NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Di Bawah Atap yang Sama

​Suasana di ruang tengah rumah Marko mendadak membeku. Kenan berdiri mematung di dekat pintu, matanya terbelalak menatap posisi Marko dan Luna yang teramat dekat.

​Luna refleks mendorong dada Marko dengan panik, mengikis jarak di antara mereka. Wajahnya memerah padam.

​"Ken? K-kamu ngapain ke sini?" tanya Luna terbata-bata, mencoba menetralkan napasnya yang memburu.

​Kenan melangkah mendekat, matanya menatap Marko dan Luna bergantian dengan raut bingung sekaligus curiga. "Harusnya aku yang tanya, Lun. Kamu... ngapain ada di rumah Pak Marko malam-malam begini? Terus tadi..."

​"Mama aku masuk rumah sakit dua hari lalu, Ken," potong Luna cepat sebelum Kenan berpikir yang tidak-tidak. "Sekarang Papa sama Mama harus berobat ke Singapura. Papa yang minta aku menginap di sini selama mereka pergi, karena Om Marko sahabat Papa."

​Kenan berkerut dahi, menatap Marko yang kini sudah berdiri tegap dengan raut kaku seperti biasa. "Tapi kenapa harus di rumah Pak Marko? Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Lun?"

​"Semuanya mendadak, Ken. Aku juga nggak punya pilihan," jawab Luna dengan nada yang kini berubah dingin dan penuh kekesalan saat melirik Marko.

​Marko menghembuskan napas panjang, berdeham pelan untuk menguasai keadaan. "Ada dokumen penting yang mau kamu antarkan, Kenan?"

​"I-iya, Pak. Ini berkas revisi dari divisi analisis," jawab Kenan canggung seraya menyerahkan map tebal di tangannya. Matanya masih tak lepas mencuri pandang ke arah Luna. "Kalau begitu... aku permisi dulu, Pak. Lun, nanti aku chat ya."

​"Iya, Ken. Hati-hati ya," balas Luna lembut, sengaja menekankan nada perhatiannya di depan Marko.

​Setelah Kenan pergi, sikap Luna berubah total. Ia tak lagi berteriak atau emosi. Gadis itu hanya menatap Marko dengan tatapan dingin tanpa rasa, lalu berbalik melangkah naik ke lantai atas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sikap acuh tak acuh itu justru terasa jauh lebih menyiksa bagi Marko daripada bentakan emosionalnya tadi.

​Keesokan harinya di ruang kerja Marko, Yoga—sahabat sekaligus asisten pribadi Marko yang paling dipercaya—duduk di depan meja kerja Marko seraya menyesap kopinya. Yoga adalah satu-satunya orang yang tahu persis betapa Marko memendam rasa pada putri sahabatnya itu.

​"Jadi, lu bikin daftar aturan kayak sipir penjara?" tanya Yoga terkekeh geli setelah mendengar cerita Marko.

​Marko menyandarkan badannya di kursi, mengusap wajahnya yang lelah. "Gue cuma mau dia aman, Ga. Lu tahu sendiri ancaman dari rivalnya Ardi, ditambah si Kenan itu yang gerak-geriknya mencurigakan."

​"Ya tapi nggak gitu caranya, Marko!" tegas Yoga, merapikan posisi duduknya. "Cara lu yang kelewat ketat itu cuma bikin Luna makin benci sama lu. Cewek seumuran dia itu kalau makin dikekang, makin berontak! Makin lu larang dekat sama Kenan, makin dia anggap Kenan itu pahlawan dan lu penjahatnya."

​Marko terdiam, merenungkan ucapan sahabatnya.

​"Saran gue, longgarkan aturan lu," lanjut Yoga pelan. "Kasih dia ruang. Lu tetap bisa mengawasi dia dari jauh tanpa harus bikin dia ngerasa disandera. Coba panggil dia pakai pendekatan yang lebih hangat, bukan gaya bos ke bawahan."

​Hari Sabtu tiba. Karena kantor libur, Luna memanfaatkan hari itu sepenuhnya untuk bermalas-malasan. Seperti gadis muda pada umumnya jika sedang libur, Luna enggan keluar kamar sejak pagi. Ia hanya rebahan di atas kasur empuknya, bermain ponsel, dan menonton serial drama.

​Pukul sebelas siang, perutnya mulai berbunyi. Dengan enggan, Luna bangkit dari kasur. Menganggap rumah megah itu sedang sepi, Luna turun ke lantai bawah hanya mengenakan pakaian santai rumahannya: celana pendek di atas lutut dan kaus oblong longgar tanpa lengan (tank top longgar) berpundak tipis. Rambut panjangnya hanya diikat asal-asalan dengan jepit badai.

​Namun, begitu Luna sampai di dapur bersih untuk mengambil minum, langkahnya terhenti.

​Marko sedang berdiri di sana, mengenakan kaus polos abu-abu yang santai—penampilan casual yang sangat jarang Luna lihat. Pria itu baru saja selesai menyeduh dua cangkir cokelat hangat.

​Marko menoleh, dan pandangannya seketika terkunci pada sosok Luna.

​Garis leher yang jenjang, bahu mulus yang terekspos, serta kaki jenjang Luna yang terlihat jelas karena celana pendeknya membuat tenggorokan Marko mendadak terasa kering kerontang. Sebagai pria normal yang sudah menduda belasan tahun, pertahanan diri Marko langsung diuji hebat. Pria itu mengepalkan tangannya di balik konter dapur, berusaha keras mengalihkan pandangannya agar tetap sopan.

