Laura benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kakak angkatnya Haidar. Ini benar-benar petaka untuknya, kenapa bisa dia muncul lagi dalam hidupnya.
Ini sudah 5 tahun berlalu, kenapa dia harus kembali saat Laura akan menjalani kisah hidup yang lebih panjang lagi dengan Arkan. Ya Laura akan menikah dengan Arkan, tapi kemunculan Haidar mengacaukan segalanya. Semua yang sudah Laura dan Arkan rencanakan berantakan.
"Aku benci padamu Kak, kenapa kamu tak mati saja" teriak Laura yang sudah frustasi.
"Kalau aku mati siapa yang akan mencintaimu dengan sangat dalam sayang" jawab Haidar dengan tatapan dinginnya tak lupa dengan seringai jahatnya.
Bagaimana kah kisa selanjutnya, ayo baca. Ini terusan dari Novel Berpindah kedalam tubuh gadis menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang ke rumah
Arkan yang melihat kekasihnya sedang duduk sendirian di kantin kantor segera menghampirinya, duduk dihadapannya tapi Laura seperti tidak melihatnya.
Dengan penasaran Arkan melambaikan tangannya didepan wajah Laura. Masih saja sama, ini sudah pasti melamun.
Arkan menyentuh tangan Laura, sampai Laura kaget dan menyiramkan air yang ada dihadapannya "Aduh maaf, aku ga sengaja" dengan rasa bersalah Laura mengambil sarung tangannya dan membersihkan pakaian yang terkena air.
Arkan memegang pergelangan tangan Laura, mengambil sapu tangannya dan menyimpannya dimeja "Kamu kayaknya lagi banyak pikiran deh"
Laura menghembuskan nafas lelahnya kembali duduk dan menganggukkan kepalanya "Aku lagi pusing banget, kenapa banyak banget masalah yang datang sekarang"
Arkan segera bangkit dan memijat kepala Laura dengan perlahan, lalu beralih pada bahu kekasihnya itu "Masalah apa sayang, pekerjaan kamu mulai banyak lagi"
"Bukan itu tapi dirumah, Anya kemarin ada yang lukain dan dia sampai trauma ga mau ditinggalin sendirian dirumah. Padahal keluarga aku ga pernah punya musuh" sambil mengusap tangan Arkan yang masih memijat bahunya.
"Kenapa bisa, apa mungkin Anya punya masalah sama orang"
"Ga tahu" Laura juga tak mau sampai Arkan tahu tentang Haidar, sebenarnya Laura sudah yakin kalau itu memang kelakukan Haidar sengaja agar membuatnya makin stres saja.
Laura menatap kearah kotak makan dan menariknya dengan perlahan "Apa ini sayang"
Arkan segera kembali ketempat duduknya dan tersenyum senang saat Laura bertanya itu "Aku buat makan siang buat kamu, ayam asam manis pasti kamu suka"
"Beneran" raut wajah Laura sudah berubah menjadi senang tak murung lagi.
"Iya dong, aku belajar masak nanti setelah kita nikah bisa masak sama-sama jadi ga kamu saja yang masak, tapi aku juga akan bantu kamu"
Arkan membuka makanannya dan tercium bau yang begitu enak membuat perut Laura menjadi lapar.
"Biar aku suapi" Arkan menggeser kursinya dan segera menyuapi kekasihnya.
"Emm, enak" puji Laura sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Beneran, ga asin atau terlalu asam"
"Udah pas, aku suka ayo suapi lagi" pinta Laura dengan semangat.
Tentu saja dengan senang hati Arkan melakukannya lagi, senang sekali rasanya saat masakan kita dihargai dan dimakan dengan lahap seperti ini. Arkan akan buat makanan yang lain nanti.
Jadi nanti saat Laura sibuk Arkan bisa memasak sendiri dan membuat Laura senang. Apalagi nanti kalau sudah punya anak pasti mereka akan sibuk dan Arkan harus bisa segalanya untuk membantu istrinya.
...----------------...
"Laura apakah kamu pulang" teriak Anya saat mendengar suara langkah kaki.
"Laura" tak ada jawaban hening.
Tapi Anya bersama Ayahnya, namun di restoran sedang ada masalah dan mau tak mau Ayahnya pergi meninggalkan Anya sendirian.
Anya yang ketakutan segera turun dari tempat tidur, menggusur kakinya yang sakit dan membuka pintu lemari dengan perlahan, masuk kedalam dan menutupnya dengan perlahan juga. Dibekap nya mulutnya ini agar tak bersuara.
