NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warna Jersey yang Mencolok

Dalam perjalanan pulang, angin sore menerpa wajah Vilov yang duduk di boncengan Tije. Rasa penasaran yang sedari tadi dipendamnya akhirnya meluap juga. Ia teringat bahwa Tije pernah satu sekolah dengan Putra saat SMP.

​"Tije, waktu kalian satu sekolah dulu, lu pernah denger issue-issue tentang Putra nggak sih?" tanya Vilov, sedikit berteriak agar suaranya terdengar di balik helm.

​"Eh, issue apa nih?" sahut Tije sambil tetap fokus berkendara.

​"Ya... issue kayak Putra lagi deket sama siapa gitu. Intinya yang deket-deket sama cewek," ucap Vilov penuh selidik.

​Tije tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oalah... enggak sih. Setau gue ya, Putra itu jauh dari omongan anak-anak seangkatan soal cewek. Dia anteng-anteng aja."

​Mendengar itu, Vilov terdiam dengan senyum yang mengembang lebar di balik punggung Tije. Hatinya lega luar biasa. Ternyata cowok yang ia taksir bukan tipe player atau yang punya banyak drama dengan perempuan lain. Sosok Putra benar-benar sesuai dengan yang ia harapkan.

​Tak terasa, motor Tije sudah sampai di depan rumah Vilov. Mama Vilov ternyata sudah menunggu di teras. Ia segera menyambut teman anaknya itu dengan ramah. "Teman sekelas Vilov, ya? Makasih ya, maaf kalau Vilov ngerepotin," ucap Mama lembut.

​Tije segera turun dari motor dan bersalaman dengan sopan. "Nggak ngerepotin kok, Tante. Lagian searah juga sama rumah Tije," jawabnya dengan senyum manis. Setelah berpamitan, Tije pun meluncur pergi karena waktu sudah mulai gelap.

​Di dalam rumah, Vilov mencium tangan mamanya dan mulai bercerita dengan antusias tentang olahraga yang sedang ia jalani. Mama Vilov menatap anaknya dengan tatapan penuh tanya, mencoba memastikan keyakinan putri bungsunya itu. Sebab, setahunya Vilov dulu sangat menggebu-gebu ingin ikut karate.

​"Kamu beneran yakin? Bukannya dulu mau karate?" tanya Mama lembut.

​Vilov tersenyum yakin. Ia menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak menyesal. Sebaliknya, ia merasa sangat senang mengenal hockey. Bahkan, Vilov dengan bangga memberitahu sang mama bahwa sebentar lagi ia akan mengikuti pertandingan antar pelajar.

​Malamnya, saat Vilov duduk di depan meja belajar untuk mempersiapkan pelajaran besok, pikirannya justru melayang jauh. Ia sangat gelisah, tapi dalam arti yang menyenangkan. Setiap kali matanya menatap buku, ucapan-ucapan manis Putra di lapangan tadi terus terngiang-ngiang di pikirannya. Ia tertawa kecil lalu tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah cowok itu.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Mama masuk untuk melihat apakah anaknya benar-benar belajar atau tidak. Saat masuk ke kamar Mama langsung mengernyitkan dahi melihat tingkah aneh putrinya.

​"Eh, anak Mama kok belajar sambil senyum-senyum sendiri?" goda Mama.

​Vilov tersentak kaget. Dengan gerakan refleks, ia langsung menutupi wajahnya dengan buku paket yang tebal. "Ikh, Mama mah! Hahaha, malu!" teriak Vilov di balik buku.

​"Lagi jatuh cinta ya anak Mama?" goda Mama lagi sambil menggelitik pinggang Vilov, membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal di atas kasur.

​Keesokan paginya di sekolah, Tije dan Tika sudah berada di dalam kelas lebih awal. Begitu melihat Vilov muncul di ambang pintu, mereka langsung berteriak memanggilnya. "Vilov buruan kesini" ucap mereka, Vilov pun berjalan menghampiri meja mereka dengan nada tengil andalannya. "Apaan, weh? Pagi-pagi sudah berisik."

​"Menurut lu, baju buat pertandingan kita nanti lebih bagus warna apa?" tanya Tije sambil menunjukkan beberapa pilihan warna jersey di layar ponselnya.

​Vilov memperhatikan gambar-gambar itu dengan seksama. Jarinya menunjuk pada perpaduan warna navy dan hitam dengan celana putih. "Gue pilih ini si. Keren!"

