Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gebrakan Permaisuri Baru (Rapat Paripurna Rasa Meeting Korporat) {2}
Tiga bulan setelah penobatan resmi Alara Villin sebagai Permaisuri Utama Kekaisaran Ruelle, Istana Dalam tidak lagi menjadi tempat yang sunyi, anggun, dan penuh kepalsuan.
Sebaliknya, paviliun utama kini lebih mirip dengan kantor pusat perusahaan startup di kawasan Sudirman.
Pagi itu, Aula Akasia dipenuhi oleh puluhan selir tingkat menengah, kasim senior, dan dayang-dayang tingkat tinggi. Di depan mereka, tidak ada lagi singgasana mewah yang dilapisi kain sutra menye-menye.
Alara telah menggantinya dengan sebuah meja kayu oval raksasa. Di dinding belakang, tergantung selembar kain putih besar yang menampilkan diagram lingkaran dan grafik garis menggunakan tinta warna-warni.
Alara berdiri di ujung meja dengan gaun kebesaran Permaisuri berwarna merah marun yang bagian lengannya sudah digulung rapi hingga siku. Di tangan kanannya, dia memegang sebatang kayu kecil penunjuk dokumen.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah hadir tepat waktu di Weekly Meeting Istana Dalam," sapa Alara dengan senyuman cerah penuh energi.
"Agenda kita hari ini adalah evaluasi efisiensi anggaran logistik kuartal pertama. Tolong buka dokumen gulungan bambu kalian di halaman tiga."
Para selir senior saling berpandangan dengan wajah linglung, memegang gulungan bambu mereka seperti memegang bom waktu.
"Permaisuri Alara yang agung..." salah satu selir tingkat tiga, Selir Mei, mengangkat tangannya dengan ragu.
"Apa yang dimaksud dengan... kuartal pertama? Dan grafik naik-turun di kain putih itu... apakah itu ramalan nasib kekaisaran dari dukun sakti?"
Alara menepuk jidatnya pelan, lupa kalau dia sedang menghadapi masyarakat Dinasti kuno.
"Bukan, Mbak Mei. Itu namanya Key Performance Indicator (KPI) pengeluaran kita. Coba lihat grafik warna merah yang melonjak tajam itu. Itu adalah anggaran pembelian bedak impor dan parfum bunga mawar dari wilayah barat milik divisi kalian."
Alara mengetuk grafik tersebut dengan kayu penunjuknya secara tegas. *TOK! TOK!'
"Anggaran kosmetik kalian naik seratus lima puluh persen dalam dua bulan! Ini tidak sehat bagi cash flow kekaisaran. Mulai besok, kita terapkan sistem budget capping. Jatah bedak impor dipotong setengah, dan kalian harus beralih ke produk lokal buatan UMKM rakyat Chang-an yang harganya sepertiga lebih murah tapi kualitasnya tetep glowing!"
"Tapi, Permaisuri!" protes selir lainnya dengan wajah cemas.
"Jika kulit kami tidak memakai bedak barat, bagaimana kami bisa menarik perhatian Yang Mulia Kaisar malam nanti?"
"Tenang, urusan memikat hati Kaisar itu bukan soal ketebalan bedak, tapi soal personal branding dan daya tarik intelek!" sahut Alara mantap.
"Lagian, Yang Mulia Kaisar sekarang sudah saya masukan ke dalam sistem clean eating. Beliau tidak akan tertarik dengan selir yang bedaknya luntur pas kena uap kuah hotpot!"
Tepat pada saat itu, pintu Aula Akasia terbuka lebar. Kaisar Kaivan melangkah masuk dengan jubah naga hitamnya yang megah.
Kehadirannya yang mendadak membuat seluruh selir langsung berdiri dan membungkuk hormat dengan khidmat, kecuali Alara yang justru melirik jam matahari di luar jendela dengan dahi berkerut.
"Tuan Kai," Alara berkacak pinggang, menatap suaminya dengan pandangan menegur.
"Anda terlambat sepuluh menit dari jadwal peninjauan rakitan alat cetak baru di Paviliun Naga.
Menurut kesepakatan time management kita, Anda berhutang satu porsi pijat refleksi kaki untuk saya nanti malam."
Para selir langsung menahan napas, menunggu amarah sang Kaisar Es meledak karena ditegur secara lancang di depan umum.
Namun, Kaivan justru menghentikan langkahnya, menatap Alara dengan sepasang mata elangnya yang kini melunak seribu derajat. Sebuah senyuman tipis dan renyah muncul di bibir tampannya, membuat para selir hampir pingsan karena terpesona.
"Maafkan aku, Permaisuriku," ujar Kaivan dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh kepatuhan yang bikin iri.
"Rapat dengan kementerian pertahanan di aula depan sedikit molor karena urusan perbatasan. Aku akan membayar hutang pijat itu nanti malam, lengkap dengan camilan moci kacang merah kesukaanmu."
Kaivan melangkah mendekat, mengabaikan protokol istana, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan sejumput rambut Alara yang keluar dari mahkota permaisurinya.
"Bagaimana jalannya rapat korporatmu pagi ini? Apakah ada uler-uler baru yang berani mempersulit regulasimu?"
Alara menyeringai licik, menoleh ke arah barisan selir yang kini menunduk gemetaran dengan wajah sepucat kertas.
"Aman, Tuan Kai. Semuanya sangat kooperatif. Mereka baru saja setuju untuk melakukan pemotongan anggaran kosmetik demi kesejahteraan kas negara."
"Bagus," Kaivan mengangguk puas, lalu menatap tajam ke sekeliling ruangan, memancarkan aura tekanan penguasa yang mutlak.
"Dengarkan kata Permaisuri kalian. Siapa pun yang berani melanggar aturan anggarannya, akan langsung aku pindahkan ke divisi pembersihan kandang kuda perang di pinggiran kota."
"H-hamba menerima titah, Yang Mulia Kaisar!!" seru para selir berjamaah dengan lutut lemas.
Setelah Kaivan pergi memimpin peninjauan, Alara kembali menghadap ke mejanya dengan senyuman kemenangan yang sangat savage. 'Sesi pertama kelar. Sekarang, mari kita mulai proyek revolusi berikutnya: Sistem Pendidikan Anak Usia Dini untuk anak-anak dayang istana!' batin Alara penuh ambisi.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