Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Orang yang Tak Ingin Kebenaran Terungkap
Hujan masih turun ketika Nara tiba di depan rumahnya.
Damar memegang payung sedikit lebih tinggi agar wanita itu tidak terkena air hujan.
Meski begitu, sebagian bahunya tetap basah.
Nara menyadarinya.
"Bahumu basah."
ucapnya pelan.
Damar melirik sekilas.
"Lalu?"
"Kamu bisa sakit."
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajah Damar.
"Kau mengkhawatirkanku?"
Pertanyaan itu membuat Nara langsung salah tingkah.
"Tidak."
jawabnya cepat.
"Terlambat."
balas Damar.
"Aku sudah mendengarnya."
---
Nara memutar mata.
Namun tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.
Sudah lama sekali ia tidak merasa setenang ini.
Padahal masalah yang sedang mereka hadapi jauh dari kata selesai.
---
"Terima kasih sudah mengantarku."
ucap Nara.
Damar mengangguk.
"Lihat surat itu baik-baik."
Nara langsung memahami maksudnya.
Surat milik ayahnya.
Surat yang ditemukan di arsip keluarga Wijaya.
---
"Aku akan memeriksanya lagi."
jawab Nara.
---
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Lalu Damar berkata,
"Kalau menemukan sesuatu, beri tahu aku."
---
Nara mengangguk.
---
Setelah Damar pergi, ia masuk ke dalam rumah.
Namun firasat aneh kembali muncul.
Perasaan seperti sedang diawasi.
---
Nara berhenti di depan jendela.
Memandang keluar.
Jalanan terlihat sepi.
Hanya ada lampu jalan dan hujan yang terus turun.
Tidak ada siapa-siapa.
---
"Mungkin aku terlalu lelah."
gumamnya.
---
Ia tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, sebuah mobil hitam memang sempat berhenti tidak jauh dari rumahnya.
Dan seseorang sedang memperhatikannya dari balik kaca gelap.
---
Keesokan paginya.
Nara datang ke kantor lebih awal.
---
Ia membawa salinan surat yang sudah dibacanya berulang kali semalaman.
Semakin dipelajari, semakin banyak hal yang terasa janggal.
---
Terutama satu kalimat.
> Mereka mulai bergerak lebih cepat dari yang kita duga.
---
Siapa mereka?
---
Kalimat itu terus menghantuinya.
---
"Nara."
Suara Siska membuatnya tersentak.
---
"Kamu datang jam berapa?"
tanya Siska.
---
"Lebih pagi sedikit."
---
"Sekarang baru jam tujuh."
---
"Ya."
---
Siska menyipitkan mata.
"Kamu sedang menyelidiki sesuatu."
---
Nara hampir tersedak.
---
"Kenapa berpikir begitu?"
---
"Karena wajahmu sama seperti detektif di drama kriminal."
---
Nara langsung tertawa.
Kadang insting sahabatnya terlalu tajam.
---
Di lantai atas.
Damar juga sedang memeriksa dokumen lama.
---
Meja kerjanya penuh dengan arsip.
Foto.
Laporan.
Dan catatan milik ayahnya.
---
Semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa ada bagian sejarah keluarga yang tidak pernah diceritakan kepadanya.
---
Tok.
Tok.
Tok.
---
"Masuk."
---
Raka masuk sambil membawa kopi.
Namun begitu melihat meja kerja Damar, ia langsung menghela napas.
---
"Wah."
---
"Apa?"
---
"Kamu benar-benar sedang menjadi detektif."
---
Damar mengabaikannya.
---
Raka mengambil satu dokumen.
Lalu membaca sekilas.
---
"Kamu serius soal ini?"
---
Damar mengangguk.
---
"Aku harus tahu kebenarannya."
---
Raka menatap sahabatnya beberapa saat.
Kemudian berkata,
"Karena Nara?"
---
Damar terdiam.
---
Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban.
---
Raka tersenyum tipis.
---
"Sudah kuduga."
---
Sementara itu.
Di ruangan lain.
Bianca sedang menerima telepon.
