NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman baru

Kelas I-A Pria

Pintu kelas I-A pria terbuka otomatis saat gelang identitas Douma memverifikasi kehadirannya.

Udara sejuk langsung menyambut.

Ruang kelas itu terasa seperti laboratorium akademik masa depan—rapi, terang, dan presisi. Kursi-kursi ergonomis tersusun setengah melingkar, dirancang untuk menjaga postur duduk optimal. Meja transparan di depan setiap kursi menyimpan panel layar adaptif yang bisa muncul hanya dengan sentuhan ringan.

Dinding kelas bukan sekadar dinding.

Permukaannya adalah smart panel aktif yang mampu menampilkan data, simulasi visual, bahkan grafik real-time. Di langit-langit, sistem pencahayaan menyesuaikan intensitas berdasarkan tingkat fokus siswa.

“Ini kelas…?” gumam seorang siswa pelan.

“Lebih mirip pusat riset,” jawab yang lain.

Douma Amatsuki berjalan tenang menuju tempat duduknya. Langkahnya ringan, posturnya tegap. Rambut putih peraknya jatuh rapi, memantulkan cahaya halus.

Sejak ia masuk, beberapa kepala menoleh.

Image pertama yang terbentuk langsung jelas:

dingin… tapi bukan arogan.

tenang… tapi terasa tak tersentuh.

sopan… tapi berjarak alami.

Sudut bibirnya naik sedikit—senyum tipis yang justru membuat beberapa siswa terdiam.

“Serius… dia kelihatan seperti karakter utama anime,” bisik seseorang.

Douma duduk tanpa memperhatikan reaksi sekitar.

Pintu kembali terbuka.

Seorang pria tinggi dengan jas akademik modern masuk dengan langkah mantap. Wajahnya tegas, tampan, dan profesional—standar guru elit Hoshikawa.

“Selamat pagi,” katanya tenang.

Suara kelas langsung mereda.

“Saya wali kelas I-A pria. Nama saya Hayashi Kaito.”

Ia menatap seluruh kelas.

“Di sekolah ini, kelas pria diajar guru pria. Kelas wanita diajar guru wanita. Fokus akademik adalah prioritas kami.”

Beberapa siswa mengangguk setuju.

Hayashi menyentuh panel udara. Dinding kelas menyala menampilkan profil kelas.

“Baik. Mari kita mulai sesi perkenalan.”

Suasana langsung berubah hidup.

Siswa pertama berdiri.

“Tanaka Ren! Suka olahraga… semoga kita akur!”

Tawa kecil muncul.

Berikutnya:

“Suzuki Haru… saya kurang jago fisik, jadi mohon kerja samanya…”

Giliran demi giliran berlalu. Ada yang percaya diri, ada yang gugup, ada yang terlalu bersemangat.

Lalu—

“Amatsuki Douma.”

Ia berdiri perlahan.

Hening kecil langsung tercipta.

“Saya berharap kita bisa belajar dengan baik.”

Tidak panjang. Tidak dramatis.

Namun cara ia berbicara—tenang, jelas, tanpa keraguan—membuat kelas diam beberapa detik.

“Minimalis banget…” “Kenapa terasa berat ya…”

Douma duduk kembali seperti tidak terjadi apa-apa.

Setelah beberapa siswa lain, dua perkenalan menarik perhatian kelas.

Seorang pemuda berambut hitam acak berdiri dengan senyum lebar.

“Minamoto Rei! Hobi makan, tidur, dan… bertahan hidup dari tugas sekolah!”

Tawa meledak.

“Aku serius! Kalau ada yang pintar, tolong angkat aku!”

Matanya melirik Douma terang-terangan.

“Target terkunci.”

Douma hanya mengangkat alis tipis.

Berikutnya, siswa bertubuh ramping dengan kacamata tipis berdiri.

“Kuroda Shin. Saya suka analisis dan strategi. Saya berharap diskusi kita produktif.”

Nada bicaranya tenang… tapi tatapannya tajam penuh perhitungan.

Rei berbisik keras:

“Dia terlihat seperti otak kelas…”

Shin menjawab datar:

“Statistik mendukung itu.”

