NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Undangan Beracun

​"Kamu gila? Untuk apa kita menerima undangan makan malam dari Reo?"

​Airine membanting tas kerjanya di atas meja kayu apartemen Nata yang sempit. Suaranya melengking tinggi, memantul di dinding ruangan yang sepi. Di depannya, Nata sedang sibuk mengelap sisa air di meja makan dengan handuk kecil, seolah-olah kemarahan Airine hanyalah angin lalu.

​Nata mendongak pelan. "Dia mengundangmu lewat telepon kantor, kan? Dan dia bilang ini soal 'perdamaian' sebelum rapat pemegang saham besok. Jika kamu tidak datang, dia akan menganggapmu takut."

​"Tentu saja aku tidak takut! Tapi aku tahu dia punya rencana busuk!" Airine berjalan mondar-mandir, kaos oblong Nata yang ia pakai tampak kedodoran di tubuhnya yang mungil. "Dan dia memintaku membawamu. Dia ingin mempermalukanmu lagi di restoran mewah itu, Nata. Apa kamu tidak punya harga diri?"

​Nata meletakkan handuknya. Ia menatap Airine dengan tatapan yang sulit diartikan. "Harga diriku tidak akan hilang hanya karena duduk di kursi mahal, Airine. Justru ini kesempatan. Kita harus tahu apa yang mereka rencanakan di gudang farmasi itu. Reo bilang makan malamnya di restoran dekat dermaga, kan? Itu hanya satu blok dari gudang sektor C."

​Airine terdiam. Ia menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Bagaimana kamu bisa tahu letak gudang sektor C dan jaraknya dari restoran itu? Kamu bahkan baru sehari jadi petugas kebersihan di sana."

​Nata sempat tertegun sejenak. Sial, aku terlalu detail, batinnya. Ia segera memasang wajah bingung yang dibuat-buat. "Eh? Tadi kan aku mengepel di depan peta evakuasi gedung. Aku tidak sengaja melihatnya. Ingatanku cukup tajam kalau soal jalan, Dok. Maklum, biasa cari rute tercepat buat dorong gerobak bakso kalau ada Satpol PP."

​Airine memicingkan mata, masih merasa ada yang ganjil, tapi ia terlalu lelah untuk berdebat soal ingatan Nata. "Tapi aku tidak punya baju yang pantas. Semua pakaianku ada di rumah Ayah, dan aku tidak sudi menginjakkan kaki di sana malam ini."

​Nata berjalan menuju tumpukan kardus di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebuah kotak karton yang masih terbungkus plastik rapi. "Pakai ini. Aku membelinya tadi siang di pasar loak... eh, maksudku di toko baju diskon."

​Airine menerima kotak itu. Saat membukanya, matanya terbelalak. Di dalamnya terdapat sebuah dress hitam simpel namun berbahan sutra berkualitas tinggi. "Ini... ini bukan baju diskon, Nata. Ini sutra asli. Dari mana kamu dapat uang untuk membeli ini?"

​"Tabungan baksoku setahun, Dok. Jangan cerewet, pakai saja. Aku tidak ingin istriku terlihat kusam di depan mantan tunangannya yang sombong itu," jawab Nata sambil berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.

​Airine mengelus permukaan kain sutra itu. Pria ini... dia rela menghabiskan tabungannya hanya untuk baju ini? Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dada Airine, mengalahkan rasa cemasnya sesaat.

​Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil tua Nata yang berderit setiap kali melewati polisi tidur. Nata mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Meski pakaiannya sederhana, aura yang dipancarkannya malam ini terasa sangat berbeda. Lebih tajam. Lebih berbahaya.

​"Nata," panggil Airine pelan saat mereka hampir sampai di tujuan.

​"Hmm?"

​"Kenapa kamu sangat tenang? Kita akan masuk ke kandang serigala. Reo tidak mungkin mengajak kita makan malam hanya untuk minta maaf."

​Nata melirik Airine sekilas. "Karena serigala hanya berani menggigit jika mangsanya terlihat takut. Selama kamu berada di sampingku, anggap saja kita sedang makan bakso di pinggir jalan. Jangan pikirkan kata-kata mereka."

​Restoran The Pier berdiri megah di pinggir dermaga. Lampu-lampu kristalnya berkilauan, sangat kontras dengan kegelapan laut di belakangnya. Di meja sudut yang paling mewah, Reo dan Renata sudah menunggu dengan wajah angkuh.

​Begitu Airine dan Nata mendekat, Reo berdiri dengan senyum palsu yang memuakkan. "Ah, pasangan fenomenal kita sudah datang. Silakan duduk, Tuan Penjual Bakso. Semoga kursinya tidak terlalu empuk untuk bokongmu."

