Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Mendengar sapaan dari gadis yang dia kenal, Laura melirik ke arah sumber suara. Berdiri di sana, gadis yang selama ini menjadi pemicu pertengkaran dengan sang suami. Gadis yang telah dia sayangi selayaknya adik sendiri, yang ternyata diam-diam menjadi mesin penghancur rumah tangganya.
"Aku baru saja datang, dengan atasanmu juga," ucap Laura sambil menghampiri Dina. Dina nampak tersenyum polos, tak tahu jika saat ini Laura tengah merencanakan sesuatu untuknya.
"Pak Dave memangnya sedang tidak sibuk ke Bandung?" Tanya Dina yang seolah tahu kesibukan Dave. Laura hanya menggelengkan kepalanya, sementara Dave berpura-pura tak mendengarkan. Pria itu lebih memilih membicarakan lukisan yang sedang di buat oleh ayah mertuanya.
Makan malam kali ini spesial bagi Bram, karena tak hanya putri dan menantunya yang ikut duduk di sana. Ada supir pribadi dan juga putrinya yang turut di undang Laura. Mereka mengobrol banyak sambil menikmati masakan yang di buat Bi Ani.
"Apa kalian akan menginap?" Tanya Bram pada putri dan juga menantunya.
"Iya pa, berhubung perusahaan di Bandung juga belum terlalu sibuk. Jadi aku dan Laura mau habiskan weekend menemani papa di sini."
Bram mengangguk mendengar penuturan Dave. Dia merasa bangga karena memilih suami yang tepat bagi putri semata wayangnya.
Laura yang sedang menyantap makan malamnya, diam-diam memperhatikan gerak gerik Dina yang selalu menatap ke arah suaminya. Tatapan terlihat seperti gadis yang sedang kasmaran, sama seperti dirinya dulu saat remaja.
Seusai makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi. Mereka memutar video pernikahan Laura dan Dave yang begitu mewah dan viral saat itu.
Tiba-tiba suara bel berbunyi, semua orang menoleh ke arah pintu depan.
"Siapa orang yang akan bertamu semalam ini? Masa tukang paket baru datang sekarang," gerutu Bram yang merasa terganggu.
"Dina, tolong bukakan pintu depan!" Titah Laura pada Dina yang juga ikut berkumpul di sana.
"Memangnya papa pesan paket apa?" Imbuh Laura yang penasaran.
"Alat melukis. Setelah perusahaan di pegang olehmu papa, rasanya bosan jika hanya berdiam diri di rumah. Jadi papa cari kesibukan lain dengan melukis," jawab Bram sambil menunjukan hasil lukisannya pada sang putri dan menantu.
Sementara itu, Dina yang membuka pintu terkejut setelah melihat kedatangan seorang gadis seumurannya.
"Kamu, kenapa kesini?" Bisik Dina dengan nada cemas.
"Aku kesini, ingin mengakui semua kebusukan kamu Na!"
"Sudah kubilang, kalau nanti aku berhasil merebut Pak Dave. Aku akan kasih kamu imbalan. Kamu juga pasti dapat uang dari kak Laura kan?" Ucap Dina dengan pedenya.
"Aku menyesal sudah terlibat dengan rencana busuk kamu, dan sekarang aku akan mengungkapkan semuanya di sini," ucap gadis itu dengan nada tinggi.
Laura yang mendengar semua keributan itu, segera menghampiri ke pintu depan. Di susul oleh suami dan juga orang rumah yang mendengar, termasuk ayah dari Dina.
"Ada apa ini? Dina, kenapa kamu ribut di rumah tuan?" Tanya ayah Dina yang membuat gadis itu semakin cemas.
"Aku gak tahu dia siapa? Dia datang kesini dan tiba-tiba minta uang sama aku," ucap Dina berbohong.
Laura hanya tersenyum kecut melihat tingkah Dina yang terlihat cemas, sambil menggenggam ujung bajunya. Wajahnya terlihat takut saat menatap mata Laura.
"Aku tak mau minta uang. Aku justru mau mengungkap rencana jahat Dina yang ingin menghancurkan rumah tangga kak Laura!"
***
Gadis itu kini berada di ruang keluarga Bram, juga bersama Dina yang kini akan di interogasi oleh Dave dan Laura.
"Siapa nama kamu? Dan apa hubunganmu dengan Dina? Sampai kamu seenaknya menuduh gadis yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri," tanya Laura pada gadis itu. Dina terlihat tersenyum, merasa Laura tak akan percaya dengan ucapan temannya.
