NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merindukannya

Greenindia segera mendorong dirinya menjauh dari tubuh Rex, bangkit dari sofa seolah terkena sengatan listrik.

​“Kau sengaja!” bentaknya, napasnya memburu. Perasaan canggung yang memalukan bercampur dengan kemarahan yang membakar. “Kau sengaja menarik tanganku agar aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atasmu, dasar… cabul!”

​Rex menghela napas panjang, tampak tenang meski baru saja kejatuhan wanita. Ia menunjuk ke kakinya yang terbalut perban tebal.

​“Greenindia, aku terluka. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku dengan benar,” Rex berargumen, nadanya sedikit meremehkan. “Bagaimana mungkin aku bisa menarikmu secara ‘sengaja’ dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkanmu? Kau sendiri yang ceroboh. Aku hanya mencoba menahanmu agar tidak pergi begitu saja.”

​Greenindia terdiam. Ia tahu Rex benar. Dengan kondisi kakinya, mustahil Rex bisa menariknya sekuat itu. Rasa bersalah karena telah melukai Rex kembali menghantuinya. Ia berbalik, memungut tas kerjanya dengan tergesa-gesa.

​“Aku harus pergi. Aku sudah terlambat,” ujarnya tanpa menoleh.

​Saat ia mencapai pintu, ponselnya berbunyi, menandakan pesan masuk. Greenindia mengabaikannya, tangannya sudah memegang kenop pintu. Ponselnya kembali bergetar, kali ini dengan rentetan pesan yang bertubi-tubi.

​Rasa penasaran mengalahkan amarah. Ia membuka kunci layar, dan seketika itu juga, wajahnya kembali memucat. Matanya melebar membaca barisan kalimat dingin yang masuk dari sebuah nomor asing, namun terasa akrab.

​Kau akan datang ke peringatan tiga tahun, kan?

Aku akan membujuk ibu. Sudah tiga tahun, Greenindia. Berhenti bersikap kekanak-kanakan.

​Kau benar-benar tidak akan datang? Kami akan berada di sana. Kau harus hadir. Dia ayahmu.

​Kau sangat egois. Kau kabur setelah apa yang kau lakukan, dan sekarang kau bahkan tidak mau hadir di hari peringatan kematiannya? Apakah rasa bersalahmu tidak ada sama sekali?

Kematian Ayahmu terjadi karena keegoisanmu, Greenindia.

​Tangan Greenindia bergetar hebat. Pesan kelima itu, yang merupakan kalimat yang sama persis yang didengarnya tiga tahun lalu, langsung menghidupkan kembali jurang ketakutan di dalam dirinya. Puncak Blackwood, Rex, pernikahan paksa—semuanya terasa kecil dibandingkan trauma yang tiba-tiba menggerogoti.

​Rex, yang mengawasinya dari sofa, melihat perubahan mendadak pada Greenindia. Tubuhnya kaku, wajahnya kusam seperti batu.

​“Ada apa?” tanya Rex.

​Greenindia tidak menjawab. Ia hanya memasukkan ponselnya, membuka pintu, dan berlari keluar.

​Hari yang buruk.

​Di kafe, Greenindia bekerja seperti zombie. Pikirannya melayang-layang di antara kata-kata Rex dan tuduhan dalam pesan-pesan itu.

​Kematian Ayahmu terjadi karena keegoisanmu.

​Ia menjatuhkan nampan, hampir menumpahkan kopi panas ke pelanggan. Ia memberikan pesanan yang salah dua kali. Manajer, yang biasanya sabar, akhirnya memanggilnya ke belakang.

​“Greenindia, ada apa denganmu?” tegur Manajer dengan nada frustrasi. “Kau membuat kesalahan yang terlalu banyak hari ini. Kau harus fokus.”

​“Maafkan aku, Pak. Aku akan mencoba lebih keras,” bisik Greenindia, suaranya tercekat.

​Saat Greenindia kembali ke area pelayanan, bel pintu kafe berdering, dan sekelompok wanita paruh baya memasuki kafe. Mereka berpakaian sangat mewah, dikelilingi aura uang dan kelas sosial.

​Greenindia mendongak. Di tengah-tengah kelompok itu, ia melihatnya.  Sosok yang ia kenal, ia takuti, dan ia rindukan di saat yang sama.

​Nyonya Anderson. Ibunya.

​Perasaan Greenindia campur aduk. Kerinduan yang mendalam menjalar di dadanya, tetapi rasa takut yang jauh lebih besar membekukannya di tempat. Ibunya, wanita yang menuduhnya sebagai pembunuh suaminya sendiri, kini ada di hadapannya.

​Manajer, yang terintimidasi oleh kemewahan para wanita itu, segera meminta Greenindia untuk melayani meja sudut tersebut.

