Menyandang status duda diusianya yang masih sangat muda adalah hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Abrisam Xander Rahadian.
Hatinya telah membeku dan tidak berniat ingin mencari pendamping ataupun sosok ibu untuk putranya semenjak ia merasa dikecewakan dan sakit hati oleh mantan istrinya yang begitu tega meninggalkannya terutama putranya yang usianya belum genap satu tahun yang masih sangat membutuhkannya.
Ingin tau lebih lanjut cerita tentang Abrisam Xander??? Ikuti ceritanya yuk!!🙏😊😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
"Kakak Ze! ini Ayahku sudah datang!" Ucap Alan dengan riang memberitahu Zefanya. Sontak Zefanya berbalik menoleh kearah Abrisam dan tersenyum manis.
"Kau??" Ucap Abrisam dengan memicingkan matanya menatap Zefanya sambil menujuk kearahnya merasa teringat sesuatu.
Aku seperti pernah melihat gadis ini! Tapi dimana ya?
Gumam Abrisam dalam hati sambil mengingat-ingat.
"Hallo, aku Zefanya dan aku guru baru di sekolah ini! Maaf karena tadi aku yang menemani Alan mungkin tidak berkenan dihatimu!" Ucap Zefanya menyapa Abrisam lalu meminta maaf kepadanya dengan rasa tidak enak sekaligus merasa sangat senang.
"Kakak Ze tidak perlu meminta maaf kepada Ayahku! harusnya Ayahku yang meminta maaf karena sudah merepotkanmu..hehe!" Sahut Alan dengan polosnya kemudian tertawa.
"Hmm ya, Alan benar! Aku minta maaf karena terlambat untuk datang dan merepotkanmu!" Ucap Abrisam kepada Zefanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Emm..tidak apa-apa! Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, justru aku merasa senang!" Jawab Zefanya dengan menormalkan rasa gugupnya dan jantungnya yang tiba-tiba berdegup dengan cepat.
"Ayah lihatlah ini! aku tadi mendapatkan penghargaan!" Sahut Alan kembali dan membuat Abrisam juga Zefanya menoleh kearahnya.
Abrisam kembali berjongkok dan meraih piala yang dipegang oleh Alan. Ia melihatnya lalu tersenyum merasa bangga dengan putra kesayangannya.
"Hebat sekali dan ayah sangat bangga denganmu!" Ucap Abrisam dengan tersenyum sambil mengusap kepala Alan lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Tanpa mereka sadari, dengan diam-diam Zefanya mundur tiga langkah kearah samping dan mengambil foto Ayah dan anak yang terlihat mengharukan.
Benar-benar sangat manis!
Gumam Zefanya dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Setelah mengambil foto mereka, Zefanya memasukkan ponselnya kedalam tasnya kembali.
Zefanya merasa sangat terharu kepada mereka. Namun dalam hatinya terus bertanya-tanya tentang 'kemana ibunya Alan?'
"Kakak Ze! Kemarilah!" Seru Alan memanggil Zefanya untuk mendekat kearahnya.
"Ah iya!" Jawab Zefanya dengan tersenyum manis dan mendekat.
"Ayah apa boleh kita pulang bersama kakak Ze, sekalian kita antar dia pulang Yah!" Ucap Alan sambil menatap Abrisam dengan wajah penuh harap.
Abrisam menghela nafasnya kemudian menganggukan kepalanya.
"Baiklah!" Jawabnya sambil tersenyum tipis.
Kemudian Abrisam bangkit dan berdiri. Ia membawakan piala Alan. Dan Alan berjalan didepannya sambil menggenggam erat tangan Zefanya.
Abrisam terus memperhatikan Alan yang terlihat begitu senang dan selalu tersenyum juga tertawa saat berjalan sambil bercanda oleh Zefanya.
Kenapa Alan bisa seakrab itu dengannya?
Gumam Abrisam bertanya dalam hati.
Langkahnya seketika terhenti dan pikirannya kembali mengingat akan masa lalunya yang sangat menyakitkan baginya.
Ia bukan sakit hati karena Sabrina meninggalkannya, tetapi ia merasa sangat sakit hati dengan apa yang telah Sabrina lakukan kepada Alan yang dengan begitu tega meninggalkannya begitu saja dan lebih memilih pergi bersama laki-laki lain yang umurnya lebih pantas menjadi ayahnya.
"Ayah ayo cepat!!" Seru Alan berteriak saat melihat ayahnya berdiri diam tidak bergerak.
Seketika Abrisam tersadar dari lamunannya dan ia segera melanjutkan langkahnya.
"Kakak Ze duduklah disini!" Ucap Alan sambil membukakan pintu mobil bagian depan untuk Zefanya.
