Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
"Hamba mendengar suara benturan! Apakah penyusup itu ..."
"Dia baru saja meloloskan diri," potong Zhang Li datar. Dia menyuruh Feng Chuan menurunkan senjatanya.
Feng Chuan terperanjat. "Dia berhasil lolos dari tangan Yang Mulia?"
"Ya," sahut Zhang Li singkat.
Feng Chuan tertegun sesaat. Pangeran Zhang bukan orang biasa. Bagaimana mungkin penyusup itu bisa lolos?
"Apakah kita harus mengurung seluruh kediaman dan memeriksa setiap kamar sekarang juga?" tanya Feng Chuan.
"Tidak perlu," sahut Zhang Li dingin. Senyum tipis yang sarat akan intrik perlahan terukir di bibirnya. "Dia memang berhasil meloloskan diri... tapi dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih jelas daripada sekadar wajah."
"Apa itu, Yang Mulia?"
Zhang Li mengangkat tangan kanannya ke dekat wajah. Di jemarinya, tersisa serpihan kain penutup wajah yang robek serta bekas cengkeraman di udara malam yang ditinggalkan oleh sang penyusup.
Saat Zhang Li menarik napas dalam-dalam, sebuah jejak aroma yang sangat kontradiktif langsung menguasai indra penciumannya.
Aroma itu merekat kuat di udara dan kain di tangannya. Sebuah aroma pekat yang tidak gampang dihilangkan hanya dengan sapuan angin malam.
Lapisan pertama aroma itu begitu tajam dan akrab di hidung seorang panglima perang. Minyak Akar racikan herbal berbahan dasar akar perbatasan yang biasa diusapkan para prajurit untuk meredakan kebas dan memar otot setelah menarik tali busur militer.
Feng Chuan yang berdiri di sampingnya ikut menghirup udara malam yang tersisa, lalu mengerutkan kening dalam-dalam.
"Yang Mulia... aroma ramuan herbal perbatasan ini jelas milik pemanah itu," bisik Feng Chuan tegang. "Tapi wangi bunga ini... bukankah ini aroma minyak mawar istana yang biasa dipakai di kediaman para selir?"
Zhang Li menatap robekan kain di jemarinya dengan mata memicing tajam. "Ya. Ini minyak mawar yang dibagikan pengelola istana untuk para selir."
"Jika demikian..." Feng Chuan menarik napas tertahan. Mendadak matanya membelalak kaget. "Maksud Yang Mulia, penyusup ini bukan hanya mengintai arena latihan, tapi dia juga pernah melintasi atau bahkan menyusup ke area Kediaman Selir?"
"Bukan sekedar melintasi," sahut Zhang Li dingin seraya memutar robekan kain tersebut. "Tubuh penyusup ini pasti sempat bersentuhan atau bersembunyi di tempat yang penuh dengan aroma minyak mawar tersebut sebelum datang ke arena latihan ku. Bau ini menempel kuat di pakaiannya."
Feng Chuan mengepalkan tangan, pikirannya langsung bekerja keras. "Mungkinkah dia seorang pria dari luar? Seperti kakak laki-laki, pengawal rahasia, atau pembunuh gelap yang dikirim secara ilegal oleh salah satu faksi untuk menemui selir mereka?"
"Sangat mungkin," senyum Zhang Li berkilat dingin penuh kalkulasi militer. "Pria itu refleksnya cepat, dan mampu menarik busur berat. Dia jelas seorang prajurit terlatih. Keberadaan aroma mawar ini membuktikan dia punya hubungan dengan seseorang di kediaman selir."
Feng Chuan mengingat-ingat situasi istana belakangan ini. "Tapi Yang Mulia, belakangan ini tidak ada catatan sama sekali mengenai tamu luar atau kerabat yang mendapat izin berkunjung ke kediaman selir. Jika ada pria yang masuk ke sana, berarti dia masuk secara gelap!"
"Justru itu kunci jawabannya," perintah Zhang Li tegas.
Zhang Li menyerahkan robekan kain itu pada Feng Chuan.
