NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:589
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Kawasan Singasana

Kawasan Singasana, di salah satu sudut pusat kota Megapura, selalu dikenal sebagai simbol kekuasaan dan kekayaan lama. Di salah satu sudut jalannya yang rindang oleh pepohonan mahoni raksasa—tepatnya di Jalan Widya Mulia—berdiri sebuah kediaman megah yang dikelilingi oleh pagar besi hitam setinggi tiga meter. Rumah bergaya kolonial modern itu dilapisi marmer putih, dengan taman luas yang terawat sempurna dan sebuah kolam renang besar di bagian belakangnya.

Ini adalah kediaman keluarga Wijaya. Sebuah istana yang dibangun di atas fondasi yang sangat kokoh—dan bagi Nathan, istana ini juga dibangun di atas genangan darah keluarganya.

Tepat pukul 06.30 pagi, Nathan sudah berdiri tegak di pos penjagaan depan Jalan Widya Mulia. Ia mengenakan setelan jas hitam baru yang diberikan oleh manajemen keamanan internal. Potongannya sangat pas, menonjolkan bahunya yang lebar dan posturnya yang tegap tanpa terlihat berlebihan. Sebuah earpiece spiral transparan terpasang di telinga kanannya, menghubungkannya langsung ke jaringan komunikasi internal kediaman.

"Ingat aturan mainnya, Nathan," bisik Hendra, Kepala Keamanan yang sedang melakukan inspeksi pagi. Wajah pria paruh baya itu masih tampak kaku, seolah belum sepenuhnya rela menyerahkan tugas perlindungan Clara kepada orang baru. "Tugasmu adalah Nona Clara. Dia adalah segalanya bagi Nyonya Elena. Jika seujung kuku Nona Clara terluka saat berada di bawah pengawasanmu, kamu tidak akan hanya dipecat, tapi kamu akan memastikan dirimu membusuk di penjara."

Nathan tidak mengedipkan mata. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan kosong. "Dimengerti, Pak."

"Bagus. Nona Clara biasanya keluar pukul tujuh lewat lima belas menit untuk pergi ke studionya di Kawasan Kenari. Mobil yang akan kamu gunakan adalah sedan mewah hitam di garasi nomor dua. Kunci dan koordinat GPS sudah dikirim ke ponselmu," lanjut Hendra sebelum berjalan pergi untuk memeriksa penjaga lain.

Begitu Hendra menjauh, Nathan mengembuskan napas perlahan. Matanya menyapu ke arah balkon lantai dua rumah utama di Jalan Widya Mulia itu. Di balik tirai tipis yang tertutup, ia bisa merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya.

Elena.

Nathan mengepalkan tangannya di dalam saku celana jasnya. Saraf-sarafnya menegang, menahan gelombang kemarahan yang tiba-tiba mendesak keluar dari dadanya. Lima belas tahun lalu, ibunya berteriak histeris sementara ayahnya mencoba menahan pintu yang didobrak oleh sekelompok pria bersenjata. Dan hari ini, anak dari korban pembantaian itu berdiri di halaman rumah sang otak kejahatan, bersiap menjadi anjing penjaga bagi putrinya.

Sabar, batin Nathan berbisik, menenangkan badai di dalam kepalanya. Hancurkan perlahan. Membuatnya mati seketika terlalu mudah untuk iblis sepertinya.

Pukul 07.10 pagi, pintu utama kediaman terbuka.

Clara Wijaya melangkah keluar dengan anggun. Hari ini ia mengenakan gaun kasual berwarna biru langit bermotif bunga kecil, dipadukan dengan flat shoes putih dan tas kanvas sederhana. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, bergerak lembut tertiup angin pagi. Ia membawa sebuah buku sketsa tebal di pelukannya. Wajahnya tampak segar, bebas dari riasan tebal yang biasa digunakan wanita-wanita kelas atas di sekeliling ibunya.

Nathan segera berjalan mendekat, mengambil posisi dua langkah di belakang dan di samping kanan Clara—posisi standar seorang pengawal melekat.

"Selamat pagi, Nona Clara," ucap Nathan dengan suara berat dan membungkuk hormat dengan sudut yang sangat presisi.

Clara sedikit tersentak, lalu menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. Sebuah senyuman manis dan tulus langsung mengembang di bibirnya. "Ah, selamat pagi, Nathan. Tolong jangan terlalu kaku seperti itu. Panggil saja Clara jika kita sedang tidak di depan Ibu atau Pak Hendra."

"Saya harus tetap menjaga profesionalisme, Nona," jawab Nathan tanpa ekspresi, suaranya tetap sedingin es. "Mobil sudah siap di depan lobi. Silakan."

Clara menghela napas kecil, sedikit kecewa karena tanggapannya yang ramah dibalas dengan dinding es yang begitu tebal. Namun, hal itu justru membuat rasa penasarannya semakin membuncah. Ia mengikuti langkah Nathan menuju mobil sedan mewah hitam yang sudah terparkir rapi dengan mesin yang sudah menyala hangat.

