Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*17
Mobil akhirnya berhenti. Sha turun dengan langkah yang berat. Harinya masih panjang. Tantangan hidupnya masih sangat banyak yang harus dia lalui. Terutama, saat masuk ke halaman kampus, semua mata akan tertuju padanya. Dia harus bisa mengabaikan semua pandangan itu agar harinya yang panjang bisa ia lalui dengan baik tanpa terlalu terbebani dengan beban berat yang sedang ia pikul.
"Asha .... " Suara lembut langsung menyentuh telinga Sha saat kakinya baru juga menginjak halaman kampus beberapa langkah.
Gadis itu menoleh pelan. Akhir-akhir ini, suara lembut itu cukup sering ia dengar. Sampai-sampai, ia hafal dengan siapa pemilik dari suara tersebut.
Saat Sha sudah berhasil memutar tubuh, matanya langsung menangkap sosok si pemilik suara. Irza Rahardi, si gemulai sedang berdiri di samping pohon tak jauh dari gerbang kampus.
Ketika mata mereka bertemu, Irza langsung tersenyum manis. Dengan langkah khas gemulai miliknya, pria itu berjalan mendekat sambil terus memegang kotak makanan di tangan.
"Kamu baru datang, Sha? Udah sarapan belum? Kalau belum ... aku punya nasi goreng di sini," ucapnya sambil mengangkat kotak bekal tersebut sedikit lebih tinggi.
Untuk sesaat, Sha terdiam. Benaknya berusaha keras untuk mencerna apa yang sedang ia alami saat ini. Pria gemulai yang ada di depannya terlalu bersemangat mengajaknya bicara. Sementara di sisi yang lain, puluhan pasang mata sedang menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Seolah, mereka adalah tontonan gratis yang sangat menarik untuk dilihat.
"Ee ... Za. Aku .... "
"Kalau udah makan, gak papa juga kok, Sha. Aku bawa buat jaga-jaga aja. Mana tau kamu belum sarapan di rumah," ucap Irza santai. Seolah, dunia hanya ada mereka berdua saja. Puluhan mata itu, tak mengganggunya sedikitpun.
Tentu saja hal itu berbeda dari Asha. Dia yang tidak terbiasa dijadikan pusat perhatian, tentu akan merasa sangat risih ketika mata-mata itu melihatnya dengan tatapan lekat. Sambil berbisik, menjadikan dirinya sebagai bahan gosip lagi. Itu sungguh sangat-sangat mengganggu buat Asha.
Asha berpikir sedikit lebih keras sekarang. Ingin menyingung Irza, kali ini hatinya sangat tidak tega. Tapi jika ia terima, bahan gosip tentang dirinya akan semakin menjadi-jadi.
Namun pada akhirnya, Sha memutuskan untuk menerima. Mengabaikan pandangan orang lain, karena ia sadar, hidup bukan tergantung pandangan orang. Jika ia lukai lagi hati Irza, dialah yang jahat. Karena pria yang ada di depannya, memang tidak sempurna, tapi manik matanya terlihat sangat tulus.
"Sebenarnya ... kebetulan, aku belum sarapan sih tadi di rumah. Gara-gara bangun kesiangan. Hanya makan roti sedikit saja."
Seketika, manik mata Irza terlihat semakin bercahaya. Raut wajahnya pun terlihat semakin cerah. Lebih cerah saat ia pertama menyapa Asha beberapa menit yang lalu.
"Benarkah? Kalo begitu, kebetulan, Sha. Nasi gorengnya buat kamu aja," ucap Irza sambil meraih tangan Asha, lalu meletakkan kotak makanan ke tangan gadis tersebut.
Sentuhan itu cukup mengejutkan Asha. Matanya seketika sedikit melebar. Tangan itu terasa sangat lembut dan cukup hangat. Seolah, Sha baru saja bersentuhan dengan mahluk berbulu lembut yang menggemaskan.
Masih dalam keadaan bingung, Sha berucap sambil terus melihat wajah bahagia Irza.
"Bu-- buat aku?"
Irza mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Iya."
"Tapi ... kamu?"
"Aku sudah sarapan. Saat mau berangkat, tiba-tiba ingat kamu saja. Jadi, ku bawa."
