NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 05. Respect

Sesampainya di rumah setelah perjalanan yang melelahkan di bawah terjangan badai hujan, Acha langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Tubuhnya terasa begitu berat, sekujur tulangnya ngilu, dan kepalanya berdenyut hebat. Kelelahan fisik akibat seharian mendampingi wisuda sang adik.

Ditambah terpaan air hujan yang dingin dan emosi yang menguras tenaga membuat pertahanan tubuhnya akhirnya tumbang. Dia mulai diserang rasa meriang yang hebat.

Tanpa sempat berganti pakaian atau membersihkan diri terlebih dahulu, Acha langsung merebahkan tubuhnya yang menggigil di atas tempat tidur, menarik selimut tebal hingga menutupi pundaknya.

Sementara itu, Raka tidak sedikit pun menunjukkan rasa peduli. Begitu motornya berhenti di halaman rumah Acha dan memastikan uang yang dia inginkan sudah di tangan, pemuda itu langsung memutar balik kendaraannya tanpa turun bareng sedetik pun.

Dia tidak menanyakan kondisi Acha yang tampak pucat, tidak pula menawarkan bantuan atau sekadar memastikan kekasihnya itu sampai di dalam rumah dengan selamat.

Bagi Raka, tujuannya mampir sudah selesai—dia telah mendapatkan uang dan bahan bensin untuk motornya. Dengan acuh tak acuh.

Raka melajukan kendaraannya pergi begitu saja, meninggalkan Acha yang terbaring seorang diri dalam balutan demam dan rasa kecewa yang sudah sepenuhnya berubah menjadi mati rasa.

Di dalam kamarnya yang remang-remang, Acha meringkuk di balik selimut tebal. Suhu tubuhnya semakin panas, membuat napasnya terasa hangat dan sesak.

Namun, rasa sakit di fisiknya nyaris tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menjalar di dalam dadanya.

Bayangan sikap dingin Raka yang langsung pergi tanpa menoleh sedikit pun tadi menjadi bukti paling telak. Selama ini, dia selalu mencoba mencari seribu alasan untuk memaklumi sifat egois pria itu.

Dia mengira Raka hanya cuek di luar namun peduli di dalam. Tapi hari ini, di saat tubuhnya menggigil dan butuh istirahat, Raka justru membuktikan bahwa dirinya memang tidak pernah peduli pada siapa pun selain pada dirinya sendiri.

Tidak lama berselang, pintu kamar Acha diketuk pelan dari luar. Ranti, sang ibu, melangkah masuk membawa segelas air hangat dan semangkuk kecil obat penurun panas.

Begitu melihat putrinya meringkuk dengan wajah pucat pasi dan kening yang berkeringat dingin, Ranti langsung panik.

"Ya Allah, Acha... kamu kenapa, nak? Badan kamu panas banget!" seru Ranti cemas, langsung duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut dahi putrinya.

Acha membuka matanya perlahan, menatap sang ibu dengan senyuman lemah. Rasa lelah yang teramat sangat membuat tenggorokannya terasa berat untuk berbicara.

"Acha cuma meriang, Mah... kena hujan tadi di jalan," jawab Acha lirih.

Melihat perhatian tulus yang diberikan oleh ibunya, air mata hangat akhirnya tumpah dari sudut mata Acha.

Bukan karena kesedihan kehilangan Raka, melainkan rasa haru karena dia sadar, di saat dia jatuh sakit dan diabaikan oleh kekasihnya sendiri, keluarganya selalu ada untuk merawat dan melindunginya dengan penuh kasih sayang.

Ranti dengan telaten menyuapi obat dan membantu Acha meminum air hangat, lalu menyelimuti tubuh putrinya rapat-rapat.

Malam itu, di tengah dekap hangat keluarga, Acha membuat keputusan akhir di dalam hatinya. Babak hidup bersama Raka benar-benar telah tertutup rapat, dan dia siap menyongsong hari esok sebagai wanita yang jauh lebih kuat.

Hari berganti, namun kondisi kesehatan Acha justru semakin memburuk. Demam tinggi yang menyerangnya sejak semalam tidak kunjung turun, bahkan membuat tubuhnya terasa lemas tak bertenaga hingga dia sulit untuk bangun dari tempat tidur.

