NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

BAB 9

AKU YANG URUS KAMU

Pertanyaan itu menggantung di antara Lani dan Rey bersama suara hujan.

`Aku punya rumah nggak sih?`

Lani tidak segera menjawab.

Rumah Gunawan berdiri megah di Menteng, lengkap dengan sopir, satpam, dan kamar yang lebih luas daripada apartemen ini. Namun Lani mengerti Rey tidak sedang menanyakan alamat. Ia menanyakan tempat pulang, seseorang yang menunggu, dan apakah keberadaannya akan dicari jika ia hilang.

Hal-hal yang tidak bisa dibeli Gunawan dengan kartu tambahan.

"Makan dulu," kata Lani akhirnya. "Nasinya dingin."

Sorot mata Rey kembali tertutup. "Gue juga sudah tahu jawabannya."

Ia mengambil sendok dan makan dengan cepat, seolah setiap suapan harus diselesaikan sebelum Lani berubah pikiran. Nasi goreng sepiring habis. Telur dadar tinggal potongan kecil. Tumis sayur yang tadinya ia singkirkan akhirnya ikut lenyap.

Lani memanaskan ayam sisa karena Rey masih menatap piring kosong.

"Katanya mau mengusirku setelah hujan reda," ujar Rey.

"Aku juga bilang kamu harus makan."

"Takut penjahat yang lo jamin mati kelaparan?"

"Takut kamu pingsan di lorong dan tetangga menyangka aku membunuh orang."

Sudut bibir Rey bergerak. Hampir menjadi senyum, tetapi ponsel Lani berdering sebelum bentuknya selesai.

Nama Gunawan muncul di layar.

Rey kembali menunduk.

Lani mengangkat telepon dan berjalan ke dekat jendela. "Selamat malam, Pak Gunawan."

Perubahan sapaan itu membuat Gunawan diam sesaat.

"Saya dengar kamu menjadi penjamin Rey. Terima kasih, Mei."

"Aku hanya memastikan dia keluar dan mengikuti prosesnya."

"Dia bersamamu?"

Lani menoleh. Rey sedang mengambil ayam dari wajan langsung dengan garpu, tetapi matanya menunggu jawaban.

"Tidak," kata Lani. "Aku tidak tahu dia pergi ke mana setelah dari kantor polisi."

Alis Rey terangkat.

Gunawan menghela napas. "Sejak kuliahnya dimulai, dia belum pernah masuk kelas. Saya sudah bicara baik-baik, memarahinya, membekukan kartu, semuanya tidak berguna."

"Mungkin karena Ko..." Lani berhenti, lalu memperbaiki diri. "Mungkin karena Bapak selalu bicara soal akibat, bukan alasan dia melakukannya."

"Kamu membelanya?"

"Tidak. Berkelahi tetap salah."

"Kalau dia menghubungimu lagi, kabari saya. Jangan menanggung masalahnya sendirian."

Lani melirik pemuda yang duduk setengah telanjang di meja makannya. "Baik."

Setelah sambungan berakhir, Rey berkata, "Jago juga lo bohong."

"Aku bohong supaya papamu tidak datang dan menyeretmu dari sini. Jangan membuatku menyesal."

"Sudah panggil `Pak Gunawan`, tapi tadi hampir bilang `Ko`. Masih sayang?"

"Bukan urusanmu."

"Semua yang soal Papa selalu jadi urusan gue."

Lani meletakkan ponsel. "Itu masalahmu. Kamu membuat seluruh hidupmu berputar di sekitar orang yang katanya tidak peduli kepadamu. Kamu berkelahi, bolos kuliah, menghilang, seolah kalau hidupmu semakin rusak, papamu akan tiba-tiba merasa bersalah."

Garpu Rey berhenti.

"Jangan sok tahu."

"Kalau aku salah, jelaskan. Kenapa kamu terus berkelahi?"

"Karena gue mau."

"Kenapa belum masuk kuliah?"

"Bosen."

"Kenapa setiap kali marah kamu menghancurkan tubuhmu sendiri?"

Rey mendorong piring. "Orang tuaku aja nggak ngurus gue. Lo mau ngurus?"

"Aku sedang bicara soal tanggung jawabmu terhadap dirimu sendiri."

"Gue nggak minta ceramah."

"Tentu. Lebih mudah memukul orang daripada mendengar kebenaran."

