"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Menahan Godaan
Keheningan malam merayap di dalam apartemen Savira saat jarinya menari di atas papan ketik komputer.
Cahaya putih kebiruan dari layar monitor membelah kegelapan ruangan sempit tersebut. Wajah pucat Savira terpantul kaku di atas kaca layar. Matanya menatap tajam deretan kode enkripsi yang bergerak cepat bagai air terjun digital.
Kipas angin kecil di sudut langit-langit berputar pelan. Bunyi derit besinya terdengar monoton, berbaur dengan ketukan tombol keyboard yang sangat ritmis dan tanpa henti.
Aaron Jayanegara berdiri diam bersandar pada bingkai pintu dapur yang catnya sudah mengelupas.
Pria raksasa itu telah meninggalkan jas basahnya di dalam mobil. Kemeja hitamnya melekat erat, mencetak sempurna otot dada dan lengannya yang tegang. Matanya yang segelap malam tidak pernah terlepas sedetik pun dari siluet Savira.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan sistem untuk menembus jaringan portal berita itu?" Suara bariton Aaron memecah kesunyian dengan sangat hati-hati.
Savira tidak mengalihkan pandangannya dari layar. Jemarinya terus mengetik tanpa keraguan.
"Tiga menit untuk menembus firewall pertama," jawab Savira datar. "Lalu lima menit tambahan untuk menanamkan fail bukti laboratorium ke dalam server utama mereka."
Aaron melipat kedua lengannya di depan dada. Pria itu mengamati punggung sempit gadis di hadapannya dengan perasaan campur aduk.
"Wijaya Dharma memiliki saham mayoritas di tujuh stasiun televisi nasional dan puluhan media digital ibukota." Aaron mengingatkan fakta tersebut dengan nada rendah.
"Saya tahu persis peta kendali media sosiopat itu," balas Savira cepat.
Gadis itu menekan tombol enter dengan sentakan keras. Sebuah bilah progres berwarna hijau muncul di tengah layar monitornya.
"Media arus utama akan langsung dibungkam oleh uang tutup mulut Wijaya dalam hitungan menit," lanjut Savira. "Mereka akan menyebut laporan laboratorium ini sebagai hoaks persaingan bisnis."
"Lalu siapa target penerimamu malam ini?" Aaron memiringkan kepalanya, mencoba membaca strategi mematikan dari jenderal perangnya.
"Portal jurnalisme investigasi independen," jawab Savira tajam. "Sebuah kelompok radikal yang tidak memiliki afiliasi korporat. Mereka hidup dari donasi publik dan sangat membenci hegemoni konglomerat sekelas Dharma Group."
Savira menarik napas panjang. Udara pengap apartemen murahan ini menekan dadanya, namun ia menolak menunjukkan rasa tidak nyaman di depan Aaron.
Tangan kiri Savira merogoh saku kardigannya. Ia mengeluarkan sebungkus permen stroberi, merobek plastiknya, lalu memasukkan permen itu ke dalam mulut.
Rasa manis buatan seketika meledak di lidahnya. Sensasi gula ini perlahan menekan lonjakan adrenalin yang sedari tadi membakar saraf-sarafnya.
Aaron menatap gerakan kecil itu lekat-lekat. Insting predatornya menangkap jangkar kemanusiaan yang sangat rapuh dari kebiasaan tersebut.
Di balik otak jenius yang mampu meruntuhkan kerajaan bisnis triliunan rupiah, Savira hanyalah seorang gadis yang menenangkan diri menggunakan permen murahan. Kontras yang luar biasa tajam ini memicu ledakan rasa gemas yang menyiksa di dalam dada Aaron.
Pria itu melangkah maju. Sol sepatu kulit mahalnya berketuk pelan di atas lantai vinil yang usang.
Aaron berhenti tepat di belakang kursi kayu yang diduduki Savira. Jarak mereka kini hanya terpaut satu jengkal.
Hawa panas dari tubuh kekar Aaron langsung menginvasi ruang pribadi Savira. Aroma seduhan kopi hitam dan pinus basah menekan sirkulasi udara di sekitar wajah gadis itu.
Savira menelan ludah dengan susah payah. Ujung kuku telunjuknya tanpa sadar mencengkeram tepi meja komputernya.
Aroma bunga melati yang sangat samar menguar membalas dari pori-pori leher Savira. Wangi organik itu menyapu wajah Aaron, membuat pria itu secara refleks menarik napas panjang dan berat.
"Kau tinggal di tempat kumuh ini sendirian," geram Aaron pelan. Suaranya bergetar hebat di atas puncak kepala Savira.
"Ini adalah titik buta," jawab Savira kaku. Ia memaksa matanya tetap menatap bilah progres di layar monitor. "Anjing pelacak Wijaya tidak akan pernah mencari putri penguasa Dharma di kawasan kumuh seperti ini."
"Keamanan gedung ini adalah lelucon, Savira." Aaron mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua telapak tangannya bertumpu pada sandaran kursi kayu Savira, mengurung gadis itu dalam barikade fisiknya.
Jantung Savira berdetak menyakitkan. Ruang geraknya terkunci total. Suhu panas dari dada Aaron menembus kain kardigannya, menciptakan letupan listrik statis yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Pindah ke menara apartemen pribadiku malam ini juga," tuntut Aaron dengan nada otoriter absolut.