Terdengar lagi suara langkah kaki makin membuat degup jantung Anya berdentum-dentum tak karuan. Anya takut orang itu datang ke rumah dan menghabisinya.
Benar saja Anya melihat orang asing masuk kedalam kamarnya, dia memakai pakaian serba hitam dengan sebilah pisau yang dia pegang. Wajahnya tertutup dengan sebuah masker.
"Ya Tuhan tolong aku" gumam Anya dalam hatinya.
Keringat dingin sudah bercucuran di dahinya, apalagi menahan rasa sakit di kakinya yang ditekuk. Anya sangat takut kalau sampai ketahuan.
Cklek, pintu rumah terbuka. Anya takut orang yang akan masuk itu akan menjadi mangsa laki-laki ini.
"Anya aku bawakan martabak nih, mau makan sekarang atau nanti"
Itu suara Laura, ya itu Laura yang datang Anya takut kalau Laura akan menjadi korban laki-laki itu.
"Anya apakah kamu tidur" kembali suara Laura terdengar.
Namun laki-laki itu belum juga pergi dan malah diam masih mencari keberadaan Anya, bahkan bawah tempat tidurnya saja di cek, saat akan membuka lemari Anya makin menahan nafasnya.
Pintu terbuka dengan perlahan dan laki-laki itu loncat keluar lewat jendela yang sengaja Anya buka tadi. Dia menghilang dengan begitu cepat tanpa jejak sedikitpun.
"Anya kamu dimana"
"Laura" lirih Anya dengan tubuh yang lemas.
"Anya, kenapa kamu ada didalam lemari"
Laura segera membantu Anya keluar dan melihat luka yang kemarin baru saja di jahit sudah terbuka lagi, karena tekanan yang dilakukan Anya.
"Kenapa kamu malah ada di lemari. Memangnya tempat tidurmu sudah tak nyaman Anya" kesal Laura.
Laura juga mengambil beberapa kain dan menyimpannya di kasur Anya agar darahnya tak tembus. Lalu membantu Anya untuk kembali berbaring, Laura membuka perbannya dan benar saja lukanya memang sudah tak karuan.
"Kita harus ke rumah sakit, takutnya nanti infeksi atau kamu dirawat saja di sana ya agar ada yang mengawasi"
Anya menggelengkan kepalanya menunjuk jendela untuk Laura menutupnya, dengan patuh Laura mengikutinya menutupnya dan menguncinya.
"Laura orang itu datang lagi, aku pikir yang datang tadi kamu tapi ternyata bukan dia meneror aku lagi. Dia ingin menghabisi aku" jelas Anya dengan bergetar.
"Minum dulu, tenang ya"
Anya mengambil gelasnya dan tangannya masih bergetar, Laura dengan cekatan membantunya dan kembali menyimpan gelasnya.
"Apa kamu punya musuh sampai ada orang yang datang dan ingin menghabisi kamu"
"Ga, aku ga pernah cari masalah sama siapapun Laura. Aku ga mau nyakitin perasaan orang lain lagi, aku benar-benar jadi anak yang baik di tempat kerjaku"
Tuh kan benar, berarti memang benar pelakunya Haidar. Laura yakin itu kalau memang Anya tak punya musuh.
"Kita ke rumah sakit ya"
"Ga Laura, yang ada makin ga aman dia pasti akan datang kesana dan menghabisi aku di sana. Aku takut banget Laura"
"Apa kamu mau sama Tante Mawar dulu saja"
"Apa dia ga akan tahu kalau aku di sana"
"Aku tak yakin dia tak akan tahu, takutnya dia sudah memata-matai keluarga kita dari lama"
Anya menutup wajahnya dengan lemas, kenapa hidupnya malah jadi seperti ini. Siapa orang itu dan apa salah Anya pada orang itu. Anya ingin hidup tenang tapi kenapa tiba-tiba ada orang yang mengganggunya.
Anya tak mau hidupnya berantakan lagi, penuh ancaman dan ketakutan seperti ini.
"Aku telfon dokter dulu ya untuk mengobati lukamu, tak mungkin dibiarkan seperti ini terus memangnya kamu ga sakit"
"Sakit Laura, tapi rasa takutku begitu besar sekali. Aku takut dia datang lagi saat kalian tak ada dirumah"
"Ya sudah sebentar"
Laura segera menghubungi dokter yang kemarin mengobati Anya, semoga saja dia bisa dayang ke rumah. Laura takut lukanya ini akan sulit sembuh kalau terus terbuka seperti ini.