NovelToon NovelToon
Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:260.8k
Nilai: 4
Nama Author: miirathurmudzi123

Ia lahir tanpa ayah dan ibu, bahkan kakeknya sendiri tidak mengakui keberadaannya. meskipun begitu ia tetap berusaha hidup dan terus berjuang bersama orang-orang yang selalu mendukungnya.

Ia memulai perjalanan-perjalanan yang panjang dan amat jauh.

"Kakek, aku akan menjadi pendekar hebat yang bisa kau banggakan!"

Apa yang telah menunggunya di setiap perjalanan yang dilaluinya?

Kawan? Lawan? Saudara? Keluarga? Atau kekuatan yang luar biasa?

Bagaimana akhir dari perjalanannya?

Akankah ia menemukan apa yang ia inginkan?

Ikuti kisah perjalanannya di setiap episodenya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miirathurmudzi123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadilan yang tak berpihak 2

“Baik, Paduka. Saya segera membawakan para saksi. Cepat, bawa mereka menghadap Paduka Raja!” teriaknya pada beberapa orang agar menghadirkan para saksi. Para saksi kemudian diperintahkan menghadap Baginda Raja agar melaporkan kesaksiannya.

Beberapa orang menghadap Baginda Raja dan segera melakukan penghormatan kepada Baginda Raja. “Hormat kepada yang mulia Paduka Raja,” ucap beberapa orang yang menghadap dengan serentak.

“Bangunlah!” titah Paduka Raja.

“Apa pendapat kalian tentang kejadian hari ini?” tanya Baginda Raja kepada para saksi yang hadir.

“Hamba melihat anak ini membunuh seseorang dengan menusukkan sebilah pedang hari ini di daerah kerajaan, Paduka Raja,” ucap salah seorang saksi memberi keterangan.

“Yang lain?” tanya Baginda Raja lagi.

“Hamba melihatnya juga yang mulia Paduka Raja,” sahut seseorang yang lain.

“Hamba juga melihat dengan kepala hamba yang mulia Paduka Raja.” Yang lain ikut menambahi.

“Baik. Coba kita dengarkan bagaimana pendapat dari tersangka,” sambut Baginda Raja dengan penuh kebijaksanaan. “Apa yang akan ia sampaikan kiranya.”

Jaka yang tak berdaya diseret dengan kasarnya ke hadapan Baginda Raja. Raut wajahnya pucat. Pandangannya tertunduk lesu. Ia diperlakukan seakan ia bukan manusia.

“Anak muda, bagaimana menurutmu tentang para saksi yang mengatakan bahwa hari ini kau telah membunuh seseorang? Apa pendapatmu? Aku ingin mendengarkannya.”

Baginda Raja memandang lekat ke arah Jaka. Ada semacam perasaan yang tak asing yang sulit dijelaskan. Baginda Raja memandang lebih lekat, namun jawabannya tak mampu ia temukan. Jaka tetap tertunduk. Tak ada suara sedikit pun yang keluar darinya.

“Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Maka eksekusi ini lebih baik ditunda saja untuk sementara waktu.”

“Tapi Paduka Raja..” Patih Banaspati memotong dengan cepat titah Baginda Raja. “kalau masalah ini dibiarkan, maka kita sama saja dengan melepaskan seorang penjahat.”

“Kau seharusnya tahu, bahwa selama ini kerajaan kita tidak pernah melakukan eksekusi hukuman bagi seorang anak kecil.”

“Ta, tapi, Paduka, hal ini pasti akan..”

“Sudahlah! Kita gali dulu informasi lebih banyak lagi sebagai bukti lain untuk memperjelas situasinya. Setelah itu baru kita putuskan untuk melanjutkan eksekusi ini atau tidak. Bubarkan masalah hari ini. Kita kembali ke istana.”

“Paduka Raja bertitah, agar menghentikan eksekusi ini. Dimohon para hadirin untuk meninggalkan tempat masing-masing.”

Orang-orang yang hadir segera meninggalkan bangku masing-masing. Sebagian mereka saling berbisik tentang kejadian hari ini, atau tentang kebijakan yang ditetapkan oleh Baginda Raja.

Hari sudah mulai gelap. Untuk sementara waktu Jaka yang ditetapkan sebagai seorang pembunuh dikurung di dalam penjara kecil yang kumuh. Beberapa ekor tikus berkeliaran menandakan kurangnya pemerhatian terhadap seorang tahanan.

“Ah, lihatlah! tahanan kecil kita yang malang ini. Masih kecil sudah berani membunuh orang,” ucap salah seorang dari dua penjaga yang berlalu melewati ruang penjara Jaka dengan nada menyindir.

“Kudengar Paduka Raja sampai menangguhkan masa eksekusinya karena ia tak mau berbicara sepatah kata pun,” sahut temannya dengan sikap yang serupa.

“Tak tahu malu sekali..” Dua orang itu tertawa seolah tengah membicarakan sebuah lelucon.

Jaka hanya membisu di sudut ruangannya. Hatinya menangis. Bergetar. Dan perlahan air mata mengalir di ujung matanya.

“Haha.. betapa ironisnya hidupku ini,” ucap Jaka lirih sembari tertawa. Ia sungguh tak menyangka hidupnya begitu memilukan.

Pemfitnahan berkedok pembunuhan yang dilimpahkan kepadanya sungguh tak mendasar sama sekali. Tanpa bukti yang jelas ia dipersalahkan atas sesuatu yang tak dilakukannya. Sungguh keadilan yang tak memihak.

1
Aufaaaaa
thor,,yg benar bae,,yg masuk akal dikit napa,, mereka kan msh bocil,jd sesuaikan dgn umurlah,, koq kayak cerita bf seehh
Night Watcher
mcnya dibuat kyk idiot banget
spooky836
membosankan sampah
Siti rochmah Iyon
mana lanjutan jangan setengah" aku penasara sm jaka umbara n dewi maya sari
Iskandar Zulkarnain Zulkarnain
alur terlalu ribet...bingung mengikuti cerita.
Daryus Effendi
bosan bertele tele
Wahyu Indra
kurang niat untuk ngelanjutin ceritanya
Putra_Andalas
lama matinya klo ditusukkan ke Perut...beda cerita klo tusukan ke Ulu Hati atau Jantung..😂
Habsah Hermawan
Luar biasa
Putra_Andalas
udah separuh dibaca..gk ada Greget & serunya...STOP BACA dah..!!!
Putra_Andalas
mkin ksini bknnya mkin seru nih alur ceritanya...malah mkin receh gk jelas...😬
Putra_Andalas
gk jelas nih cerita...😵
Putra_Andalas
tiba² punya nama..itu yg kasih nama Bapaknya apa Author nya...?? 😁
nana 2024
banyak iklan ganggu aja sialanlu
Asri Parinding
mana ep. selanjutnya
Rusliadi Rusli
😥😥😥😥
Rusliadi Rusli
👍👍
Rusliadi Rusli
jangan terlalu di pikirkan jaka..guru akan baik"aja
Rusliadi Rusli
waduh
Rusliadi Rusli
sabar jaka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!