Rey bangkit. Handuk putih masih melilit pinggangnya. Luka-luka di tubuhnya tampak lebih jelas di bawah lampu dapur.

Lani tidak mundur.

"Kamu punya semua kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang," lanjutnya. "Sekolah bagus, uang, kesehatan, pilihan untuk pergi ke mana pun. Kamu buang semuanya karena ingin menghukum papamu. Padahal yang terluka cuma kamu."

"Selesai?"

"Belum. Papamu mungkin keras. Mamamu mungkin sakit. Lynn dan Ivan mengkhianatimu. Semua itu bukan salahmu." Suara Lani melembut, tetapi tidak goyah. "Yang kamu lakukan setelahnya tetap menjadi tanggung jawabmu. Kalau kamu terus jatuh, jangan bilang mereka yang mendorong setiap langkah."

Wajah Rey mengeras pada nama Lynn dan Ivan.

"Lo pikir hidup lo lebih benar karena jual diri buat keluarga?"

Kalimat itu mengenai sasaran. Lani menarik napas pelan.

"Tidak. Aku juga membuat pilihan yang menyakitiku. Bedanya, aku berhenti ketika sadar tidak sanggup hidup seperti itu lagi. Kamu juga bisa berhenti."

Rey tertawa tanpa suara. "Hidup gue memang sudah bejat begini."

"Itu alasan paling malas yang pernah kudengar."

Sesuatu pecah di matanya.

Rey meraih simpul handuk dan menariknya lepas.

Kain putih itu jatuh ke lantai.

Lani spontan membalikkan tubuh. "Rey!"

"Apa? Katanya gue harus tanggung jawab sama hidup sendiri. Ini hidup gue."

Ia berjalan menuju pintu tanpa mengenakan apa pun.

Lani meraih handuk dari lantai. "Kamu gila?"

"Sudah dari dulu."

Pintu apartemen terbuka. Rey keluar ke lorong.

Lani berlari mengejar sambil memegang handuk di depan wajahnya agar tidak melihat tubuh pemuda itu. "Berhenti! Pakai dulu!"

Rey menekan tombol lift. "Kenapa? Malu punya kenalan kayak gue?"

"Aku tidak mau kamu ditangkap satpam apartemen karena mempertontonkan diri!"

Pintu lift terbuka. Kosong.

Rey masuk. Lani mengikutinya, masih berusaha menutupi bagian depan tubuhnya dengan handuk tanpa menyentuh lebih dari yang perlu.

"Pakai sendiri."

"Nggak mau."

"Rey, ini bukan lucu."

"Gue nggak ketawa."

Lift berhenti di lantai delapan. Pintu mulai terbuka dan suara anak kecil terdengar dari luar.

Lani menekan tombol tutup berkali-kali. Ia berdiri di depan Rey sebagai penghalang sampai pintu kembali merapat. Wajahnya panas karena panik, bukan ketertarikan.

"Ada anak di luar!" desisnya.

Untuk pertama kali, Rey tampak sedikit malu. Ia merebut handuk, tetapi hanya memegangnya di depan tubuh tanpa mengikat.

Begitu lift tiba di lantai dasar, ia melangkah keluar lagi.

Petugas keamanan di meja lobi mengangkat kepala.

Lani menarik lengan Rey dan menyeretnya ke pintu tangga darurat sebelum petugas itu melihat jelas. Pintu besi menutup di belakang mereka.

"Cukup!"

Suara Lani memantul di dinding semen.

Ia merebut ujung handuk, melilitkannya ke pinggang Rey, lalu mengikat simpul dengan tangan gemetar. Rey tidak melawan kali ini. Ia berdiri menunduk, rambut basah menutupi mata.

"Kalau kamu ingin menghancurkan hidupmu, jangan paksa orang lain menonton," kata Lani. "Kamu bisa dipermalukan, direkam, dilaporkan. Apa itu yang kamu mau?"

"Mungkin."

"Kenapa?"

"Karena kalau gue rusak sekalian, nggak ada yang berharap apa-apa."

"Itu tidak membuat rasa sakitmu hilang."

"Setidaknya nggak ada yang bisa kecewa."

"Aku kecewa sekarang."

Rey mengangkat wajah.

Lani sendiri terkejut oleh kata-katanya. Namun setelah keluar, kalimat itu terasa benar.

