Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah berani aleta
Aleta menatap jendela itu dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Kamar Alden berada di lantai dua, dan di bawah sana, taman belakang tampak sepi dari pengawasan langsung. Rasa linu di selangkangannya masih terasa menyiksa setiap kali ia melangkah, seolah tubuhnya menjerit untuk berhenti, tapi adrenalin dan ketakutan akan Alden jauh lebih mendominasi.
Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka kunci jendela. Beruntung, Alden—karena terlalu percaya diri dengan kekuasaannya—tidak mengunci jendela itu dari luar.
Klik.
Jendela terbuka lebar, membiarkan udara pagi yang segar masuk, kontras dengan bau parfum maskulin Alden yang masih melekat kuat di dalam kamar. Aleta mengintip ke bawah. Jaraknya cukup tinggi, cuma ada sebuah pipa pembuangan air dan rambatan tanaman merambat yang cukup kokoh di sisi dinding.
Aleta memanjat bingkai jendela, kakinya yang telanjang berpijak pada tepian tembok yang sempit. Ia meringis saat rasa sakit tajam menyerang panggulnya karena posisi yang dipaksakan, namun ia mengabaikannya. Ia mulai turun perlahan, cengkeraman tangannya pada pipa terasa sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Satu langkah, dua langkah... Aleta nyaris terpeleset saat kakinya mendarat di atas tanaman merambat. Napasnya tercekat, ia memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya tetap menempel pada dinding hingga detak jantungnya sedikit melambat.
Saat kakinya akhirnya menyentuh tanah rumput di taman belakang, rasa lega yang luar biasa menyapu batinnya. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu gerbang depan dijaga atau setidaknya diawasi CCTV, jadi ia berlari tertatih menuju pagar tanaman di bagian samping rumah yang membatasi lahan kediaman Alden dengan tanah kosong di sebelahnya.
Tanpa memedulikan piyama sutra yang ia kenakan kini sudah kotor oleh tanah dan debu, Aleta merangkak melewati celah di bawah pagar tanaman yang cukup lebar.
Tepat saat ia berhasil melewati pagar itu dan berdiri di jalan setapak yang lebih tersembunyi, sebuah notifikasi ponsel yang ia curi dari meja kerja Alden tadi—ia sempat menyambarnya saat pria itu sedang sibuk memakai sepatu—berbunyi. Layar ponsel itu menyala, menampilkan pesan masuk dari grup OSIS yang sedang aktif.
Aleta berhenti sejenak, napasnya memburu. Ia menatap layar ponsel itu, menyadari bahwa ia kini memegang alat yang bisa mengungkap segalanya, atau justru alat yang akan membuat Alden melacaknya dalam hitungan detik.
🌍🌍🌍
Aleta tidak membuang waktu untuk menoleh ke belakang. Ia tahu, ponsel itu adalah pelacak berjalan; Alden pasti akan menyadari ponselnya hilang dalam waktu singkat. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia melempar perangkat itu jauh ke dalam semak belukar hingga tak terlihat, lalu memaksakan tubuhnya untuk berdiri meski rasa perih di kakinya yang terluka dan rasa linu yang hebat di selangkangannya membuat pandangannya sempat berkunang-kunang.
"Harus sekarang," desisnya pada diri sendiri, menahan rintihan agar tidak keluar.
Ingatannya kembali ke saat-saat ia dibawa paksa oleh Alden ke rumah ini. Pria itu sempat menunjukkan dominasinya dengan sengaja memutari jalan masuk yang kompleks. Perumahan elit ini memang dirancang seperti labirin—deretan tembok tinggi, jalanan yang berliku, dan minimnya akses pejalan kaki membuat siapa pun yang tidak tahu arah akan terjebak.
Aleta memiliki ingatan yang tajam akan detail-detail kecil. Ia ingat sebuah persimpangan di dekat pohon beringin tua yang besar, lalu belokan tajam ke kiri di dekat pos satpam yang jarang sekali dijaga karena Alden ingin privasi total.
Aleta mulai berlari kecil, tertatih-tatih. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk, membuat napasnya putus-putus. Ia sesekali bersembunyi di balik pagar tembok saat mendengar suara mesin kendaraan, ketakutan kalau-kalau itu adalah mobil Alden yang kembali lebih cepat.
