NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Mulai Bersuara

Panggilan telepon mendesak yang memaksa Kirana Widjaja meninggalkan ruang rapat Komite bukan sekadar gangguan kecil di tengah agenda Gala Dinner. Bagi Nadia, itu adalah penanda paling jujur bahwa umpan keraguan tentang selisih tiga persen dana Yayasan Tangan Emas telah ditelan mentah-mentah oleh para donatur utama.

Kirana boleh saja berlari ke balik pintu tertutup, boleh mengangkat dagunya tinggi di depan ibu-ibu Komite, tetapi di tempat lain—di kantor mewah suaminya—ia sedang berjuang mati-matian membuktikan sesuatu yang tak bisa lagi ia kendalikan: kepercayaan.

Masalah Kirana bukan pada angka yang benar atau salah. Masalahnya adalah rasa percaya yang mulai retak. Dan sekali retak, tak ada kosmetik sosial yang mampu menutupinya sempurna.

Pagi itu, Nadia memilih duduk di sebuah kedai kopi kecil yang jauh dari kawasan The Golden Bridge. Tempatnya sederhana, nyaris anonim. Cangkir kopi di hadapannya sudah dingin, tapi Nadia tidak peduli. Fokusnya terpecah di antara layar laptop dan dua dunia yang sedang ia bandingkan: Grup WA Elite Moms dan Grup Inner Circle.

Di layar laptop, e-mail lama Kirana tentang Gala Dinner terbuka berlapis-lapis. Nadia menyisirnya satu per satu, mencari celah logistik—sesuatu yang tampak sepele, tetapi bisa menjadi ranjau.

Sementara itu, di Grup WA Elite Moms, Kirana sudah kembali mengambil alih panggung.

[Kirana Widjaja]:

“Untuk semua Moms, laporan keuangan Yayasan Tangan Emas telah diverifikasi ulang dan sepenuhnya transparan. Semua tuduhan hanyalah fitnah dari pihak yang iri. Mari kita fokus pada amal, bukan drama murahan.”

Nada tulisannya singkat, tajam, dan defensif. Bukan nada seorang ibu yang tenang, melainkan seseorang yang sedang menjaga bentengnya dari dalam.

Seperti yang Nadia duga, dua sekutu inti Kirana langsung bergerak.

[Ibu Siska]:

“Tepat sekali, Bu Kirana. Gosip seperti itu memang ciri orang yang tidak punya kontribusi.”

[Ibu Vanya]:

“Memalukan kalau ada ibu-ibu dewasa yang ikut menyebar isu anak-anak.”

Dinding verbal terbentuk dengan rapi. Gaslighting klasik. Menolak substansi, menyerang moral penanya.

Namun mata Nadia tertuju pada satu nama yang tak bersuara: Ibu Nina.

Pemilik butik haute couture itu tetap diam. Tidak membela, tidak menyerang. Keheningan yang jauh lebih berisik daripada seratus pesan dukungan.

Nadia tersenyum tipis. Ia tahu, Nina adalah salah satu donatur yang menelepon Kirana. Dan keraguan di puncak piramida selalu mengalir ke bawah, menghancurkan segalanya.

Saat itulah Nadia tahu, waktunya meluncurkan serangan kedua.

Bukan serangan keras.

Bukan pula tuduhan.

Melainkan jebakan.

Ia menamai langkah itu dalam benaknya: Jebakan Testimoni.

Dengan persona berbeda, Nadia membuka e-mail baru—kali ini berperan sebagai staf Komite yang terlalu bersemangat, terlalu patuh, dan terlalu naif. Ia mengirimkan pesan serupa kepada dua orang yang menjadi bayangan gelap masa lalu Kirana.

Yang pertama, Mr. Taufik.

Guru Matematika yang dulu dipaksa menandatangani kesaksian palsu tentang Aksa.

Yang kedua, Ibu Tati.

Mantan guru kesenian yang dipecat diam-diam setelah berani mengkritik Kirana karena memaksakan Vanya mengikuti pameran seni demi CV, bukan demi minat.

