NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Reuni Para Monster

Tiga hari telah berlalu sejak badai aura di Perbatasan Barat.

Arion masih terbaring dalam koma pasca-ritual darah yang menghancurkan fisiknya.

Kastil rahasia di pinggiran wilayah Astra-sebuah benteng tua yang tersembunyi di balik kabut abadi-kini menjadi tempat perlindungan sekaligus pusat kekuatan baru yang sedang dihimpun.

Di koridor kastil yang dingin, Elara sedang berdiri di depan jendela besar, menatap cakrawala dengan cemas.

Pikirannya tidak lepas dari sosok Arion yang tersungkur malam itu.

Tiba-tiba, bulu kuduk Elara berdiri. Aroma darah yang samar namun tajam menusuk penciumannya.

"Jadi... ini dia 'peliharaan' baru Tuan Muda?" Suara itu lembut, namun mengiris seperti mata pisau.

Elara berbalik dengan cepat, tangannya secara insting meraba belati di pinggangnya.

Di sana, bersandar pada pilar marmer, berdiri seorang wanita dengan rambut merah menyala dan pakaian yang lebih mirip instrumen penyiksaan daripada gaun.

Liora. Liora berjalan mendekat, langkahnya tidak bersuara, menyerupai predator yang sedang mengamati mangsanya.

la berhenti tepat di depan Elara, jarak mereka sangat dekat hingga Elara bisa melihat pantulan ketakutan di mata merah delima Liora.

Liora mengangkat tangannya, jemarinya yang lentur dengan kuku yang tajam menyentuh dagu Elara, memaksa gadis Beast itu mendongak.

"Hmm..."

Liora memicingkan mata, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Oh, kamu cantik juga untuk seukuran Beast." Liora tertawa kecil, suara tawa yang kering.

"Biasanya, jenis kalian hanya bagus untuk dijadikan permadani atau buruh kasar di arena. Tapi kamu... kulitmu bersih, dan matamu masih punya harga diri." Elara menggeram rendah, merasa terhina.

"Aku adalah Tunangan Pangeran Arion, bukan peliharaan." Bisiknya dengan nada pelan yang perlahan meredup.

 Liora justru semakin mendekatkan wajahnya, tersenyum lebar hingga memperlihatkan taringnya yang rapi.

"Tunangan? Lucu sekali. Tuan Muda menyukai hal-hal yang rapuh namun berisik sekarang, ya?"

la melepaskan dagu Elara dengan gerakan meremehkan, lalu mengibaskan rambutnya.

"Dengarkan aku, Gadis Kucing. Di dunia ini, orang-orang memandang rasmu tidak lebih dari binatang yang bisa bicara. Jangan biarkan kecantikanmu itu membuatmu lupa bahwa tanpa belas kasih Tuan kami, kamu sudah berakhir di rumah jagal milikku."

Liora berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh.

"Jaga dia baik-baik saat aku tidak ada. Jika sehelai saja rambutnya hilang karena kelalaianmu, aku sendiri yang akan menguliti kulit cantikmu itu untuk dijadikan pelana kuda."

Elara terpaku, napasnya memburu.

la baru saja menyadari satu hal: orang-orang di sekitar Arion bukanlah ksatria kerajaan yang terikat aturan.

Mereka adalah monster-monster yang terikat oleh satu rantai Arion Von Astra.

Di dalam kamar utama yang megah namun gelap, Sebas berdiri dalam diam di samping ranjang. Nyx muncul dari sudut bayangan kamar, melaporkan sesuatu dengan suara berbisik.

"Hanz sudah melewati perbatasan hutan hitam. Dia membawa peti itu," lapor Nyx.

Sebas mengangguk pelan, matanya tertuju pada Arion yang mulai menunjukkan tanda- tanda kesadaran.

Jari tangan Arion bergerak sedikit, mencengkeram sprei sutra di bawahnya.

"Waktunya hampir tiba," bisik Sebas.