"Aku kecewa karena kamu tahu rasanya tidak dianggap, tapi kamu memperlakukan dirimu sendiri seolah memang tidak berharga," lanjutnya. "Aku kecewa karena malam ini aku menjaminmu, memberimu makan, dan kamu membalas dengan membuat masalah baru."

"Kenapa lo peduli?"

"Aku tidak tahu."

"Karena Papa?"

Lani membuka mulut, lalu menutupnya.

Jawaban itu tidak lagi sepenuhnya benar.

Dari lobi terdengar suara petugas keamanan berbicara melalui radio. Mereka tidak bisa berdiri di tangga darurat selamanya.

Lani memegang kedua bahu Rey dan memaksanya menatap.

"Pulang ke apartemen. Pakai baju. Besok kamu wajib lapor sesuai surat, lalu masuk kuliah."

"Lo nyuruh-nyuruh gue sekarang?"

"Ya."

"Orang tuaku saja nggak bisa."

"Aku bukan orang tuamu."

"Terus siapa?"

Pertanyaan itu lebih tajam daripada seharusnya.

Rey maju setengah langkah. Tidak ada ancaman seksual di matanya sekarang. Hanya ketakutan seseorang yang sudah terlalu sering dibiarkan setelah pintu tertutup.

"Tadi gue tanya punya rumah atau nggak, lo nggak jawab," katanya. Suaranya kembali memakai `aku`, rapuh dan telanjang dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan tubuh. "Sekarang kamu bilang kecewa. Jadi kamu mau ngurus aku?"

Lani menatap wajah penuh luka itu.

Ia tahu jawaban `tidak` adalah satu-satunya jawaban aman. Rey bukan tanggung jawabnya. Ia baru saja memutus hubungan dengan ayah pemuda itu demi memperoleh hidup sendiri. Membawa Rey masuk berarti membuka pintu menuju masalah yang sama dengan bentuk lebih berbahaya.

Namun ia juga tahu seperti apa rasanya berdiri di luar rumah sakit sambil menunggu seseorang memilih tinggal.

Hening turun di antara mereka.

"Iya," kata Lani akhirnya. "Aku yang urus kamu."

Rey tidak berkedip.

"Apa?"

"Aku akan memastikan kamu wajib lapor, masuk kuliah, berhenti berkelahi, dan tidak kelaparan. Sampai kamu bisa mengurus dirimu sendiri."

"Kenapa?"

"Jangan banyak tanya sebelum aku berubah pikiran."

"Kalau gue berkelahi lagi?"

"Aku tidak akan datang ke kantor polisi untuk kedua kalinya."

"Kalau gue bolos?"

"Aku telepon bagian akademikmu kalau perlu."

Rey mengerutkan hidung. "Galak banget."

"Kamu belum melihat apa-apa." Lani menunjuk simpul handuk di pinggangnya. "Aturan pertama, kamu tidak boleh datang ke apartemenku tanpa izin. Aturan kedua, kamu tidak boleh menyentuhku. Aturan ketiga, semua urusan hukum harus kamu selesaikan, bukan lari."

"Terus kalau gue gagal?"

Lani terdiam. Ia teringat semua kegagalannya sendiri, keputusan yang membuatnya tinggal di rumah Gunawan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk akhirnya pergi.

"Kamu perbaiki," jawabnya. "Gagal sekali bukan alasan untuk sengaja gagal seumur hidup."

Rey menatapnya seolah kalimat sederhana itu adalah sesuatu yang belum pernah diajarkan oleh siapa pun.

Rey menunduk. Bibirnya membentuk senyum kecil yang biasanya dipakai untuk mengejek, tetapi kali ini tidak berhasil menyembunyikan apa pun.

"Boleh," bisiknya.

Ketika mengangkat wajah lagi, tepi matanya sudah merah.

Lani membuka pintu tangga. "Sekarang naik, pakai baju, dan jangan pernah ulangi kegilaan ini."

Rey mengikuti tanpa membantah.

Di dalam lift, pantulan mereka berdiri berdampingan: Lani dengan pakaian basah dan Rey hanya berbalut handuk yang diikatnya. Baru saat itulah Lani menyadari sebesar apa janji yang baru keluar dari mulutnya.

Ia mungkin benar-benar sudah gila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!