Suara pria itu tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. Insting perlindungan Aaron mulai berevolusi menjadi rasa kepemilikan yang sangat posesif dan brutal.
"Aku memiliki satu lantai khusus dengan penjagaan biometrik berlapis militer." Aaron mendekatkan bibirnya ke telinga Savira. "Tidak akan ada satu pun manusia yang bisa menyentuhmu di sana."
Savira memutar kursinya secara tiba-tiba. Pergerakan agresif itu memaksa Aaron untuk menarik tubuhnya mundur setengah langkah.
Gadis itu mendongak, menatap langsung ke dalam manik kelam Aaron dengan sorot mata sedingin lautan es.
"Kita sudah membuat perjanjian yang sangat jelas tentang batasan kendali, Tuan Aaron." Savira mendesis tajam. Nyala kemarahan murni menolak untuk tunduk pada hegemoni fisik pria di hadapannya.
Napas Savira memburu. Ia sangat muak pada belenggu. Di kehidupan sebelumnya, ia membiarkan dirinya diatur dan disembunyikan demi mendapatkan validasi. Ia menolak mengulangi kesalahan berdarah yang sama.
"Saya bukan boneka porselen yang bisa Anda kurung di dalam sangkar emas," potong Savira tanpa ampun.
Otot rahang Aaron mengeras kaku. Buku-buku jari pria itu memutih saat ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh.
Aaron sangat ingin merengkuh gadis ini. Pria itu memiliki dorongan primitif untuk membungkus Savira, menyembunyikannya dari kekejaman dunia, dan melindunginya secara mutlak.
Namun, Aaron menahan insting liarnya dengan sekuat tenaga. Pria itu menatap mata kelam Savira yang menyala penuh perlawanan.
Aaron menyadari bahwa sangkar emas miliknya tidak ada bedanya dengan penjara psikologis yang dibangun oleh Wijaya Dharma. Jika ia memaksa, ia akan membunuh sisa kemerdekaan jiwa Savira secara perlahan.
"Aku mengerti," ucap Aaron parau. Pria itu mengalah, memilih mundur satu tindak, dan memberikan ruang bernapas yang sangat dibutuhkan oleh sekutunya.
Savira membuang muka, kembali menghadap layar komputernya. Ketegangan ekstrem di bahunya berangsur mengendur, meski keringat dingin masih membasahi telapak tangannya.
Tangan kanannya meraba saku kardigan. Ia menyentuh jepit rambut melati plastiknya yang patah. Tekstur kasar benda itu menambatkan logikanya agar tidak melayang terbang.
Layar monitor berbunyi dengan nada dering elektronik yang pendek.
Bilah progres berwarna hijau telah penuh sempurna. Dokumen bukti laboratorium yang berisi data racun mematikan kosmetik Dharma kini telah bersarang kuat di dalam server utama portal investigasi tersebut.
"Jaringan telah diamankan," lapor Savira datar. Ia menghapus sisa jejak ketegangannya dengan sangat rapi.
Savira menekan satu tombol terakhir di sudut papan ketiknya. Sebuah kotak dialog penjadwalan muncul di tengah layar.
"Saya mengatur waktu pengiriman otomatisnya," kata Savira. Jemarinya bergerak cepat memasukkan deretan angka. "Bukti ini akan meledak di seluruh kotak masuk redaksi mereka tepat pada pukul enam pagi."
Aaron menatap angka digital yang berkedip di layar tersebut. Pukul enam pagi. Tepat tiga jam sebelum Wijaya Dharma memotong pita peresmian di depan ratusan jurnalis dan investor.
Skenario penghancuran ini disusun dengan akurasi yang luar biasa kejam. Savira sengaja membiarkan ayahnya mendaki tangga kesombongan tertinggi, hanya untuk menendangnya jatuh tepat sebelum pria itu mencapai puncaknya.
Kepuasan gelap kembali menyala di dasar mata Aaron. Gadis di hadapannya ini benar-benar sebuah mahakarya dendam yang luar biasa indah dan mematikan.
"Tim siber independen itu tidak akan bisa menahan godaan sebesar ini," gumam Aaron pelan.
"Mereka akan langsung menerbitkannya tanpa filter," balas Savira dingin. "Mereka akan menjadikan Nadia sebagai wajah utama dari kejahatan korporat abad ini."
Gadis itu menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. Otot-ototnya terasa luar biasa lelah setelah bekerja melampaui batas kewarasan selama puluhan jam terakhir.
Aaron membalikkan badannya perlahan. Pria itu melangkah tenang menuju pintu keluar apartemen. Sol sepatunya tidak lagi mengeluarkan bunyi ketukan yang mengintimidasi.
Pria raksasa itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Kegelapan lorong luar membingkai postur tegapnya dengan sangat dramatis.
Aaron menatap punggung sempit Savira dari kejauhan. Keinginan posesifnya untuk memiliki gadis itu tidak padam, melainkan berakar semakin dalam dan tumbuh menjadi pelindung yang tak kasatmata.
"Tidurlah, Savira." Suara Aaron mengalun sangat berat menembus kesunyian apartemen.