Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan yang tersembunyi
Shang Zhi menggeser tubuhnya ke depan Yun Xi, matanya kembali menajam seperti serigala yang terkepung.
Hutan mendadak senyap. Hanya suara desis api dari obor para perompak yang memecah kesunyian. Shang Zhi berdiri gemetar, namun tangannya tetap merentang lebar, memposisikan dirinya sebagai tembok terakhir bagi Yun Xi.
"Mati kau, Bocah!" teriak salah satu pengejar sambil menghunuskan pedang ke dada Shang Zhi.
"Tangan Baja Tingkat Tiga!"
Shang Zhi berseru. Seketika, kulit tangannya berubah warna menjadi kelabu logam yang dingin. Ia menangkap bilah pedang tajam itu dengan tangan kosong. Bunyi dentingan logam bertemu logam bergema nyaring. Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Saat mereka mulai merangsek maju secara bersamaan, sesuatu di dalam tubuh Shang Zhi bergejolak.
Segel misterius di punggungnya mendadak membara.
"Argh... EEAGGHHHKKK!"
Shang Zhi menjerit kesakitan. Dari luka di punggungnya, memancar aura berwarna merah keunguan yang pekat dan berbau kematian. Seketika, luka-lukanya menutup secara ajaib. Kulitnya memerah membara, dan matanya kehilangan warna hitamnya berubah menjadi merah menyala yang kosong, seolah jiwanya telah digantikan oleh sosok haus darah dari zaman kuno.
Dalam sekejap mata, Shang Zhi melesat. Gerakannya bukan lagi seperti manusia, melainkan predator puncak. Tanpa belas kasihan, ia menerjang musuh terdekat. Suara jeritan memilukan memecah malam saat Shang Zhi melumpuhkan mereka dengan kekuatan yang mengerikan. Para perompak yang tadinya angkuh kini tak berkutik nyali mereka ciut melihat rekan mereka tumbang satu per satu di tangan sosok yang terlihat seperti iblis tersebut.
Pemimpin perompak itu terjatuh, wajahnya pucat pasi. Melihat Shang Zhi berdiri tegak dengan aura membunuh yang mencekik udara, kesadarannya hilang. Ia jatuh pingsan karena ketakutan yang luar biasa. Anak buahnya yang tersisa tidak menunggu lama mereka lari tunggang-langgang menembus kegelapan, meninggalkan jejak mayat dan kehancuran.
Aura merah itu perlahan memudar. Tubuh Shang Zhi goyah, asap tipis masih mengepul dari kulitnya. Matanya kembali normal, namun cahayanya meredup. Ia menoleh perlahan ke arah Yun Xi yang terduduk lemas di tanah, wajah gadis itu penuh jejak trauma dan ketakutan.
Bruakk!
Tubuh Shang Zhi ambruk. Dengan sisa tenaganya, Yun Xi merangkak dan menangkap kepala Shang Zhi sebelum membentur tanah. Air mata Yun Xi jatuh berderai, membasahi wajah pemuda yang kini terkulai lemas itu.
"Bangun... kumohon bangunlah..." isaknya pilu.
Di tengah hutan yang kembali sunyi, gadis yang biasanya dipenuhi tawa itu kini meraung kecil. Ia tak menyangka, seseorang yang baru ditemuinya bersedia membuang kemanusiaannya demi melindunginya. Yun Xi menyandarkan kepalanya di atas dahi Shang Zhi, mendekapnya seolah takut pemuda itu akan menguap menjadi debu.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang kasar namun hangat bergerak pelan, membelai rambut Yun Xi dengan lembut.
"Hei... bukankah sudah kubilang..." suara Shang Zhi terdengar sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin. "Luka sekecil ini... tidak akan membunuhku. Aku ini kuat."
Yun Xi tersentak. Ia melihat Shang Zhi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat kontras dengan sosok mengerikan beberapa saat lalu. Tanpa mempedulikan rasa malunya, Yun Xi memeluk Shang Zhi semakin erat.
"Kupikir kau akan mati! Maafkan aku... ini semua takkan terjadi jika aku cukup kuat..."
Shang Zhi menatap wajah Yun Xi yang sembab untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya. "Dasar... cerewet..." bisiknya, lalu matanya terpejam sepenuhnya.
Dalam sisa kesadaran yang memudar, Shang Zhi samar-samar melihat secercah cahaya di langit. Sekelompok kultivator yang berdiri di atas pedang terbang turun menembus awan, mendekat ke arah mereka seperti dewa penolong.
"Nghh..."
Shang Zhi terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di setiap sendi tubuhnya. Pandangannya kabur, namun ia menyadari dirinya berada di sebuah bilik kayu yang harum akan aroma dupa dan tanaman herbal.
Seorang wanita tua dengan gurat wajah yang dalam namun berwibawa masuk ke dalam kamar. Ia menatap Shang Zhi dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
"Akhirnya kau bangun," ucap wanita itu tenang sembari memeriksa denyut nadi Shang Zhi. "Kau tidak sadarkan diri selama satu hari penuh. Sungguh aneh kau masih bernapas."
Shang Zhi mencoba duduk, namun wanita itu menahannya.
"Seorang kultivator tahap Bone Tempering awal sepertimu seharusnya sudah hancur karena tekanan energi yang meluap itu. Titik meridianmu seharusnya tertutup, tapi sesuatu yang lain... sesuatu yang sangat aneh di dalam dirimu, justru memaksanya tetap terbuka."
Wanita tua itu menyipitkan mata. "Siapa sebenarnya kau, Nak?
...Bersambung......