Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB06 - Surat dari Ayah
Dengan sesunggukan, Davina meminta waktu sendiri sebelum jenazah Ayahnya di kebumikan. Cincin pernikahan sudah melingkar di jari manis Davina yang mengartikan, dirinya sebagai milik Dave sekarang. Tidak ada yang bisa merubah kesedihan gadis malang itu.
"Maaf Mba, ini surat yang di titipkan oleh almarhum Ayah, Mba." seorang Suster memberikan sepucuk amplop berwarna putih ke arah Davina. Davina mengambil dari tangan sang Suster. Tangannya bergetar di iringi dengan suara isak tangisannya.
"Ada baiknya kita keluar," kata Papa Dave mengajak seluruh yang berada di dalam ruangan meninggalkan Davina.
"Dave di sini aja Pa," kening Hezron Smith mengerut di buat sang anak.
"Biarkan dia sendiri Dave. Karena ini untuk terakhir kalinya dia bersama Ayahnya. Apa kau tidak bisa memahami sedikit saja situasi sekarang?" pria yang tidak terlihat muda dan juga tua itu menatap tajam ke arah sang anak.
"Pa, Dave mengerti. Hanya saja dia sedang dalam keadaan yang tidak stabil, bagaimana kalau dia di tinggal sendiri di sini, dia akan mencoba bunuh diri lagi?" Dave mencoba membujuk.
"Sejak kapan kau peduli sama orang di sekitarmu?" gumam Williams sangat pelan. Hanya angin saja yang mendengar ucapannya.
"Tidak usah! Kau keluar saja Dave. Biarkan Davina sendiri, kita hanya menunggu di luar pintu." balas Oma Alexa seraya berjalan duluan dan sekilas menyentuh pundak Davina.
Dave menghela nafasnya.
"Ayo," Mama Beliana menarik pundak Dave. Hanya sang Mama yang mampu membuat hati si Dave melunak.
Sebelum Williams melangkahkan kakinya, sejenak dia menatap Davina yang mulai menarik sisi amplop di dalam genggamannya.
Sungguh malang sekali gadis di depanku. Batinnya entah kenapa ikut merasakan sedihnya Davina.
"Will?" suara Dave membuat Williams buru-buru melangkah membawa tubuhnya keluar dari ruangan.
Ruangan itu sudah terasa sangat sepi; hanya ada Davina dan jenazah sang Ayah yang tinggal. Dengan mendudukkan tubuhnya di atas lantai dingin bersandarkan dinding, Davina mencoba membaca perlahan isi dari surat yang di tulis oleh sang Ayah sebelum nafasnya terhenti.
...Untuk putri kecil Ayah....
Davina.
Davina, anak kesayangan Ayah. Ayah bersyukur ketika Ayah meminta kamu untu menikah dengan putra keluarga Smith kamu menyutujuinya. Walaupun Ayah tau kamu terpaksa. Ayah yakin, keluarga mereka mampu menggantikan Ayah sebagai pelindung kamu di dunia Nak.
Ayah sudah memiliki firasat, kalau saja Ayah akan pergi untuk meninggalkan kamu. Berulang kali, semangat dari Kamu, membuat Ayah ingin cepat kembali pulih. Hanya saja, sesuatu yang Ayah bayangkan tidak seindah yang di gariskan sang pemilik kehidupan. Tapi Ayah yakin, rencana Tuhan lebih baik dari kita.
Jika nanti benar saat surat ini ada di genggaman tangan kamu, Ayah sudah gak ada di sisi kamu. Ayah mohon jangan menangis, Ayah sudah sembuh di sini Nak, Ayah sudah sehat dan tidak lagi membebankan Vina. Ayah sudah lama mengambil waktu kebebasan kamu.
Kamu harus yakin, dari sana Ayah akan selalu melihat Vina. Meskipun dunia kita sudah berbeda, Ayah yakin, Vina tetap berada di dekat Ayah. Ayah juga berada di hati Vina. Jadi, berjanjilah untuk tetap sehat anakku. Dan berbahagialah dengan keluarga baru kamu. Begitu pula dengan suami kamu, hormati dia layaknya Ayahmu Nak. Jangan pernah membantah, apapun yang menjadi perkataannya. Karena dia kepala di rumah tanggamu.
Semoga Vina bisa tegar, saat Ayah tidak lagi di sisi kamu. Harus bisa kuat demi Ayah, Nak. Satu lagi keinginan Ayah yang tidak bisa Ayah sampaikan secara langsung ke Kamu. Jika kamu berniat untuk memaafkan Ibu—kamu, ada baiknya kamu mencarinya anakku. Dia tetap Ibu yang melahirkan kamu.
Ayah akan selalu meminta pada sang pencipta, untuk kebahagiaan Davina di dunia nak. Ingat, Davina tidak sendirian dan Davina gadis Ayah yang kuat. Sampaikan salam perpisahan dengan menantu Ayah. Ayah tutup dengan doa untuk kamu dan suami kamu.
