NovelToon NovelToon
ALENSKY

ALENSKY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:53.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.

Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.

Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.

Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alen 4

Mereka saling berpapasan sejenak, dan Naka berhenti saat Alensky tepat di depannya saat ini.

"Silahkan dilanjutkan" ucap Alensky hendak berlalu pergi.

Namun sebuah tangan menyentuh jari jemarinya dengan sedikit erat disana.

"Apa-apaan kau ini, lepas!" Alensky tidak menarik tangannya hanya memberikan peringatan saja.

"Alensky" Tranaka mengeja namanya.

"Ya, dan aku tak peduli namamu saat ini, jadi_lepas!" Alensky menatap tajam lawan bicaranya.

Seruan sang Dosen saat memanggil namanya akhirnya membuat Tranaka melepaskan Alensky.

Setiba di kursinya, Draja langsung memukul lengannya.

"Kau ini!" Ucapnya.

"Apa?" Alensky menggosok lengannya sambil bertanya apa kesalahannya.

"Kenapa cari gara-gara, dia laki-laki yang di Raja kan di kampus ini, kenapa juga menunjuknya, kau ini!"

"Diam, kalau dia Raja, aku Ratunya, memang kenapa?" Sahut Alensky kesal juga, ini kampus tempat belajar semua orang, bukan kerajaan pakek ada Raja segala, batinnya.

Draja hanya menghela nafasnya saja melihat Alensky kini duduk dengan tenang dan melihat ke depan.

"Kenapa dia hanya melihatku, dasar sinting!" Ucap Alensky saat menyadari laki-laki yang dia tunjuk tadi menjelaskan dengan terus menatap nya.

Berakhir satu mata kuliah hari ini, Alensky masih duduk tenang di tempatnya sambil sesekali meminum isi tumbler yang dia bawa, sementara Draja juga tengah sibuk menyalin rekap penting materi barusan.

"Sudah siang, aku lapar sekali, bisa tunjukkan dimana Kantin di kampus ini?" Tanya Alen.

"Ada dua kantin, tapi yang agak jauh paling aman"

"Aman?, memangnya ada yang memasang jebakan racun di kantin ini?"

"Bukan itu, kantin yang paling dekat itu tempat mereka yang berkuasa dan ber uang, kalau yang agak jauh lebih umum, siapa saja bisa kesana, cuman tempatnya ya begitu itu, rame dan harus rela antri"

Sebenarnya Draja ingin menambahkan kata-kata nya, tapi tiba-tiba yang diajak bicara sudah nyelonong saja.

"Eh, Alen tunggu!" Berlarian mengejarnya.

Alensky bukan takut dengan apa yang dikatakan oleh Draja, tapi dia masih cukup waras untuk tidak membuat masalah dulu sebelum waktu tenggang yang di berikan, intinya harus sabar dan tetap mencari jalan aman.

Sementara Draja mengelus dada lega karena wanita yang diikutinya rupanya sudah menentukan pilihan yang menurutnya paling tepat, di kantin yang letaknya cukup jauh tapi aman sentosa.

"Okey, kita makan apa?" Tanya Draja di tengah keramaian yang ada di kantin siang ini.

"Aku ingin steak"

Draja hanya menggelengkan kepala, lalu kemudian memberikan lembar menu makanan yang ada di sana.

"Hanya ini?!" Alensky terkejut saat membacanya, hanya ada menu yang sangat minim sekali.

"Sudah, pilih saja" sahut Draja.

Alensky hanya menghela nafasnya dan akhirnya pilihan jatuh pada menu Nasi soto dan es jeruk, karena Es coklat kesukaan nya tidak ada di daftar menu.

Mereka makan siang dengan menu yang sama, Draja menikmati sambil melihat keramaian sekitar.

"Bagaimana?" Tanya Draja.

"Hem, lumayan" jawab Alensky.

Tepat disaat itu, Alensky melihat wanita itu lagi, kali ini dengan berjalan sendirian memasuki kantin untuk memesan makanan.

Wajahnya sendu, lebih suka menunduk dan terlalu kelam dengan banyak sekali guratan kesedihan bercampur ketakutan, tidak ada teman ataupun lawan bicara, dia seperti seseorang yang di kucilkan oleh semua orang.

"Siapa dia?" Tanya Alensky pelan.

Draja menoleh, melihat sekitar untuk memastikan siapa yang dimaksud oleh Alensky, lalu kemudian matanya terkunci pada sosok wanita yang tengah makan sendirian.

"Dia?" Tanya Draja memastikan.

"Hem" Alensky mengangguk pelan

"Dia salah satu mahasiswa yang mungkin bisa dibilang paling beruntung bisa masuk ke sini karena suatu kebetulan, bahkan di bebaskan dari biaya apapun di kampus ini"

"Maksud nya?"

"Katanya sih, universitas Manggala ini ada di atas tanah milik nenek moyangnya, tapi itu dulu, sudah lama sekali, namun demikian surat perjanjian tetap harus di patuhi, keluarganya memiliki surat itu dan aku dengar pihak universitas tidak bisa berbuat apa-apa"

"Jadi dia bisa di universitas ini karena hal itu saja, tidak ada yang lainnya?" Tanya Alensky.

"Emm, dia ada di jurusan IT, dan soal otaknya aku tidak tau pasti, karena hampir setiap hari ada saja yang menganggu dan mengerjainya"

"Dan sudah dua tahun dia menjalani nya?" Tanya Alensky yang kini perlahan meletakan sendok nya, tiba-tiba saja selera makanya hilang.

"Ya begitulah" jawab Draja biasa saja.