Nathan membukakan pintu belakang untuk Clara, memastikan satu tangannya melindungi bagian atas kepala gadis itu agar tidak terbentur pintu saat masuk—sebuah gerakan refleks yang sangat terlatih. Setelah memastikan Clara duduk dengan nyaman, Nathan menutup pintu dengan ketukan yang sangat halus, lalu berjalan cepat memutari mobil untuk mengambil posisi di balik kemudi.

Perjalanan menuju Kawasan Kenari dimulai menembus arus lalu lintas kota yang mulai padat oleh para pekerja kantoran.

Di dalam mobil yang kedap suara itu, keheningan sempat bertahan selama lima belas menit. Nathan fokus mengemudi, matanya terus berpindah secara teratur antara jalanan di depan, kaca spion tengah, dan spion samping kiri-kanan.

Clara, yang duduk di kursi belakang, terus memperhatikan pengawal barunya melalui pantulan kaca spion tengah. Ia melihat betapa stabilnya tangan Nathan di atas kemudi. Tidak ada gerakan tidak perlu. Tatapan mata Nathan begitu fokus, seolah-olah jalanan di depannya adalah zona pertempuran yang harus dilalui dengan kewaspadaan penuh.

"Nathan," Clara akhirnya memecah keheningan, memiringkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Ya, Nona?" jawab Nathan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

"Kamu... benar-benar tidak pernah tersenyum, ya?" tanya Clara dengan nada bercanda yang polos. "Kemarin di ring tanding, wajahmu seperti es. Pagi ini juga sama. Apa kamu tidak lelah mempertahankan ekspresi seperti itu sepanjang hari?"

"Tugas saya adalah mendeteksi ancaman dan melindungi Anda, Nona," jawab Nathan datar. "Tersenyum tidak ada dalam deskripsi pekerjaan saya."

Clara tertawa pelan, suara tawanya terdengar renyah seperti denting lonceng angin. "Kamu terdengar seperti robot yang diprogram oleh ibuku. Tapi... terima kasih untuk kemarin."

"Terima kasih?" Nathan melirik spion tengah sekilas.

"Ya. Untuk kemarin, saat melawan pria raksasa itu," Clara merapikan rambutnya yang jatuh ke pipi. "Aku sempat sangat takut kamu akan terluka parah. Tapi ternyata kamu hebat sekali. Gerakan bantingannya... bersih sekali, mirip seperti adegan di film-film aksi."

"Itu hanya keberuntungan, Nona. Saya hanya memanfaatkan berat tubuhnya yang terlalu besar," bohong Nathan dengan sangat fasih. Baginya, menyembunyikan kemampuan tempur yang sesungguhnya sudah menjadi bagian dari insting bertahan hidupnya selama belasan tahun.

"Tetap saja, itu hebat," gumam Clara lembut. Ia lalu menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung dan ruko yang mereka lewati. "Hari ini aku ada persiapan pameran lukisan di Galeri Seni Atrium Aksara di Kawasan Kenari. Mungkin akan memakan waktu sampai sore. Kamu... tidak keberatan menungguku seharian?"

"Saya dibayar untuk berada di mana pun Anda berada, Nona."

Clara tersenyum tipis mendengar jawaban mekanis itu. Meskipun Nathan sangat dingin, entah mengapa Clara merasakan rasa aman yang belum pernah ia rasakan dari pengawal-pengawal sebelumnya yang biasanya bertubuh besar namun tampak selalu tegang. Di dekat Nathan, atmosfer terasa tenang, seolah pria ini bisa mengendalikan situasi apa pun tanpa perlu bersuara keras.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama bagi indra tajam Nathan.

Saat mobil memasuki area Jalan Layang Cakrawala menuju Kawasan Kenari, Nathan mendeteksi sesuatu yang janggal melalui spion sampingnya. Sebuah mobil minibus hitam dengan pelat nomor yang sedikit kotor berjarak tiga mobil di belakang mereka.

Mobil itu sudah membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang kediaman di Jalan Widya Mulia. Setiap kali Nathan berpindah jalur untuk menguji, minibus itu ikut berpindah jalur beberapa saat kemudian, mencoba menyatu dengan kemacetan namun tetap menjaga jarak pantau yang konsisten.

Satu pengintai. Dua orang di dalam kabin depan. Kaca film sangat gelap, analisis Nathan dalam hitungan detik.

Nathan tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan. Kecepatan mobilnya tetap konstan, tangannya di atas kemudi tetap rileks, dan napasnya tetap teratur. Di kursi belakang, Clara masih asyik membuka-buka sketsanya, sama sekali tidak menyadari bahwa maut mungkin sedang mengintai mereka dari belakang.

"Nona Clara," suara Nathan terdengar tenang namun membawa otoritas yang tidak bisa dibantah. "Saya akan mengambil rute alternatif melewati jalan pintas di belakang rute utama. Jalannya mungkin akan sedikit bergelombang."

Clara mendongak dari buku sketsanya, tampak sedikit bingung. "Eh? Lewat jalan pintas? Kenapa? Bukankah lewat jalan utama lebih cepat?"

