(Khusus Dewasa 21+)
Antonio seorang pria dingin dan kejam yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran yang akan selalu menghabisi lawannya dengan kejam.
Kecintaannya kepada senjata dan pekerjaannya membuat Antonio tidak pernah mengenal cinta.
Suatu hari dia bertemu dengan Wanita yang mampu menggetarkan hatinya, hati seorang pria tampan yang terkenal berdarah dingin.
Tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana.
Apakah dia harus memilih wanita itu dan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya?
Atau dia akan melupakan wanita yang telah mencuri hatinya demi pekerjaannya?
Atau ada kemungkinan lain yang terjadi?
Kategori: Dewasa (21+)
Genre: Action, Romance, Petualangan, Fantasi
Setting: Indonesia
Alur: Maju-Mundur
Status: On-going
Ilustrasi Tokoh: Berdasarkan pendalaman karakter
Cover by Dva Official
copyright2020, Pengembara Elite
#mafia #action #romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengembara Elite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rank 1 Tipe Strategi
Di sebuah ruangan di markas kepolisian terlihat Sean sedang mengotak-atik laptopnya, dia tampak serius membaca tulisan yang terpampang di layar.
Tiba-tiba Dani datang mengagetkannya,
"Ayo cepat! Baru saja ada kecelakaan di jalur alternatif," ujar Dani pada Sean.
"Kecelakaan?! Kenapa kita dipanggil?! Harusnya tugas polisi lalu lintas itu," Sean bertanya sedikit keheranan.
"Mereka bilang ada yang harus diselidiki. Makanya, mereka memanggil kita," Dani menjelaskan.
"Ayo cepat kita bergegas!" tambahnya sambil melangkah keluar.
"Hmm," Sean hanya bisa menghela nafas lalu mengikuti Dani.
Sesampainya di lokasi kejadian mereka berdua tampak melihat keadaan sekitar.
"Ada yang aneh," gumam Dani.
"Kenapa bisa ada oli melumuri jalan ini?!?" tambahnya.
"Mungkin saja ada mobil yang tutup olinya terbuka hingga membasahi jalanan," jawab Sean datar.
"Hmm," Dani menghela nafas pendek.
Terlihat dua orang polisi menghampiri dan menyalami mereka.
"Selamat sore pak! Apa yang terjadi?" tanya Dani kepada salah seorang polisi itu.
"Sepertinya ini murni kecelakaan. Mungkin saja ada mobil yang penutup olinya terbuka, terlihat tumpahan oli memang cukup jauh. Tepat di sebelah sana sepertinya mereka menyadari lalu memperbaikinya," jawab salah seorang polisi menjelaskan seraya menunjuk pada salah satu sisi jalan raya.
"Bukankah jalan ini jarang dilewati?" Sean ikut bertanya.
"Benar, tapi setelah selesai kampanye tadi jalanan menjadi macet. Kendaraan banyak yang ingin lewat sini, namun kami tutup mengingat baru saja telah terjadi kecelakaan," polisi itu menjelaskan lagi.
"Jika ini murni kecelakaan, mengapa bapak memanggil kami yang merupakan detektif?" tanya Dani lagi.
"Pada awalnya kami mengira ada rencana pembunuhan, namun setelah diselidiki ternyata memang ini murni kecelakaan," jawab polisi itu.
"Kami mohon maaf telah mengganggu tugas bapak-bapak ini, silakan bapak kembali bertugas! Sisanya biar kami, selaku polisi lalu lintas yang akan mengurus," tambahnya lagi.
"Hmm ...." Dani menghela nafas.
"Baiklah! Kami kembali ke kantor, terimakasih," jawab Dani singkat.
Mereka lalu bersalaman, setelah itu Dani dan Sean bergegas kembali ke kantor menggunakan mobilnya.
"Seharusnya mereka menyelidikinya terlebih dahulu, jika memang ada keganjilan baru memanggil kita," ucap Sean menggerutu.
"Entahlah, aku rasa pekerjaan itu tidak perlu campur tangan kita. Mereka sudah pasti bisa melakukannya," sahut Dani.
"Kita terjebak macet lagi, sialan!" umpat Sean.
Dani yang menyetir hanya diam saja, tak berkata apapun.
***
Pedro dan Antonio terlihat sedang berjalan-jalan di sekitar Monas, mereka tampak asyik melihat-lihat keadaan sekitar yang terlihat cukup ramai. Pakaian mereka tidak terlalu mencolok, hanya menggunakan pakaian biasa agar terlihat membaur dengan masyarakat.
"Aku tak menyangka ternyata Indonesia seindah ini, pantas saja mereka memilih Indonesia sebagai tempat pelarian," ucap Antonio.
"Aku yakin Pablo dan anggotanya juga disini, namun kita belum menemukan jejaknya," ujar Pedro.
"Aku kira orang yang menyerang kita saat di diskotik dulu adalah anggota Black Shadow, ternyata mereka hanya preman jalanan biasa," tambahnya.
"Aku pernah bertemu dengan mereka," Antonio berkata pelan.
"Apa?!?" Pedro tersentak.
"Iya, saat aku tengah memeriksa situasi di sekitar Bavaria Restaurant tepat di pagi hari sebelum kejadian. Dan aku berhadapan dengannya," jawab Antonio santai.
"Hmm," Pedro bergumam pelan.
"Tampaknya mereka mulai bergerak, kau harus berhati-hati!" ucap Pedro sambil mempercepat langkah.
