NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mana yang Harus Aku Pilih

“Kak... aku kenapa, Kak? Kenapa semuanya terasa melayang?”

Alya terus menggelengkan kepalanya. Jemarinya semakin terasa dingin, sementara deru napasnya semakin cepat.

“Tenang, Al... Dokter Rima akan segera datang.” Aku masih berusaha menenangkannya. Mendekap kepalanya, merasakan tubuh Alya yang semakin lemas.

“Revan... cepat, ambil tindakan. Ibu takut Alya kenapa-napa...”

“Nak Revan... sebenarnya putri saya kenapa?”

Semua pertanyaan dari Ibu dan Pak Darman belum sempat aku jawab.

Alya semakin terisak. Suaranya terdengar lirih dan lemah. Aku berusaha keras agar Alya tidak memejamkan matanya. Aku terus memanggil namanya.

“Ibu... Ayah... Kak Revan, tolong... aku merasa sangat lemas. Seperti tidak ada tenaga sama sekali...”

Aku menggenggam jemarinya yang memutih pucat dan sedikit bergetar.

Tidak lama kemudian, Dokter Rima datang. Ia melangkah dengan tergesa-gesa dan langsung memeriksa kondisi Alya.

Setengah jam mendapat perawatan dari Dokter Rima, kini Alya mulai terlihat lebih tenang. Wanita itu tertidur dalam posisi meringkuk, kelopak matanya benar-benar terpejam, dan deru napasnya mulai kembali normal. Denyut nadinya mulai kembali stabil, begitu pula dengan tekanan darahnya.

Ibu duduk di samping Alya bersama Pak Darman yang terus memandangi wajah putrinya. Raut kekhawatiran tidak hilang dari wajah pria paruh baya itu.

Bude dan Dona juga masih berdiri jauh di ujung sana, terpaku. Entah apa yang mereka pikirkan.

“Dokter Revan...” Dokter Rima memanggilku setelah benar-benar memastikan kondisi Alya.

“Iya, Dok?”

“Boleh saya berbicara sebentar?”

Aku mengangguk dan melangkah mengikuti Dokter Rima menuju pintu luar ruangan.

Dokter Rima berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menatapku tegas sambil menghela napas gusar.

“Bu Alya mengalami syok dan stres berat.”

Aku terdiam sambil memperhatikan apa yang disampaikan oleh Dokter Rima.

“Usahakan jangan membuat Bu Alya kembali stres karena itu akan menghambat masa pemulihannya.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Dok.”

“Jangan membuat Bu Alya merasa tertekan secara mental. Usahakan beri dia kebahagiaan untuk membantu menghilangkan trauma atas apa yang telah terjadi padanya.”

Aku kembali mengangguk. Apa yang dikatakan Dokter Rima benar. Tadi, saat Bude dan Dona membela Aira dan menyudutkan Alya, Alya hanya terdiam. Namun, ternyata perkataan itu perlahan masuk ke dalam hatinya dan membuatnya merasa tertekan.

Setelah Dokter Rima pamit, aku kembali memasuki ruangan. Pak Darman dan Ibu sedang berbicara pelan agar tidak mengusik waktu istirahat Alya.

“Hampir saja saya akan mendapatkan cucu, Bu...” ujar Pak Darman pelan.

“Saya pun sangat bahagia, Pak Darman. Tapi mungkin ini belum waktunya...” Aku melihat Ibu yang mengusap air matanya.

Begitu pun dengan Pak Darman. Kedua bola matanya terlihat sembab. Atas kejadian ini, bukan hanya Alya yang tersakiti. Ibu dan Pak Darman juga terlihat sangat sedih.

Begitu pun denganku. Aku tidak paham dengan apa yang aku rasakan sekarang. Hatiku diliputi rasa gusar dan khawatir yang teramat dalam. Saat merasakan tubuhnya yang melemas, jemarinya yang dingin, serta kelopak matanya yang perlahan mulai terpejam, hatiku terasa sakit dan perih.

“Akal-akalan saja... Mungkin secara tidak langsung, wanita munafik itu sedang mengusir keberadaan kita di sini, Dona...”

Aku menoleh dan menatap tegas ke arah Bude Arum dan Dona.

Dengan apa yang terjadi pada Alya barusan, apa mereka tidak melihat kondisi Alya yang begitu lemah? Mereka masih saja melayangkan prasangka buruk kepada Alya.

“Sebaiknya Bude dan kamu pulang. Alya sedang sakit, jadi tolong hargai aku dan Ibu di sini.”

Bude dan Dona mulai merasa tidak terima.