Melihat kondisi Acha yang semakin mengkhawatirkan, Ranti dan Yanto langsung dilanda panik.

Mendapati Acha yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan menggigil, Ranti dan Yanto langsung berinisiatif mengambil tindakan cepat.

"Wah, kalau dibiarkan terus begini bisa bahaya, Mah. Panasnya tinggi banget, harus segera dibawa ke dokter," ujar Yanto tegas kepada Ranti.

Tanpa menunggu lama, Ranti langsung membantu Acha mengenakan pakaian yang lebih hangat dan memakaikannya jilbab, sementara Yanto menyiapkan motornya di halaman depan.

Dengan dibantu oleh Ranti yang memapah dari samping dan Fitri yang membopong tubuhnya secara perlahan, Acha akhirnya dibawa keluar rumah.

Acha mendudukkan dirinya di jok belakang motor Yanto, diapit di antara Yanto dan Ranti yang ikut membonceng di belakang untuk memastikan Acha tidak terjatuh di jalan.

Di bawah terik matahari pagi yang menyengat, motor Yanto membelah jalanan kampung menuju klinik dokter terdekat, memberikan secercah harapan di tengah tubuh Acha yang rasanya sudah remuk redam.

Perjalanan singkat menggunakan motor Yanto akhirnya membawa mereka tiba di depan sebuah klinik pratama yang letaknya tidak terlalu jauh dari permukiman warga.

Begitu motor berhenti di halaman parkir, Ranti dan Yanto dengan sigap langsung membantu Acha turun.

Dengan langkah tertatih-tatih dan tubuh yang masih terasa lemas melayang, Acha dipapah masuk ke ruang tunggu klinik. Suasana di dalam klinik cukup tenang.

Setelah mendaftarkan nama Acha ke bagian administrasi, mereka tidak perlu menunggu terlalu lama hingga namanya dipanggil oleh perawat untuk masuk ke ruang periksa dokter.

Di dalam ruang pemeriksaan, dokter umum yang bertugas langsung menyambut mereka dengan ramah. Dengan menggunakan stetoskop dan alat pengukur suhu, sang dokter memeriksa kondisi Acha secara menyeluruh.

"Ini kecapean saja kok, ditambah tubuhnya sempat terpapar air hujan dan cuaca dingin kan, apalagi mbaknya dalam kondisi imun yang lemah, jadinya demam berdarah ringan atau infeksi saluran pernapasan akibat flu berat," jelas sang dokter sambil menuliskan resep obat di atas secarik kertas.

"Mbak Acha cuma butuh istirahat total selama beberapa hari ke depannya, perbanyak minum air putih saja yah, dan jangan lupa makan teratur supaya staminanya pulih."

Ranti dan Yanto mengangguk-angguk paham, mendengarkan setiap instruksi yang diberikan oleh dokter dengan seksama.

Setelah menebus obat di apotek klinik, mereka kembali memapah Acha menuju motor untuk segera pulang ke rumah agar Acha bisa langsung beristirahat total di atas tempat tidurnya.

Sepanjang perjalanan pulang, angin pagi yang berhembus menerpa wajah Acha. Di tengah rasa pusing yang masih mendera kepalanya, hati Acha justru merasa begitu hangat.

Dia menoleh sekilas kepada Ranti dan Yanto yang sedari tadi begitu tulus mengurusnya tanpa pamrih.

Kejadian hari ini semakin membuka mata Acha lebar-lebar. Saat dia terpuruk, sakit, dan diabaikan oleh orang yang dulu dia harapkan—yakni Raka—semesta justru mengirimkan orang tua yang berhati malaikat yang sigap melindunginya.

Acha berjanji dalam hati, setelah tubuhnya sembuh nanti, dia akan membenahi hidupnya dan melangkah maju tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.

Sesampainya di rumah, meski tubuhnya masih terasa lemas, Acha merasa perlu memberi kabar kepada Raka.

Meskipun dia sudah sangat kecewa dengan sikap Raka kemarin, ada sisi lembut di hatinya yang masih berharap Raka setidaknya menunjukkan sedikit perhatian sebagai kekasihnya.

Dengan jari yang gemetar, Acha mengetik pesan singkat di ponselnya, memberi tahu bahwa dia baru saja pulang dari dokter karena demam tinggi.