"Ada sedikit hambatan lalu lintas di depan, Nona. Saya ingin memastikan Anda tiba tepat waktu," jawab Nathan tenang, meski matanya melihat melalui spion bahwa minibus hitam itu mulai mempercepat lajunya untuk memotong jarak.

"Oh... baiklah," jawab Clara, kembali percaya sepenuhnya pada keputusan pengawalnya.

Nathan memutar kemudi dengan presisi tinggi, membelokkan sedan mewah itu ke sebuah gang perumahan yang cukup sempit di daerah belakang wilayah tersebut namun cukup untuk dilalui satu mobil mewah mereka. Begitu masuk ke dalam gang, Nathan langsung menekan pedal gas lebih dalam. Mobil melaju cepat menembus tikungan-tikungan sempit dengan kehalusan berkendara tingkat tinggi—sebuah teknik defensive driving taktis yang biasa digunakan untuk meloloskan VIP dari zona penyergapan.

Di belakang mereka, pengemudi minibus hitam itu tampak terkejut dengan manuver mendadak Nathan. Mereka mencoba mengejar, namun karena ukuran tubuh mobil mereka yang kurang lincah di tikungan sempit dan kemampuan mengemudi yang jauh di bawah standar Nathan, jarak mereka melebar dengan cepat.

Hanya dalam waktu tiga menit, Nathan berhasil mengocok rute dan sepenuhnya menghilangkan jejak minibus pengintai tersebut di labirin gang-gang pemukiman.

Ketika sedan mewah itu akhirnya keluar di halaman parkir Galeri Seni Atrium Aksara, Clara sama sekali tidak menyadari bahwa mereka baru saja terlibat dalam aksi kejar-kejaran taktis. Ia hanya merasa mobil bergerak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Wah, kita benar-benar sampai lebih cepat!" seru Clara dengan mata berbinar saat melihat arsitektur galeri seni yang sangat estetik di depannya. "Hebat sekali, Nathan. Kamu tahu jalan pintas yang sangat bagus."

"Hanya kebetulan saya pernah mempelajari peta area ini semalam, Nona," jawab Nathan dingin seraya turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara.

"Terima kasih," Clara turun dengan senyuman lebar. "Aku akan masuk ke dalam. Kamu bisa menunggu di lobi atau di kedai kopi area galeri jika merasa bosan."

"Saya akan berjaga di sekitar area luar dan memastikan keamanan perimeter, Nona. Silakan masuk," jawab Nathan.

Setelah Clara masuk ke dalam galeri seni bersama beberapa staf yang menyambutnya, ekspresi wajah Nathan langsung berubah drastis. Kelembutan profesionalnya menguap seketika, digantikan oleh ekspresi predator yang haus darah.

Ia berjalan ke sudut halaman parkir galeri yang sepi, menarik ponselnya, dan menekan satu tombol panggilan cepat.

"Rendra," ucap Nathan begitu panggilan tersambung. Suaranya sangat rendah, hampir berbisik namun membawa aura dingin yang mencekam.

"Ya, Bos? Ada apa?" suara Rendra di seberang telepon langsung berubah siaga.

"Ada tikus kecil yang membuntutiku sejak kediaman. Minibus hitam, pelat nomor B 1904 KFS. Pelatnya palsu. Mereka menggunakan pemancar frekuensi radio jarak pendek untuk melacak mobil ini." Nathan berhenti sejenak, matanya menyapu jalanan di depan galeri seni. "Mereka bukan profesional dari militer. Gerakan mereka terlalu kasar dan ceroboh."

"Harimau Hitam," jawab Rendra cepat setelah terdengar suara ketukan kibor di seberang sana. "Itu adalah sindikat tentara bayaran jalanan lokal yang sering disewa oleh para mafia tanah atau saingan bisnis di kota ini. Tampaknya ada seseorang yang ingin memberikan peringatan kepada Elena dengan menargetkan putrinya hari ini."

"Di mana posisi mereka sekarang?" tanya Nathan dingin.

"GPS pemancar mereka menunjukkan mereka sedang berputar-putar di sekitar area jalan utama, mencoba mencari mobilmu yang tiba-tiba hilang dari radar mereka."

Sudut bibir Nathan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mengerikan—sebuah senyuman yang jika dilihat oleh musuhnya, akan membuat mereka tahu bahwa ajal mereka sudah dekat.

"Biarkan mereka menemukanku," ucap Nathan lirih. "Aku butuh beberapa informasi tambahan tentang siapa yang menyewa mereka... dan aku juga butuh sedikit hiburan pagi."

"Bos... ingat, jangan membuat keributan besar di area publik," Rendra mengingatkan dengan nada cemas. "Identitasmu bisa terancam."

"Aku tahu cara membersihkan sampah tanpa meninggalkan bau, Rendra," jawab Nathan dingin sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Nathan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Ia merapikan lipatan lengan jasnya, memastikan pisau lipat taktis kecil yang tersembunyi di balik pergelangan tangan kirinya berada di posisi yang mudah dijangkau. Dengan langkah santai namun pasti, ia berjalan menuju area parkir bagian belakang galeri yang sepi dan remang-remang, bersiap menyambut mangsanya yang sebentar lagi akan datang mengantarkan nyawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!