"Dunia luar mengira dia sudah mati di perbatasan. Mari kita biarkan mereka merayakannya sedikit lebih lama... sebelum kita membakar pesta mereka."

.

Elara mengepalkan tangannya, menahan amarah yang bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar.

la menatap punggung Liora yang hendak melangkah pergi.

"Tunggu!" seru Elara.

Suaranya sedikit bergetar.

"Kenapa... kenapa pria seperti dia sampai mau bertarung sejauh itu untuk orang sepertiku? Aku hanya seorang Beast, pelayan rendahan yang bahkan tidak bisa melindunginya."

Elara menunduk, bayangan Arion yang tersungkur dengan tubuh berlumuran darah setelah ritual Sunder-Soul kembali menghantuinya.

"Kenapa dia sampai mau menyiksa dirinya sendiri demi sesuatu yang tidak berharga? Dan... apa yang sebenarnya terjadi padanya di masa lalu? Sejarah kerajaan tidak mencatat alasan mengapa sang 'Matahari' bisa jatuh seburuk itu."

Liora menghentikan langkahnya.

la terdiam sejenak sebelum menoleh sedikit, memberikan tatapan yang tidak lagi penuh ejekan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan gelap.

"Tuan kita..." Liora menjeda, suaranya merendah.

"Dia dikhianati oleh dunianya sendiri. Dia dibuang oleh orang-orang yang seharusnya ia lindungi, dan ditikam oleh mereka yang memuja namanya."

Liora berbalik sepenuhnya, menatap Elara dengan tajam.

"Jangan salah paham, Gadis Beast. Tuan Arion memang bukan orang baik. Dia kejam, tanpa ampun, dan kau sendiri sudah merasakan bagaimana aura intimidasinya bisa mencekik nyawamu. Dia adalah monster yang lahir dari api pengkhianatan."

Liora melangkah satu tindak lebih dekat.

"Tapi... dia juga bukan orang jahat. Dia hanya seorang pria yang sudah kehilangan segalanya, namun tetap menolak untuk membiarkan orang lain kehilangan apa yang mereka miliki di depan matanya. Itulah beban yang ia pikul."

"Dan beban itu..."

sebuah suara dingin menyela dari kegelapan.

Seketika, bayangan di lantai di samping Elara seolah-olah memadat dan naik ke atas.

Nyx muncul dari ketiadaan, berdiri dengan keanggunan yang mematikan.

Elara tersentak mundur, tidak menyadari sejak kapan sang bayangan itu berada di sana.

"...adalah alasan mengapa kami masih di sini,"

lanjut Nyx, menatap Elara dengan mata datarnya yang tanpa emosi.

"Dunia luar menghapusnya dari sejarah karena mereka takut. Mereka takut jika orang-orang tahu bahwa monster yang mereka ciptakan sebenarnya memiliki hati yang lebih manusiawi daripada raja-raja yang duduk di atas takhta emas itu."

Nyx melirik Liora, lalu kembali pada Elara.

"Dia menyiksa dirinya bukan karena kau berharga atau tidak, Elara. Dia melakukannya karena dia sudah muak melihat dunia ini merampas apa pun lagi darinya. Termasuk kau."

Keheningan kembali menyelimuti koridor itu. Elara terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut dua monster tersebut. Baginya, Arion kini terasa jauh lebih kompleks; seorang pahlawan yang hancur, atau monster yang dipaksa untuk bangun.

"Sekarang, berhentilah bertanya," ucap Nyx Dingin sambil kembali memudar ke dalam bayang-bayang pilar.

"Simpan tenagamu. Sebentar lagi, bau besi dan uap panas akan memenuhi kastil ini. Hanz sudah tiba."

Suara gemuruh roda kereta besi yang berat menggilas jembatan gantung kastil, diikuti oleh suara gerendel pintu gerbang utama yang dipaksa terbuka.

