NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Pertama di Banten

Author pernah dengar pepatah, "Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga." Bedanya, kalau yang ini bukan tupai... tapi dukun santet. Dan biasanya, yang bikin mereka jatuh justru keserakahan mereka sendiri. 😌

Sore menjelang malam selalu menjadi waktu yang aneh.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah pergantian siang menuju malam.

Namun bagi sebagian lainnya...

itulah saat ketika sesuatu yang selama ini bersembunyi mulai keluar dari tempatnya.

Aku dan Lukman masih bertahan di gubuk kecil milik petani.

Dari balik rumpun bambu itu, rumah Sagim terlihat cukup jelas.

Rumah panggung sederhana.

Dinding papan yang mulai lapuk.

Atap seng berkarat.

Tak ada pagar.

Tak ada tanaman hias.

Hanya halaman tanah merah yang dipenuhi ilalang pendek.

Kalau bukan karena semua petunjuk yang kami kumpulkan sejak dari Jakarta...

aku tak akan pernah percaya bahwa rumah sesederhana itu menyimpan seseorang yang diduga menjadi penyebab kematian Amira.

"Kang..."

Lukman memecah keheningan.

"Iya?"

"Njenengan sadar gak?"

"Apa?"

"Sejak tadi..."

"...gak ada anak kecil yang main di depan rumah itu."

Aku memperhatikan lagi.

Benar juga.

Padahal sepanjang perjalanan masuk kampung tadi, beberapa kali kami melihat anak-anak berlarian di jalan.

Namun anehnya...

tak satu pun terlihat mendekati rumah Sagim.

Bahkan ayam-ayam kampung yang berkeliaran pun seperti menghindari halaman rumah itu.

Entah hanya perasaanku...

atau memang ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa berbeda.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

Lelaki tua yang tadi kami lihat keluar sambil membawa ember plastik.

Ia berjalan menuju sumur di samping rumah.

Gerakannya pelan.

Tenang.

Tak ada yang mencurigakan.

Ia menimba air, membasuh wajah, lalu duduk di bangku kayu yang menghadap ke jalan.

Beberapa kali warga melintas.

Namun tidak satu pun menyapanya.

Begitu pula Sagim.

Ia hanya duduk diam.

Tatapannya kosong.

Seolah sedang menunggu seseorang.

"Aneh..."

gumamku.

"Apa?"

"Orang segini lamanya duduk sendirian."

Lukman ikut memperhatikan.

"Lihat matanya."

Aku menyipitkan pandangan.

Meski jaraknya cukup jauh...

aku merasa tatapan lelaki tua itu sama sekali tidak mengarah ke jalan.

Melainkan...

ke arah kebun tempat kami bersembunyi.

Dadaku mendadak terasa sesak.

"Apa dia lihat kita?"

Lukman tidak menjawab.

Namun wajahnya mulai menegang.

Menjelang azan Magrib, suasana kampung berubah cepat.

Pintu-pintu rumah mulai ditutup.

Suara televisi terdengar dari dalam rumah warga.

Beberapa lelaki berjalan menuju musala kecil di ujung kampung.

Sementara rumah Sagim...

tetap sunyi.

Tak lama kemudian, lelaki tua itu berdiri.

Ia mengambil embernya.

Lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Pintu ditutup perlahan.

"Itu aja?"

bisikku.

Lukman menggeleng.

"Belum."

"Menurutku..."

"...dia tahu kita ada di sini."

Aku mengembuskan napas panjang.

"Kalau tahu, kenapa gak keluar?"

"Itu yang bikin aku khawatir."

Langit mulai gelap.

Aku melirik jam tangan.

Hampir pukul enam.

"Kita balik ke losmen."

kataku.

"Besok kita datang lagi."

Lukman tidak bergerak.

Tatapannya justru mengarah ke rumpun bambu di belakang kami.

"Kang..."

"Ssst..."

Aku ikut terdiam.

Awalnya hanya terdengar suara angin.

Lalu...

kresak...

Seperti ada orang menginjak daun-daun kering.

Aku menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa.

Mungkin biawak.

Atau kambing.

Aku mencoba menenangkan diri.

Namun beberapa detik kemudian...

kresak...

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih dekat.

Lukman perlahan berdiri.

Tangannya menggenggam lenganku.

"Jangan lari."

bisiknya.

"Kenapa?"

"Kalau memang orang..."

"...dia pasti muncul."

"Kalau bukan..."

Kalimatnya berhenti.

Aku tidak berani meneruskannya.

Kami menunggu.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Tak ada apa-apa.

Aku mulai menghela napas lega.

Tepat saat hendak melangkah pergi...

angin dingin mendadak menerpa wajahku.

Bersamaan dengan itu...

tercium bau yang sangat kukenal.

Bau bunga melati.

Dicampur tanah basah.

Persis seperti bau yang memenuhi rumah ketika Amira jatuh sakit dulu.

Dadaku langsung berdegup keras.

Aku menoleh ke Lukman.

Wajahnya sudah pucat.

"Bau itu..."

gumamku.

Lukman mengangguk pelan.

"Iya."

"Aku juga nyium."

Belum sempat kami bergerak...

dari arah rumah Sagim terdengar suara pintu kayu dibuka perlahan.

Kreeeek...

Kami spontan menoleh.

Pintu rumah itu terbuka.

Namun...

tak ada seorang pun yang keluar.

Hanya ruang gelap di balik pintu.

Beberapa saat kemudian...

pintu itu kembali menutup sendiri.

Perlahan.

Tanpa ada tangan yang terlihat mendorongnya.

Aku merasakan tengkukku mulai dingin.

Lukman menarik lenganku.

"Kang..."

"Kita pulang."

"Kita udah dikasih tahu."

"Dikasih tahu apa?"

Lukman menelan ludah.

"Kalau..."

"...kedatangan kita sudah diketahui."

Aku tak lagi membantah.

Kami berjalan meninggalkan kebun itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Namun sepanjang perjalanan kembali menuju jalan kampung...

aku terus merasakan satu hal.

Ada sepasang mata...

yang sejak tadi mengawasi setiap langkah kami.

Dan entah mengapa...

aku yakin...

pemilik tatapan itu bukan warga kampung.

(Bersambung)

1
cici cici
ini cerita nya maap ya thor.. si amira idup lagi?? kan tadi udah di kubur?? berbelit sih..tapi aku penasaran 🙏
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!