“Green cepat layani. Mereka sosialita nomor satu di kota ini.”

​Dengan tangan yang gemetar, Greenindia mendekati meja itu. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya di balik buku menu, tetapi Nyonya Anderson melihatnya. Tatapan ibunya dingin, kosong, seolah Greenindia adalah pelayan asing yang tak pernah ia kenal.

​“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya Greenindia, suaranya hampir tidak terdengar.

​Salah satu teman ibunya, seorang wanita dengan kalung berlian mencolok bernama Nyonya Clara, langsung menyela. “Aku ingin Latte dengan susu almond dan tiga tetes sirup vanila. Dan pastikan panasnya pas. Kau mengerti, Nak? Tidak terlalu menyengat, tidak dingin. Aku tak suka minuman yang merusak lidah.”

​“Ya, Nyonya,” jawab Greenindia, mencoba menstabilkan napasnya.

​Ia membawa nampan berisi pesanan, tangannya bergetar karena emosi yang ia tahan. Saat ia meletakkan sendok kecil di samping cangkir Nyonya Clara, tangannya tergelincir, dan sendok itu mengenai cangkir. Clank! Sedikit kopi tumpah ke pinggir cangkir, merembes ke taplak meja.

​“Oh, ya ampun! Astaga!” teriak Nyonya Clara, dramatis. Ia langsung melompat dari kursinya. “Kau buta, ya? Kau tidak lihat betapa mahalnya tas dan bajuku? Aku tidak mau terkena noda kopi murahanmu!”

​Nyonya Clara menunjuk Greenindia dengan jari panjangnya, suaranya melengking. “Kau tidak becus bekerja! Kau tidak tahu etika melayani. Menumpahkan kopi? Ini kafe macam apa yang mempekerjakan orang ceroboh seperti ini?”

​Greenindia hanya berdiri, menunduk, menahan air mata yang mendesak.

​“Tolong, Nyonya, saya minta maaf…” bisik Greenindia.

​“Permintaan maafmu tidak akan membersihkan noda ini!” hardik Nyonya Clara. “Panggil manajermu sekarang juga! Aku ingin kau dipecat! Orang seperti ini seharusnya tidak berada di tempat umum.”

​Di tengah penghinaan itu, Greenindia mendongak, mencari mata ibunya, Nyonya Anderson.

​Nyonya Anderson, duduk di seberang meja, sama sekali tidak bereaksi.  Ia memandang Greenindia dan adegan itu dengan tatapan dingin dan kosong, seolah Greenindia adalah pelayan asing yang tak pernah ia kenal.

Nyonya Seraphina Anderson menyeruput tehnya dengan anggun, sikapnya benar-benar beku. Tidak ada pengakuan. Tidak ada amarah. Tidak ada rasa iba. Hanya kebekuan total.

​“Kau tidak mendengarku?” Nyonya Clara kembali membentak. “Aku bilang, panggil manajer! Kau tuli, hah? Atau kau pikir aku tidak pantas dilayani dengan baik?”

​Manajer, yang sudah menyaksikan seluruh adegan itu dari jauh, bergegas mendekat. “Nyonya Clara, saya sungguh minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Greenindia, kau pergilah dulu ke belakang. Ambil cuti sebentar.”

​Greenindia tidak menunggu. Pukulan dari sikap ibunya jauh lebih menyakitkan daripada makian Nyonya Clara. Ia langsung menuju Manajer dan berkata, “Pak, bisakah saya izin pulang? Saya sedang tidak sehat.” Manajer, yang melihat wajah Greenindia yang benar-benar hancur, segera mengizinkan.

​Di perjalanan pulang, Greenindia tidak dapat menahan tangisnya. Ia memacu skuternya, air mata membasahi pipinya dan bercampur dengan angin. Sikap ibunya tadi adalah konfirmasi dari pesan yang ia terima: ia tidak diinginkan. Ia adalah aib.

​Kerinduan pada ayahnya, pria yang meninggal tiga tahun lalu di tebing yang sama, tempat ia bertemu Rex, tiba-tiba membesar, menyakitkan.

​Ayah… aku sangat merindukanmu. Ibu bilang, aku membunuhmu.

​Ia ingin pulang, ia ingin meminum alkohol lagi, dan ia ingin melupakan seluruh hari ini. Ia hanya berharap Rex Carson tidak ada di apartemennya.

​Ia tiba di apartemennya dengan hati yang hancur.

 

1
hasatsk
ada ya, seorang ibu kandung seperti itu kepada anaknya😭
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
hasatsk
Lauren,bisa memanfaatkan neneknya Rex untuk menghancurkan pernikahan Rex dan greenidia..nenek Lauren menginginkan cucunya menikah dengan orang yang statusnya setara 🤣🤣
Fera Susanti
aku mh selalu menantikan up selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!