Hening sejenak. Acha menatap layar ponsel dengan tatapan kosong, menunggu balasan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.

“Maaf banget ya Cha, aku nggak bisa jenguk kamu sekarang. Ini aku lagi repot banget harus nganter bapak aku ke dokter juga. Kondisinya lagi nggak stabil banget setelah jatuh kemarin,” balas Raka.

Membaca pesan tersebut, Acha menarik napas panjang. Rasa kecewa yang sempat menyeruak di dadanya perlahan mereda. Kebiasaan Acha yang terlalu baik dan mudah merasa iba kembali muncul.

Dia berpikir mungkin memang kondisi keluarga Raka sedang benar-benar kesulitan, dan dia tidak ingin menjadi beban di tengah masalah yang sedang dihadapi pria itu.

"Ya sudah, mungkin memang dia lagi sibuk banget sama bapaknya," gumam Acha pelan, mencoba memaklumi keadaan Raka.

Acha meletakkan ponselnya di atas meja nakas, lalu mencoba memejamkan mata untuk tertidur. Dia memilih untuk percaya pada kata-kata Raka, meski di sudut hatinya yang terdalam.

Dia masih menyisakan sedikit rasa perih karena tidak bisa mendapatkan dukungan yang dia harapkan di saat fisiknya sedang benar-benar rapuh.

Dia pun terlelap dalam tidurnya, membiarkan tubuhnya beristirahat tanpa lagi memikirkan kebenaran di balik alasan kekasihnya.

Di saat Acha tengah berbaring lemah di kamarnya sambil berusaha memaklumi alasan Raka, sebuah kejadian tak terduga justru terjadi di tempat lain.

Amina, salah seorang teman kerja Acha yang kebetulan sedang berada di pusat perbelanjaan atau area keramaian kota, tanpa sengaja melihat sosok Raka yang sangat dia kenal tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita asing.

Melihat dari kejauhan, Amina mengira wanita yang bersama Raka adalah Acha, mengingat gaya pakaian dan bentuk tubuhnya sekilas tampak mirip dari belakang.

Tanpa pikir panjang, Amina langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Acha untuk memastikan, sekaligus berniat menggoda sahabatnya itu.

“Cha, kamu lagi jalan ya sama Raka di luar? Tadi aku lihat kalian berdua di dekat mall,” tulis Amina dalam pesan singkatnya.

Acha yang sedang memejamkan mata menahan pusing seketika membuka layar ponselnya begitu benda itu bergetar di atas nakas.

Dengan dahi mengernyit heran, Acha membaca pesan dari Amina. Dia lantas menggelengkan kepala pelan dengan senyum getir.

“itu bukan aku, Na. Kamu salah lihat kali. Aku seharian ini lagi sakit demam tinggi di rumah, bahkan baru saja pulang dari dokter,” balas Acha menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Di seberang sana, Amina tertegun membaca balasan pesan Acha. Dia segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah pria dan wanita yang sedari tadi dia perhatikan.

Setelah diamati lebih dekat dan wanita itu menoleh ke samping, Amina baru menyadari bahwa perempuan yang bersama Raka sama sekali bukan Acha.

Wajahnya berbeda jauh, dan gelagat mereka terlihat sangat akrab layaknya pasangan yang sedang berkencan.

Amina langsung dikuasai rasa geram. Pantas saja Raka beralasan sibuk dan tidak bisa menjenguk Acha yang sedang sakit parah—ternyata pria itu asyik jalan-jalan bermesraan dengan wanita lain di belakang Acha.

Dengan perasaan kesal yang memuncak, Amina segera mengetik pesan balasan untuk Acha, siap membongkar kebohongan busuk yang selama ini ditutupi oleh Raka rapat-rapat.

Ponsel Acha di atas nakas kembali bergetar dua kali berturut-turut. Dengan gerakan lesu akibat sisa demam yang masih mendera tubuhnya, Acha meraih benda pipih tersebut dan membuka aplikasi perpesanan dari Amina.

“Eh, tunggu dulu, Cha! Sumpah, tadinya aku pikir itu beneran kamu karena posturnya mirip banget. Tapi pas aku perhatiin lagi lebih dekat, cewek itu bukan kamu, Cha!” tulis Amina di pesan pertamanya.