"Aku Ghia, teman Dina sejak SMP. Aku kesini mau memperlihatkan bukti jika Dina benar-benar jahat sama kak Laura," ungkapnya langsung tanpa basa basi.
"Maksud kamu apa?" Dina yang tersulut emosi, segera berdiri dan hendak menjambak rambut Ghia. Namun bi Ani dengan sigap memegang tangan gadis itu.
"Kalau memang kau punya bukti, coba tunjukan padaku," pinta Laura sambil menadahkan tangannya pada Ghia. Gadis itu pun menyerahkan ponsel miliknya.
Laura melihat semua bukti itu yang terdapat di aplikasi chat. Matanya membulat melihat semua kebusukan Dina yang selama ini tertutup dengan sikap polosnya. Lalu, suara ponsel yang ada di saku Dina berdering.
Laura sengaja menghubungi nomor itu, memastikan jika itu memang Dina. Semua isi pesan itu, membuat Laura tak kuasa menahan amarah dan juga sakit hati.
-"Kau tahu, aku bekerja di perusahaan suami kak Laura. Dia sangat tampan."
-"Aku membayangkan, bisa menjadi istrinya dan melayaninya setiap malam. Haha."
-"Aku tak bisa menahan semuanya, sepertinya kau harus membantuku untuk bisa merebut pak Dave dari kak Laura."
-"Ya, buat wanita itu curiga pada suaminya. Aku akan terus mendekatinya, dengan caraku."
-"Nanti kau ambil fotoku saat pulang di antar olehnya. Dan kirimkan itu pada istrinya. Ini nomornya 08xxxxx. Jangan lupa minta uang untuk foto yang kau kirim XD."
-"Aku melirik ke arah itunya, sepertinya kak Laura selalu puas setiap malam. Sangat menonjol :P"
-"Oh, aku semakin tak tahan untuk mengganti posisi Laura. Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?"
Laura gemetar melihat semua isi pesan di ponsel itu. Gadis yang dia kira polos, bahkan membayangkan hal yang tak pantas terhadap suaminya.
"Dasar jalang, selama ini kau membayangkan satu ranjang dengan suamiku," ucap Laura yang cukup kasar, membuat Bram dan Dave terkejut karena Laura tak pernah seperti itu sebelumnya.
Dave menatap Dina dengan penuh amarah, selama ini tak terpikirkan jika dia bisa menjadi bahan fantasi gadis yang usianya bahkan jauh darinya.
"Nona Laura maafkan putri saya, dia sudah berbuat jahat pada anda. Tapi tolong, jangan pecat saya karena hal ini. Tuan Bram, ampuni saya yang tak bisa mendidik putri saya," mohon Pak Adhi, supir keluar Winarta yang sudah berpuluh tahun kerja di rumah itu.
Bram terlihat kecewa dengan semua yang terjadi. Namun dia tahu jika semua itu bukanlah kesalahan sang supir.
"Pa, tak perlu memecat Pak Adhi. Cukup aku saja yang bertindak di sini. Aku dengan kesadaran penuh memecat Dina dari perusahaan, dan dia akan mendapat blacklist dari perusahaan atau anak perusahaan milikku," tegas Dave yang sudah muak dengan perbuatan gadis itu.
"Dan aku juga akan berhenti memberinya bantuan untuk berkuliah. Selama ini aku mendapat laporan jika Dina sering bolos dan jarang masuk kelas," imbuh Laura yang sudah kecewa. Apalagi Dina melewatkan kesempatan dari kebaikan yang di berikan oleh keluarga Winarta.
"Aku juga berhenti memberikan uang saku, dan melarang putrimu untuk masuk ke dalam rumah ini. Adhi, kau sangat baik. Aku harap kedepannya kau bisa mendidik putrimu lebih baik lagi. Kebaikanku dan juga Laura, telah di balas oleh pengkhianatan seperti ini. Dia hampir saja menghancurkan putri semata wayangku," ucap Bram yang tak kuasa menahan air mata. Tak menyangka jika orang terdekatnya berencana menghancurkan kebahagiaan sang putri.
Dina meraung menangis, bersimpuh di hadapan Laura sambil terus meminta maaf. Dia tak menyangka jika segala rencana jahatnya justru gagal dan membawanya pada kehancuran.
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