Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 6
"Ketika aku telah mengetahui siapa pengkhianat itu, aku berjanji akan membuatnya menderita sebelum kematian!" Rivaldo kembali menekankan kalimatnya. Ia sangat emosi ketika mengetahui bahwa gudang senjata yang selalu diawasi dua kali dua puluh empat jam ini, mengalami perampokkan yang memalukan seperti ini. Mau diletak di mana mukanya?
Tidak lama Rivaldo berbicara, sosok orang yang dicurigakan oleh Rivaldo dan Nathan tiba-tiba ambruk di hadapan mereka. Orang itu tidak lain adalah Jep. Sang mantan orang kepercayaannya dahulu, sebelum bertemu dengan Nathan. Kehadiran Nathan membuat Jep menjadi seorang penjaga gudang senjata, ia tak lagi menjadi orang kepercayaan Rivaldo.
"Nathan, bawa dia ke sebuah ruang penyekapan yang ada di belakang, kita akan mengintrogasikan pria ini!" perintah Rivaldo pada Nathan dengan tegas. Banyak pasang mata yang menatap Jep dibawa pergi oleh Boss mereka.
Mereka semua tidak menyangka bahwa Jep pelaku utamanya. Banyak orang yang tidak pernah menyangka jika Jep berani melakukan hal memalukan ini. Jep terlalu salah pilih lawan untuk dijatuhkan karena sama saja, dia telah membangunkan Singa yang lapar.
Dengan langkah kaki yang gagah, kedua pria itu masuk ke dalam ruang penyekapan, Nathan mengikat Jep di sebuah kursi tahanan di hadapan mereka.
"Bangunkan dia!" Rivaldo memerintahkan Nathan agar membangunkan pria yang tidak sadarkan diri itu.
"Baiklah, Boss. Aku akan membangunkannya untukmu." sahut Nathan pelan, sambil mengikat pria itu di kursi tahanan.
PLAK!
BRAKK!
PLAK!
Nathan melayangkan tangannya menampar dengan kuat kedua pipi pria itu hingga tersadar. Darah segar keluar dari sudut bibir pria itu, perlahan, matanya mulai membuka. Terlihat, dua pria di hadapannya menatap dengan tatapan mematikan.
Rivaldo yang telah melihat bahwa Jep telah sadarkan diripun berjalan mendekatinya.
"Jep, apakah dirimu pelakunya? Jujur padaku!" tanya Rivaldo sambil menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Maafkan aku, Boss. Tapi bukan aku pelakunya," kata Jep dengan jujur, pria itu berkata dengan seadanya.
"Jangan pernah membohongiku, Jep. Aku bukanlah orang yang mudah untuk kau bohongi!" tukas Rivaldo sambil menggertakan giginya menatap Jep yang kini tengah menunduk.
"Bersumpah demi apapun, aku tidak pernah bisa membohongimu, Boss. Apa dirimu pernah menyaksikan aku membohongimu? Selama aku menjadi orang kepercayaan yang telah menjadi tangan kananmu dahulu?" Jep mengeluarkan suaranya bertanya dengan gemetir. Tutur katanya yang lembut membuat Rivaldo teringat akan kenangan lamanya bersama dengan Jep. Bagaimana dirinya kepada Jep. dan masa kecilnya bersama dengan Jep.
Di taman kanak-kanak.
Banyak anak kecil yang bermain di area permainan. Tidak banyak pula, anak kecil yang selalu diawasi oleh orang tuanya.
"Jep, aku membawakanmu roti, ayo kita makan!" pinta Rivaldo sambil berlari kecil menghampiri Jep yang tengah duduk di bawah ayunan besi.
"Kamu kenapa ke sini? Nanti Mama kamu marah," balas Jep sambil menatap Rivaldo yang kini tengah berjongkok di hadapannya dengan memegangi roti di tangannya.
"Jep, aku membawakanmu makanan. Aku tidak ingin, sahabatku kelaparan, makanlah bersama denganku, Jep!" pinta Rivaldo sambil memberikan sepotong roti itu kepada Jep.
"Nanti kalau Mama kamu tahu, kamu bisa dimarahi. Aku gak mau makan, aku sudah tidak lapar, Ibu memasakkan aku nasi goreng tadi pagi, sebelum berangkat," tolak Jep dengan lembut. Ia tahu betul bagaimana sikap Mama Rivaldo, ia tidak ingin membuat pria itu dimarahi oleh Mamanya.