"Merahasiakan hal ini tetap jadi pilihan terbaik," lanjut Zhang Li. "Mulai besok, awasi perimeter luar kediaman selir secara terselubung. Cari tahu faksi selir mana yang menunjukkan gerak-gerik aneh atau diam-diam menunggu kedatangan 'pria rahasia' ini kembali."
"Baik, Yang Mulia!" tegas Feng Chuan membungkuk dalam.
Di balik kegelapan malam, Zhang Li menatap ke arah deretan paviliun yang sunyi. Ia merasa makin tertantang. Pangeran dingin itu yakin sedang berhadapan dengan konspirasi prajurit pria dari luar yang diselipkan ke istananya.
***
Saat itu Xiao Yu meluncur masuk menembus jendela Paviliun Anggrek, mendarat tanpa suara di atas lantai kayu. Ia buru-buru menutup rapat daun jendela, memutar kuncinya, lalu menyandarkan dadanya di sana seraya mengontrol napas yang sedikit memburu setelah berlari membaur dalam kegelapan.
Bao'er yang menunggu dalam ketakutan luar biasa sejak tadi langsung berlari kecil menghampiri. Lilin redup di meja memperlihatkan wajah pelayan muda itu yang pucat pasi. Tangan Bao'er gemetar hebat saat matanya membelalak menatap robekan kain tebal di bagian lengan baju serba hitam yang dikenakan Xiao Yu.
"Yu'er! Ya Tuhan... apa yang terjadi?!" bisik Bao'er dengan suara gemetar hebat. Wajahnya pucat. "Kau terluka?! Siapa yang melakukan ini padamu?!"
"Aku tidak apa-apa, Bao'er," sahut Xiao Yu pelan namun tenang. Ia melepaskan ikatan kain penutup wajahnya yang sudah rusak, memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi peluh dingin. "Aku disergap di arena panah itu."
"Disergap?!" Bao'er menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan agar jeritan paniknya tidak lolos menembus pintu luar. "Prajurit patroli?!"
"Bukan," kening Xiao Yu berkerut dalam. Ia berjalan menuju almari kayu seraya memutar ulang kilasan bentrokan tadi di kepalanya. "Serangan telapak tangannya terlalu berbahaya. Tepat dan bertenaga murni. Tidak ada bunyi langkah kaki atau hembusan angin. Dugaan terkuat ku, dia adalah pengawal kerajaan yang bertugas malam ini atau prajurit elit kepercayaan istana yang kebetulan lewat."
Xiao Yu berhenti sejenak, menatap robekan kain di lengannya. "Lagi pula, arena di pinggir taman bambu itu kelihatannya cuma pelataran panah sepi yang tua dan jarang dipakai. Aku sama sekali tidak menyangka ada orang dengan tenaga setinggi itu bersiaga di atas dahan bambu."
Bao'er makin panik sampai memegangi tiang ranjang karena lututnya lemas. "Lalu bagaimana kalau pengawal itu mengenali pakaianmu?! Bagaimana kalau dia mengerahkan seluruh pasukan untuk mengepung Paviliun Anggrek sekarang juga?!"
"Tenanglah, Bao'er. Kuasai dirimu," tegur Xiao Yu pelan namun sangat tegas seraya menahan kedua bahu pelayannya itu. "Dia tidak sempat melihat wajahku. Di kegelapan tadi, aku sedang membelakanginya saat meraih busur berat di rak. Postur tubuh tegap ku, serta gerak-gerik refleksku saat menghindari serangannya pasti membuatnya mengira aku adalah seorang prajurit pria dari luar yang menyusup."
Xiao Yu membuka laci rahasia di dasar almari kayu, melempar sisa penutup wajah dan menggunting bagian gaun hitamnya yang robek untuk disembunyikan rapat-rapat di balik tumpukan kain sutra tua.
Ia kemudian menoleh pada Bao'er seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kalkulasi militer.
"Ini justru menguntungkan kita," bisik Xiao Yu dingin. "Biarkan komandan pengawal itu melapor bahwa ada prajurit pria misterius yang berkeliaran di Istana Barat. Selama perhatian seluruh penjaga teralih memburu 'pria rahasia' yang tak pernah ada itu, penyamaranku sebagai selir dungu dan tidak berguna justru makin aman di balik tempat ini."