​"Pagi... eh, siang," sapa Marko dengan suara yang sedikit parau, berdeham pelan untuk menetralkan diri. "Saya buatkan cokelat hangat. Kamu belum makan dari pagi, kan?"

​Luna agak terkejut dengan perubahan nada suara Marko yang terkesan sangat lembut dan tidak kaku seperti biasanya.

​"Makasih, Om," jawab Luna pelan, mengambil cangkir itu lalu duduk di kursi bar dapur.

​"Soal aturan kemarin..." Marko melangkah mendekat, duduk di kursi bar sebelah Luna dengan jarak yang aman. "Saya minta maaf kalau terlalu mengekang kamu. Mulai hari ini, kamu bebas. Jam pulang kamu tak usah dibatasi ketat, dan kamu boleh pergi sama teman-teman kamu, asal tetap kasih kabar ke saya biar saya nggak cemas."

​Luna menatap Marko tak percaya. "Serius, Om?"

​"Iya, serius," jawab Marko menyunggingkan senyum tipis yang teramat tulus—senyum hangat yang sudah lama sekali tak Luna lihat. "Saya cuma mau kamu merasa nyaman di sini."

​Perubahan sikap Marko membuat benteng pertahanan Luna pelan-pelan meleleh. Seharian itu, suasana di rumah terasa jauh berbeda. Tidak ada ketegangan atau adu mulut. Marko mengajak Luna memasak makan siang sederhana bersama di dapur, mengobrol santai di ruang keluarga tentang masa kecil Luna, hingga menonton film bersama saat sore harinya.

​Hubungan mereka terasa jauh lebih dekat dan hangat dari sebelumnya. Namun, di balik kehangatan itu, Marko masih diselimuti rasa takut yang amat besar. Ia terlalu takut untuk mengakui dan mengungkapkan perasaannya secara jujur, takut batas etika dan penolakan Luna akan menghancurkan segalanya.

​Malam harinya, hujan gerimis kembali turun menyelimuti Jakarta.

​Luna duduk di sofa ruang tengah, berselonjor santai sambil memeluk bantal. Marko duduk di ujung sofa lainnya, mencoba fokus membaca buku di tangannya meski pikirannya terus terpecah oleh keberadaan Luna di sampingnya.

​Baju minim yang dikenakan Luna dan aroma harum samponya yang tercium samar-samar terus menantang akal sehat Marko. Pria matang itu harus berulang kali menghela napas panjang, menahan dorongan dalam dadanya untuk tidak berpaling menatap lekuk tubuh gadis di sebelahnya.

​"Om Marko," panggil Luna lembut, memecah keheningan.

​"Ya?" Marko menoleh, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang.

​"Makasih ya buat hari ini," ujar Luna tulus, menyunggingkan senyum manis. "Aku seneng banget. Ternyata Om Marko kalau lagi nggak galak... menyenangkan juga."

​Jantung Marko berdesir hebat mendengar pujian polos itu. Sebelum Marko sempat membalas, ponsel di atas meja kopi mendadak bergetar nyaring.

​Ponsel Luna menyala. Nama kontak Kenan tertera di layarnya. Luna menyambar ponselnya lalu mengangkat telepon itu tepat di hadapan Marko.

​"Halo, Ken?" sapa Luna ramah.

​"Halo, Lun! Mumpung malam minggu nih, kita jalan yuk? Aku jemput sekarang ya, kita cari makan sekalian nonton," ujar suara Kenan dari seberang telepon, terdengar antusias.

​Luna melirik Marko sejenak, ragu-ragu. "Eh, bentar ya Ken, aku tanya Om Marko dulu..."

​Luna menurunkan ponselnya, menatap Marko dengan mata membulat penuh harap. "Om... Kenan ngajak jalan malam mingguan. Boleh kan?"

​Rasa panas dan cemburu mendadak membakar dada Marko seketika. Tapi mengingat saran Yoga tadi siang untuk tidak terlalu mengekang, Marko mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dengan berat hati dan napas berat, pria itu akhirnya mengangguk pelan.

​"Boleh. Tapi ingat kata saya tadi, jaga diri dan kasih kabar kalau ada apa apa dan pulangnya jangan terlalu malam," ucap Marko kaku.

​"Asik! Makasih Om Marko!" seru Luna girang, langsung kembali bicara di telepon. "Ken, boleh! Jemput sepuluh menit lagi ya!"

​Gadis itu langsung berlari naik ke atas untuk bersiap-siap dengan wajah ceria.

​Namun, begitu Luna naik ke atas dan keheningan kembali menguasai rumah, Marko berdiri mengepalkan tangannya di tengah ruangan. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa gelisah, cemburu, dan ketakutan akan keselamatan Luna terus berkecamuk di dalam otaknya. Ia sama sekali tidak tenang membiarkan Luna pergi berdua saja dengan Kenan malam ini.

​"Sial," umpat Marko rendah pada dirinya sendiri.

​Tanpa pikir panjang lagi, Marko menyambar kunci mobil SUV hitamnya di atas meja. Pria matang itu berjalan cepat menuju garasi. Begitu melihat motor Kenan datang menjemput Luna dan membawa gadis itu berlalu membelah jalanan malam, Marko langsung menyalakan mesin mobilnya dan membuntutinya dari jarak jauh dengan dada penuh gejolak panas.

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!