​Renata tertawa kecil, menutup mulutnya dengan tangan yang dihiasi cincin berlian. "Wah, Airine... gaunmu bagus sekali. Beli di pasar malam mana? Hati-hati, kainnya mungkin bisa membuat kulit doktermu alergi."

​Airine hendak membalas, tapi Nata lebih dulu menarikkan kursi untuknya dengan gerakan yang sangat elegan—terlalu elegan untuk seorang rakyat jelata.

​"Terima kasih atas perhatiannya, Nona Renata," ucap Nata sambil duduk dengan tenang. "Kain ini memang simpel, tapi setidaknya ini dibeli dengan uang halal. Bukan hasil memeras warisan orang tua yang sudah meninggal."

​Suasana meja makan langsung membeku. Wajah Renata berubah pucat, sementara Reo menggeram rendah.

​"Jaga bicaramu, Tukang Bakso!" bentak Reo. "Kamu ada di sini karena aku masih berbaik hati ingin memberi Airine kesempatan untuk mundur secara terhormat dari rumah sakit."

​"Mundur?" Airine menyambar. "Setelah apa yang kalian lakukan pada Ibuku? Setelah kamu mengkhianatiku? Jangan harap, Reo!"

​Reo condong ke depan, suaranya mengecil namun penuh ancaman. "Dengar, Airine. Kami tahu kamu punya masalah 'kesehatan mental'. Kami tahu soal obat penenang itu. Jika kamu tetap keras kepala ingin memimpin rapat besok, aku akan membeberkan catatan medis rahasiamu kepada seluruh pemegang saham. Kamu akan hancur."

​Airine tersentak. Ia menoleh ke arah Nata dengan panik. Bagaimana Reo bisa tahu soal obat itu? Apakah Nata yang memberitahunya? Tidak, itu tidak mungkin.

​Nata justru terlihat sangat santai. Ia mengambil garpu dan mulai memutar-mutar pasta di piringnya. "Catatan medis ya? Itu menarik. Tapi bukankah lebih menarik jika kita bicara soal rekaman CCTV di gudang farmasi sektor C semalam? Tentang siapa yang masuk ke sana bersama pria asing bernama Tuan Shen?"

​Kali ini, giliran Reo yang tersedak minumannya. Ia menatap Nata dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. "K-kamu... bagaimana kamu tahu nama itu?"

​Nata mengangkat bahu, lalu menyuap pastanya dengan nikmat. "Sudah kubilang, kan? Telinga tukang bakso itu ada di mana-mana. Bahkan di lubang tikus sekalipun."

​Reo gemetar karena amarah dan ketakutan. Ia melirik jam tangannya. "Cukup! Aku tidak ingin berdebat dengan sampah seperti kamu. Airine, jika kamu ingin bicara soal masa depanmu, ikut aku ke kantor belakang sekarang. Hanya kita berdua. Suamimu ini tunggu saja di sini sambil menghabiskan makanan mahalnya."

​"Jangan pergi, Airine," ucap Nata tanpa menoleh, suaranya sangat dingin.

​"Dia harus ikut, atau aku akan menelepon polisi sekarang juga untuk melaporkan malpraktik yang kamu lakukan bulan lalu!" ancam Reo pada Airine.

​Airine menatap Nata, lalu menatap Reo. Ia merasa terjebak. "Aku... aku akan ikut dengannya sebentar, Nata. Hanya lima menit."

​Nata meletakkan garpunya. Ia menatap mata Airine dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang memberikan kode rahasia. "Lima menit. Jika dalam lima menit kamu tidak keluar, aku akan menjemputmu. Dan percayalah, kamu tidak ingin melihat cara aku menjemputmu."

​Airine mengangguk pelan, lalu mengikuti Reo menuju lorong gelap di belakang restoran yang terhubung langsung dengan area gudang.

​Begitu mereka menghilang, Renata tersenyum licik ke arah Nata. "Kamu bodoh ya? Membiarkan istrimu pergi dengan mantan tunangannya yang masih sangat mencintainya?"

​Nata tidak menjawab. Ia justru menyentuh jam tangannya. "Tim Dua, Target A masuk ke zona merah. Eksekusi protokol perlindungan jarak dekat. Lumpuhkan siapa pun yang menyentuh sehelai rambutnya."

​Renata mengerutkan dahi. "Apa yang kamu gumamkan? Kamu bicara dengan jam tanganmu?"

​Nata berdiri, aura "Bang Nata" menghilang sepenuhnya. Yang berdiri di depan Renata sekarang adalah seorang predator yang siap menerkam. "Nona Renata, sebaiknya Anda segera memesan taksi. Karena dalam beberapa menit ke depan, tempat ini akan menjadi area perang yang sangat berisik."

​Nata melangkah pergi meninggalkan Renata yang termangu ketakutan, menuju kegelapan lorong di mana Airine sedang berjalan masuk ke dalam jebakan maut.

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!