"Kalian semua bisa makan enak dan kuliah dengan nyaman melihat itu semua?" Tanya Alensky yang kini menatap lekat ke arah Draja yang seketika tersentak.

"Bu bukan begitu Alen, aku_"

"Setelah dua mingu berlalu, jangan lagi ada didekat ku, pergilah sejauh mungkin Draja, bukankah kau orang yang hanya mencari aman?"

"Alen, jangan begitu, sebaiknya kita fokus saja belajar dan lulus dari sini dengan baik"

"Sayangnya, hal-hal seperti yang terjadi pada wanita itu membuat ku terganggu dan gak bisa fokus, jadi mungkin nanti aku akan berbuat sesuatu agar aku bisa lebih fokus"

"Alensky, ayolah, kamu tidak mengerti aturan main di tempat ini, aku tidak mau hal buruk terjadi padamu" Draja semakin cemas dengan perkataan wanita yang baru saja menjadi temannya.

Alensky melempar uang dua ratus ribu ke arah Draja, lalu kemudian pergi begitu saja.

"Jangan mengikuti ku!" Teriak Alensky dan berjalan cepat menjauhi.

"Ini terlalu banyak Alensky" gumam Draja yang kini duduk kembali, sedih sekaligus khawatir akan Alensky.

Bukan tidak mau mendukung apa yang akan di lakukan, tapi Draja sudah pernah melihat hal buruk terjadi di kampusnya, dan itu membuatnya takut dan trauma, yang ada dipikirannya saat ini segera lulus dari sana tanpa ada masalah, karena orang tuanya menggantung kan harapan besar padanya.

Duduk di depan sebuah gudang yang letaknya berada paling belakangan di wilayah kampusnya, Alensky berusaha mengendalikan emosi dan pikirannya.

"Tenang, tenang, tenang, kamu harus tenang Alensky, ingat Oma dan ancamannya, itu lebih mengerikan, jadi tolong tenang" ucap Alensky untuk dirinya sendiri.

Air mineral yang dibawa bahkan hampir habis bolak balik di minumnya, sampai akhirnya dada yang bergemuruh kini bisa dikendalikan lagi.

Melanjutkan mata kuliah terakhir, Alensky kembali menyusuri jalanan menuju ke ruang kelasnya, tidak ada Draja lagi rupanya, laki-laki itu benar-benar sudah pergi menjauhinya, batin Alensky sedikit lega.

Semua nampak biasa saja, seperti dirinya, mahasiswa satu ruangan dengannya juga tengah bersiap menuju ke arah yang sama, sampai akhirnya Alensky harus mengeluarkan nafas kembali, Draja berlarian menuju ke arahnya.

"Alen" ucapnya, tidak berteriak ataupun berbisik, tapi anehnya tangannya seolah memberi tanda, Alensky tak mengerti maksud nya.

"Apa sih?!" Ucap Alensky.

"Pergi, jangan masuk kelas, keluar saja, cepat" ucap Draja makin aneh-aneh saja.

"Kau gila?" Alensky masih saja hendak meneruskan langkah.

Dan saat hampir saja melewati pintu, Alensky menyadari sesuatu.

Seorang wanita yang di pernah di lihatnya, sepatu mewah yang dipakai untuk menendang juga masih melekat di ingatan, dan sekali lagi Draja di depan sana masih memberikan kode tangan agar Alensky segera pergi.

"Memangnya ada apa?" Batin Alensky semakin penasaran dan malah berjalan masuk ruang kelasnya.

1
Susy Ariyani
💪💪💪💪💪💪
Siti Aisah
apakah deddy naka akan marah pada alensky ?? semoga naka tidak kenapa" ya thor🤭
Dwi Setyaningrum
ini namanya perjuangan Alen dan dlm bertarung pasti ada yg terluka kalian adalah pasangan saling melindungi itu juga kewajiban jd jgn menyalahkan diri sndr ya Alen..
Susy Ariyani
sabar ale
Susy Ariyani
sabar ale
Mundri Astuti
namanya juga bertarung ale...
Dwi Diana
harus selamat naka nya thor
Titik Subekti
pertempuran yg dahsyat
jgn ada yg meninggalkan ya thor
Mety Haula
oma cpt yolong tanaka jgn sampai ale menyedalinya
Dwi Setyaningrum
duh kirain didetik2 krusial kyk td Oma Alena muncul ternyata tdk dan untungnya kekuatan Alen malah dahsyat..gmn ya tranaka kira2 bisa disembuhkan ga ya🤔
Siti Aisah
thor naka bakal selamat kan, ada keluarga nugraha yg bisa menyembuhkan walaupun terluka seberat apapun..
Susy Ariyani
seru Kak
Kaa
meskipun Alen bisa selesaikan pertarungan itu tapi ko aku ikutan cemas dengan ke adaan tranaka apalagi Alen lanjut Thor yaah jangan lama deg degkan ini
Mundri Astuti
Alhamdulillah Ale bisa ngatasin sendiri...
Kaylaa
oma Alina datang gak ya🤔
Nurhartiningsih
kalau sudah bener2 terdesak ortunya Ale pasti bantuin.
Titik Subekti
.makin deg deg an
lanjut...
Mundri Astuti
tuh kan ..keturunan Rudolf juga punya...tapi klo ngadepin ketuanya mah kudu ada bantuan juga ngga si berdua
Arw
ini baru awal kekuatan Tranaka....saat nanti puncaknya tiba wooowww....seperti apa kekuatan itu.....d tunggu up-nya kak....
Siti Aisah: kekuatan naka dan alensky pasti bisa mengalahkan klan hitam Valencia... lanjut di tunggu besok thor😜
total 1 replies
Rita Susanti
Wiiih seru banget ini thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!