Ia sampai di depan persimpangan labirin itu. Ada dua jalan: satu yang terlihat luas dan beraspal mulus—jalur utama yang pasti dipenuhi CCTV—dan satu lagi jalan setapak di balik deretan tanaman hias yang rimbun, yang ia ingat pernah dilewati Alden untuk menghindari keramaian.
Aleta memilih jalan setapak itu. Ia harus merunduk, menahan rasa sakit di tubuhnya yang masih terasa remuk, melewati lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah megah yang tampak kosong. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Setelah berbelok berkali-kali mengikuti instingnya, akhirnya ia melihat ujung dari perumahan itu: sebuah celah kecil di antara pagar besi pembatas yang sempat longgar. Di baliknya adalah jalan raya yang ramai, dunia luar yang bisa memberikannya harapan.
tepat saat ia hendak merangkak keluar melalui celah tersebut, suara klakson mobil yang sangat ia kenali memekakkan telinganya dari arah jalan utama. Jantung Aleta seolah berhenti berdetak. Itu suara mobil Alden.
Tanpa memedulikan rasa sakit yang seolah merobek otot panggulnya, Aleta membulatkan tekad. Ia tidak akan kembali ke neraka itu. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menerjang celah pagar besi yang longgar itu. Besi tajam menggores kakinya hingga berdarah, Aleta tidak berhenti.
Begitu tubuhnya lolos ke sisi jalan raya, ia langsung berlari sekuat tenaga di balik deretan pepohonan rindang yang membatasi perumahan.
"ALETA!"
Suara bentakan Alden terdengar menggelegar dari arah mobil. Pria itu baru saja keluar dari kendaraannya, dan matanya yang tajam langsung menangkap sosok Aleta yang tertatih di kejauhan. Detik itu juga, Aleta tahu dia sedang diburu.
Alden tidak lagi bersikap tenang atau dingin seperti tadi pagi. Suara langkah sepatunya yang menghentak aspal terdengar semakin mendekat, cepat dan konstan—langkah seorang predator yang tahu mangsanya sudah terluka.
Aleta berlari sempoyongan. Pandangannya mulai memburam karena kelelahan fisik dan trauma, namun ia terus memaksa kakinya melangkah menuju keramaian pasar atau halte bus yang samar-samar terlihat di ujung jalan. Ia sadar, satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan masuk ke tengah kerumunan orang banyak, di mana Alden—meskipun ia dari keluarga yang berpengaruh—tidak bisa melakukan tindakannya secara terbuka.
"BERHENTI, ALETA!" Alden berteriak lagi, kali ini suaranya mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk Aleta berdiri.
Aleta tidak menoleh. Ia justru memacu larinya meski napasnya seperti tersedak. Ia bisa mendengar suara napas Alden yang mendekat di belakangnya. Di depan sana, sebuah bus kota akan segera berangkat di halte, pintunya hampir tertutup, menawarkan keselamatan, yang semu bagi Aleta.
Dengan jarak yang tersisa sekitar sepuluh meter, Aleta mengerahkan tenaga terakhirnya. Ia harus sampai ke pintu bus itu sebelum Alden menangkapnya. rasa linu di selangkangannya kembali menyerang hebat, membuat kakinya goyah dan ia nyaris tersungkur ke aspal.
Aleta berhasil, ia berhasil masuk.
Pintu bus mendesis tertutup tepat di depan hidung Alden. Aleta, yang napasnya sudah putus-putus dan tubuhnya bergetar hebat, terhuyung jatuh ke lantai bus. Pemandangan terakhir yang ia lihat sebelum bus itu berakselerasi adalah wajah Alden yang memucat karena murka, tangannya terulur ke udara seolah ingin menggapai sesuatu yang baru saja terlepas dari genggamannya.
🌍🌍🌍
Di balik kaca jendela bus yang bergetar karena mesin, Aleta melihat Alden berdiri mematung di pinggir jalan. Pria itu tidak lagi terlihat seperti orang yang berwibawa. Wajahnya yang tampan berubah menjadi topeng kengerian yang penuh obsesi; matanya menatap tajam ke arah bus dengan tatapan yang menjanjikan bahwa ini belum berakhir.
Bus itu melaju cepat, meninggalkan Alden yang semakin mengecil di kejauhan.
Aleta berjalan ke kursi kosong dan langsung duduk di sana tanpa memperhatikan sekitar.