​Tika dan Tije langsung mengangguk setuju dan mengirimkan pilihan warna itu kepada pelatih. Namun, tepat setelah Tije menekan tombol kirim, Tika menyeringai jahil.

​"Eh, Vil... Mau tahu nggak? warna yang lu pilih tadi, sebenernya buat jersey kita-kita. Bukan buat lu," cetus Tika.

​Vilov mengernyit bingung. "Loh? Terus kalau buat gue warnanya apa?"

​Tika dan Tije saling melirik, lalu tawa mereka pecah bersamaan. Mereka menggeser layar ponsel dan menunjukkan warna jersey khusus untuk posisi kiper. Vilov melotot tak percaya.

​"Dih! Kok bagian gue warnanya terang banget sih?" protes Vilov kesal melihat warna yang sangat mencolok.

​Tika yang masih tertawa terpingkal-pingkal berusaha menjawab, "Nggak apa-apa! Bagus itu buat lu, hahaha! Biar lu datang langsung di-notice orang-orang karena jersey lu yang paling mentereng sendiri!"

​"Bener-bener ya lu pada!" jawab Vilov yang akhirnya ikut tertawa geli. Ia membayangkan dirinya berdiri di tengah lapangan dengan warna terang itu,

Di tengah riuhnya tawa Vilov bersama Tika dan Tije, tiba-tiba ponsel di saku seragamnya bergetar pelan.

​Ttrriingg!..

​Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya, Vilov pun langsung merogoh sakunya dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca nama pengirimnya.

​"Putra," gumam Vilov pelan, matanya membelalak menatap layar ponsel.

​Vilov langsung menoleh ke arah Tika dan Tije dengan wajah pucat karena terkejut. "Weh, ini serius beneran dia? Ini Putra?" tanyanya tidak percaya.

​Belum sempat Vilov mencerna apa yang terjadi, Tika yang memang gesit itu langsung menyambar ponsel dari tangan Vilov. Dengan jiwa wingwoman-nya yang membara, Tika langsung mengetikkan balasan singkat untuk memastikan.

​"Putra mana?" ketik Tika di ponsel Vilov.

​Hanya butuh beberapa saat sampai ponsel itu kembali bergetar. Sebuah balasan masuk:

​"Hockey, save ya."

​Konfirmasi itu seperti ledakan bom bagi Vilov. Ternyata benar, itu adalah Putra, cowok yang selama ini hanya ia perhatikan dari jauh. Mendapat respon se-eksklusif itu, benteng pertahanan Vilov runtuh. Ia tidak bisa lagi menahan rasa bahagianya.

​"UAHHHHHHH! PUTRAAAAA NGECHAT GUA!" teriak Vilov lantang di dalam kelas sambil melompat-lompat kegirangan.

​Teriakan melengking itu sukses membuat seisi kelas tersentak kaget. Beberapa teman menoleh dengan tatapan heran, tapi Vilov tidak peduli. Ia merasa seperti baru saja memenangkan lotre.

​Tika dan Tije pun ikut saling pandang dengan tatapan tak percaya. Mereka tidak menyangka bahwa selain memberikan perhatian di lapangan, Putra ternyata juga memberikan respon positif secara personal dengan mengirim pesan ke ponsel Vilov duluan. Perjuangan "modus" Vilov selama ini sepertinya mulai membuahkan hasil yang manis.

Saat itu Vilov segera merebut kembali ponselnya dari tangan Tika. Dengan jempol yang gemetar karena saking semangatnya, ia mulai mengetikkan nama untuk menyimpan nomor tersebut. Setelah menimbang-nimbang beberapa detik sambil senyum-senyum sendiri, ia akhirnya memutuskan sebuah nama: "My Crush".

​Hati Vilov benar-benar membuncah. Rasanya masih tidak masuk akal jika cowok sedingin Putra tiba-tiba mengiriminya pesan duluan. Sambil memandangi layar ponselnya, sebuah pertanyaan mendadak melintas.

​"Eh, tunggu dulu... Dia dapet nomor gue dari mana, ya?"

​Pikiran itu sempat membuatnya bingung sejenak, namun rasa bahagia yang jauh lebih besar segera menenggelamkan rasa penasarannya. Mau dari mana pun asalnya, Vilov tidak peduli. Yang jelas, satu langkah besar dalam perjuangan cintanya baru saja terjadi hari ini. Dunia Vilov kini mulai berpindah ke dalam genggaman layar ponselnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!