Tawa kembali pecah.

Tanpa disadari, tiga orang itu—Douma, Shin, dan Rei—sudah membentuk pusat gravitasi kecil di kelas.

 

Sementara itu…

Di kelas I-A wanita.

Atmosfernya tak kalah elegan.

Seorang guru wanita berdiri di depan—anggun dan profesional.

“Selamat pagi. Saya Fujimoto Ayaka.”

Sesi perkenalan dimulai.

Ketika gilirannya tiba—

Kazehaya Aurelia berdiri.

Posturnya anggun. Wajahnya cantik seperti lukisan. Pembawaannya tenang dan berkelas.

“Aurelia Kazehaya. Senang bertemu kalian.”

Suaranya lembut namun jelas.

Tidak sombong. Tidak berlebihan.

Beberapa siswi langsung terpesona.

“Cantik banget…” “Aura dewi…”

Namun Aurelia hanya tersenyum tipis—cukup untuk sopan santun.

 

Kembali ke kelas pria.

Hayashi mengaktifkan layar besar.

“Sebagai informasi,” katanya, “hasil yang diumumkan di area pengujian—AstraScan Hall—hanya menampilkan peringkat satu dan dua.”

Nama muncul.

1 — Amatsuki Douma

Akademik: 98% — Jenius

Fisik: ∞ / 999999999+

Kelas langsung bergumam.

Layar berubah.

2 — Kazehaya Aurelia

Akademik: 93% — Jenius

Fisik: 90%

“Wah…” “Gila…”

Shin menatap Douma seperti melihat makhluk mitologi.

“Bro… kamu manusia?”

Douma menjawab datar:

“Sepertinya.”

Shinmenyesuaikan kacamatanya.

“Statistik itu… mustahil.”

Douma hanya mengangkat bahu.

Hayashi bertepuk tangan pelan.

“Baik. Hari ini kita tidak langsung memulai pelajaran.”

Beberapa siswa langsung bersorak lega.

“Hari ini kalian hanya perlu mengisi Personal Adaptive Integration Form.”

Panel muncul di meja masing-masing.

“Formulir ini menyesuaikan kebutuhan pribadi—loker, atribut, alergi makanan kantin, dan preferensi akademik.”

Shin membaca layar.

“Sekolah ini bahkan mengatur alergi makanan…”

Shinmenjawab:

“Efisiensi sistem.”

Douma mengisi formulirnya cepat.

Selesai.

Beberapa siswa masih sibuk membaca setiap detail.

Hayashi melanjutkan:

“Setelah selesai, kalian bebas menjelajahi sekolah.”

Kelas langsung ramai.

“Ke kantin!” “Mau lihat perpustakaan!”

Shin menoleh ke Douma.

“Mau ikut?”

Douma melirik gelang digitalnya. Peta sekolah terbuka—detail, presisi.

“Tidak perlu.”

“Hah?”

“Buat apa buang energi,” katanya santai.

Shinmenatapnya beberapa detik.

“Efisiensi ekstrem…”

Shin tertawa.

“Dia cocok jadi bos terakhir game.”

Douma bersandar di kursi.

Kelas mulai kosong.

Suasana menjadi tenang.

Cahaya matahari menyentuh jendela besar.

Untuk pertama kalinya sejak pagi—

hening.

Douma memejamkan mata sejenak.

Hari pertama.

Dan semuanya sudah terasa… terlalu hidup.

 

Sistem Profil Siswa

Di saat suasana kelas mulai sedikit tenang setelah pengarahan awal, layar transparan di depan ruangan menyala lembut. Cahaya hijau tipis membentuk antarmuka sistem yang rapi dan futuristis.

Guru kelas wanita mengangkat tangan memberi isyarat.

“Sekarang kalian akan diperkenalkan dengan Student Insight Panel — sistem profil dasar siswa. Ini membantu kalian saling mengenal tanpa melanggar privasi.”

Beberapa siswi langsung condong ke depan, penasaran.

Layar di depan masing-masing meja aktif. Gelang identitas mereka bergetar halus, menandakan sinkronisasi berhasil.

Profil sederhana mulai bermunculan.