“Kamu benar-benar sudah jatuh hati padanya, Kak...” Dona berkata tegas.

“Aku dokter dan aku suaminya. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan perawatan terbaik untuknya. Perkataan kalian tadi mampu membuat Alya stres dan merasa tertekan. Jadi, tolong jangan kembali membuat keributan di sini. Alya butuh ketenangan sampai kondisinya pulih.”

Dona mendengus keras, kemudian tangannya mencekal kuat lengan Bude Arum.

“Ayo, Bude, kita pulang saja.”

“Ayo, Dona. Pantas saja Aira sangat cemburu dan marah pada wanita yang sok lemah itu.”

Dua wanita itu pergi meninggalkan kami. Aku kembali melangkah, mengusap wajah dengan kasar, lalu menghempaskan tubuh ke sofa.

Aira cintaku, sementara Alya kewajibanku. Mana yang harus aku pilih?

🌸🌸🌸

Satu minggu berlalu. Kondisi Alya mulai stabil dan sudah bisa kembali beraktivitas ringan di rumah.

Aku tetap mengontrol kondisi kesehatannya, mengecek tekanan darahnya, serta menanyakan keluhan apa yang sedang ia rasakan. Semuanya mulai kembali normal, ditambah guratan senyum manis Alya yang perlahan mulai terlihat di wajahnya.

Siang ini, aku telah bersiap. Aku memakai jaket merah tua untuk melapisi kaus hitam yang kukenakan. Hari ini aku akan bertemu dengan Aira untuk menyelesaikan masalah yang sempat tertunda.

Aku melangkah menelusuri setiap ruang di rumah hingga langkahku kembali terhenti di ambang dinding pemisah rumah joglo di halaman samping.

Alya dan Ibu sedang duduk berdua di sana. Ibu sedang memakaikan jaket rajut hasil buatannya pada tubuh Alya. Senyum kebahagiaan terlihat jelas di wajah Ibu. Wanita paruh baya itu terlihat sangat menyayangi Alya, sama halnya seperti menyayangiku sebagai putranya.

Bagaimana perasaan Ibu ketika aku dan Alya berpisah nanti?

Ibu terlihat sedang berbicara dengan Alya. Aku tidak bisa mendengar jelas percakapan mereka karena suara mereka terdengar pelan.

“Ibu... Aira adalah cintanya Kak Revan. Jika suatu saat nanti mereka bersatu dalam pernikahan, aku akan pergi...”

Ibu menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ibu sangat menyayangimu, Alya... tapi Revan. Pria itu terlalu buta dengan cintanya. Bahkan setelah kejadian yang menimpamu, dia masih menganggap wanita itu sebagai wanita baik.”

“Itulah begitu besarnya cinta Kak Revan untuk Aira, Bu.”

“Ibu tidak membayangkan jika nanti Revan memilih nekat untuk menikahi wanitanya itu dan Ibu kehilangan kamu, Al...”

“Ibu jangan khawatir. Alya akan selalu menjadi menantu Ibu, walaupun sudah berpisah dengan Kak Revan. Kebaikan Ibu sangatlah banyak untuk keluarga Alya, begitu juga dengan kebaikan Kak Revan. Dengan apa Alya harus membayarnya, Bu?”

“Tetaplah menjadi istri Revan, Nak. Ibu percaya sama kamu... Revan, anak laki-laki itu ternyata sangat bodoh.”

Ibu terus merutuki diriku sebagai orang bodoh. Di mana letak kebodohanku? Aku yang mencintai Aira?

Apa itu sebuah kesalahan?

“Dua minggu lagi akan ada pertemuan keluarga besar. Ibu sudah mempersiapkan pakaian terbaik untuk keluarga kita.”

Pertemuan keluarga besar? Keluarga Ibu yang rata-rata memiliki sikap dan sifat yang sama seperti Bude Arum. Aku khawatir Alya akan kembali menjadi bahan hinaan dan disudutkan oleh keluarga Ibu karena status sosial Alya yang menurut mereka sangatlah rendah.

Aku harus melakukan sesuatu, tapi nanti setelah aku menyelesaikan masalah dengan Aira.

Bersambung.

Jangan lupa like dan komen, readers! 🤩

1
Lembayung Bercerita
ok kak author semangat buat up nih...
Ria Leilyhani
lanjutkan thor
sunaryati jarum
Lebih baik segera berpisah Alya , walau Revan baik tapi hatinya bukan untukmu.Kamu hanya akan tersakiti
Lembayung Bercerita: sakit banget ya kak..😭
total 1 replies
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!