NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paranoia dan Testimoni Palsu

Panggilan telepon mendesak Kirana Widjaja yang terpaksa meninggalkan ruang rapat Komite adalah penanda yang jelas: umpan keraguan Nadia tentang selisih 3% dana Yayasan Tangan Emas telah ditelan mentah-mentah oleh para donatur utama.

Nadia tahu, di tempat lain, di kantor mewah suaminya, Kirana sedang berjuang keras untuk membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan laporan keuangannya. Namun, masalah Kirana bukanlah data yang benar atau salah; masalahnya adalah tergerusnya kepercayaan.

Pagi itu, Nadia berada di sebuah kedai kopi yang jauh dari area The Golden Bridge, menyisir e-mail lama Kirana tentang urusan Gala Dinner. Ia mencari celah logistik yang bisa ia eksploitasi. Di sisi lain layar, ia membuka Grup WA Elite Moms dan Grup Inner Circle secara bersamaan, membandingkan atmosfer di dua dunia yang dikendalikan Kirana.

Di Elite Moms, Kirana sudah kembali. Tulisannya singkat, tajam, dan defensif.

[Kirana Widjaja]: "Untuk semua Moms, laporan keuangan Yayasan Tangan Emas telah diverifikasi ulang dan sepenuhnya transparan. Semua tuduhan gossip adalah fitnah yang disebarkan oleh pihak yang iri. Saya harap kita fokus pada amal, bukan drama murahan."

Siska dan Vanya (sekutu inti Kirana) segera merespons dengan dukungan penuh. Mereka menciptakan dinding verbal yang keras. Ini adalah taktik gaslighting klasik: menolak kebenaran dan menyerang moral penanya.

Namun, Nadia memperhatikan Ibu Nina, donatur utama sekaligus pemilik butik haute couture, yang memilih diam di grup Kirana. Keheningan itu adalah emas. Nadia yakin, Ibu Nina adalah salah satu donatur yang menelepon Kirana. Nadia telah berhasil memicu keraguan di puncak piramida Kirana.

Saat itu, Nadia harus meluncurkan serangan kedua yang telah ia siapkan: Jebakan Testimoni.

Nadia membuka e-mail baru dan mengirimkan pesan dengan persona yang berbeda: seorang Staf Komite yang Overzealous yang bertugas mengumpulkan materi promosi untuk lelang "Konsultasi Eksklusif Kirana Widjaja."

Ia mengirimkan e-mail terpisah kepada dua orang penting yang terkait dengan masa lalu Kirana:

Mr. Taufik: Guru Matematika yang dipaksa berbohong dalam kasus Aksa.

Ibu Tati: Mantan Guru Kesenian yang dipecat dari sekolah lain setelah mengkritik Kirana karena memaksakan Vanya mengikuti pameran seni yang tidak ia sukai.

Isi pesan Nadia ke Mr. Taufik dan Ibu Tati identik, tetapi nadanya sangat formal dan mendesak:

—'Yth. Bapak/Ibu, Komite dengan bangga mempersembahkan Lelang Eksklusif dengan Ibu Kirana. Kami membutuhkan testimoni Anda yang paling tulus dan jujur tentang etika kerja dan integritas moral Ibu Kirana selama berurusan dengan beliau. Testimoni akan dicetak di booklet lelang. Mohon respons dalam 24 jam. Terima kasih.'—

Ini adalah serangan yang jenius karena tidak ada balasan adalah sebuah balasan. Mr. Taufik dan Ibu Tati berada dalam dilema yang tidak mungkin dipecahkan: Jika mereka menolak, mereka akan dicurigai oleh Kirana. Jika mereka setuju, mereka harus berbohong lagi tentang integritas Kirana, menguatkan rasa bersalah mereka, dan berisiko Nadia mengungkap memo Taufik yang asli.

Nadia yakin mereka akan memilih untuk menghindar. Penolakan halus ini akan memicu paranoia Kirana bahwa masa lalu sedang mengejarnya.

Nadia kemudian menelepon Rina untuk mendapatkan update internal Komite.

"Bu Rina, apa kata Kirana soal audit itu?"

"Dia stres. Dia tidak tidur. Dia bilang, laporannya clear, tetapi dia tidak bisa menemukan siapa yang mengirim e-mail itu. Dia yakin itu adalah 'orang dalam yang dipecat tahun lalu'. Dia sedang menyuruh suaminya, Pak Wijaya, melacak setiap karyawan lama." Rina berhenti sejenak. "Dia juga mencurigai ada guru yang menyimpan dendam padanya."

"Guru?" tanya Nadia, pura-pura terkejut.

"Ya. Dia menerima permintaan aneh untuk testimoni untuk lelangnya. Permintaan itu datang dari seseorang yang dia kenal pernah dia beri pelajaran. Dia bilang, itu adalah cara pengecut untuk mengancamnya. Dia sekarang fokus untuk menyingkirkan siapa pun yang pernah dia ancam di masa lalu. Dia bilang, dia akan membungkam sumber testimoni itu."

Nadia merasa dingin. Ia telah berhasil memicu paranoia ganda pada Kirana. Kirana tidak hanya mencari leak dana, tetapi juga leak guru. Sumber daya Kirana kini terbagi dua: suami melacak mantan karyawan, sementara Kirana sendiri fokus pada guru-guru yang menyimpan memo asli.