---
Wajahnya terlihat tidak senang.
---
"Apa maksudmu tidak menemukan apa-apa?"
bentaknya.
---
Orang di seberang telepon mengatakan sesuatu.
---
Ekspresi Bianca semakin buruk.
---
"Terus cari."
ucapnya.
"Lalu laporkan semuanya kepadaku."
---
Panggilan berakhir.
---
Bianca melempar ponselnya ke meja.
---
Semua mulai lepas dari kendalinya.
---
Damar semakin dekat dengan Nara.
Adrian terus muncul.
Dan kini ada sesuatu yang jelas-jelas sedang mereka sembunyikan.
---
"Aku harus tahu."
gumamnya.
---
Siang hari.
Nara menerima pesan dari Adrian.
---
> Temui aku jam enam sore.
Ada perkembangan baru.
---
Jantung Nara langsung berdetak lebih cepat.
---
Perkembangan baru.
Berarti Adrian menemukan sesuatu.
---
Dan ternyata firasatnya benar.
---
Sore itu, ketika mereka bertemu di kantor pribadi Adrian, pria tersebut langsung menunjukkan sebuah berkas.
---
"Aku berhasil menemukan nama orang yang pertama kali mengubah laporan kasus ayahmu."
ucap Adrian.
---
Nara langsung duduk tegak.
---
"Siapa?"
---
Adrian tidak langsung menjawab.
---
Ia mendorong satu lembar dokumen ke hadapan Nara.
---
Mata Nara membesar.
---
Karena nama yang tertulis di sana sangat asing.
---
Bukan Nugroho Wijaya.
Bukan siapa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
---
"Siapa dia?"
tanya Nara.
---
"Seorang mantan pejabat."
jawab Adrian.
---
"Dan dia meninggal lima tahun lalu."
---
Nara mengernyit.
---
"Kalau dia sudah meninggal, berarti kasusnya selesai?"
---
Adrian menggeleng.
---
"Justru sebaliknya."
---
Pria itu membuka dokumen lain.
---
"Karena seseorang membayar pria ini untuk mengubah laporan."
---
Tubuh Nara menegang.
---
"Siapa?"
---
Adrian menatapnya serius.
---
"Itulah yang sedang kucari."
---
Keheningan memenuhi ruangan.
---
Namun sebelum pembicaraan berlanjut, ponsel Adrian tiba-tiba berdering.
---
Pria itu melihat layar.
Lalu wajahnya berubah.
---
"Siapa?"
tanya Nara.
---
Adrian tidak menjawab.
Ia langsung mengangkat telepon.
---
"Halo?"
---
Beberapa detik kemudian.
Ekspresinya membeku.
---
"Apa?"
---
Nara langsung berdiri.
---
"Ada apa?"
---
Adrian perlahan menurunkan ponselnya.
---
Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
---
"Arsip lama yang sedang kami selidiki."
---
"Kenapa?"
---
"Terbakar."
---
Jantung Nara terasa jatuh.
---
"Apa?"
---
"Gudang penyimpanannya terbakar satu jam yang lalu."
---
Ruangan langsung sunyi.
---
Karena mereka sama-sama memahami arti kabar itu.
---
Itu bukan kebetulan.
---
Seseorang sedang menghapus jejak.
---
Dan orang itu mulai panik.
---
Di tempat lain.
Damar baru saja keluar dari kantor ketika ponselnya bergetar.
---
Pesan anonim masuk.
---
Hanya berisi satu kalimat.
---
> Berhenti mencari tahu masa lalu ayahmu jika tidak ingin kehilangan orang yang kau sayangi.
---
Tatapan Damar langsung berubah dingin.
---
Karena untuk pertama kalinya...
Ancaman itu tidak ditujukan kepadanya.
---
Melainkan kepada Nara.
---
Dan siapa pun yang mengirim pesan itu baru saja membuat kesalahan besar.
---
Karena Damar tidak pernah mundur ketika seseorang mencoba mengancam orang yang ingin ia lindungi.
Bersambung ke Bab 26