NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA RUMAH TAK LAGI RAMAH

Pikiran Maira yang kalut di atas lantai kamar mandi yang dingin perlahan tersedot, terlempar jauh ke masa lalu. Memorinya mundur melintasi waktu, tepat sepuluh tahun yang lalu.

Saat itu Maira baru berusia 14 tahun, seorang gadis remaja yang sedang duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tahun itu adalah gerbang awal di mana ia merasakan arti kehancuran untuk pertama kalinya dalam hidup, yaitu ketika ia ditinggal mati oleh sang ayah tercinta.

Ayahnya adalah cinta pertama Maira. Sosok lelaki yang begitu memanjakannya, memeluknya dengan tulus saat ia bersedih, dan menjaganya bagai permata berharga.

Kepergian sang ayah untuk selamanya meninggalkan lubang hitam yang teramat besar di dada Maira. Kehidupan indahnya runtuh seketika, menyisakan ia dan ibunya sendiri yang harus bertahan di dunia yang terasa kian asing dan kejam ini.

Namun, kedukaan itu tidak berlangsung lama bagi sang ibu. Hanya berselang satu tahun setelah kepergian ayahnya, sang ibu memutuskan untuk menikah lagi. Lelaki yang menjadi pendamping barunya adalah seorang duda tanpa anak bernama Yudi.

Saat pernikahan itu digelar, Maira sempat menaruh secercah harapan. Ia berharap kehadiran figur ayah baru di rumah mereka bisa menjadi pelipur lara, sebuah penawar bagi kerinduan mendalamnya pada almarhum sang ayah. Namun, takdir rupanya senang bercanda dengan kejam. Kehidupan yang ia harapkan membawa kedamaian justru menjadi awal dari sebuah kehancuran yang paling membekas dan mematikan jiwa seorang Maira.

Pada bulan-bulan awal pernikahan, Yudi menampilkan citra seorang laki-laki yang sangat baik, perhatian, dan penuh kasih sayang kepada Maira. Dia sering membawakan makanan kesukaan Maira, menanyakan kabarnya di sekolah, dan bersikap layaknya ayah kandung yang sempurna. Sampai akhirnya, sebuah kejadian di satu malam yang jahanam mengubah seluruh pandangan Maira terhadap Yudi. Di malam itulah Maira menyadari bahwa semua kebaikan lelaki itu hanyalah sebuah kepalsuan di balik topeng yang teramat rapi.

Malam itu, hujan tipis menyelimuti kota, membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Maira sudah tertidur lelap di kamarnya yang hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut.

Di tengah keheningan malam yang pekat, daun pintu kamar Maira berderit pelan. Yudi mengendap-endap masuk ke dalam kamar anak tirinya itu, melangkah tanpa alas kaki agar tidak menimbulkan suara.

Maira, yang memiliki pendengaran sensitif, samar-samar mendengar suara langkah kaki yang mendekati tempat tidurnya. Kelopak matanya perlahan terbuka, mencoba memfokuskan pandangan di tengah keremangan kamar. Detik itu juga, bulu kuduk Maira berdiri tegak. Hawa dingin yang mencekam mendadak menyergap seisi ruangan.

Yudi sudah berdiri di samping kasurnya. Pria itu menatap Maira dengan senyuman manis, namun di mata Maira, senyuman itu terlihat begitu mengerikan dan penuh nafsu binatang.

“Ada... ada apa, Yah?” tanya Maira dengan suara parau khas orang bangun tidur, bercampur rasa bingung yang amat sangat.

Yudi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus tersenyum. Perlahan, tangannya yang terasa panas dan kasar mulai menyentuh tubuh Maira. Sentuhan itu membuat seluruh tubuh Maira bergetar hebat karena ketakutan yang mendadak melumpuhkan syarafnya.

“Diam ya, Mai. Nanti ibumu bangun,” bisik Yudi dengan suara berat yang menjijikkan, tepat di dekat telinga Maira.

Dan sialan, malam itu, bajingan tersebut benar-benar melancarkan aksi bejatnya. Dia mencabuli Maira, merenggut kesucian dari seorang anak perempuan yang bahkan belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

Maira yang syok mencoba berteriak memanggil ibunya, namun dengan cepat tangan besar Yudi membekap mulut Maira dengan kasar hingga pasokan udaranya menipis. Air mata Maira lolos deras menjalar ke pelipisnya. Di bawah kungkungan ayah tirinya, Maira menangis sejadi-jadinya karena rasa takut yang teramat luar biasa dan rasa sakit fisik yang teramat menyiksa menyerang tubuh kecilnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, malam itu menjelma menjadi neraka paling jahanam.