Strategi Nadia berjalan sempurna: membuat Kirana menyerang sekutunya sendiri atau musuh yang sudah tidur.

Nadia kemudian beralih ke rencananya yang paling berisiko: Menghancurkan Kirana di depan publik yang terorganisir.

Ia membuka file baru: "Laporan Keuangan Gala Dinner." Ini adalah inti dari proyek Kirana saat ini. Nadia mulai menganalisis detail pengeluaran untuk Gala Dinner yang akan datang, yang akan menjadi panggung klimaks Kirana.

Ia menemukan keanehan pada pengeluaran untuk Venue/Catering. Dalam proposal Kirana, tertulis bahwa venue yang dipilih adalah "Ruang Balai Samudra" dengan harga sewa Rp500 juta. Namun, di e-mail internalnya yang tidak dipublikasikan, Kirana bernegosiasi dengan manajer Venue tersebut:

—'Kami akan membayar Rp400 juta secara resmi untuk Komite. Tapi Anda berikan kami diskon 20%, dan sisa Rp100 juta itu, alihkan ke rekening pribadi saya. Tulis itu sebagai biaya event organizer tambahan yang tidak perlu dicantumkan di laporan.'—

Penggelapan langsung. Bukan hanya pengalihan dana amal, ini adalah mark-up harga untuk keuntungan pribadi yang terencana. Ini adalah kejahatan finansial yang jauh lebih serius daripada pengalihan dana 3% Yayasan.

Nadia menyadari, bukti ini terlalu kuat untuk dibocorkan secara anonim. Jika ini bocor, Kirana akan hancur total, dan Nadia akan menjadi tersangka utama karena hanya dia yang baru mengakses Ruang Arsip.

Nadia memutuskan bahwa bukti ini harus digunakan untuk membuat Kirana mengakuinya di depan umum, tanpa Nadia harus menuduhnya secara langsung.

Beberapa hari berlalu. Kirana terlihat sangat tertekan di Komite. Ia jarang tersenyum. Ibu Nina, si donatur, masih diam di grup WA. Keheningan Nina adalah jarum yang menusuk Kirana.

Saat rapat Komite berikutnya, Nadia mengajukan dirinya untuk mempresentasikan booklet promosi lelang konsultasi Kirana.

"Bu Kirana," kata Nadia, berdiri di depan slide presentasi yang ia buat. "Untuk memaksimalkan lelang, booklet kita harus sangat meyakinkan. Saya sudah menambahkan detail tentang venue Gala Dinner kita."

Nadia menampilkan slide yang memuat informasi venue. Ia sengaja mencantumkan harga sewa Rp500 juta dan mencantumkan keterangan: "Komite memastikan bahwa biaya ini adalah yang paling efisien, sudah termasuk semua service."

Kirana melihat slide itu. Wajahnya langsung tegang. Kirana tahu, mencantumkan angka Rp500 juta secara publik berarti ia telah mengunci diri pada kebohongan. Jika ada yang menanyakan detailnya, atau jika pihak venue melihat laporan ini, skema mark-up Rp100 jutanya akan terbongkar.

"Bu Nadia," potong Kirana dengan suara setenang mungkin, tetapi matanya menembakkan peringatan. "Angka itu tidak perlu dicantumkan. Cukup katakan 'Venue Kelas Satu'. Kita tidak perlu terlalu transparan dalam hal biaya."

"Tapi Bu Kirana," balas Nadia, memainkan peran sebagai anggota baru yang polos. "Bukankah transparansi adalah nilai utama yang ingin kita tunjukkan kepada para donatur? Apalagi setelah gossip tentang dana Yayasan? Mencantumkan angka yang pasti akan meyakinkan donatur bahwa Komite ini bersih."

Nadia menatap Kirana. Duel verbal mereka sunyi, hanya dimengerti oleh mereka berdua. Kirana tahu Nadia telah melihat angka Rp500 juta itu di suatu tempat, dan tahu bahwa Nadia memiliki informasi tentang kebohongan ini.

Kirana tidak bisa menolak transparansi tanpa terlihat korup, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan angka itu dicantumkan tanpa mempertaruhkan Rp100 jutanya.

Kirana menghela napas panjang, kekalahan pertama di depan Komite. "Baiklah. Saya setuju dengan transparansi. Tapi venue kita telah memberikan diskon besar-besaran karena kontribusi amal kita. Mari kita tulis angkanya yang lebih akurat: Rp400 juta. Tulis saja itu sudah termasuk semua layanan."

Nadia mengangguk patuh. "Tentu, Bu Kirana. Rp400 juta. Saya akan merevisi slide-nya."

Nadia telah berhasil. Kirana secara terbuka mengoreksi angka kebohongan finansialnya di depan Komite, secara de facto mengakui mark-up yang ia rencanakan, hanya untuk menyelamatkan diri dari pengungkapan e-mail yang lebih detail. Kirana mengorbankan Rp100 juta demi menyelamatkan reputasinya dan menghindari penyelidikan pidana.

Nadia tidak peduli pada uang itu; ia peduli pada bukti ketakutan Kirana. Nadia tahu, Kirana sekarang sangat yakin bahwa ada mole di dalam Komite yang memiliki akses langsung ke e-mailnya. Dan orang itu pastilah Rina.

Nadia meninggalkan rapat dengan senyum kecil. Kirana kini terisolasi, menghabiskan energinya untuk melawan bayangan yang diciptakan Nadia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!