Sinopsis :
Mulanya Delvin ingin melamar Ines dan berencana menikah dengan gadis itu. Ines Ratulia adalah gadis yang sudah lama dipacari Delvin. 8 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk memadu kasih. Serius, Dalvin pun ingin kisah cintanya dengan Ines bisa berakhir bahagia.
Nahas, apa yang dia harapkan tak terlaksana. Nyatanya Ines mendadak meminta putus dari Dalvin dan selang seminggu dari peristiwa itu terdengar kabar kalau gadis itu akan menikah dengan pria lain yang katanya jauh lebih tajir dari Dalvin.
Di sisi lain Kyra sedang panas dingin akibat melihat orang yang diam-diam dia taksir semenjak SMP, si cinta pertamanya, Bang Ezra sedang terlibat cinlok dengan lawan main di FTV-nya. Huh!
Delvin, Kyra dan Ezra adalah tetangga komplek. Mereka tinggal bersebelahan ada pula yang tinggal di depan rumah persis. Delvin yang emang tau perasaan hati Kyra pun akhirnya punya siasat. Dia masih kesal sama mantannya itu. Gimana pun dia nggak akan mau kalah dari mantannya. Akhirnya dia mencetuskan hal gila!
Iya, gila. Karena tiba-tiba si Delvin ngajak Kyra buat nikah!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon icha azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
0.4 | B : Tentang Perasaan
- Kyra -
"Delvin..."
"Vin, Delvin!"
Usahaku untuk memanggilnya keluar belum pupus. Orang yang patah hati atau mood yang tak bagus tentunya akan lebih cenderung mengurung diri sendiri, mencari ketenangan. Tapi aku berharap agar Delvin nggak terlalu terpuruk.
Oh, tidak, aku mulai membayangkan hal yang nggak-nggak!!
"Ngapain lo geleng-geleng sendiri?!"
Suara itu!
Seketika, aku membuka kedua mataku yang sempat aku pejamkan beberapa saat. Terbukanya mataku langsung disambut oleh wajah Delvin yang menatapku heran sambil mengerut kening.
Oh, syukurlah, dia masih sehat wal'afiat!
Aku menghela napas lega. Tersenyum padanya. Jenis senyuman manis yang mengekspresikan leganya hatiku.
"Malah senyam-senyum lagi?! Ck," dia berdecak. Aku nyengir.
"Kenapa?" Tanyanya kemudian. "Ada apa lo manggil gue?"
"Lo udah makan?" Ganti aku yang bertanya padanya. Dia menggeleng. "Kalau gitu, nih gue bawain lo roti bakar nutella. Favorit lo, kan?!" Aku menyungging senyum dengan alis yang naik-turun.
Lantas, aku pun memberikannya piring berisi roti bakar yang memang baru kubuat sendiri beberapa menit lalu.
Alis mata Delvin terangkat satu saat piring itu telah berpindah tangan padanya. "Masih anget." Gumamnya. Lalu, dia mendongak untuk kembali memandangku. "Lo baru buat?"
Aku mengangguk cepat. "Dihabisin makanya! Gue udah rela capek-capek buatin tuh,"
Bukannya senang dan berteriak 'terima kasih', Delvin malah diam menatapku dengan kernyitan curiga di dahinya. Penuh selidik.
"Apa?" Tanyaku.
Delvin menatapku lurus-lurus. "Lo suka sama gue?"
"Hah??"
"Ini, pake repot-repot buatin gue roti bakar segala. Tau favorit gue pula..."
"Ih, ge-er!" Teriakku jengah. Lagian, siapa juga yang suka sama dia, sih?! Kepedean banget!
"Terus?" Lagi-lagi Delvin menarik sebelah alisnya ke atas.
"Sebagai teman baik, itu bentuk perhatian gue buat lo yang lagi patah hati. Tau itu favorit lo kan karena kita sering main bareng dulu! Nggak inget apa lo, pernah rebut paksa bekal roti bakar nutella gue waktu SD?!"
Delvin mulai menetralkan alisnya untuk kembali ke tempat semula. Wajahnya berubah datar. Lalu, dia mendesah. "Oh,"
Sungguh, responnya barusan itu bikin aku keki setengah mati. Ngeselin abis dia itu loh!
"Makasih, deh. Kebetulan gue juga lapar," katanya lalu mulai menggigit roti bakar itu dan menikmatinya.
"Makannya duduk, Vin," aku menyela.
Dan, tanpa adanya bantahan Delvin lantas menuruti seruanku, mengambil tempat untuk duduk di atas lantai balkon.
Kebiasaan kami kala mengobrol di sini ya seperti ini. Duduk di atas lantai balkon masing-masing dengan kaki-kaki yang menjuntai keluar pagar besi pembatas.
"Mau nggak, lo?" Tawar Delvin sembari menyodorkan piring roti bakar itu padaku.
Aku menggeleng. "Nggak, gue udah kenyang."
Delvin angkat bahu. Kembali dia menikmati roti bakar itu seorang diri.
Setelah beberapa saat hening karena aku yang lebih asyik menatap pintu balkon bercat putih yang tertutup rapat di depan sana sembari berharap kalau sosok yang tinggal di depannya keluar menampakkan diri untuk sekadar menyapaku yang duduk di sini menunggunya. Sementara Delvin, aku yakin dia sedang berusaha menikmati makan malamnya yang sederhana itu.
"Tuh pintu nggak bakal kebuka. Ezra syuting dua hari di Puncak."
Aku menoleh seketika pada Delvin yang ternyata sedang menatapku sambil mengunyah roti dalam mulutnya. Saat kulirik piring di sampingnya, ternyata isinya sudah kosong tak bersisa. Wah, cepat juga dia makannya!
"Lo nggak dikasih tau Ezra emangnya?"
Aku menggeleng lesu. Saat itu tiba-tiba aku merasa iri pada Delvin karena Bang Ezra lebih memilih memberitahu jadwalnya pada Delvin dibandingkan aku.
"Ezra nggak inisiatif kasih tau gue kok, gue yang emang tanya sama dia waktu nggak sengaja papasan kemarin di depan." Jelas Delvin, yang ternyata berhasil membuatku tersenyum tipis juga.
"Lo masih bakal terus begini? Bertahan sama cinta sepihak lo itu??" Tanya Delvin tiba-tiba. "Terus kapan lo bakal kasih tau Ezra soal perasaan lo itu?"
Aku terdiam, merenungi pertanyaannya itu padaku. Bahkan selama ini tak pernah terlintas dibenakku untuk mengutarakan perasaan itu secara langsung. Sungguh, aku terlalu takut mendengar jawabannya yang tak sesuai harapan bila aku mengatakan tentang perasaan itu padanya.
Aku tersenyum tipis saat memandangnya balik. "Lo nggak usah mikirin gue. Pikirin aja masalah lo sendiri dulu. Karena punya lo lebih complicated dibanding gue!"
Delvin mendengus. Seolah tak mendengar apa yang aku katakan padanya barusan, dia malah mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Besok mau nyusul Ezra ke Puncak?"
Eh? Aku nggak salah dengar yang baru Delvin ucapkan, kan??
"Gue lagi bete. Butuh udara segar." Sambungnya.
Seketika, aku langsung tersenyum cerah. Ide cemerlang Delvin ini langsung membuat hatiku berteriak girang. Sontak aku mengangguk antusias. "Iya, mau, mau! Mau banget! Ayooo!!"
Tak aku hiraukan tatapan Delvin yang melihatku aneh. Hatiku teramat senang rasanya.
"Seseneng itu ya lo ketemu Ezra doang?!" Delvin tertawa mendengus sembari geleng-geleng kepala, heran.
Aku tersenyum manis padanya. "Jadi kita otewe jam berapa?"
***
- Ines -
Mataku tak hentinya menatap satu tanaman bonsai di atas meja di sana. Bonsai loa yang selalu mengingatkan aku tentangnya. Tentang dirinya yang kini sedang kusakiti tapi aku tak ingin melepasnya pergi.
Sebegitu serakahnya aku hingga aku ingin tetap menawan hatinya meski telah terucap kalimat berpisah.
Sungguh, bukan aku yang ingin berpisah darinya. Dia yang lebih dari 8 tahun ini selalu bersamaku tentunya tak akan bisa tergantikan oleh siapa pun apalagi itu dalam sekejap waktu.
Dan ketika aku mengetahui ada kesalahan yang telah temanku perbuat, aku tak bisa berhenti merutuki diriku sendiri.
"Nes, lo masih dengerin gue, kan?" Binta kembali menyuarakan tanya yang sama entah untuk ke berapa kalinya.
Aku masih diam saja dengan memegangi erat ponsel di sisi telinga. Pandanganku masih kosong menatap bonsai itu yang makin menimbulkan bayangan wajahnya lebih jelas lagi.
"Duh, Nes, gue beneran minta maaf banget! Gue nggak tau kalau Delvin di add lagi ke grup sama Satrio. Gue pikir dia masih left chat. Duhh, Ines, maaf. Maafin gue yaa, gue--"
"Iya, gak apa. Harusnya emang gue yang lebih hati-hati." Senyum kecutku terkembang lebar.
Sesak, aku merasa hatiku begitu berat seketika saat membayangkan wajah keras Delvin ketika marah. Aku yakin, dia pasti marah besar padaku. Merasa terkhianati atas berita itu.
Ingin aku berlari pergi menujunya sekarang juga, mengatakan yang sejujurnya padanya. Mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi padaku hingga aku bertindak demikian. Tapi, bagaimana? Aku tertawan sekarang. Tak bisa berkutik ke mana pun sampai hari itu tiba.
Tanpa sadar air mataku luruh membasahi kedua pipi. Suara kasar hirup napas membuat lawan bicaraku dalam telepon itu menyadari kesedihanku.
"Ines... lo nangis?" Tanyanya bernada hati-hati.
Aku menggeleng, berusaha mengenyahkan kabut perasaan sedih itu dariku, menggantinya dengan seulas senyum yang kupaksakan hadirnya. Meski Binta tak bisa melihat senyuman ini sekarang, tapi dia pasti bisa merasakannya jika aku tersenyum di sini.
"Enggak kok." Kataku dengan nada yang kubuat seceria mungkin.
Binta tak tahu tentang kondisi diriku yang sebenarnya. Dia hanya tahu tentang hubunganku dan Delvin sedang tak baik karena kandasnya kisah kasih kami. Binta hanya tahu soal aku yang ingin menjaga perasaan Delvin dari kabar pertunangan itu. Binta memang tak tahu akan apa yang sesungguhnya terjadi!
"Makasih ya, Nta, buat segala infonya. Soal Delvin, biar jadi urusan gue nanti. Lo nggak usah khawatir. Delvin orangnya dewasa kok, dia pasti bisa ngerti." Kataku berusaha membuat Binta tak khawatir. Meski yang kukatakan barusan adalah dusta.
Klik. Panggilan kami pun terputus. Aku kembali menyimpan ponselku di atas meja. Sekali lagi kutatap bonsai loa yang ada di atas meja bundar itu.
Delvin, hatiku kembali melirih menyebut namanya dalam merana.
semoga sehat selalu ya kak