Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Pagi itu, apartemen di Wilshire diselimuti suasana yang jauh berbeda dari ketegangan rahasia Nyx. Cahaya matahari yang hangat memantul di permukaan meja makan kayu tempat Knox sedang menyambar tas punggungnya dan kunci mobil Lamborghini-nya.
Nyx berdiri di ambang pintu kamar, mengenakan kemeja putih milik Knox yang kedodoran, menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang yang mulai tumbuh dan rencana dingin yang ia susun di kepalanya.
Knox melangkah mendekat, menarik pinggang Nyx masuk ke dalam pelukannya dengan posesif. Ia menghirup dalam-aromanya di perpotongan leher Nyx, seolah ingin menyimpan cadangan energi untuk hari yang panjang.
"Mungkin aku akan pulang telat hari ini, baby," bisik Knox, suaranya serak dan berat, sisa dari percintaan mereka yang intens.
Nyx mendongak, jemarinya merapikan kerah kaos Knox yang sedikit berantakan. "Proyekmu belum selesai? Bukankah kau bilang tinggal tahap akhir desain mesinnya?"
Knox meringis pelan, memberikan kecupan singkat namun dalam di bibir Nyx. "Belum. Dosen pembimbingku—pria tua itu—benar-benar perfeksionis. Ada beberapa kalkulasi beban yang harus kuperbaiki di laboratorium. Jangan menungguku untuk makan malam jika aku belum memberi kabar, oke?"
Nyx mengangguk, tersenyum manis—senyum yang kini menjadi senjata paling mematikannya. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Knox. Jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tidak janji soal itu," goda Knox sambil mengedipkan sebelah mata. Ia memberikan satu tepukan sayang di bokong Nyx sebelum benar-benar melangkah keluar pintu. "Aku mencintaimu, Nyx Morrigan!"
Nyx menatap pintu yang tertutup rapat itu. Begitu suara mesin Lamborghini meredup di kejauhan, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan tajam yang terarah pada ponsel di tangannya.
Namun, Knox tidak sepenuhnya jujur. Begitu ia menginjakkan kaki di area parkir fakultas teknik, ia tidak langsung menuju laboratorium. Di bawah pohon ek besar yang rindang, Zack dan Liam sudah menunggunya dengan ekspresi yang tidak bisa dibilang tenang.
"Akhirnya Sang Raja muncul juga," celetuk Zack sambil melemparkan sebotol minuman energi ke arah Knox.
"Ada apa? Kalian terlihat seperti baru saja melihat hantu," sahut Knox dingin.
Liam maju selangkah, menunjukkan layar ponselnya. Di sana terdapat sebuah video singkat: logo geng motor Bar-Baros yang terbakar, diikuti dengan teks tantangan yang menghina.
"Anak-anak Bar-Baros menantang kita lagi, Knox. Nanti malam, di gudang tua sektor tujuh," Liam menjelaskan dengan nada rendah. "Mereka bilang, kemenanganmu tempo hari hanya keberuntungan. Mereka ingin taruhan besar—nyawa atau harga diri. Dan mereka membawa-bawa soal motor BMW-mu yang meledak itu. Mereka tertawa, Knox. Mereka bilang kau hanya pecundang yang berlindung di balik nama Riccardo."
Darah Knox mendidih seketika. Nama Bar-Baros adalah duri dalam daging baginya. Mengingat bagaimana motor kesayangannya hancur berkeping-keping dan bagaimana harga dirinya diinjak-injak malam itu, Knox merasakan amarah yang murni merayapi setiap serat ototnya.
"Boxing?" tanya Knox, suaranya kini berubah menjadi sedingin es.
"Ya. No rules, no gloves. Hanya kepalan tangan dan dendam," jawab Zack dengan seringai liar. "Sudah lama kita tidak turun ke ring, Knox. Sejak kau sibuk 'mengurus' gadis barumu itu, markas terasa sangat sepi."