"Eh Alan, kamu saja yang duduk didepan, biar aku yang dibelakang, oke?!" Jawab Zefanya sambil ingin mengangkat tubuh Alan tapi Alan menolaknya.
"Aku tidak mau duduk didepan, karena aku mengantuk, jadi aku ingin tiduran dibelakang!" Ucap Alan dengan sangat polos kemudian membuka pintu belakang dan naik.
Zefanya terdiam dan ia menoleh kearah Abrisam yang berdiri disamping mobil dekat pintu belakang yang diduduki Alan.
"Naiklah!" Ucap Abrisam dengan wajah tanpa ekspresinya kemudian ia mengitari mobilnya dan masuk kedalam mobilnya dibagian kemudi.
Zefanya pun kemudian masuk kedalam mobil dan duduk disamping Abrisam tak lupa memasang sabuk pengaman.
Abrisam melihat Alan dari kaca spion didepannya dan ternyata Alan sudah berbaring dan bernyanyi-nyanyi dengan mengarang lagunya sendiri.
Abrisam bingung ingin meletakkan piala Alan dimana.
Zefanya meliriknya, ia melihat Abrisam yang bingung untuk meletakkan piala Alan.
"Emm..biar aku yang bawakan!" Ucap Zefanya sambil mengulurkan kedua tangannya menatap Abrisam.
Tanpa menjawab Abrisam langsung menyerahkan piala milik Alan ke Zefanya.
Iiiish kenapa mukanya dingin sekali sih?
Gumam Zefanya menggerutu dalam hati.
Kemudian Abrisam menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.
...***************...
Seminggu kemudian.
Alan sedang bermain ditaman yang ada dihalaman belakang rumahnya.
Ia sedang bermain bola dengan Zefanya karena sepulang sekolah saat dijemput Bi Asih bersama supir, Alan terus memaksa meminta Zefanya ikut kerumahnya dan bermain dengannya.
Dalam hati Zefanya mau saja, tetapi ia merasa sangat tidak nyaman dengan Abrisam yang selalu diam dan sikapnya sangat dingin seperti tidak menyukai kebersamaannya dengan Alan.
Tetapi ia tidak pernah bisa kalau harus menolak Alan dan pastinya akan membuat Alan bersedih. Zefanya sudah. sangat menyayangi Alan. Entah mengapa hatinya merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama dengan Alan. Berbeda dengan saat ia bersama dengan murid-muridnya yang lain.
Selain Alan anak yang sangat pintar, Alan juga anak yang sangat ramah dan baik juga anak yang bisa berfikir dewasa dibanding dengan teman-teman seusianya.
Terlebih, Zefanya juga merasa kasihan dengan Alan yang tidak memiliki ibu dan Zefanya merasa tersentak hatinya ingin selalu memberikan perhatian lebih kepada Alan, ia benar-benar sudah sangat menyayangi Alan.
...***************...
Di Perusahaan Xander.
Abrisam merapikan berkas-berkas yang telah selesai ia tandatangani. Kemudian ia bergegas keluar dari ruangan kantornya. Saat pekerjaannya sudah selesai, ia selalu ingin cepat pulang untuk menemani jagoan kecilnya.
"Selamat sore Pak Sam!" Seru Clara sekretaris Abrisam menyapa Abrisam saat melihatnya berjalan menuju lift dengan lembut dan tersenyum manis.
"Hmm!" Jawab Abrisam dengan sedikit mengangguk dengan wajah tanpa ekspresinya dan masuk kedalam lift.
"Huff, kenapa Pak Sam masih selalu cuek dan dingin sekali sih? Dia juga terlihat tidak tertarik denganku! Padahal diluar sana banyak sekali laki-laki yang tertarik denganku!"
Gumam Clara mengeluh dengan dirinya sendiri kemudian ia berbalik dan segera merapikan mejanya lalu beranjak pulang.
Abrisam melajukan mobilnya menuju kediamannya. Seperti biasa ia memilih melewati jalan pintas untuk menghindari kemacetan di kota kelahirannya tersebut. Kurang lebih empat puluh menit, mobil Abrisam telah sampai diparkiran rumahnya.
Ia langsung turun dan melangkah masuk kedalam rumahnya. "Bi, dimana Alan?" Tanya Abrisam saat masuk dan melihat Bi Asih.
"Alan sedang bermain ditaman belakang Tuan!" Jawab Bi Asih dengan ramah.
"Baiklah, aku mau mandi dulu!" Ucap Abrisam kemudian segera naik keatas menuju kamarnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Kurang lebih lima belas menit, Abrisam selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan turun kebawah menuju taman belakang. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti sebelum sampai dipintu.
...***************...
...Hallo Readers, jangan lupa Like, Comment dan Vote ya, dan juga ikuti terus karya saya.....
...Terimakasih banyak 😍😍😍...
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