Aleta menyandarkan kepalanya pada jok kursi bus yang keras, memejamkan mata. Rasa sakit di kakinya yang terluka dan rasa linu yang hebat di panggulnya kini seolah tak lagi terasa karena luapan rasa lega yang mulai mengalir. Ia menang. Ia berhasil lolos.
🌍🌍🌍
di tengah hiruk-pikuk penumpang bus yang tidak peduli pada gadis berpenampilan berantakan di sudut kursi, pikiran Aleta mulai dihantui oleh satu ketakutan baru: Apa yang akan dilakukan Alden setelah ini?
Dia tahu Alden bukan orang yang bisa menerima penolakan. Rumahnya, sekolahnya, lingkungannya—semuanya kini menjadi wilayah berbahaya. Dia tidak bisa pulang ke rumahnya sendiri karena Alden pasti tahu di mana dia tinggal. Dia tidak bisa kembali ke sekolah karena Alden adalah orang paling berpengaruh di sana.
Aleta membuka matanya, menatap keluar jendela ke arah jalanan kota yang sibuk. Dia tidak punya tujuan. Dia hanya punya pakaian piyama yang kotor dan sisa-sisa trauma yang belum kering.
Saat kondektur bus mendekat untuk menagih ongkos, Aleta baru sadar ia tidak membawa apa pun—tidak ada dompet, tidak ada ponsel, tidak ada identitas.
Aleta menunduk dalam-dalam, jemarinya meremas kain piyama yang sudah kotor dan bernoda. Saat kondektur berdiri di hadapannya dengan tatapan menuntut, suara Aleta keluar sangat pelan, bergetar hebat menahan sisa tangis dan rasa sakit fisik yang luar biasa.
"Maaf... saya... saya tidak membawa uang," bisiknya, suaranya parau. "Tolong... biarkan saya tetap di sini sebentar saja."
Ia merasa sangat terhina. Penampilannya yang kacau, rambut kusut, dan tubuh yang gemetar pasti membuat kondektur itu curiga. Aleta bersiap untuk diusir paksa, membayangkan dirinya kembali terdampar di jalanan di mana Alden bisa menemukannya kapan saja.
sebelum kondektur itu sempat mengeluarkan makian atau usiran, sebuah tangan yang tenang tiba-tiba muncul dari kursi di samping Aleta. Tangan itu memegang beberapa lembar uang kertas dan sebuah tiket perjalanan antarkota.
"Ini untuknya," suara itu rendah, tenang, dan memiliki otoritas yang sangat berbeda dengan nada dingin milik Alden. "Dan ini tiketnya sampai ke terminal pusat."
Aleta tersentak dan menoleh. Di sebelahnya duduk seorang pria tampan yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya, mengenakan jaket hoodie gelap dan topi yang sedikit menutupi wajahnya. Ia tidak menatap Aleta secara langsung, melainkan tetap memandang ke luar jendela, seolah-olah tindakannya membantu Aleta adalah hal yang sangat biasa.
Kondektur itu terdiam sejenak, mengambil uang tersebut, lalu mengangguk singkat sebelum beranjak pergi meninggalkan mereka.
Aleta masih membeku, menatap tiket di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak mengenal pria ini, namun entah mengapa, kehadiran pria itu memberikan rasa aman yang ganjil, jauh dari aura dominasi mencekam yang selama ini dipancarkan oleh Alden.
"Kenapa..." Aleta mencoba bersuara, tenggorokannya terasa tercekat. "Kenapa kamu membantuku?"
Pria itu perlahan menoleh, menatap Aleta. Matanya tajam namun tidak menghakimi, ada guratan ketenangan di sana yang kontras dengan kekacauan yang baru saja Aleta lalui.
"Kamu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyelamatkan hidup" jawab pria itu singkat. "Dan di bus ini, tidak ada yang perlu ditanyakan tentang masa lalu. Kamu hanya penumpang, sama seperti yang lain."
Ia kembali menatap ke depan, memberikan jarak dan privasi pada Aleta. Namun, suasana di dalam bus yang tadi terasa sangat menakutkan bagi Aleta kini berubah menjadi sedikit lebih terkendali.
🌍🌍🌍
tebak tebakan yu, siap cowonya 👉🏻
jangan lupa like yaa😅