Setelah selesai memuaskan nafsu binatangnya, Yudi berdiri di samping tempat tidur. Ia merapikan pakaiannya, lalu menatap Maira yang meringkuk tak berdaya dengan senyuman puas yang mengerikan. Dengan santai, tangan yang baru saja menodai Maira itu bergerak mengusap pelan kepala anak tirinya.

“Maira sayang, jangan bilang kejadian ini ke siapapun, apalagi ke ibumu. Kalau kamu berani mengadu... nanti Ayah bikin kamu mati,” ancam Yudi, nadanya terdengar sangat tenang namun sarat akan intimidasi yang mematikan.

Maira, yang tubuhnya masih bergetar hebat di bawah selimut, menatap mata lelaki bejad itu dengan tatapan tajam yang dipenuhi dendam dan ketakutan yang bercampur baur.

Jari-jarinya meremas ujung selimut yang menutupi sebagian wajahnya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih.

Setelah pria itu melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya kembali, tangis Maira yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya pecah dalam sunyi. Ia membekap mulutnya sendiri dengan bantal agar isakannya tidak terdengar sampai ke kamar ibunya. Sepanjang sisa malam itu, Maira tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Ia terjaga dalam kegelapan, diselimuti rasa takut yang luar biasa, merasa tubuhnya telah kotor dan tak lagi berharga.

Keesokan pagi harinya, Maira sama sekali tidak beranjak dari atas kasurnya. Tubuhnya terasa remuk, dan jiwanya jauh lebih hancur. Ia merasa tidak mampu, dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pergi ke sekolah hari ini. Bagaimana ia bisa berhadapan dengan dunia luar saat dunianya sendiri baru saja dihancurkan di dalam rumahnya?

Tiba-tiba, pintu kamar Maira terbuka secara kasar. Suara hantaman pintu itu membuat Maira tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang akut.

“Maira! Bangun, hey! Ini udah jam berapa? Nanti sekolah kesiangan!” suara cempreng ibunya terdengar, berjalan mendekati kasur seraya menarik selimut yang membungkus tubuh Maira.

Maira hanya diam membisu. Ia menatap wajah ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang dipenuhi rasa bersalah, luka, dan keputusasaan. Ingin sekali rasanya saat itu juga ia menghambur ke pelukan ibunya, menangis sekencang-kencangnya, dan menceritakan seluruh kebiadaban yang dilakukan oleh pria yang kini tidur di ranjang yang sama dengan ibunya. Namun, ia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Bayangan ancaman pembunuhan dari ayah tirinya semalam mendadak melintas, mencekik keberaniannya. Bagaimana kalau ancaman itu benar?

“Hey, Maira! Malah ngelamun. Cepet bangun, mandi!” teriak ibunya lagi, merasa kesal karena anaknya hanya diam seperti patung.

“Ada apa ini pagi-pagi kok teriak-teriak?”

Sebuah suara bariton yang sangat familiar terdengar dari arah pintu. Yudi berjalan menghampiri sang istri, masuk ke dalam kamar Maira dengan wajah yang tampak segar, seolah tidak pernah terjadi dosa besar apa pun semalam.

“Udah, Bu. Jangan dimarahin anaknya. Ibu siapin sarapan aja di meja buat Maira, biar urusan Maira, Ayah yang bangunin,” ucap Yudi dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh perhatian, memainkan perannya sebagai ayah tiri yang bijaksana.

Sang ibu yang tidak menaruh curiga sedikit pun akhirnya mengangguk. Ia melangkah pergi keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, meninggalkan Maira berdua lagi dengan monster itu.

Yudi masih berdiri tegak di ambang pintu kamar Maira. Setelah memastikan langkah kaki istrinya sudah menjauh, senyum ramahnya berganti menjadi senyuman licik yang memuakkan.

“Udahlah, Dek... ayo waktunya sekolah. Atau... kamu mau Ayah peluk lagi kayak semalam?” ucap Yudi dengan nada berbisik yang sarat akan ancaman menjijikkan.

