Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Kenapa Aku Suka Mingyu
Riuh suara gelak tawa teman-teman sekelas memenuhi setiap sudut ruangan saat bel istirahat berbunyi. Beberapa orang tampak saling melempar lelucon, sementara sebagian lainnya sibuk bertukar cerita tentang akhir pekan mereka yang menyenangkan.
Di tengah keriuhan yang begitu hangat itu, aku hanya duduk bertopang dagu di sudut belakang kelas. Sendirian, menatap hamparan meja kayu yang dingin tanpa ada seorang pun di sampingku.
Bukan karena aku tidak ingin memiliki teman atau sengaja menutup diri dari pergaulan, melainkan rasa takut yang sudah terlanjur mengakar kuat di dalam dada. Luka masa kecil saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar belum sepenuhnya sembuh.
Bayang-bayang menjadi korban perundungan—diejek, dijauhi, dan dijadikan bahan tertawaan tanpa alasan yang jelas—masih sering membayangiku setiap kali berniat menyapa orang baru. Kejadian-kejadian menyakitkan itu membuatku menarik diri secara perlahan.
Aku membangun benteng pertahanan yang sangat tinggi, memilih untuk mengunci diri rapat-rapat daripada harus kembali merasakan perihnya dikhianati dan disakiti oleh kata-kata kasar atas nama pertemanan. Bagiku saat itu, kesendirian terasa jauh lebih aman dan menyelamatkan.
Walaupun aku tidak bisa memungkiri, rasa sepi sering kali merayap pelan saat jam-jam kosong atau ketika bel istirahat dibunyikan. Di saat anak-anak lain pergi ke kantin bersama geng mereka, aku hanya bisa menunduk, menghitung detik demi detik yang berlalu begitu lambat dalam kesunyian.
Siang itu, suasana kelas terasa sangat lengang. Guru mata pelajaran berikutnya berhalangan hadir dan meninggalkan tugas mandiri yang sudah selesaikan lebih awal. Rasa bosan mulai menyerang.
Tanpa ada teman untuk mengobrol atau sekadar berbagi cerita ringan, aku merogoh saku seragam SMP-ku dan mengeluarkan satu-satunya alat penawar sepi yang kupunya saat itu: sebuah ponsel pintar. Aku mulai membuka aplikasi TikTok, membiarkan jemariku mengusap layar secara acak tanpa arah yang pasti.
Berbagai konten lewat begitu saja di berandaku—mulai dari tarian yang sedang viral, resep makanan, hingga lelucon singkat. Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar mampu menarik perhatianku atau mengalihkan rasa sepi yang menggelayut.
Sampai akhirnya, layar ponselku menampilkan sebuah video pendek yang kelak mengubah banyak hal dalam hidupku. Di dalam video itu, tampak seorang laki-laki berwajah hangat dengan senyuman yang sangat manis.
Tatapan matanya begitu ramah dan tulus, diiringi alunan lagu romantis yang lembut di latar belakang. Laki-laki itu adalah Kim Mingyu. Namun, anehnya, bukan ketampanannya yang pertama kali menyihir perhatianku, bukan pula fakta bahwa dia adalah seorang idola populer yang dipuja oleh jutaan penggemar di seluruh dunia. Yang membuat pergerakan jemariku terhenti siang itu adalah cara dia tersenyum dan kata-kata bijak bernada hangat yang dituliskannya dalam video tersebut.
Pesannya begitu sederhana, tetapi terasa seperti usapan lembut di kepala untuk seseorang yang sedang merasa kesepian dan kehilangan arah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ditenangkan. Senyum manisnya seolah berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja, dan bahwa aku layak untuk dihargai serta bahagia. Saat itu juga, sebuah perasaan hangat dan asing terpaut dengan kuat di dalam hatiku.
Semenjak hari bersejarah itu, duniaku tidak lagi sepenuhnya gelap. Setiap kali rasa takut datang menyapa, atau ketika hari-hariku di sekolah terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian, aku selalu mencari perlindungan di balik layar ponselku, menyaksikan konten-konten Mingyu.