Elara, yang masih terguncang setelah percakapannya dengan Liora dan Nyx, menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria raksasa dengan otot-otot yang tampak seperti jalinan kabel baja melangkah masuk. Kulitnya kecokelatan akibat uap tungku bertahun-tahun, dan janggutnya yang kasar berantakan.

Di belakangnya, beberapa ksatria Black Knight tampak bersusah payah menarik sebuah kereta besi yang membawa sebuah peti raksasa yang dililit rantai tebal bermantra.

Itu adalah Hanz.

"Minggir dari jalanku, kalian tikus-tikus kecil!" gertak Hanz. Suaranya berat dan kasar, membuat beberapa pelayan kastil gemetar ketakutan.

Hanz berhenti di tengah aula utama, tepat di depan Sebas yang sudah menunggu dengan senyum tipis yang penuh arti. Hanz tidak membungkuk, ia hanya menghantamkan palu godam raksasanya ke lantai batu hingga retak.

"Di mana bocah gila itu?"

tanya Hanz tanpa basa-basi.

Matanya yang tajam melirik ke arah Elara sejenak, lalu mendengus.

"Jadi ini Beast yang dibicarakan Liora? Lemah sekali. Bagaimana bisa Arion mempertaruhkan nyawanya untuk sesuatu yang tampak seperti ranting kering yang mudah patah?"

Elara ingin membalas, namun hawa panas yang memancar dari tubuh Hanz seolah mencekik suaranya.

"Tuan Muda sedang dalam pemulihan, Master Hanz," jawab Sebas tenang.

"Ritual darah Sunder-Soul hampir merobek fisiknya. Dia masih belum sadarkan diri."

Hanz terdiam sejenak, lalu ia tertawa terbahak-bahak-sebuah tawa yang terdengar sangat getir.

"Hah! Tentu saja! Menggunakan pedang itu dengan sirkuit mana yang hancur sama saja dengan mencoba meminum lava. Hanya dia yang cukup bodoh untuk melakukannya."

Hanz kemudian mendekati peti besar yang dibawanya.

la menyentuh rantai yang melilitnya, dan seketika aura di aula itu berubah.

Ada rasa haus yang mencekam terpancar dari dalam peti tersebut.

"Aku membawanya," ucap Hanz, suaranya kini melunak namun penuh penekanan.

"Zirah yang ku tempa dengan kemarahan selama tujuh tahun. Zirah yang ku telantarkan karena pemiliknya kehilangan jiwanya."

la menatap ke arah kamar atas tempat Arion berbaring.

"Jika dia bangun nanti dan masih memiliki tatapan maut itu, zirah ini akan menjadi kulit keduanya. Tapi jika dia bangun sebagai pengecut yang rapuh..."

Hanz mengepalkan tinjunya,

"...aku sendiri yang akan menghancurkan kastil ini dan menguburnya bersama besi tua ini." "Dia akan bangun, Hanz,"

sela Nyx yang tiba- tiba muncul di atas langkan lantai dua, menatap ke bawah.

"Dia sudah melewati neraka di Dataran Barat. Dia tidak bangun untuk menjadi pengecut."

Liora yang sejak tadi bersandar di pintu masuk juga menimpali sambil memainkan belatinya.

"Benar. Dan aku sudah tidak sabar melihatnya mengenakan 'hadiah' darimu, Pak Tua. Pasti dia akan terlihat sangat cantik saat bersimbah darah nanti."

Hanz mendengus, lalu mulai membuka kunci- kunci raksasa pada peti itu.

Klang! Klang! Suara logam beradu bergema di seluruh kastil.

"Sebas, siapkan tungku dan air suci," perintah Hanz.

"Saat dia membuka mata, zirah ini harus segera menyatu dengan darahnya. Kita tidak punya banyak waktu. Aku bisa merasakan di luar sana, orang-orang istana mulai mengendus bau kematian dari Perbatasan Barat."

