NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

Suasana di dalam gerai makan cepat saji itu mendadak terasa tidak nyaman. Orang-orang di sekitar mereka mulai menoleh dan memberikan pandangan mencibir karena suara tangisan Nero yang terlalu bising.

Situasi ini benar-benar memicu rasa malu sekaligus membuat darah tinggi. Asia yang statusnya hanya orang asing di sana saja bisa merasakan rasa malu itu, apalagi Hugo dan Gilang yang merupakan keluarga dari bocah tersebut.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Sersan Gilang berusaha mengambil alih situasi dan membujuk bocah itu. "Kita beli lagi besok, ya?"

Ada atmosfer kebapakan yang hangat. Jika melihat raut wajahnya, beliau berumur sama dengan Hugo.

"Enggak! Aku maunya sekarang!" tolak Nero dengan keras kepala dan tidak mau mengalah.

"Akan saya carikan lagi di gudang ya, Pak. Mungkin masih ada sisa stok mainan robotnya," ujar karyawan McD itu dengan berbaik hati. Dia tampaknya merasa iba melihat Hugo yang berada di kursi roda dan Gilang yang kewalahan menenangkan anak kecil.

"Baik. Terima kasih," balas Hugo sopan. Pria itu kemudian menunduk menatap putranya. "Kamu sudah dengar sendiri kalau mau dicarikan, Nero? Jadi tenanglah," pinta Hugo dengan nada tegas namun terkendali.

Mendengar janji dari karyawan tersebut, tangis Nero berangsur mereda. Meskipun bocah itu belum benar-benar berhenti sesenggukan.

Asia hanya mengawasi mereka semua tanpa bicara apa-apa. Tanpa andilnya pun, situasi saat ini sudah tidak bisa dikendalikan dan terasa sangat kacau. Jadi, dia memilih untuk cukup diam menutup mulut, meskipun perutnya sudah keroncongan menahan lapar.

"Nero, duduk di sana saat mereka mencarikan mainanmu," kata Hugo sambil menunjuk ke arah salah satu tempat duduk yang kosong di sudut gerai. Pria itu kemudian menoleh pada ajudannya. "Antar dia, Gilang."

"Baik, Kapten. Ayo, Nero," ajak Gilang patuh. Sambil menuntun bocah itu, Gilang juga memberikan isyarat dan mempersilakan Asia untuk ikut duduk beristirahat. Sementara itu, Hugo menggerakkan kursi rodanya menuju ke arah toilet.

"Maaf, Nona. Sebentar lagi makanan Anda akan datang," ujar Gilang. Pria itu menyadari Asia sudah menunggu makanan sejak tadi dan merasa tidak enak hati karena membuat wanita itu kelaparan lebih lama.

"Tidak apa-apa, saya hanya ikut," balas Asia pelan. Dia tahu diri untuk tidak melayangkan protes dalam situasi seperti ini.

"Tunggu di sini ya, Nero. Jangan kabur," kata Gilang mengingatkan anak atasannya. Pria itu kemudian menoleh lagi pada Asia. "Maaf, Nona. Bisa tolong jaga dia sebentar? Saya akan sangat berterima kasih jika Anda mau," pinta Gilang sebelum kembali ke meja kasir. Karyawan gerai tampaknya sudah melambaikan tangan, memberi tanda ada kabar terbaru soal mainan itu.

"Ah, ya," jawab Asia. Di dalam hati dia sebenarnya enggan terlibat, tetapi dia tidak mungkin menolak permintaan tolong orang yang baru saja menyelamatkannya.

"Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Gilang bergegas menghampiri meja pemesanan.

Kini tinggal mereka berdua di meja tersebut. Nero melihat ke sekelilingnya dengan pandangan bosan. Tangisnya sudah benar-benar reda, dan wajah menyebalkannya yang tadi penuh air mata kini sirna. Namun, entah mengapa bocah itu tiba-tiba merasakan firasat yang tidak baik dari wanita di depannya.

"Heh, bocah," panggil Asia pelan.

Nero langsung menoleh. "Kamu memanggilku?" tanya Nero, yang entah kenapa mendadak kembali memasang wajah menyebalkan.

"Bocah di dekatku cuma kamu," sahut Asia geram.