"Iya aku paham," ujar Antonio santai.
Mereka pun menaiki mobilnya dan bergegas meninggalkan tugu monas yang perlahan mulai dipadati masyarakat sekitar.
"Hai Ferguso!" sapa Antonio pada salah satu pelayan cafe milik Pedro.
"Oh, hai Antonio! Lama tak jumpa!" Ferguso balas menyapa sambil tangannya mengelap meja.
"Dia baru saja masuk, setelah cuti satu bulan," sahut Pedro.
"Iya, aku rindu kampung halamanku. Maka dari itu aku cuti sebentar hanya untuk sekedar mengobati kerinduan," ujar Ferguso lirih.
"Hahaha, apakah satu bulan sudah cukup?" tanya Pedro pada Ferguso.
"Bolehkah aku mengambil cuti lagi, mungkin lebih lama dari sebelumnya?" Ferguso balik bertanya.
"Hohoho, tidak semudah itu Ferguso," Pedro menjawab sambil tersenyum dan menggoyang-goyang jari telunjuknya.
"Hmm ...." Ferguso menunduk dan menghela nafas panjang.
"Hahahaha," Antonio dan Pedro pun tertawa melihat tingkah polos Ferguso.
"Dia anak yang baik, rajin, dan tekun dalam bekerja. Maka dari itu, ia sangat dibutuhkan disini," ujar Pedro sambil melangkah ke ruangannya bersama Antonio.
"Apa ada case baru dari asosiasi?" tanya Antonio mengalihkan pembicaraan.
"Hmm ...." Pedro menghela nafas sambil duduk di kursinya diikuti Antonio yang duduk di kursi hadapannya.
"Sejauh ini belum ada, mungkin banyak diselesaikan oleh anggota yang lain," jawab Pedro.
"Ada anggota asosiasi juga disini? Selain kita?" tanya Antonio setengah terkejut.
"Menurut informasi yang aku dapatkan, ada beberapa orang yang mereka kirim kesini. Namun kau tau sendiri, asosiasi sangat tertutup masalah misi dan keanggotaan. Aku tak tahu siapa saja yang ada disini selain kita," Pedro menjelaskan.
"Oiya, bagaimana kau tahu yang menghadangmu waktu itu adalah Black Shadow?" tanya Pedro dengan tatapan tajam.
Antonio seperti terkaget, lalu ia meraba saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu.
"Ini! Bukankah ini lencana keanggotaan Black Shadow?" ujar Antonio seraya menunjukan lencana itu pada Pedro.
Pedro lalu meraihnya dan memperhatikan lencana itu dengan seksama.
"Sepertinya tipuan, lambang Black Shadow memang seperti ini. Namun, mereka tidak menggunakan lencana keanggotaan," Pedro menjelaskan.
"Maksudnya?!?" Antonio bertanya tak mengerti.
"Sepertinya ini hanya pengalihan agar terlihat seolah-olah mereka telah bergerak di sekitar kita, padahal mereka ada di sudut lain. Aku paham cara kerja mereka," Pedro menjelaskan lagi.
"Iya aku berpikir seperti itu, tidak mungin organisasi semacam itu bergerak secara terbuka. Apalagi mereka terang-terangan menyerangku waktu itu," Antonio berkata lirih.
"Lalu, dari mana dia tau namaku?" Antonio berkata dengan menatap tajam Pedro.
"Hmm ... aku rasa mereka memang membayar preman jalanan dan memancingmu keluar," ucap Pedro.
"Apa ada yang melihatmu saat itu?" tanyanya pada Antonio yang tengah terdiam berpikir.
"Aku rasa tak ada, hanya aku dan dia," jawab Antonio santai.
"Kau itu selalu saja ceroboh!" ucap Pedro sambil menepuk jidat.
"Harusnya kau liat keadaan sekitar, aku yakin mereka mengawasimu saat itu. Dan tujuan mereka hanya memastikan kehadiranmu disini," Pedro menjawab dengan tatapan tajam.
"Bagaimana kau paham rencana mereka?" tanya Antonio heran.
"Perlu kau ketahui Antonio, aku adalah ahli strategi terbaik nomor dua di asosiasi," Pedro menjawab.
"Nomor dua?!" Antonio bertanya sambil mengerutkan dahinya.
"Iya, kau tau siapa nomor satunya? Atau yang berada di rank atas ahli strategi saat itu?" Pedro mencoba bertanya.
"Siapa? Aku tak tahu, sejauh ini kaulah yang terbaik. Karena kau adalah partner ayah," Antonio mencoba menerka.
"Memang, ayahmu ada di rank nomor satu tipe eksekusi di asosiasi. Tapi ahli strategi nomor satu bukanlah diriku, melainkan Pablo Martinez!" ujar Pedro menegaskan.
Antonio terkejut mendengar hal itu, ia tidak menyangka bahwa orang yg mengkhianati asosiasi adalah ahli strategi terbaik asosiasi. Bahkan sekarang ia membentuk organisasi Black Shadow.
"Bisa kau ceritakan bagaimana kisahmu dan ayah saat masih bertugas?" tanya Antonio penuh antusias.
"Hmm ...." Pedro menghelas nafas panjang.
"Tentu saja!" jawabnya singkat.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
semoga ceritanya bikin betah so
dari awal dah menarik.
sepertinya novel ini menarik.. 😎
lanjut aah..
ya kaaan...? 😎
aku boleh mampir ya..