NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:81.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Bekas Lipstik di Kerah

"Berdiri," ulang Damar.

Senja bangkit perlahan. Ia menunduk, menunggu kemarahan yang biasanya datang dalam kalimat pendek dan tajam.

"Kalau keluargamu meminta uang lagi, kirim nomor pengacaraku," kata Damar.

Senja mengangkat kepala. "Mas enggak marah?"

"Aku galak, perhitungan, dan suka mematahkan kaki. Untuk apa marah pada penjelasan yang begitu akurat?"

"Saya benar-benar cuma menakut-nakuti mereka."

"Bagus. Berarti namaku akhirnya berguna."

Damar mengambil map dari meja. Sebelum pergi, ia melihat lutut Senja yang memerah karena terlalu cepat berlutut.

"Lain kali jangan berlutut. Aku tidak butuh orang memohon di rumahku."

Ia pergi tanpa menghukumnya. Senja berdiri di tempat yang sama, lebih bingung oleh kemurahan kecil itu daripada jika Damar memarahinya.

Siang harinya Vania datang tanpa pemberitahuan. Bik Inah sempat menolak di pintu, tetapi perempuan itu mengaku membawa urusan keluarga dan terus menekan bel.

Senja sedang turun dari kamar ketika mendengar suaranya. Ia tidak ingin bertemu Vania setelah kejadian dengan Reza. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan masuk ke pintu terdekat.

Baru setelah menutup pintu, ia sadar itu kamar utama Damar.

Suara air dari kamar mandi berhenti.

Senja membeku. Damar keluar beberapa detik kemudian hanya dengan handuk di pinggang. Rambutnya basah, air mengalir dari bahu ke dada. Tubuh yang selama ini tersembunyi di balik kemeja ternyata lebih tegap daripada bayangannya.

"Kamu sedang apa?"

Senja menutup mata dan berbalik begitu cepat. "Maaf! Saya salah kamar."

"Salah kamar sampai mengunci pintu?"

"Vania datang. Saya enggak mau bertemu dia."

Damar mengambil pakaian dari ruang ganti. "Kalau begitu tunggu sampai aku selesai. Jangan menoleh."

Suara kain dan gesekan ikat pinggang terdengar terlalu jelas. Senja memusatkan pandangan pada gagang pintu.

"Sudah?"

"Belum."

"Sekarang?"

"Kamu selalu tidak sabaran begini?"

Pipinya makin panas. Setelah beberapa menit Damar akhirnya berkata, "Boleh menoleh."

Ia sudah mengenakan celana dan kemeja putih. Beberapa pakaian kotor tergeletak di kursi. Damar menunjuk tumpukan itu.

Senja baru hendak bergerak ketika matanya tanpa sengaja menangkap bekas luka tipis di sisi tubuh Damar, memanjang dari rusuk menuju punggung. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, tetapi Damar sudah melihatnya.

"Mau bertanya?"

"Bekas operasi?"

"Luka lama."

"Mas sebaiknya pakai pelembap medis kalau kulit di sekitarnya sering tertarik."

Damar memasang kancing manset. "Kamu selalu berubah jadi perawat saat gugup?"

"Lebih baik daripada berdiri seperti orang bodoh."

"Kamu yang masuk kamar orang sedang mandi."

"Kamar suami sendiri," balas Senja tanpa berpikir.

Tangan Damar berhenti pada kancing terakhir. Senja menyadari kalimatnya sedetik terlambat dan langsung memalingkan wajah.

"Maksud saya, secara hukum," tambahnya. "Bukan berarti saya sengaja."

"Aku tidak mengatakan apa-apa."

Justru ketenangan itu membuat Senja semakin ingin menghilang.

"Bawa ke ruang cuci."

Senja menatapnya. "Mas biasanya cuci sendiri?"

"Bik Inah yang mengurus. Hari ini kamu yang bawa, supaya punya alasan keluar dari kamar ini."

Senja meraih pakaian tersebut. Di bagian kerah salah satu kemeja ada noda merah muda berbentuk sapuan bibir. Ia berhenti sesaat.

Damar mengikuti arah pandangannya. "Kenapa?"

"Enggak apa-apa."

Noda itu masih baru. Senja tidak tahu kapan Damar mengenakan kemeja tersebut. Mungkin saat makan malam keluarga, mungkin dalam rapat, mungkin ketika menemui perempuan yang tidak perlu disembunyikan seperti dirinya.

Ia mengusap noda dengan ujung kuku, lalu berhenti karena tindakan itu terasa terlalu akrab. Selama menjadi perawat, ia terbiasa membersihkan darah dan obat dari pakaian orang. Namun noda lipstik adalah jejak kedekatan, bukan kecelakaan.

"Kalau sulit dicuci, buang saja," kata Damar.

"Kemeja bagus begini dibuang karena noda kecil?"

"Bisa beli lagi."

"Orang kaya memang menyeramkan."

"Katanya aku perhitungan."

"Perhitungan ke orang, boros ke barang."

Damar hampir tersenyum, tetapi melihat Senja melipat kemeja itu dengan terlalu hati-hati. Ada sesuatu yang ingin ia dengar, barangkali satu pertanyaan kecil atau nada cemburu. Senja justru menaruh kemeja di paling bawah.

