NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. GEMA DI KAMPUNG

..."Ketika satu mukjizat menjadi harapan banyak orang, beban seorang penyembuh menjadi lebih berat dari yang pernah dibayangkan."...

...---•---...

Matahari merambat naik, membasahi dunia dengan cahaya lembap. Ki Darmo tiba dengan langkah yang lebih cepat dari kemarin, tongkat kayu mengetuk tanah bak palu hakim yang menghitung waktu. Di belakangnya, setidaknya ada dua puluh orang kampung yang penasaran, kaki-kaki telanjang mereka menginjak tanah basah dengan suara gemerisik. Mereka berbisik-bisik, napas hangat bercampur udara dingin pagi.

Doni berdiri di depan gubuk, punggungnya tegap meskipun tubuhnya menjerit minta istirahat. Lima jam tidur dalam dua hari. Matanya perih seperti ditaburi pasir halus. Tapi ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kelemahan. Tidak di depan Ki Darmo. Tidak di depan kerumunan yang menatapnya dengan napas tertahan, menunggu.

Di belakangnya, Pak Karso dan Mbok Wulan keluar. Ada cahaya lain di wajah mereka, punggung yang lebih tegak, langkah yang lebih ringan, senyum tipis yang tak bisa disembunyikan.

Ki Darmo berhenti beberapa langkah dari Doni. Pandangannya menyapu gubuk, mencari tanda-tanda berkabung. Tidak ada kain hitam tergantung. Tidak ada tangisan kematian. Tidak ada bau kemenyan. Alisnya berkerut, rahangnya mengencang.

"Bagaimana keadaan Tari?" tanyanya. Suara sengaja dibuat datar, tapi ada getaran kecil di ujung kalimat.

Sebelum Doni menjawab, Mbok Wulan melangkah maju. Air mata mengalir di pipinya, tapi kali ini bukan air mata duka. "Ki, putri kami sadar! Demamnya turun tengah malam. Pagi ini dia minum bubur!"

Kerumunan langsung bergejolak seperti sarang lebah yang diganggu.

"Benarkah?"

"Tari yang hampir mati itu?"

"Bagaimana caranya?"

Ki Darmo berdiri kaku seperti patung kayu. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi, tapi ada kedutan kecil di sudut bibirnya. Jari-jarinya mencengkeram tongkat lebih erat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Aku ingin melihat sendiri."

"Silakan masuk, Ki." Pak Karso membuka pintu lebih lebar.

Ini dia. Momen kebenaran. Doni mengikuti dukun tua itu masuk, jantungnya berdebar. Apa yang akan dia lakukan jika dia benar-benar tidak bisa menyangkal kesembuhan Tari?

Di dalam gubuk yang kini lebih terang karena semua celah dibuka, Tari duduk bersandar pada ibunya. Wajahnya masih pucat, tapi dia sadar dan responsif. Dadanya naik turun dengan napas yang masih agak cepat tapi tidak lagi seperti orang tercekik.

Ki Darmo mendekat, menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangan, kulitnya kasar dan dingin. Lalu ia memeriksa nadi di pergelangan tangan, gerakan yang mengejutkan Doni. Dia tahu teknik pemeriksaan nadi? Menarik. Mungkin dukun tradisional punya pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang, lebih dalam dari yang kukira.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti kekekalan, Ki Darmo menarik tangan. Ia menatap Tari, lalu menatap Doni. Ada sesuatu di wajahnya, bibir yang mengetat, lalu mengendur lagi.

"Demamnya turun," katanya akhirnya. Kata-kata keluar seperti ditarik dengan paksa. "Tapi penyakit bisa kambuh kapan saja."

"Benar," Doni menjawab dengan tenang. Jangan terlihat sombong. Jangan membuat musuh lebih besar. "Makanya Tari harus terus minum ramuan dan istirahat. Infeksi di paru-parunya belum hilang sepenuhnya. Tapi krisisnya sudah lewat."

Seorang perempuan paruh baya dari kerumunan melangkah maju. Kulitnya keriput, tangannya kasar penuh kapalan dan luka-luka kecil. Ia mengenakan kain batik kusam dan kebaya tambalan. "Kalau anakku yang sakit, apa kau juga bisa mengobati?"

Ini dia. Aku tahu ini akan datang.

Sebelum Doni bisa menjawab, seorang lelaki tua bersuara serak berkata, "Anakku sudah batuk-batuk berbulan-bulan. Ki Darmo bilang itu karena angin duduk. Sudah minum jamu bermacam-macam tapi tidak sembuh-sembuh."

