Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Artis terkenal yang sedang naik daun?
Begitu aku selesai berbicara, Sheila langsung bungkam. Dia mungkin tidak menyangka aku bisa bersikap senekat dan setahu malu ini, sampai-sampai dia menatapku dengan pandangan tidak percaya.
Keluarga Julian memang keluarga terpandang di Surabaya. Meskipun acara ini pada dasarnya adalah ajang perjodohan terselubung, skala dan kemewahannya sudah sebanding dengan acara gala premier film.
Setelah puas melihat reaksinya, aku mengulurkan tangan untuk merapikan posisi tiara kecil di atas kepalanya yang agak miring, lalu sedikit memiringkan kepalaku. "Nah, begini baru rapi. Kamu terlihat cantik dan imut kok."
Sheila benar-benar dibuat kebingungan oleh perilakuku yang tidak tertebak. Setelah sempat melongo selama beberapa detik karena syok, dia akhirnya mendengus ketus, "Apa-apaan sih kamu?"
"Ssst," ujarku sambil menaruh jari telunjuk di depan bibir. "Nona Sheila, Anda ini wanita terhormat dari kalangan atas. Tidak perlu membuang energi untuk meladeni karyawan rendahan sepertiku. Nanti malah merusak citra anggun Anda."
Begitu selesai bicara, aku berbalik untuk kembali mengambil camilan. Namun, Sheila langsung melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tanganku. "Amara! Kamu tahu kan kalau Mas Bastian itu sudah menikah?"
"Memangnya kamu pengantinnya?" Aku membalikkan badan, menyentak tanganku perlahan agar terlepas dari genggamannya, lalu menatapnya dengan pandangan geli.
Sheila langsung mati kutu mendengarnya. Aku mengetukkan ujung lidah ke gigiku sendiri sebelum kembali memprovokasinya, "Nona Sheila, coba lihat ke sana. Ada begitu banyak wanita cantik yang sedang mengerumuni Mas Bastian-mu itu. Daripada repot-repot mengawasiku sendirian, apa kamu sanggup mengawasi mereka semua?"
Kalimatku tampaknya berhasil memicu rasa cemburu Sheila. Dia melirik sekilas ke arah kerumunan wanita di sekitar Bastian, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.
Melihat langkah kakinya yang menjauh, aku hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Sejujurnya, aku justru agak menyukai kepribadian gadis seperti dia. Setidaknya dia tidak punya niat jahat yang terselubung; semua rasa suka dan tidak sukanya langsung tergambar jelas di wajahnya.
Tidak lama setelah Sheila pergi, Julian tiba-kira muncul entah dari mana sambil menyodorkan segelas sampanye baru untukku. "Mbak Ipar, jangan dimasukkan ke dalam hati, ya. Sheila itu memang terlalu menggilai Bastian sejak dulu. Waktu mereka masih kecil dan sering main rumah-rumahan dengan anak-anak kompleks yang lain, dia selalu bersikeras ingin jadi istrinya Bastian."
Mendengar cerita masa kecil itu, aku tertawa kecil. "Aku baru tahu kalau Pak CEO kita itu ternyata sepopuler ini sejak kecil."
"Tentu saja!" sahut Julian bercanda. "Ngomong-ngomong, Kak Amarah, kapan rencana mau memberi Bastian momongan? Kalau mengingat aturan ketat di keluarga Wijaya, waktu kalian berdua sepertinya sudah tidak banyak lagi, kan?"
Julian jelas jauh lebih paham mengenai seluk-beluk konflik internal keluarga Wijaya dibanding aku. Aku hanya bisa mengulum senyum sambil membalas, "Itu semua tergantung seberapa giat usaha dari sahabatmu itu."
Jawaban blak-blakanku langsung membuat Julian tertawa terbahak-bahak.
Aku tidak tahu apakah Bastian memasang alat pelacak khusus padaku, tetapi setiap kali aku sedang asyik mengobrol atau bercanda dengan Julian, dia pasti akan muncul secara tiba-tiba.
Sama seperti saat ini. Ketika Julian masih tertawa lepas, Bastian yang bertubuh jangkung sudah berdiri di dekat kami sambil menatap Julian dengan sebelah alis terangkat. "Sedang membicarakan apa? Kelihatannya seru sekali. Coba bagikan ceritanya, aku juga ingin dengar."
Tawa Julian langsung tersendat di tenggorokan. Dia menjawab dengan gagap, "Eh... tidak, kok. Kami tidak sedang membicarakan apa-apa."
Belum sempat Julian merapikan ekspresinya, Bastian sudah berbalik dan melambaikan tangan ke arah seorang wanita cantik yang berdiri tidak jauh dari posisi kami. Gadis itu terlihat masih sangat muda, paling tinggi usianya sekitar dua puluh tiga tahun, dengan riasan wajah yang cukup tebal.
Begitu melihat kode dari Bastian, gadis itu langsung berjalan mendekat dengan gaya anggun yang sengaja dibuat-buat. "Malam, Pak Bastian," sapanya dengan suara manja.
" Julian, kamu kenal dia, kan? Tadi dia baru saja bilang kalau dia sangat menyukai film terbaru yang kamu bintangi. Kalian berdua sebaiknya mengobrol agar bisa lebih akrab," ujar Bastian dengan senyum tipis yang penuh dengan makna. Dia kemudian melirikku sekilas dari sudut matanya, lalu berkata dengan nada penuh penekanan, "Ayo pulang."
Bastian langsung membalikkan badannya untuk berjalan keluar. Sementara itu, gadis tadi langsung menempelkan hampir separuh badannya ke lengan Julian. "Kak Julian, kalau memang suka, kenapa tidak bilang saja langsung. Kenapa harus lewat perantara Mas Bastian segala..."
Julian menatap gadis di pelukannya dengan ekspresi panik sekaligus bingung. Dia langsung mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. "Eh, jangan begini, tidak enak dilihat orang banyak. Aku sih tidak masalah, tapi kamu kan artis terkenal yang sedang naik daun. Bagaimana kalau sampai memicu skandal?"
Artis terkenal yang sedang naik daun?
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik