Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek Kereta Kencana 'Gojek' (Alara Membuat Sistem Transportasi Istana) {2}
Memasuki bulan keempat kehamilannya, perut Alara mulai sedikit membuncit, membuat gaun permaisurinya harus dimodifikasi menjadi model empire-waist yang longgar.
Namun, peningkatan hormon kehamilan ini tidak membuat isi otak abad ke-21 miliknya melambat. Sebaliknya, Alara justru makin bosan setengah mati karena Kaivan melarangnya melakukan aktivitas fisik yang berat.
Pagi itu, Alara duduk di beranda Paviliun Naga Emas sembari menyeruput es kopi susu gula aren dekafnya.
Matanya memperhatikan lalu lalang para dayang dan kasim yang kelelahan berlari dari ujung Istana Barat ke Istana Timur hanya untuk mengantarkan satu gulungan surat atau sekotak camilan.
"Lily," panggil Alara, meletakkan cangkir gioknya. "Istana kita ini luasnya berhektar-hektar, tapi kenapa sistem komunikasinya masih manual kayak zaman batu? Kasihan itu kasim-kasim mudanya, betisnya udah segede talas bogor karena keseringan jalan kaki."
Lily yang sedang mengipasi perut Alara mengerjap. "Lalu... apa yang harus kita lakukan, Permaisuri? Memang sudah adatnya sejak ratusan tahun lalu para pelayan harus berjalan cepat untuk menjaga kesopanan."
Alara menyeringai taktis.
"Adat kolot yang tidak efisien! Mari kita lakukan digitalisasi transportasi versi kuno tanpa internet. Kita bikin proyek... 'Go-Istana'!"
Dua hari kemudian, Alara mengumpulkan seluruh kasim magang dan kusir kereta kuda cadangan di lapangan belakang.
Di depan mereka, sudah berjejer puluhan kereta kuda kecil berkapasitas dua orang dan sepeda roda tiga kayu rakesa yang baru saja dirakit oleh pandai besi Paviliun Naga berdasarkan cetak biru buatan Alara.
Hebatnya lagi, seluruh kereta dan sepeda kayu itu dicat dengan warna hijau murni menggunakan ekstrak daun pandan dan minyak cat lokal.
"Perhatikan semuanya!" seru Alara memegang corong bambu. "Mulai hari ini, kalian resmi beralih profesi menjadi Mitra Pengemudi Go-Istana. Sistem kerjanya gampang. Saya sudah mendirikan tiga puluh pos papan tulis kecil di setiap sudut paviliun. Papan tulis itu fungsinya sebagai Aplikasi Manual."
Alara berjalan mendekati salah satu papan tulis.
"Misalnya, Selir Mei di Paviliun Mawar mau memesan layanan kirim makanan dari dapur utama. Beliau tinggal menulis namanya di papan tulis terdekat: 'Selir Mei - Pesan Sup Ayam - Pos 4 ke Pos 12'. Kasim yang bertugas di pos tersebut akan membunyikan lonceng bambu, dan pengemudi berbaju hijau terdekat wajib datang menjemput pesanan tersebut!"
Para kasim dan kusir melongo berjamaah, namun setelah dicoba selama beberapa jam, sistem tersebut terbukti memotong waktu pengiriman logistik hingga tujuh puluh persen! Istana yang tadinya semrawut mendadak menjadi sangat teratur.
Siang harinya, Kaisar Kaivan baru saja selesai memimpin rapat dengar pendapat dengan kementerian keuangan.
Saat ia melangkah keluar dari Aula Paripurna menuju kediamannya, sepasang mata elangnya mendadak menyipit melihat sebuah pemandangan absurd di jalan setapak istana.
Panglima Zhao seorang jenderal perang laut yang gagah berani kini sedang duduk pasrah di dalam sebuah kereta kuda kecil berwarna hijau yang ditarik oleh seorang kasim berwajah semangat.
"Zhao," panggil Kaivan, menghentikan langkah kereta tersebut. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Zhao wajahnya mendadak memerah karena tengsin setengah mati ketahuan oleh Kaisarnya.
"M-Melapor, Yang Mulia... Permaisuri Alara membuat aturan baru. Katanya, pejabat yang ingin pindah dari aula depan ke gerbang belakang dilarang memakai kuda militer demi menghemat pakan kuda negara. Kami dipaksa memakai layanan... Go-Ride istana ini. Dan jujur saja, tarifnya murah, cuma dua keping tembaga per pos."
Kaivan memijat dahinya yang mendadak pening, langsung tahu siapa dalang di balik warna hijau mencolok ini.
Kaivan segera melangkah menuju Paviliun Mawar Merah. Begitu sampai di taman, ia menemukan Alara sedang duduk di atas kursi malas sembari memegang sebuah kotak kayu berisi ratusan keping koin tembaga hasil keuntungan platform transportasinya hari itu.
"Alara Villin," Kaivan berkacak pinggang di depan istrinya, mencoba memasang wajah dinginnya walau gagal karena melihat binar bahagia di mata bulat Alara.
"Kau benar-benar membuat seluruh menteri dan panglimaku kehilangan wibawa militer mereka dengan memaksa mereka naik kereta hijau kecil itu."
Alara mendongak, lalu menyengir kuda tanpa dosa. Dia bangkit berdiri, langsung memeluk pinggang kekar Kaivan dengan manja sembari menggesekkan hidungnya ke dada suaminya.
"Ah, Tuan Kai... jangan judes-judes gitu dong. Ini namanya hilirisasi ekonomi mikro istana. Uang koin yang dikumpulin ini bakal saya pake buat beli susu hamil premium impor dari Barat tahu!"
Mendengar kata "susu hamil untuk anaknya", benteng es di wajah Kaivan langsung runtuh total. Ia menghela napas pasrah, merengkuh tubuh ramping istrinya itu ke dalam pelukan protektifnya, lalu mencium puncak kepala Alara dengan gemas.
"Terserah kau saja, Permaisuriku," bisik Kaivan lembut, tangannya perlahan mengelus perut Alara yang mulai terasa mengeras hangat.
"Tapi jangan terlalu lelah. Jika kau kekurangan uang koin, kau tinggal mengambil seluruh kunci gudang emas pribadiku."
"Hehe, emas Anda disimpen aja buat tabungan pendidikan anak kita nanti," tawa Alara renyah.
Namun, kedamaian sore itu mendadak terusik saat Kasim Wen tiba-tiba datang berlari dari arah pos komando "Go-Istana" dengan wajah panik yang luar biasa.
"Y-Yang Mulia Kaisar! Yang Mulia Permaisuri!" pekik Kasim Wen dengan napas tersengal-sengal.
"Sistem papan tulis kita baru saja disabotase! Seseorang menuliskan pesan ancaman di seluruh pos koordinat menggunakan tinta darah! Pesannya berbunyi 'Naga Ruelle akan mati tersedak di hari festival gerhana bulan minggu depan'!"
Mata elang Kaivan langsung berkilat tajam memancarkan hawa membunuh yang luar biasa pekat, sementara Alara justru menyipitkan matanya dengan senyuman taktis yang membara.
'Wah, ada hacker kuno yang mau main-main sama sistem keamanan buatan gue ya? Sini maju! Mari kita aktifkan mode cyber-security versi Dinasti Ruelle!' batin Alara tertantang.
l---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