Tidak berlebihan. Tidak invasif.

Hanya informasi inti:

— Nama

— Hobi

— Makanan favorit

— Kemampuan / bakat utama

Guru melanjutkan dengan tenang:

“Kalian memiliki hak penuh mengunci informasi tertentu. Sistem ini dirancang untuk menjaga kenyamanan sosial sekaligus keamanan pribadi.”

Bisik-bisik langsung pecah.

“Lucu juga…”

“Ini seperti biodata versi elit…”

“Aku mau lihat profil orang lain!”

Satu per satu siswi mulai membuka profil teman sekelasnya. Reaksi kecil bermunculan — tawa ringan, komentar kagum, bahkan godaan santai.

Namun tiba-tiba…

Beberapa layar menampilkan nama yang sama.

Amatsuki Douma.

Ruangan langsung berubah.

“Eh— ini… peringkat satu itu kan?”

“Dia muncul di sistem kelas wanita juga?”

“Kenapa profilnya bisa terlihat di sini?!”

Guru menjelaskan singkat:

“Profil peringkat tertinggi dapat diakses lintas kelas sebagai referensi akademik dan bakat. Itu kebijakan sekolah.”

Dan seketika…

Semua mata tertuju ke layar.

Profil Douma muncul sederhana — hampir terlalu sederhana.

Nama: Amatsuki Douma

Hobi: — [Terkunci]

Makanan favorit: Mochi

Kemampuan: — [Terkunci]

Sunyi satu detik.

Lalu—

“MOCHI??”

“Serius??”

“Ini lucu sekali…”

“Orang sekuat itu suka mochi?!”

Beberapa siswi menutup mulut menahan tawa kecil.

Kontras antara citranya yang dingin, elegan, hampir tak tersentuh… dengan makanan favorit yang manis dan sederhana terasa menggemaskan.

“Gap-nya terlalu jauh…”

“Ini malah bikin dia makin menarik…”

“Kenapa semua dikunci?!”

Justru bagian yang terkunci itu membuat rasa penasaran melonjak.

Profil misterius.

Informasi minim.

Tidak memberi celah.

Efeknya justru sebaliknya.

Semakin tidak terbaca… semakin ingin diketahui.

“Dia sengaja bikin misterius…”

“Fix… aku harus kenal orang ini…”

“Siapa pun yang berteman dengannya pasti beruntung…”

Di bagian atas profilnya, tulisan kecil bercahaya terlihat jelas:

Peringkat: I

Nomor Loker: A-01

Sementara tidak jauh dari situ, profil lain muncul:

Kazehaya Aurelia

Hobi: Membaca & strategi sosial

Makanan favorit: Teh herbal premium

Kemampuan: Analisis & kepemimpinan

Peringkat: II

Nomor Loker: A-02

Beberapa siswi menoleh kagum.

“Dua orang ini… benar-benar beda dunia…”

“Seperti karakter utama cerita…”

Aurelia memperhatikan layar tanpa ekspresi berlebihan. Namun matanya sedikit menyipit saat membaca profil Douma.

Mochi.

Sudut bibirnya nyaris bergerak.

“…apa dia anak kecil? ” pikirnya.

Profil yang hampir kosong itu terasa seperti tantangan sosial tersendiri.

Dan di dalam kelas I-B wanita…

Tanpa pernah hadir secara fisik…

Nama Amatsuki Douma sudah menjadi pusat perhatian.

Bintang misterius.

Sosok yang bahkan tidak berbicara pun mampu mengendalikan atmosfer ruangan.

Bisik-bisik berubah menjadi rencana.

“Kalau ketemu di kantin…”

“Aku mau lihat langsung…”

“Semoga satu jalur…”

Guru berdeham pelan, menarik kembali fokus kelas.

“Baik. Ingat — ini hanya alat bantu sosial. Jangan berlebihan.”

Namun sudah terlambat.

Rasa penasaran telah tumbuh.

Dan di suatu tempat di gedung pria…

Douma sama sekali tidak menyadari bahwa hanya dengan kata mochi, ia baru saja memicu gelombang kecil kekacauan sosial.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!