Belum sempat Acha mencerna maksud dari pesan tersebut, pesan kedua dari Amina kembali masuk dengan nada yang jauh lebih geram.

“Raka benar-benar keterlaluan banget! Dia bilang sibuk mau nganter bapaknya ke dokter, kan? Padahal aslinya dia lagi asyik jalan berduaan, gandengan tangan sambil ketawa-ketiwi sama cewek lain di mall! Udah gitu mesra banget lagi layaknya orang pacaran. Awas ya kalau dia bohongin kamu terus, cowok kayak gitu emang nggak punya hati!”

Membaca rangkaian kalimat itu, Acha tertegun cukup lama. Tidak ada teriakan marah, tidak ada pula air mata histeris yang tumpah seperti perempuan yang dikhianati pada umumnya.

Sebaliknya, sebuah senyum getir terukir di sudut bibir Acha. Rasa sakit hati yang tadinya sempat tersisa di dalam lubuk hatinya kini seketika menguap, digantikan oleh rasa jijik dan kelegaan yang luar biasa.

Semua potongan teka-teki tentang alasan Raka yang selalu menolak, menghindar, dan bersikap kasar kini terjawab sudah secara telak.

Pria itu bukan hanya pengecut yang tidak bertanggung jawab, melainkan juga seorang pembohong ulung yang tega berselingkuh di belakangnya saat dia sendiri sedang terbaring lemah tak berdaya karena sakit.

"Bodoh banget ya aku dulu, pernah berharap sama orang kayak kamu, Raka," gumam Acha pelan pada dirinya sendiri.

Tanpa ragu sedikit pun, Acha langsung mengetik balasan singkat untuk Amina.

“Makasih ya, Mina, udah ngasih tahu aku. Biarin aja, toh aku udah mutusin dia dari beberapa hari lalu. Sekarang, terserah dia mau jalan sama siapa pun, itu bukan urusan aku lagi.”

Setelah mengirim pesan itu, Acha meletakkan kembali ponselnya, menutup mata, dan menarik selimutnya erat-erat. Kali ini, hatinya benar-benar telah mati rasa untuk Raka.

Lembaran hitam bersama pria itu telah tertutup rapat untuk selama-lamanya, menyisakan ruang bagi Acha untuk fokus menyembuhkan diri dan menata kembali masa depannya yang jauh lebih berharga.

Meskipun dia sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya, Acha merasa perlu meluruskan kebohongan terakhir itu demi ketenangan batinnya sendiri.

Dengan sisa-sisa tenaga dan tenggorokan yang masih terasa serak akibat demam, Acha memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Raka secara langsung.

Panggilan itu tersambung setelah beberapa kali dering. Suara Raka terdengar di seberang sana, menyahut dengan nada ketus dan malas-malasan, sangat kontras dengan alasan "sibuk mengurus ayah sakit" yang dia gembar-gemborkan sebelumnya.

"Halo? Ngapain lagi sih, Cha? Aku lagi sibuk banget ini!" semprot Raka tanpa basa-basi.

Acha menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi agar suaranya tetap terdengar tenang.

"Kamu lagi di mana, Rak? Katanya tadi nganter bapak ke dokter, tapi kok ada yang lihat kamu lagi di mall?"

Mendengar pertanyaan itu, reaksi Raka langsung berubah drastis. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena kedoknya mulai terbongkar, pemuda itu justru balik menyerang dengan nada tinggi, meluapkan kemarahan yang dibuat-buat untuk menutupi kesalahannya.

"Hah? Kamu merhatiin aku lagi?! Mulai gila ya kamu, Cha! Udah dibilang lagi repot ngurus bapak, malah nuduh yang nggak-nggak!" gerutu Raka dengan nada membentak.

"Sifat over protective kamu itu bener-bener bikin risih, tahu nggak! Pantesan cowok gampang bete sama kamu!"

Acha tidak gentar sedikit pun mendengar bentakan itu. Dengan suara dingin yang tegas, dia membalas,

"Aku nggak nuduh sembarangan, Raka. Amina sendiri yang lihat kamu tadi lagi jalan berduaan, gandengan tangan sama cewek lain di mall. Mau ngeles apa lagi kamu?"