Knox terdiam sejenak. Bayangan wajah Nyx yang lembut tadi pagi melintas di benaknya. Ia telah berjanji untuk menjadi pelindung bagi gadis itu. Namun, harga diri seorang Riccardo dan pemimpin The Outcasts tidak bisa dibiarkan diinjak oleh sekelompok preman jalanan seperti Bar-Baros.
Jika ia tidak bisa melindungi harga dirinya sendiri, bagaimana ia bisa melindungi Nyx dari ancaman Beckham atau Morrigan yang lebih besar?
"Pukul berapa?" tanya Knox singkat.
"Jam sebelas malam," sahut Liam.
"Siapkan arenanya. Beritahu mereka, malam ini tidak akan ada ambulans yang cukup untuk mengangkut sisa-sisa tubuh mereka dari ring," ucap Knox penuh otoritas.
Hari itu berlalu dengan sangat cepat bagi Knox. Antara kelas teknik yang membosankan dan latihan fisik intensif di markas bersama Zack, pikirannya benar-benar teralihkan. Adrenalin mulai menguasai sistem sarafnya. Setiap pukulan yang ia layangkan ke sandbag adalah visualisasi dari wajah anggota Bar-Baros yang menghancurkan dunianya.
Di sisi lain, di apartemen Wilshire, Nyx terus melirik jam dinding. Pukul tujuh malam... pukul delapan... pukul sembilan.
Ia sudah memasak makan malam yang spesial, mencoba menjadi "kekasih yang baik" demi melancarkan rencananya. Namun, tidak ada pesan singkat, tidak ada telepon. Ponsel Knox saat dihubungi hanya masuk ke kotak suara.
"Dia bilang akan pulang telat karena proyek," gumam Nyx pada dirinya sendiri. Namun, instingnya sebagai seseorang yang besar di jalanan mulai berbicara. Ada sesuatu yang tidak beres.
Nyx mencoba meyakinkan dirinya bahwa Knox mungkin benar-benar sibuk dengan kalkulasi mesinnya. Namun, rasa cemas yang aneh mulai menyusup. Bukan cemas karena takut Knox selingkuh—ia tahu pria itu terlalu tergila-gila padanya—tapi cemas karena ia tahu dunia Knox tidak sesederhana laboratorium teknik.
Sementara itu, di sebuah gudang tua yang pengap dan diterangi lampu pijar yang remang-remang, sorak-sorai kasar bergema. Aroma bir murah, keringat, dan darah memenuhi udara.
Knox berdiri di tengah ring darurat, telanjang dada, hanya mengenakan celana jeans hitam. Otot-otot tubuhnya berkilat karena peluh di bawah lampu sorot. Di depannya berdiri seorang raksasa dari Bar-Baros yang siap menghancurkannya.
Knox telah lupa segalanya. Ia lupa tentang janji makan malam, lupa memberi kabar pada Nyx, bahkan lupa bahwa ia baru saja memulai hidup baru sebagai seorang pelindung. Saat ini, ia hanyalah seekor predator yang haus akan pembalasan.
"Ayo, Riccardo! Tunjukkan padaku apakah mulutmu sekeras tinjumu!" teriak lawan itu.
Knox hanya menyeringai dingin, mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Kau akan menyesal pernah menyentuh motorku, bajingan."
Di apartemen yang sunyi, Nyx akhirnya mematikan kompor dan membuang sisa makanannya ke tempat sampah. Wajahnya datar, namun matanya berkilat dingin.
"Kau berbohong padaku, Knox?" bisik Nyx lirih.
Rasa percaya yang baru saja ia bangun seolah retak. Ia menyadari satu hal: jika ia ingin bertemu ayahnya dan menghancurkan Beckham, ia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pria yang bisa melupakan keberadaannya.
Malam itu, saat Knox bersimbah darah di ring tinju merayakan kemenangannya, ia tidak sadar bahwa di rumah, "malaikat maut"-nya sedang mempertimbangkan kembali apakah Knox adalah pion yang tepat, atau justru sebuah liabilitas yang berbahaya.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