Di lantai atas, di dalam kegelapan kamarnya, jari-jari Arion mulai bergerak lebih aktif.

Kelopak matanya bergetar.

Dalam mimpinya, ia tidak lagi melihat kesedihan, melainkan sebuah medan perang yang membara di mana ia berdiri di atas takhta tulang belulang. Sang predator akan segera membuka matanya, dan kali ini, dia memiliki zirah yang mampu menahan beban dendamnya.

***

Di aula utama Kastil Bayangan, uap panas dari ritual pemasangan zirah masih menggantung di udara.

Namun, suasana hangat itu seketika mendingin saat Nyx mendarat dengan senyap di tengah ruangan.

"Kerajaan mulai mengendus," ucap Nyx singkat.

Suaranya datar, namun ada peringatan tajam di dalamnya.

Informasi dari jaringan mata-matanya menyebutkan bahwa pihak istana telah mengirimkan unit pembunuh elit.

Perintahnya jelas dan kejam: Jika benar Iblis itu kembali dengan mata predatornya, bunuh dia sebelum ia tumbuh terlalu kuat. Pihak kerajaan takut, namun di saat yang sama mereka terlalu sombong, lebih memilih menganggap kebangkitan Arion sebagai "gangguan kecil" yang bisa diselesaikan secara diam-diam.

Liora, yang sedang menyandarkan kepalanya pada pilar sambil membersihkan sisa darah di kukunya, tertawa kecil.

Suaranya terdengar merdu namun beracun.

"Yah... untuk berita sebesar ini, mereka terhitung sangat lambat menciumnya," gumam Liora.

la melirik ke arah tangga, di mana Arion masih dalam tahap akhir penyatuan jiwanya dengan zirah baru.

"Mau bagaimana lagi... kita tidak bisa membiarkan tikus-tikus itu merusak bangunnya sang singa dari tidurnya." Liora menegakkan tubuhnya.

la tidak memberikan perintah langsung kepada Sebas, namun ia melemparkan solusi tipis yang tajam, sebuah rencana yang sebenarnya sudah matang di kepala Sebas sendiri.

"Sebas," panggil Liora dengan nada malas

Namun penuh penekanan.

"Sepertinya ada tikus yang mulai mencicit di luar sana. Gunakan semua caramu untuk memperlambat berita ini. Tuan kita masih perlu sedikit waktu untuk memulihkan sarafnya. Kita tidak butuh gangguan saat ia sedang menikmati ritualnya."

Sebas menyesuaikan sarung tangan putihnya, senyum tipis yang dingin tersungging di wajah tuanya yang tenang.

"Sesuai keinginanmu, Lady Liora. Saya sudah menyiapkan 'jamuan' bagi mereka yang mencoba melintasi batas hutan kabut."

"Aku akan membantu membersihkan jalur luar," sela Nyx, tubuhnya mulai memudar kembali ke dalam bayangan.

"Jika ada yang lolos dari perangkap Sebas, mereka tidak akan pernah melihat matahari esok pagi."

Liora menyeringai, ia meraih jubah merahnya.

"Dan aku... aku akan memastikan bahwa siapa pun yang dikirim oleh kerajaan akan pulang dalam bentuk potongan kecil yang tak bisa dikenali. Biarkan orang-orang di istana itu tetap menganggap ini remeh... sampai mereka menyadari bahwa pedang sudah berada di leher mereka."

Hanz, yang masih berdiri di dekat tungku, hanya mendengus kasar.

"Cepatlah selesaikan. Aku tidak ingin ada darah murahan yang mengotori lantai kastil ini saat aku sedang bekerja."

Di saat para monster itu bergerak keluar untuk menjaga perimeter, suasana di dalam kastil kembali hening.

Namun, di dalam kamarnya, Arion perlahan membuka matanya. la bisa mendengar semua percakapan itu. la tahu para pengikutnya sedang bergerak melindunginya.

Bersambung....

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!