Mendengar nama Amina disebut dan kebohongannya disebut secara telak, Raka mendadak tersulut emosi yang sesungguhnya. Ketakutannya ketahuan berselingkuh ditutupi dengan kemarahan yang meledak-ledak.

"Ah, ngaco! Si Amina itu cuma mau merusak hubungan kita! Jangan percaya sama omongan temen kamu yang suka ikut campur itu! Kamu tuh ya, doyan banget memfitnah aku! Kamu emang kurang ajar kayak gini caranya, terserah kamu deh mau mikir apa!" maki Raka habis-habisan di ujung telepon.

Acha menatap layar ponselnya yang kini kembali menggelap. Tidak ada rasa sakit atau amarah yang membakar dadanya. Dia justru tersenyum tipis penuh kemenangan.

Reaksi defensif, amarah yang meledak-ledak, dan tuduhan balik dari Raka sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa semua ucapan Amina adalah kebenaran mutlak.

Pria itu memang pengecut besar yang tertangkap basah namun tidak punya nyali untuk mengakuinya.

Meskipun dia tahu Raka sedang berbohong dan bersikap kasar, Acha tiba-tiba sengaja mengubah nadanya menjadi sedikit melunak, seolah-olah dia mengalah dan meminta maaf atas perdebatan barusan.

Dengan suara yang dibuat-buat melemah, Acha mencoba memancing ego Raka lebih jauh.

"Ya sudah, Raka... kalau memang kamu lagi sibuk dan bukan cuma alesan, aku minta maaf deh karena udah nuduh macam-macam," ucap Acha dengan nada rendah.

"Tapi... boleh minta tolong sebentar nggak? Kebetulan aku harus ke tempat kerja sekarang karena ada urusan penting yang nggak bisa ditinggal, tapi badan aku masih lemas banget buat naik motor sendiri. Kamu bisa jemput dan antar aku ke minimarket, kan?"

Mendengar permintaan itu, kemarahan Raka yang tadinya tersulut langsung melonjak semakin tinggi. Mentang-mentang dia sedang asyik bersama wanita lain di mall, ajakan Acha tentu saja langsung merusak rencananya.

"Hah? Minta diantar?! Kamu gila ya, Cha!" sentak Raka dengan suara meninggi di ujung telepon, sama sekali tidak peduli bahwa Acha sedang sakit.

"Udah dibilang aku lagi sibuk, masih aja nyusahin! Enak banget ngatur-ngatur hidup aku! Asal kamu tahu ya, aku ini pacar kamu, bukan tukang ojek langganan yang bisa dipanggil kapan pun kamu mau pergi!"

Acha tidak terpancing emosi. Dia justru menanggapi penolakan itu dengan kalimat santai namun menohok telak.

"Kan kemarin motor kamu mogok dan aku udah kasih uang buat isi bensin, Raka. Masa iya nganter aku sebentar aja nggak bisa, padahal kan bensinnya juga hasil dari uang aku?"

Seketika itu juga, Raka merasa tersinggung luar biasa begitu disinggung soal uang bensin yang baru saja dia habiskan untuk jalan-jalan bersama selingkuhannya. Urat malunya seolah putus.

"Ih, parah banget jadi orang! Perhitungan banget sih masalah uang bensin doang diungkit-ungkit! Kalau ikhlas nolongin tuh nggak usah dihitung!" maki Raka dengan nada geram.

Pip!

Raka langsung memutus sambungan telepon secara sepihak dengan kasar, bahkan ketika kalimat Acha belum sepenuhnya selesai diucapkan.

Acha perlahan menurunkan ponselnya dari telinganya. Dia menatap layar yang kini sudah kembali gelap sambil tersenyum kecil penuh ironi.

Semua kepalsuan, sifat egois, dan mental pengemis Raka kini sudah terkuak sepenuhnya tanpa ada yang ditutupi lagi.

Acha meletakkan ponselnya kembali ke atas meja nakas dengan gerakan tenang. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa sesak di dadanya, apalagi air mata penyesalan.

Yang tertinggal di dalam hatinya kini hanyalah rasa syukur yang teramat besar—syukur karena Tuhan telah membuka matanya selebar-lebarnya sebelum dia terjerumus lebih jauh ke dalam hubungan toksik dengan pria bermuka dua seperti Raka.