"Cucuku juga demam berhari-hari!"

"Suamiku luka di kakinya tidak kunjung sembuh, malah berbau busuk!"

Suara-suara itu bertubi-tubi seperti ombak yang menghantam. Doni tertegun. Mereka semua putus asa. Berapa banyak yang sudah mati karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah? Dadanya sesak, napasnya pendek. Dan sekarang mereka semua menatapku seperti aku punya jawaban untuk semuanya. Padahal aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa menyelamatkan diriku sendiri di dunia ini.

Ki Darmo menghentakkan tongkatnya, membuat kerumunan terdiam. Debu beterbangan dari lantai tanah. "Kalian ini! Baru satu anak yang katanya membaik, sudah langsung percaya begitu saja? Bagaimana kalau ini hanya kebetulan? Bagaimana kalau penyembuhan ini karena jimat yang sudah kuberikan sebelumnya baru bereaksi?"

Dia mencoba merebut kembali kredibilitas. Doni harus mengakui, dukun tua ini tahu cara bertahan.

Tapi Pak Karso, yang biasanya pendiam dan takut berkonflik, kali ini mengangkat suara. "Ki Darmo, dengan hormat..." Ia menarik napas panjang, kepalan tangannya longgar di samping tubuh. "Jimat yang Bapak berikan sudah lima hari tergantung di leher Tari. Kondisinya malah memburuk. Baru setelah Doni memberikan ramuan dan perawatan, Tari membaik dalam satu malam. Aku bukan orang pintar, tapi aku bisa melihat mana yang berhasil dan mana yang tidak."

Kerumunan bergumam setuju seperti guntur di kejauhan. Ki Darmo tersentak, dagunya terangkat sesaat sebelum kembali rata.

"Kau..." Dukun itu menunjuk Pak Karso dengan tongkatnya. "Kau berani melawan sesepuh kampung?"

"Bukan melawan, Ki," Pak Karso membungkuk hormat, tapi suaranya tidak bergetar. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."

Seorang pria berusia sekitar empat puluhan, berbadan tegap dengan bekas luka bakar seperti peta di lengan kanan, mendorong maju. Pak Wiryo. Doni mengenalinya dari ingatan tubuh ini. Dia salah satu orang yang dihormati di kampung karena berani dan jujur.

"Ki Darmo," kata Pak Wiryo. Suaranya tegas tapi tidak kasar. "Tidak ada yang meragukan ilmu Bapak. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata pada kenyataan. Kalau ada cara yang berhasil menyelamatkan nyawa, kenapa kita tidak mencobanya? Bukankah yang penting adalah kesembuhan, bukan siapa yang menyembuhkan?"

Ki Darmo menatap Pak Wiryo. Ada perhitungan cepat di balik pandangannya, kedipan cepat, bibir yang bergerak tanpa suara. Dia tahu Pak Wiryo bukan orang sembarangan. Cucu lurah terdahulu. Punya pengaruh.

Dukun itu menarik napas panjang, dadanya naik turun. "Baiklah," katanya akhirnya. Suaranya dingin seperti air sumur di musim hujan. "Kalau kalian ingin percaya pada anak muda ini, silakan saja. Tapi ingat, aku sudah memperingatkan. Jangan datang padaku kalau terjadi sesuatu yang buruk."

Ia berbalik dan berjalan keluar dengan langkah cepat, tongkatnya mengetuk keras di tanah seperti palu hakim. Beberapa orang tua yang masih setia padanya ikut pergi, kepala tertunduk. Tapi sebagian besar kerumunan tetap tinggal, wajah mereka penuh harap.

Aku baru saja membuat musuh besar. Berat mengendap di dadanya, menekan tulang rusuknya. Ki Darmo tidak akan melupakan ini. Tapi apa yang bisa kulakukan? Membiarkan Tari mati untuk menjaga perasaannya?

Setelah Ki Darmo pergi, suasana menjadi lebih rileks. Orang-orang berdesakan lebih dekat seperti anak ayam mencari kehangatan. Bau keringat dan napas yang tertahan memenuhi udara.

Perempuan paruh baya tadi kembali mendekat. "Namaku Mbok Inem. Anakku, Wati, batuk-batuk sudah seminggu. Bisakah kau melihatnya?"

Doni menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Berapa banyak yang bisa kuselamatkan? Berapa banyak yang akan mati karena keterbatasanku? Mulutnya kering seperti kapas. Bagian dari dirinya ingin menolak. Aku tidak punya klinik. Aku tidak punya obat. Bagaimana bisa aku mengobati puluhan orang dengan hanya pengetahuan dan bahan-bahan alami yang terbatas?

Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang membuatnya memilih menjadi dokter di kehidupan lamanya, tidak bisa mengatakan tidak pada orang yang membutuhkan bantuan.

"Baik," katanya akhirnya. Suaranya lebih mantap dari yang ia rasakan. "Tapi aku hanya bisa melakukan yang terbaik dengan apa yang ada. Dan aku tidak menjanjikan kesembuhan untuk semuanya."

"Kami mengerti," Pak Wiryo mengangguk. "Yang penting ada yang mencoba membantu."

Karyo, yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba menyentuh lengan Doni. "Doni, kau tidak bisa memeriksa semua orang di sini. Kau butuh tempat. Dan kau juga butuh istirahat."

Itu benar. Doni merasakan kelelahan di setiap otot seperti timah cair mengalir di pembuluh darahnya. Pandangannya sedikit kabur di tepinya, telinga berdenging pelan. Aku bisa pingsan di tengah pemeriksaan kalau tidak istirahat.

"Gubukku terlalu kecil," Mbok Wulan berkata, melirik sekeliling gubuk sempit itu.

"Pakai balai kampung saja," usul Pak Wiryo. "Tempatnya cukup luas. Dan ada teras yang teduh. Besok kalian bisa berkumpul di sana."

"Besok?" seorang perempuan bertanya, kaki menggeser tanah dengan tidak sabar.

"Doni perlu istirahat," Karyo menegaskan, melindungi temannya dengan tubuhnya yang lebih besar. "Dia belum tidur sejak kemarin siang. Kalau dia sampai sakit lagi, siapa yang akan mengobati kalian?"

Argumen itu masuk akal. Orang-orang mengangguk, meskipun beberapa terlihat tidak sabar.

"Besok pagi, setelah ayam berkokok kedua kali," Pak Wiryo mengumumkan dengan suara keras. "Kita berkumpul di balai kampung. Yang sakit bisa datang menemui Doni. Tapi ingat, kita harus tertib. Jangan berebutan."

Kerumunan pun bubar, membawa cerita tentang "mukjizat" penyembuhan Tari. Doni mendengar bisikan mereka yang memudar seperti ombak surut:

"Anak itu dapat wahyu, katanya."

"Mungkin keturunan dari leluhur yang punya ilmu tinggi."

"Pokoknya kalau bisa menyembuhkan, peduli setan dari mana ilmunya datang."

Wahyu. Keturunan leluhur. Kalau mereka tahu aku cuma dokter tersesat dari masa depan... Doni hampir tertawa, tapi terlalu lelah untuk itu.

Setelah semua orang pergi, hanya tinggal Doni, Karyo, dan keluarga Pak Karso. Suara kampung yang riuh tadi kini meninggalkan keheningan yang menggema lebih keras daripada keriuhan.

Doni menatap langit yang mulai cerah. Matahari bergerak perlahan, menandai waktu yang terus berjalan. Besok. Besok aku harus menghadapi puluhan orang sakit. Tanpa alat diagnostik. Tanpa laboratorium. Tanpa CT scan atau rontgen.

Dadanya terasa berat seperti ada batu di atasnya. Bagaimana jika aku salah mendiagnosis? Bagaimana jika seseorang mati karena ketidaktahuanku? Di rumah sakit dulu, aku punya tim. Aku punya teknologi. Sekarang... sekarang aku hanya punya diriku sendiri.

Karyo menatapnya, alis berkerut, kepala sedikit miring. "Doni? Kau baik-baik saja?"

Doni menarik napas panjang, menahan udara di paru-parunya sebelum menghembuskannya pelan. "Ya. Aku... hanya butuh istirahat."

Tapi di dalam hati, ia tahu istirahat saja tidak akan cukup. Besok akan menjadi ujian yang jauh lebih berat dari menyelamatkan satu anak.

Besok, puluhan nyawa akan bergantung padanya. Dan ia tidak yakin apakah ia siap untuk itu.

...---•---...

...Bersambung...

1
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
Mentariz
Alamak~~ bakal syulit nih ngadepin aki-aki 😅
Greta Ela🦋🌺
Entah pun mungkin sampai puluhan nyawa yang kau selamatkan Don
Greta Ela🦋🌺
Iya lah, Don. Kalau kerja keras berarti makan pun harus kuat. Kau ya harus juga jaga kesehatanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!