"Kamu itu sahabatku, Mamaku tidak akan tahu, karena Mama tidak akan menjemputku hari ini. Kita bisa bermain sepuasnya hari ini, aku menyayangimu, Jep. Tetaplah menjadi sahabatku sampai dewasa nanti." kata Rivaldo sambil memeluk Jep yang ada di hadapannya.
Tidak lama berpelukan, seorang wanita datang langsung menarik paksa anak lelakinya.
"Mama, 'kan, sudah katakan! Jangan pernah bermain dengan anak miskin ini, Rivaldo! Kenapa kamu masih tidak ingin mendengarkan apa yang Mama katakan!" Wanita itu berkata dengan marah dan menghina Jep yang ada di hadapannya.
"Dan kamu! Jangan pernah bermain dengan anak saya, karena kamu tidak sebanding dengan putra saya! Kamu mengerti!" ucapnya sambil memarahi Jep yang menunduk menahan air matanya.
"Nak ... Jep ... Ya ampun, kamu gak kenapa-kenapa, 'kan, Sayang?" ucap seorang wanita yang belari langsung memeluk Jep dengan erat.
"Hei, kamu! Jaga anak kamu, jangan pernah mendekati anak saya, karena kamu dan saya. Tidak akan pernah bisa sebanding!" tutur kata wanita itu membuat hati Ibu Jep menjadi sedih.
Rivaldo yang melihat Mamanya memarahi Jep pun merasa kasihan, ia segera mengajak Mamanya untuk segera pulang ke rumah mereka. Ia ditarik paksa oleh Mamanya dan pulang. Ia melihat ke arah belakang untuk melihat Jep dan Ibunya. Rasa kasihan pun muncul di hati kecilnya.
Semenjak kejadian itu, Rivaldo selalu merasa bersalah kepada Jep. Apapun tidak akan pernah bisa membalas rasa bersalah Mamanya kepada Jep dan Ibunya.
Apakah perbedaan kasta itu terlalu penting di dalam kehidupan? Rasanya tidak.
Rivaldo tersadar dari lamunannya. Bayang masa lalu membuat hati kecilnya memberontak mengingat kesalahan Mamanya yang menghina Jep dengan hinaan yang begitu sakit di hati Ibunya.
"Lepaskan dia, Nathan!" pinta Rivaldo langsung mengalihkan pandangannya dari Jep. Ia tidak ingin menatap wajah pria itu, rasa bersalah kembali menghantuinya.
Nathan melepaskan ikatan itu dengan cepat. Jep menghapus bekas darah yang ada di sudut bibirnya akibat tamparan yang begitu keras mengenai pipinya.
"Apakah kamu lupa akan kenangan kita dahulu, Boss? Aku rasa, kamu tidak akan pernah melupakan kisah masa lalu kita yang manis itu, akan sangat disayangkan jika itu terlupakan." Jep berkata sambil tersenyum menatap punggung pria itu.
"Nathan, tinggalkan aku dan Jep berdua saja di sini, aku ingin berbicara padanya!" pinta Rivaldo dengan serius sambil membelakangi Nathan dan Jep.
Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengangguk dan keluar dari ruang penyekapan itu.
Hanya tersisa Jep dan Rivaldo di dalam ruangan itu. Jep menghampiri Rivaldo dan menepuk pundak pria itu dengan pelan.
"Aku percaya padamu, bahwa dirimu tidak akan mungkin melupakan kisah indah masa lalu kita, Valdo."
"Maafkan aku, Jep. Maafkan aku, maafkan aku, Jep."
Rivaldo membalikkan tubuhnya langsung memeluk Jep dengan erat. Ia telah menganggap bahwa pria itu sebagai Kakaknya. Orang yang selalu mengerti keadaannya. Kini ia menuduh Jep sebagai pengkhianat. Apakah itu pantas dimaafkan?
"Dirimu telah seperti Adik kandungku, Rivaldo. Kamu tahu? Selama aku di sini, aku selalu merindukan ocehanmu itu, dan kamu tahu? Ibu juga selalu merindukanmu, ingin bertemu denganmu. Telah sangat lama Ibu menantikan dirimu untuk pulang menemuinya,"
"Ibu merindukanku? Aku ingin bertemu dengannya, di mana Ibu, Jep?"
"Tenanglah, Ibu ada bersama denganku. Beliau telah lama ingin bertemu denganmu. Hanya saja, dirimu terlalu sibuk selama ini, sehingga sangat jarang untuk bertemu dengan beliau."
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...