"Hah?"
"Iya. Ke-- kenapa? Ada ... yang salah?"
"Ha ... nggak. Tapi ... kamu yakin ini buat aku?"
"Iya, aku yakin. Ini buat Asha."
"He ... terima kasih."
"Sama-sama. Jangan lupa di makan ya,
Sha .... "
Sha hanya bisa nyengir kuda tak nyaman. Masih terasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Entah kenapa, benaknya terasa sulit untuk mencerna apa yang baru saja ia alami. Bak ponsel yang kekurangan jaringan, loading ... terus tanpa henti.
Sha berjalan dengan langkah pelan sambil sesekali melihat kotak bekal yang ada di tangannya. Kotak makanan plastik berwana biru elektrik dipadukan dengan tutup berwarna putih susu.
Gadis itu tidak membuka kotak tersebut. Hanya terus melihat dari luar saja. Isinya masih belum ia ketahui seperti apa. Namun, bukan masalah isi dari kotak tersebut yang sedang Asha pikirkan, melainkan, masalah hatinya yang tiba-tiba terasa hangat saat melihat ekspresi bahagia yang Irza perlihatkan saat tahu bahwa dia siap menerima kotak tersebut.
"Anak itu .... Hah! Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa bisa begini?"
"Sha." Tiba-tiba saja, suara panggilan datang dari belakang ketika kakinya mencapai lorong menuju kelas.
Asha menoleh. Di belakang sana, ada beberapa anak laki-laki yang sedang berdiri tegak. Salah satu dari laki-laki itu sedang berkacak pinggang.
"Apa?" Sha bertanya dengan malas.
Lelaki yang sedang berkacak pinggang, adalah lelaki yang sama dengan yang baru saja manggil nama Sha. Dia adalah Dimas, anak fakultas pariwisata, namun berbeda lagi jurusannya dengan Sha. Kelas mereka hanya berjarak dua kelas saja. Lorongnya sama.
"Aku ingin bicara," ucap Dimas sambil mendekat di susul beberapa temannya dari belakang.
"Mau bicara soal apa sih? Seolah hariku belum cukup berat saja kamu ini, masih saja mau kau tambah berat, Dimas?"
"Sha."
"Ha. Katakan! Jangan lama-lama, gak berbelit-belit."
"Kamu beneran terima Irza sebagai calon suami?"
Duar! Wajah Sha langsung berubah. Awalnya, Sha sempat berpikir sedikit lebih keras tentang apa yang ingin Dimas bicarakan. Namun pada akhirnya, hal yang sama terdengar. Topik yang setiap saat menghampiri dirinya akhir-akhir ini ternyata tidak tersisih sedikitpun.
"Astaga. Gak ada hal lain ya yang mau dibicarakan sama aku?"
"Jawab aku, Sha."
"Apa yang harus aku jawab? Bukankah seluruh kampus sudah tau akan hal itu? Aku yakin, kamu juga sudah dengar berita itu dengan sangat baik, bukan?"
"Kalau tidak, bagaimana kamu bisa datangi aku hanya untum bahas hal ini sekarang," ucap Sha lagi dengan suara yang lebih pelan kali ini.
Wajah Dimas terlihat sedikit berubah. Sepertinya, emosi dari pria itu sudah sedikit menurun. "Sha, kenapa harus bertunangan dengan Irza? Dia itu gemulai. Masih banyak pria normal lainnya yang bisa kamu ajak bertunangan dengan mu."
"Iya, Sha. Di kampus ini, kamu nggak tersisihkan kok. Masih banyak cowok normal yang ingin sama kamu, Sha." Teman Dimas juga ikut bicara.
"Aku juga mau sama kamu, Sha. Gak perlu Irza kali kalo kamu kebelet mau tunangan, masih bisa cari aku," ucap yang lainnya pula.
"Kalian diam!" Suara Dimas terdengar lantang. Sepertinya, ucapan itu bikin hatinya terasa panas.
Namun, detik berikutnya, Dimas malah berucap. "Mereka benar, Sha. Di kampus ini masih ada banyak cowok normal yang ingin sama kamu. Malahan, mereka siap nikahin kamu secepat apa yang kamu mau."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi