yang pikul sebagai kakak laki-laki. Kami biarkan dia berjuang sendiri mencari biaya sekolahnya, padahal kami tahu dia sangat ingin belajar dan punya cita-cita. Kami semua salah... Kami semua berdosa besar padanya... Tapi kami mohon, Ya Allah... Berikan kami kesempatan sekali saja... Jangan ambil dia... Biarkan kami menebus semua kesalahan kami... Biarkan kami memeluknya, menyayanginya, dan berjuang bersamanya mulai sekarang... Kami berjanji, takkan pernah lagi kami biarkan dia menangis, takkan pernah kami biarkan dia lelah bekerja sendirian, takkan pernah kami bersikap dingin lagi selamanya..."

Bang Ardiansyah yang sedari tadi diam dan menatap lekat wajah pucat adiknya, akhirnya ikut berbicara dengan suara yang berat namun penuh penyesalan yang mendalam. Ia menyentuh lengan Ria yang kurus panjang dan kasar itu dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti tulang-tulang yang menonjol itu.

"Lihatlah tubuhnya ini, Ya Allah... Begini rupa adik kami karena kelalaian kami... Tinggi besar, tapi kosong, tidak ada isinya, tidak ada dagingnya... Semua karena dia kurang makan, kurang gizi, terlalu banyak pikiran, dan terlalu banyak kerjaan berat. Semua bekas kerja kerasnya ada di sini, di tangannya yang kasar ini... Dulu kami bangga jadi kakak, tapi sekarang kami malu sekali... Kami malu pada diri sendiri, malu pada Bunda, malu pada Ria... Tapi kalau Engkau berikan kesembuhan padanya malam ini, kami berjanji akan ubah semuanya. Meski kami tetap miskin, meski kami tetap susah cari makan, kami pastikan dia tidak sendirian lagi. Kami yang akan bantu dia kerja, kami yang akan cari cara supaya dia tidak terlalu berat beban hidupnya. Kami akan jadi kakak yang sebenarnya, kakak yang melindungi dan menyayangi adiknya dengan tulus, apa pun keadaannya..."

Di malam yang sunyi dan penuh doa itu, rumah kecil itu menjadi tempat berkumpulnya segala rasa bersalah, kasih sayang yang tertunda, dan harapan yang satu-satunya: kesembuhan Ria. Semua rasa sakit, semua penyesalan, dan semua permohonan itu menyatu menjadi satu kekuatan doa yang begitu besar dan kuat, naik ke langit malam yang gelap itu.

Perlahan namun pasti, seiring berjalannya waktu dan doa yang tak putus-putus terucap dari hati yang paling dalam, terjadilah keajaiban yang nyata dan terasa begitu jelas. Panas yang semula membara hebat di sekujur tubuh kurus Ria, perlahan-lahan mulai berkurang dan menyusut pelan-pelan. Keringat dingin mulai keluar membasahi seluruh badannya yang kurus kering itu, membuat bajunya menjadi basah kuyup. Napasnya yang tadinya berat, pendek, dan tersengal-sengal, kini mulai berubah menjadi lebih teratur, lebih panjang, dan terasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Wajah pucat dan kaku itu pun perlahan mulai kembali berwarna, sedikit demi sedikit rona merah alami mulai nampak kembali di pipinya yang tadi kering dan kaku.

Melihat perubahan yang sangat nyata itu, mata Bunda dan ketiga kakaknya seketika berbinar penuh harap dan rasa lega yang luar biasa besarnya. Bang Ardiansyah segera menyentuh kening adiknya sekali lagi dengan punggung tangannya, merasakan suhu tubuhnya yang kini sudah menjadi hangat wajar, tidak lagi panas menyengat seperti tadi malam. Ia pun mengusap pelan lengan Ria yang kurus panjang itu, hatinya terasa sedikit lega meski rasa bersalahnya belum hilang sama sekali.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Ya Allah..." ucap Bang Ardiansyah berulang kali dengan suara parau namun penuh rasa syukur yang tak terhingga. Matanya berkaca-kaca, kali ini bukan karena sedih atau menyesal, melainkan karena bahagia dan rasa syukur yang luar biasa. "Panasnya sudah turun semua, Bun... Hamza... Arefin... Lihat, demamnya sudah hilang sama sekali! Ria sudah tidak panas lagi, napasnya sudah enak, Alhamdulillah... Terima kasih Ya Allah, Engkau mengabulkan doa kami..."

Bunda Maria segera mendekat, berlutut di samping kasur, mengusap kening dan pipi putrinya dengan tangan yang masih gemetar karena rasa haru yang mendalam. Ia mencium kening dan dahi Ria berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur yang mendalam, air mata bahagia kembali mengalir deras di pipinya.

"Terima kasih ya Allah... Terima kasih Engkau telah mendengar jeritan hati hamba... Terima kasih Engkau telah mengabulkan permohonan kami... Terima kasih Engkau telah mengembalikan kesehatan dan nyawa anak hamba kembali ke kami..." ucap Bunda lirih, suaranya penuh ketenangan. "Bunda janji Ya Allah... Kami semua janji... Mulai sekarang kami akan jaga dia sekuat tenaga kami, apa pun yang terjadi... Kami tidak akan membiarkan dia menderita lagi..."

Tak lama kemudian, perlahan namun pasti, kelopak mata Ria yang berat dan lelap itu pun mulai bergerak pelan. Ia membuka matanya perlahan, masih terasa sedikit mengantuk, lemas, dan pandangannya masih agak kabur, jam namun perlahan mulai jelas melihat wajah-wajah orang yang paling dicintainya sedang mengelilingi tempat tidurnya dengan wajah cemas namun lega.

"Bunda...?" panggilnya pelan dengan suara yang sudah jauh lebih kuat, jelas, dan lembut dari sebelumnya. Ia menatap satu per satu wajah mereka. "Abang semua... kok belum tidur? Masih begadang semua ya...? Kenapa mata kalian semua merah dan basah begini...?"

Suara lembut namun jelas itu terdengar begitu indah dan menyejukkan hati bagi mereka semua, bagaikan suara musik surga yang menghapus semua rasa takut dan kekhawatiran semalam suntuk. Bang Arefin segera menggenggam tangan Ria yang kurus, panjang, dan kasar itu dengan erat namun sangat lembut dan hati-hati, takut menyakiti tulang-tulangnya. Ia tersenyum lebar meski air matanya masih berlinang di pelupuk mata.

"Kami nemenin kamu istirahat kok, Dik... Kami nungguin kamu sembuh dan enakan dulu baru mau istirahat... Kami takut banget kehilangan kamu..." jawab Bang Arefin dengan suara parau namun penuh kasih sayang yang mendalam. "Gimana perasaanmu sekarang? Masih ada yang sakit, pusing, atau ngilu lagi nggak? Katakan saja sama Abang, apa saja yang kamu rasakan..."

Ria menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis namun sangat tulus dan ikhlas, senyum yang selalu dia miliki meski hidupnya penuh penderitaan. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, merasa jauh lebih ringan dan segar.

"Sudah enakan kok, Bang... Badan sudah nggak panas lagi, pusingnya juga sudah hilang sama sekali, ngilunya di pinggang juga sudah berkurang banyak... Rasanya segar dan enak sekali... Kayak ada yang angkat beban berat sekali dari badan dan dada Ria..." jawabnya jujur dan wajar sesuai usianya, matanya menatap mereka satu per satu dengan pandangan bersalah. "Maaf ya Abang semua... bikin kalian begadang, bikin kalian cemas... Ria cuma

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!