Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 06
Suasana di kantor federal divisi Cyber Unit pagi itu begitu sibuk. Suara keyboard dan riuh orang-orang yang berdiskusi lirih, menciptakan atmosfer kesibukan kantor yang berbeda dari biasanya. Semua orang fokus pada pekerjaannya, tak terkecuali Antoinette.
Perempuan itu terlihat memijat tulang di antara kedua matanya. Kepalanya terasa berat akibat kurang tidur, kopi espresso yang diminumnya seakan tak memiliki efek apa-apa.
“Apa kau sudah menemukan petunjuk?” tanya Anne pada rekan kerjanya yang sibuk bekerja di depan layar komputer.
Aliyah Monroe menggeleng lemah, ia sudah memeriksa video itu berkali-kali dan memeriksa berita-berita yang ada untuk menemukan siapa dalang dari terbongkarnya skandal memalukan Dennis Caldwell itu. Tetapi, ia tetap tak menemukan hasil apa pun dari penelusuran itu.
“Sejujurnya, aku agak kesulitan untuk melacak siapa dalang itu, Ann. Dia terlalu bersih,” sahut Aliyah menekankan kata ‘bersih’ yang maksudnya tak ada jejak apa pun.
Anne menghela nafas berat, keningnya berkerut dalam. Mencoba mencari benang merah antara kejadian dan berita yang tiba-tiba muncul itu.
“Aku menduga, kemungkinan pelaku ini memiliki motif tersembunyi terhadap Tuan Caldwell. Aku akan memeriksa kantornya lebih dulu untuk mencari tahu,” kata Anne menarik kesimpulan sendiri.
Aliyah menatap layar komputernya yang menyala, menampilkan deretan kode, angka dan huruf-huruf tak beraturan. “Andai saja kita memiliki rekaman CCTV orang yang membuntuti Tuan Caldwell, aku mungkin bisa mengidentifikasi pelakunya.”
“Itu dia! Kita belum memeriksa CCTV, Al!” pekik Anne, baru terpikirkan hal itu.
“Astaga! Kita terlalu fokus untuk menelusuri jejaknya hingga tidak mempertimbangkan untuk memeriksa CCTV lebih dulu!” Aliyah pun baru menyadarinya.
“Apa yang sebenarnya kita pikirkan, Al? Mengapa tidak terpikirkan sejak semalam?”
“Aku juga tidak memikirkan hal itu, Anne. Desakan dari pihak sana membuatku tidak bisa berpikir jernih,” gerutunya, mengingat betapa kasarnya atasan mereka.
“Baiklah, kau bisa melakukannya, kan, Al? Aku akan pergi ke Gotham untuk mencari tahu informasi lain. Entah mengapa, aku merasa berita ini tidak sepenuhnya salah.”
“Baik, aku akan langsung menghubungimu.”
Anne mengangguk, membawa serta ponsel dan hal-hal yang diperlukannya sebelum pergi ke Gotham Media. Ia berharap bisa menemukan informasi yang bisa membantunya memecahkan masalah ini.
***
Sementara itu, di lain tempat. Elias berjalan santai saat memasuki lobby utama Virex Inc. Ia bersenandung kecil, menyapa singkat resepsionis yang selalu tersenyum padanya sambil melangkah menuju lift.
Hari ini suasana hatinya benar-benar bagus, bahkan matahari bersinar dengan cerah ketika ia bangun. Selain sudah berhasil melumpuhkan Dennis, Elias juga berhasil menemukan informasi mengenai Raymond Knox.
Ia menekan tombol angka lima di sisi kanan lift, menunggu hingga pintunya menutup dan bersandar santai sambil melirik arlojinya.
“Aku harus cepat, mereka mungkin saja sudah mulai melakukan sesuatu,” gumamnya seraya membenahi letak kacamatanya.
Pintu lift berdenting, Elias melangkah keluar. Namun, ia justru dikejutkan dengan kehadiran Noah di depan lift.
“Hei, El! Kau sudah sampai rupanya, aku baru saja ingin menghubungimu,” katanya ramah seperti biasa.
Noah langsung menarik Elias untuk ke ruangan lain, tempat di mana ia sudah mengumpulkan orang-orang yang akan menjadi tim Elias di project barunya.
“Kau sudah menemukan orang yang tepat, kan?” tanya Elias ketika mereka melewati koridor untuk sampai ke ruangan yang dituju.