"Apa?" tanya Nero ketus dan enggan.

Melihat tingkah songong anak itu, ingin rasanya Asia menjitak kepala bocah di depannya ini.

"Kenapa harus heboh sampai menangis seperti tadi?" tanya Asia pada akhirnya. Dia bukannya peduli atau ingin mencampuri urusan keluarga orang lain. Dia hanya sedang berusaha membuang waktu untuk mengalihkan rasa lapar di perutnya yang kian parah.

"Kenapa?" tanya Nero, tidak segera menjawab pertanyaan itu. Dia anak yang pintar dan bisa merasakan kalau wanita di depannya sedang memancingnya.

"Enggak ada, cuma tanya," jawab Asia enteng tanpa beban.

"Enggak usah tanya-tanya kalau gitu," ketus Nero sambil membuang muka.

"Aku pusing tadi dengar kamu nangis heboh," tambah Asia jujur. Rupanya wanita itu masih belum kapok juga bicara dan memprovokasi bocah songong di depannya ini.

Perbincangan dingin ala bocah dan wanita dewasa yang agak kekanak-kanakan itu ternyata didengar oleh Hugo yang baru saja datang dari toilet.

Langkah kursi roda seketika urung tepat beberapa meter di belakang kursi mereka. Hugo sengaja berhenti saat mendengar putranya bisa berbicara sepanjang itu dengan wanita asing tersebut.

Gilang yang juga hendak kembali ke meja pun ikut menghentikan langkahnya. Dia urung mendekat saat melihat Hugo justru berdiri diam, tampak sedang menyimak perbincangan tidak terduga antara wanita asing itu dengan Nero.

"Ternyata dia bisa ngobrol dengan Nero, ya?" Suara Gilang yang tiba-tiba terdengar langsung membuyarkan lamunan Hugo. Gilang berjalan mendekat ke sisi kursi roda atasannya. "Padahal Nero itu paling anti dengan orang asing."

Hugo tidak menjawab. Pria itu hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Pikirannya tampak berputar memikirkan sesuatu yang penting sambil terus mengawasi gerak-gerik wanita asing tersebut dari kejauhan.

Begitu mereka berdua sampai di dekat meja, fokus Nero langsung teralihkan.

"Apakah robotnya ada?" tanya Nero dengan mata berbinar saat melihat Gilang datang membawa nampan berisi pesanan makanan di tangannya.

"Ada," sahut Gilang sambil tersenyum.

"Horeee!" Nero bersorak senang, wajah cemberutnya langsung hilang.

Asia yang duduk di depan bocah itu diam-diam juga ikut merasa senang. Baginya, itu adalah tanda bahwa situasi sudah aman dan dia bisa segera makan. Namun, kedamaian sesaat itu langsung rusak ketika mendengar suara dari bocah tersebut.

"Kok seperti ini?" tanya Nero heran. Dia membolak-balikkan robot plastik itu dengan wajah kecewa dan kesal. "Ini bukan robot yang aku mau! Bohong! Robot ini bukan robot yang di iklan itu!"

Hugo menatap Nero dengan tajam. Pria itu tampaknya sudah berada di batas akhir kesabarannya menghadapi sikap manja si anak.

"Kalau kamu tidak mau robot itu, buat aku saja," celetuk Asia tiba-tiba.

Hugo yang tadinya hendak memarahi Nero langsung menggeser pandangannya dengan cepat ke arah Asia. Gilang yang baru saja menghela napas pasrah pun ikut menoleh terkejut.

Nero terdiam sesaat, lalu menatap Asia dengan bingung. "Kamu kan sudah tua, kenapa kamu suka mainan robot?"

Asia mendelik kesal. Sialan bocah ini, batinnya mengumpat.

"Nero. Sikapmu tidak sopan," tegur Hugo dengan suara rendah yang menuntut kepatuhan.

Nero menoleh. Tapi raut wajahnya seakan bilang kalau dia tidak bersalah. Apa yang ia katakan benar.

Asia terpaksa tersenyum tipis, sekadar menetralkan rasa canggung di antara mereka. "Bukan aku yang suka, tapi anak-anak di tempat tinggalku," ralat Asia meluruskan maksudnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!