Ia segera mengingatkan diri bahwa hubungan mereka hanya perjanjian. Damar bebas menyukai siapa pun selama tidak membawa masalah pada Bintang.

Namun dada Senja tetap terasa sempit.

Mereka turun bersama. Vania sedang duduk di ruang tamu, wajahnya berubah ketika melihat Senja membawa pakaian Damar dari lantai atas.

"Ngapain dia di kamar Om?"

"Bukan urusanmu," jawab Damar.

Vania langsung berdiri dan memasang wajah memelas. "Om, aku sudah minta maaf. Tolong izinkan aku kembali ke rumah sakit. Reza juga perlu pekerjaannya di Adiwangsa. Kami nggak punya pemasukan."

"Kalian kehilangan pekerjaan karena tindakan sendiri," jawab Damar. "Bukan karena Senja."

"Aku cuma emosi sekali. Masa seluruh karierku dihancurkan?"

"Kamu menampar anak lima tahun di tempat umum, lalu berbohong soal kejadiannya. Rumah sakit tidak membutuhkan perawat yang tidak bisa mengendalikan tangan dan mulut."

Vania memucat. "Eyang pasti nggak setuju Om memperlakukan keluarga begini."

"Silakan lapor. Bawa juga rekaman CCTV-nya."

"Kamu belum meminta maaf kepada anak yang kamu tampar."

"Aku sudah transfer uang ke ibunya. Lima puluh juta."

"Uang bukan permintaan maaf."

Vania melirik Senja tajam. "Dia bahkan bukan ibunya. Cuma ibu tiri yang dinikahin om-om. Sekarang ibunya malah genit, masuk kamar orang dan godain sepupu sendiri."

Ruangan mendadak diam.

Damar berjalan mendekat. "Keluar."

"Om, aku keluarga."

"Keluarga tidak memberimu hak menghina anak dan perempuan di rumahku."

"Aku cuma bilang apa yang semua orang tahu."

"Bayu."

Asisten yang menunggu di teras masuk. Damar tidak perlu mengulang perintah. Bayu meminta Vania pergi, lalu mengantarnya sampai gerbang meski perempuan itu terus protes.

Senja berdiri di sisi tangga, pakaian kotor masih di tangan. Ia tidak menyangka Damar akan membelanya setelah mendengar tuduhan tentang Rayhan.

"Terima kasih," katanya pelan.

Damar melirik noda lipstik yang kembali terlihat di kerah kemeja. Wajah Senja terlalu tenang, tanpa satu pertanyaan pun.

"Kamu tidak penasaran dari mana noda itu?"

"Itu urusan Mas. Saya cuma membantu mencuci."

"Tentu." Nada Damar berubah dingin. "Di matamu, yang penting aku tetap membayar."

Senja mengerutkan dahi, tidak memahami perubahan itu. Ia membawa pakaian ke belakang. Damar mengawasi punggungnya dan merasakan kekesalan yang tidak masuk akal.

Vania menyebutnya om-om. Senja melihat bekas bibir perempuan lain dan tidak peduli.

Mungkin benar, pikir Damar. Perempuan muda itu hanya menyukai uangnya, bukan lelaki berusia tiga puluh dua tahun yang berdiri di balik nama besar Adiwangsa.

Pikiran itu seharusnya melegakan. Sebaliknya, saat suara air mengalir dari ruang cuci, ia merasa seperti baru saja kalah dari noda lipstik yang bahkan tidak ia ingat asalnya, dan membuat dadanya makin terasa sesak secara aneh.

1
Lisa Halik
sudah bagi gift thor biar semangat
Eka
rateh coba saja kamu sakitin bintang sama senja pasti damar dan rayhan akan ngamuk kamu akan dibikin lebih menderita sama mereka coba saja kamu berani..
Eka
rayhan masih saja penasaran kamu,damar egimu turunin dikit
Lisa Halik
1 1 masalah datang menimpa senja😡😡..semangat thor
Herlina
ada masalah lagi, aduhhh kpn senja hidup tenang ya, thanks❤❤❤❤
Lisa Halik
makasih updatenya thor....gift menyusul biar semangat
Eka
rangga👍 jebagan tuk regina
Lisa Halik
sudah juga tu bagi gift biar semangat
Lisa Halik
ada sambungan ke ni cerita thor😒
Lisa Halik
semangat thor
Eka
semja kamu wanita tangguh pasti kuat sayangi bintang seutuhnya kaaihan bintang tdk punya siapa2 damar behitu sayang jangan bikin dia kecewa 💪💪
Eka
damar kok ndak kasihan sama bintang sdh tau bintang ketakutan kasiha semja sama bintang,ayooo thor gi.ana pun caranya alurnya pokoknya bintang sama senja jauhkan dari reguna
Lisa Halik
gift sudah tuh thor,semangat updatenya
Lisa Halik
regina perempuan gila
rayrayryy
DAMAR STOP GOBLOK, BENCI BGT AH SAMA REGINA💔💔💔💔💔💔💔💔
Lisa Halik
bingung juga thor menbaca...huhuh
Lisa Halik
pergi saja senja
Lisa Halik
di mana2 cerita mesti yang begini...malas arr terus hilang mood
Lisa Halik
bodohnya kamu hana,kamu tidak tahu kakak mu lagi susah malah kau termakan umpanya reza..
Lisa Halik
😡😡damar terus saja memberi luka pada senja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!