“Tentu saja, aku bahkan sudah meminta persetujuan Nona Liu. Dia berkata, tim kita pasti bisa menyelesaikan project itu sebelum tenggat waktu,” jelas Noah panjang.
Elias hanya mengangguk saja sambil mengikuti langkah Noah. “Yang terpenting, mereka tidak banyak bicara sepertimu.”
Alih-alih tersinggung, Noah justru terkekeh pelan, “Aku tahu. Kau pasti bisa sakit kepala terus-menerus jika memiliki tim yang sama aktifnya sepertiku,” kelakarnya sambil menepuk bahu Elias pelan.
Kemudian, pria itu membuka pintu ruangan yang terbuat dari kaca. Di dalam sana, sudah ada 6 orang yang menunggu kedatangan mereka berdua. Begitu melihat Elias dan Noah masuk, mereka semua langsung berdiri.
“Pagi, Guys. Perkenalkan, ini adalah Elias. Kepala di tim ini, selama 6 bulan ke depan, Elias akan memimpin tim untuk project kita,” terang Noah ramah.
Mereka semua mengangguk dan langsung memperkenalkan diri satu persatu setelah Noah meminta mereka. Elias, seperti biasa, memperhatikan wajah mereka satu demi satu.
Ia masih merasa canggung, jadi, ketika mereka menyapanya dengan ramah dan senyum bangga. Elias hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum tipis.
“H-halo, Pak Elias. Senang bisa bekerja bersama Anda. A-aku sudah lama mengenal Anda dan tahu bahwa Anda sosok yang luar biasa,” kata pria muda yang memperkenalkan dirinya sebagai Daniel.
Elias sama sekali tidak merasa seperti itu, meskipun bisa dikatakan ia memang terkenal karena Clara Liu selalu membanggakan dirinya di hadapan staff lain.
Setelah pria bernama Daniel itu, datanglah seorang perempuan yang Elias kira usianya dua tahun lebih muda darinya. Perempuan itu tersenyum kepada Elias.
“Merupakan sebuah kehormatan bagiku untuk bekerja bersamamu,” katanya bersikap sok akrab.
Elias mengernyit, “Kupikir di sini kita hanya untuk bekerja, bukan mengadakan upacara penghormatan,” katanya sarkas.
Perempuan itu sepertinya kelihatan malu sekali karena sudah bersikap terlalu akrab, terbukti wajahnya yang memerah dan langsung menundukkan kepala begitu ia duduk kembali di mejanya.
“Kau yakin mereka berkompeten di bidangnya masing-masing?” tanyanya berbisik kepada Noah yang berdiri di sampingnya.
Kening Noah mengernyit, “Kenapa? Kau meragukan mereka? Mereka yang terbaik, El, percayalah padaku. Kau hanya perlu menyesuaikan diri dengan sikap dan sifat mereka, yang harus kuakui memang agak menyebalkan.”
Elias, mau tak mau mempercayai yang dikatakan Noah. Mungkin juga, ia harus mulai membiasakan dirinya bersama dengan orang-orang ini. Bagaimanapun, mereka akan bekerja bersama selama kurang lebih 6 bulan lamanya.
Kemudian, Elias beranjak untuk duduk di mejanya sendiri. Ia berdiri kaku di sana, berdeham pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Baiklah, aku tidak pandai berkata-kata, sungguh. Tetapi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua di sini.” Elias mengawali perkenalannya dengan baik.
“Ke depannya, aku harap kita bisa bekerja bersama dan menjadi tim yang baik,” tambahnya lagi.
Noah bertepuk tangan dengan heboh. “Luar biasa, El. Kau benar-benar berjiwa pemimpin!”
Elias sudah siap untuk protes saat suara ketukan di pintu terdengar. Ia menoleh kepada Noah, tatapannya seolah bertanya, “Apakah ada orang lain lagi?”
Noah menggeleng dan ia bersumpah bahwa ia tidak meminta tambahan orang lagi. Saat ketukan pintu terdengar lagi, Noah bergegas membuka pintu.
Salah seorang staff yang tidak Noah kenali berdiri di depan pintu. Staff itu tersenyum ramah kepadanya dan menyampaikan pesan.
“El. Katanya, Nona Liu memanggilmu ke ruangannya,” bisik Noah menyampaikan pesan yang dibawa staff tadi.
Kening Elias mengernyit dalam. “Apakah ada hal penting?” tanyanya yang langsung dibalas gelengan kepala.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️