"Ternyata emang bener ya, bangkai itu serapi-rapinya ditutup, bakal tercium juga," gumam Acha pelan, merespons kebohongan dan kedok Raka yang akhirnya runtuh berkeping-keping.

Dengan sisa tenaga yang perlahan mulai pulih setelah meminum obat dari dokter, Acha bangkit dari tempat tidurnya. Dia merapikan selimutnya, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka agar rasa pusing di kepalanya berangsur hilang.

Dia tidak lagi peduli di mana Raka berada, dengan siapa pria itu menghabiskan waktu, ataupun uang bensin apa yang dipermasalahkan tadi.

Semua itu sudah resmi menjadi masa lalu yang sama sekali tidak penting lagi untuk dipikirkan.

Keluar dari kamar mandi, Acha mendapati Ranti—sang ibu—membuka pintu sambil membawa segelas teh hangat manis dan semangkuk bubur ayam.

"Eh, Acha? Kok udah bangun, Nak? Badannya udah agak enakan?" tanya Ranti cemas sekaligus lega melihat putrinya sudah bisa berjalan sendiri.

Acha menyambut uluran mangkuk dari sang ibu dengan senyuman tulus yang paling cerah yang pernah dia perlihatkan belakangan ini.

Wajah pucat nya kini menyiratkan ketegaran baru yang membuat Ranti tertegun.

"Udah mendingan kok, Mah. Acha lapar," jawab Acha mantap.

Dia duduk di kursi meja belajarnya, menyantap bubur buatan sang ibu dengan lahap, seolah sedang merayakan kebebasan jiwa raganya dari sebuah rantai belenggu yang selama ini menyiksa.

Di luar kamar, angin sore berhembus tenang, membawa serta lembaran baru dalam hidup Acha. Hari ini, dia tidak hanya sembuh dari sakit fisiknya, tetapi juga berhasil menyembuhkan hatinya dari luka yang selama ini dia biarkan tergores.

Sore itu, suasana rumah terasa begitu hangat dan damai. Sinar matahari yang mulai meredup, menyisakan hias jingga di balik jendela kamar Acha, seolah menjadi saksi bisu atas babak baru kehidupan yang baru saja dia mulai.

Acha menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan. Tidak ada lagi rasa cemas berlebihan setiap kali ponselnya bergetar.

Tidak ada lagi debar ketakutan akan dibohongi atau dimanfaatkan oleh seseorang yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar. Semua beban emosional yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat tak bersisa.

Di ruang tengah, suara canda tawa sang adik, Fitri, berpadu dengan obrolan ringan Ranti dan Yanto.

Suara-suara itu terdengar begitu nyata dan menenangkan, mengingatkan Acha pada siapa sebenarnya orang-orang yang tulus menyayanginya tanpa syarat—keluarganya sendiri.

Acha melangkah keluar kamar menghampiri keluarganya di ruang tengah. Melihat kedatangan Acha yang tampak jauh lebih segar dan ceria, Ranti langsung melebarkan senyumnya.

"Nah, gitu dong, senyum terus! Udah sehat, kan?" sapa Ranti hangat sambil merangkul pundak putrinya.

"Udah sehat banget, Mah. Besok Acha udah bisa aktivitas normal lagi kok," jawab Acha mantap, membalas pelukan sang ibu dengan penuh rasa syukur.

Yanto yang duduk di sofa sebelah turut tersenyum lebar. "Baguslah kalau udah sembuh. Lagian, ngapain sih murung terus kemarin-kemarin? Nggak ada gunanya mikirin orang yang nggak tahu diuntung kayak si Raka itu."

Mendengar nama Raka disebut, Acha sama sekali tidak merasa terusik atau sakit hati lagi. Dia justru tertawa kecil mendengar celetukan Papahnya.

Hatinya sudah kebal, bahkan kebal untuk sekadar merasa benci. Bagi Acha, Raka kini hanyalah sebuah pelajaran hidup berharga—sebuah masa lalu kelam yang membuatnya menjadi wanita yang jauh lebih kuat, cerdas, dan mandiri.

Mulai hari ini, Acha berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah lagi membiarkan siapapun mempermainkan ketulusan hatinya.

Dengan lembaran hidup yang bersih dan hati yang sepenuhnya merdeka, Acha siap menyambut masa depan yang jauh lebih cerah.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!