Isi e-mail itu dingin, formal, dan mendesak.

“Komite membutuhkan testimoni Bapak/Ibu yang paling tulus dan jujur mengenai etika kerja serta integritas moral Ibu Kirana Widjaja. Testimoni akan dicetak dalam booklet lelang eksklusif. Mohon respons dalam 24 jam.”

Nadia tahu, keheningan adalah jawaban paling menyakitkan.

Jika mereka menolak, Kirana akan curiga.

Jika mereka setuju, mereka harus kembali berbohong—dan itu berarti membuka luka lama yang belum sembuh.

Mereka akan memilih menghindar.

Dan penghindaran adalah bahan bakar paranoia.

Tak lama kemudian, Nadia menelepon Rina.

“Bu Rina, bagaimana kondisi Kirana setelah audit itu?” tanya Nadia dengan nada peduli yang nyaris tak bercela.

Rina terdengar lelah. Sangat lelah.

“Dia tidak tidur, Bu. Dia yakin ada orang dalam yang membocorkan data. Suaminya sekarang melacak mantan karyawan. Dan… dia juga mencurigai guru-guru lama.”

“Guru?” Nadia pura-pura terkejut.

“Iya. Ada permintaan testimoni aneh yang sampai ke telinganya. Dia bilang itu ancaman pengecut. Dia marah. Takut. Dia merasa masa lalunya mengejarnya.”

Nadia menutup mata sejenak. Ia telah berhasil membelah fokus Kirana menjadi dua. Separuh energi Kirana kini habis untuk mencari musuh yang tak terlihat.

Setelah panggilan itu, Nadia membuka file yang sejak semalam mengusik nuraninya: Laporan Keuangan Gala Dinner.

Di sanalah ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Proposal resmi mencantumkan biaya venue Balai Samudra sebesar lima ratus juta rupiah. Namun dalam e-mail internal yang tak pernah dipublikasikan, Kirana menulis dengan gamblang kepada manajer venue.

“Kami bayarkan empat ratus juta secara resmi. Sisanya, alihkan ke rekening pribadi saya sebagai biaya tambahan EO.”

Itu bukan lagi permainan citra.

Itu kejahatan finansial.

Nadia tahu, bukti ini tidak bisa dibocorkan sembarangan. Terlalu tajam. Terlalu mematikan. Dan terlalu mudah mengarah kembali padanya.

Ia harus membuat Kirana menjebak dirinya sendiri.

Kesempatan itu datang pada rapat Komite berikutnya.

Dengan tenang, Nadia berdiri mempresentasikan booklet promosi lelang. Slide demi slide meluncur rapi, hingga ia menampilkan detail venue Gala Dinner—lengkap dengan angka lima ratus juta rupiah.

Wajah Kirana menegang seketika.

“Itu tidak perlu dicantumkan,” potong Kirana cepat. “Cukup tulis venue kelas satu.”

Nadia menoleh, wajahnya polos.

“Bukankah transparansi justru akan menenangkan donatur, Bu? Apalagi setelah gosip yayasan?”

Ruangan hening.

Kirana terjebak.

Jika ia menolak transparansi, ia terlihat bersalah.

Jika ia membiarkan angka itu, kebohongannya akan terbuka.

Akhirnya, Kirana mengalah.

“Tulis saja empat ratus juta. Venue memberi diskon besar karena acara amal.”

Nadia mengangguk patuh, menyimpan senyum kecil di sudut bibirnya.

Kirana baru saja mengorbankan seratus juta rupiah demi menyelamatkan citra. Sebuah pengakuan tak langsung yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

Saat Nadia meninggalkan ruangan, ia tidak merasa menang. Ia merasa tenang.

Kirana kini terisolasi.

Dikepung oleh ketakutan.

Dan dihantui bayangan yang ia ciptakan sendiri.

Retakan itu kini bukan lagi bisikan.

Ia sudah mulai bersuara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!