Mendengar ucapan itu, Maira merasa mual yang amat sangat di hulu hatinya. Ketakutan kembali menguasai dirinya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia buru-buru menyambar handuk dan berlari kencang menuju kamar mandi, hanya demi menghindar dari tatapan mata ayah tirinya yang biadab.

Saat sarapan berlangsung di ruang makan, suasana terasa seperti siksaan batin yang luar biasa bagi Maira. Ia duduk dengan kepala tertunduk, memandang piringnya tanpa selera. Di depannya, ia terpaksa menyaksikan ibunya yang sedang asyik beromantis ria, menyuapi dan bermanja-manja dengan sang suami yang baru dinikahinya selama enam bulan itu. Maira mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa muak yang teramat sangat bergejolak di dadanya melihat bagaimana topeng sok manis dan sholeh yang dipakai oleh ayah tirinya itu berhasil mengelabuhi ibunya sendiri.

Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai. Saat berada di sekolah, Maira berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Tatapannya sering kosong, dan pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran yang diterangkan oleh guru di depan kelas.

Alih-alih memikirkan nilai sekolah, otak Maira dipenuhi oleh rasa jijik yang mendalam terhadap dirinya sendiri. Ia benci pada fakta bahwa ia telah membiarkan tubuhnya dirusak oleh ayah tirinya sendiri. Hidup Maira kini berjalan tanpa arah yang pasti, berjalan seperti robot tanpa semangat. Ia merasa masa depannya sudah mati dan terkubur sejak malam jahanam itu.

Sementara itu, Yudi yang merasa di atas angin karena melihat Maira benar-benar bungkam dan tidak berani bercerita kepada siapa pun, mulai kehilangan kendali diri. Pria itu merasa semakin leluasa. Kejahatannya menjadi candu. Ia kini lebih sering melakukan aksi pelecehan dan pencabulan terhadap Maira; tidak hanya ketika ibu Maira sedang tertidur lelap di malam hari, tetapi juga memanfaatkan kesempatan ketika ibunya sedang pergi menghadiri acara arisan atau berbelanja di siang hari. Setiap sudut rumah itu kini terasa seperti penjara yang dipenuhi duri bagi Maira.

Hingga pada suatu hari, ketika sisa-sisa kewarasan Maira hampir habis dan ia sudah berada di batas puncak kemuakannya terhadap perlakuan Yudi, sesuatu di dalam dirinya berontak.

Di kamar mandi, di depan cermin yang buram, Maira menatap pantulan dirinya sendiri. Ia menghapus air matanya, lalu mengepalkan tangan dengan erat. Ia harus mengakhiri ini semua. Ia harus bicara. Hari itu, Maira mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki di dalam jiwanya untuk mengungkap kejahatan Yudi ke permukaan.

Sore itu, sebuah kesempatan emas datang. Yudi sedang pergi bekerja lembur, sehingga di rumah tua itu hanya ada Maira dan ibu kandungnya saja. Suasana rumah terasa sepi, hanya terdengar suara televisi yang menyala samar di ruang tengah.

Maira berjalan dengan langkah yang gemetar mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melipat pakaian yang baru kering.

“Bu... Maira mau ngomong sesuatu sama Ibu,” ucap Maira, suaranya terdengar lirih namun bergetar hebat karena memikul beban ketakutan yang luar biasa.

Ibunya menghentikan aktivitas melipat baju sejenak, lalu mendongak menatap anak gadisnya. “Iya, ngomong aja, Mai. Ada apa? Kok mukanya pucat gitu?” tanya sang ibu dengan nada santai.

Maira menarik napasnya sedalam mungkin, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa menyempit. Jantungnya berdentum kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia mencoba mengatur rasa takut dan bayangan ancaman Yudi yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.

“Ibu... Ayah...” kata Maira menggantung, lidahnya mendadak terasa kelu.

“Ada apa sama Ayah?” tanya ibunya lagi, alisnya mulai bertaut bingung melihat gelagat aneh anaknya.

Maira memejamkan mata erat-erat, air mata yang sejak tadi ia tahan kini lolos keluar tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan satu tarikan napas dan sisa kekuatan terakhirnya, ia berteriak dalam tangisnya:

“Ayah... Ayah sering lecehin aku, Bu!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!