Ayah.
Air mata Davina kembali menggenang di wajah polosnya. Di rengkuhnya surat dari sang Ayah ke dalam pelukannya. Tubuhnya berguncang hebat, betapa tidak di sadarinya, saat perasaan sang Ayah yang akan pergi untuk selamanya, tidak bisa di tersiratkan oleh Davina.
Ini sangat menyedihkan bagi seorang Davina. Di tinggal oleh sang Mama demi mendapatkan kehidupan mewah. Di tinggal selamanya oleh sang Ayah karena penyakit mematikan yang di deritanya.
Sungguh di luar batas kemampuannya untuk dapat mengerti garis jalan sang pemilik kehidupan. Dan sekarang, hal yang perlu di terima Davina lagi, dia sudah menjadi Istri dari pria yang sama sekali tidak di kenalnya. Sungguh kehidupan suka becanda dengan Davina.
"Vina, sudah waktunya Nak." Tuan Hezron memberanikan diri mendekati Davina, karena itu waktunya Ayah Davina akan di kebumikan.
***
Sore menampakkan awan jingga yang berselimutkan angin sepoi-sepoi. Tampak matahari sudah kembali ke tempat peraduannya. Pandangan Davina kosong, bibirnya hanya membisu.
Setelah sang Ayah di kebumikan, Dave di perintahkan oleh sang Papa dan Omanya, untuk mengantarkan Davina ke tempat di mana Davina dan Ayahnya tinggal.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Dave awalnya acuh meskipun hanya di bawa diam oleh Davina. Sekarang, manik mata dingin pria yang duduk di jok kemudi, menatap sekilas ke Davina secara terang-terangan. Dave kesal, hampir satu jam di dalam mobil, hanya diam dan hening.
Gadis malang itu tak juga bergeming, tatapannya hanya kosong. Ada yang hilang dalam dirinya.
"Sepertinya ada hantu di mobil saya," suara Dave tidak juga membuyarkan lamunan Davina. Davina masih tidak bisa melepaskan begitu saja kesedihannya.
"Kau!" suara Dave sedikit meninggi menoleh ke arah Davina yang juga tidak mau meresponnya.
"Kau tuli! Apa kau tidak mendengar suara saya!"
Davina refleks tercengang membawa wajahnya menoleh ke Dave. Wajah polosnya seakan terkesiap memandang Dave.
"Kau sengaja membuatku marah?"
Wajah Davina tampak masih tidak mengerti ucapan yang keluar dari mulut pria di sampingnya.
"Davina!"
"Ehemmm," balas Davina terkesiap.
"Apa yang kau pikirkan!"
Davina kembali membisu, menatap wajah tampan Dave yang menurutnya sangat mengesalkan.
Buru-buru Dave menginjak rem dan menepikan mobilnya ke pinggiran jalan yang terlihat tampak sepi.
Dave mencengkram pundak Davina dan mengguncangnya.
"Kau harus sadar! Jangan mendiamkan orang yang berada di sampingmu, apa kau tidak berpikir, Omaku, Papaku dan Mamaku sedang mencemaskan dirimu? Apa kau senang menarik perhatian mereka dengan cara seperti ini?!" manik mata Dave di buat membulat penuh. Sengaja dia menekan tegas setiap ucapannya. Sedikit memprihatinkan bagi Dave, meskipun kehilangan setidaknya dia harus memperhatikan dirinya sendiri.
Kedua bola mata berwarna hitam itu berkilat. Matanya tidak berkedip, agar air matanya tidak tumpah.
"Jika kau masih menangis terus, turun dari mobilku! Kau pergilah sendiri mengambil barang-barangmu." Dave melepaskan pundak Davina dengan kasar.
Davina pun menangis, tubuhnya sesunggukan.
"Maafkan Aku," Davina menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Dave menoleh, saat wajah Davina di tenggelamkan ke atas kedua pahanya. Tubuh itu terus bergetar hebat. Membuat Dave semakin tidak suka dengan kesedihan Davina.
"Aku katakan sekali lagi! Jika kau menangis, turun dari mobilku!"
Davina menarik wajahnya dan buru-buru mengusap air matanya.
"Aku tidak akan menangis lagi," ucapnya dengan suara bergetar.
Wajah Davina di arahkannya ke arah Dave, lantas Dave menoleh memastikan kedua air mata gadis yang menjadi Istrinya tidak lagi menetes.
Keduanya saling memandang, hingga Dave memutuskan duluan pandangan mereka. Dan kembali melajukan mobilnya.
Dave sebenarnya sedikit tergerak, ibah dengan keadaan Davina, hanya saja dia menyangkal dan menolak ikut campur.
Karena menurutnya, Davina itu hanya gadis yang memiliki status sebagai Istri saja di pikiran Dave. Tidak akan pernah lebih dari sebuah status.
Bersambung.
***
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