Bagi orang lain, menyukai seorang idola mungkin hanyalah sebatas rasa kagum pada bakat, suara merdu, atau visual yang menawan di atas panggung. Namun bagiku, Mingyu hadir membawa makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan visual. Dia hadir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh trauma masa lalu.
Saat aku belum tahu bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat sejati—seseorang yang mau menerima keberadaanku tanpa syarat—kehadiran Mingyu secara tidak langsung mengajariku arti kenyamanan dan kehadiran yang tulus.
Setiap kali melihat videonya tertawa lepas bersama teman-temannya, atau saat dia memberikan kalimat motivasi kepada para penggemarnya, aku merasa memiliki tempat untuk pulang. Dia memang tidak mengenal namaku, dia tidak tahu betapa beratnya hariku di sekolah, tetapi energinya mampu meruntuhkan benteng kecemasan yang selama ini kubangun dengan bersusah payah. Perlahan tapi pasti, aku mulai belajar tersenyum lagi.
Aku tidak lagi memandang bel istirahat sebagai siksaan yang menakutkan, melainkan sebagai kesempatan kecil untuk mengisi ulang energiku sambil melihat pembaruan terbaru dari Mingyu.
Waktu berlalu begitu cepat, membawa banyak perubahan dalam caraku memandang hidup. Masa-masa kelam di mana aku mengurung diri dalam ketakutan perlahan-lahan memudar, berganti dengan identitas baru yang kini melekat erat pada diriku.
Di antara kawan-kawan yang kini mulai mengenal dan berinteraksi denganku, aku bahkan mendapat julukan khusus sebagai "Cegyu"—singkatan dari Ceweknya Mingyu. Sebuah julukan jenaka yang selalu berhasil membuatku tersenyum lebar dan tersipu malu setiap kali mendengarnya dari mulut teman-teman.
Kekagumanku padanya makin hari makin menjadi-jadi, sampai ke tahap yang orang-orang sering sebut sebagai halu tingkat tinggi. Membayangkan lirik lagu romantis yang sering kudengar—tentang menginginkan seseorang dari ujung kaki hingga ujung kepala, seseorang yang menjadi belahan jiwa dan masa depan—bayangan wajah Mingyu selalu menjadi sosok utama yang melintas di pikiran.
Bangun tidur ingat Mingyu, mau makan ingat Mingyu, bahkan saat mandi pun pikiranku tidak pernah absen dari sosoknya. Semua hal kecil yang kulakukan sehari-hari seolah selalu terhubung dan mengingatkanku pada nama itu. Aku bahkan mengoleksi stiker-stiker bergambar Mingyu di aplikasi percakapan. Niat hati ingin menyimpan ribuan foto Mingyu di galeri ponsel agar bisa kupandangi setiap saat tanpa henti, tetapi niat itu sering kali terhalang oleh rasa cemas kalau-kalau memori ponselku tiba-tiba penuh dan menjadi lambat.
Namun, di balik semua kehaluan, tingkah konyol, dan stiker-stiker lucu yang kupunya sebagai penggemar, ada satu hal mendasar yang tidak pernah berubah sedikit pun. Aku mencintai dan menyukai Kim Mingyu bukan sekadar karena gemerlap statusnya sebagai artis papan atas yang dipuja banyak orang.
Aku menyukainya karena dia adalah alasan pertama yang membuatku percaya bahwa di luar sana, masih ada kehangatan yang bisa menyembuhkan luka dan trauma. Dia adalah sosok sahabat tak kasatmata yang selalu ada di saat aku merasa tidak memiliki siapa-siapa, sosok yang mengajariku arti menerima diri sendiri sebelum akhirnya aku siap untuk kembali melangkah dan membuka diri pada dunia pertemanan yang sesungguhnya. Dan untuk semua hal indah itu, Kim Mingyu akan selalu punya tempat yang sangat istimewa di dalam perjalanan hidupku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan Buat Temen Aku Maaf Aku Sering Bilang Aku Ayang nya Mingyu ,Aku Istri Nya Mingyu Karena Emang Mingyu ,Harapan Aku Di Kala Aku Jatuh Tanpa Ada Nya Teman