PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titisan Putri
“Selamat pagi, pak. Kenalkan, saya Aiza. Saya karyawan baru di tim promosi.”
Aiza memperkenalkan dirinya pada manajer public relation. Pria berkacamata itu memandangi Aiza sejenak, dari atas sampai bawah. Dia memang sudah mendengar kalau hari ini akan datang dua pegawai baru yang akan bergabung di tim promosi. Pegawai pertama sudah datang, dan yang berdiri di depannya sekarang adalah pegawai kedua.
Pria itu menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengangkat telepon ekstensi di atas mejanya untuk menghubungi bawahannya. Tak berapa lama seorag pria berusia dua puluh akhir masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Haris, kepala tim promosi.
“Haris, ini anggota timmu yang baru,” ujar Ibnu, manajer public relation.
“Selamat pagi pak Haris,” sapa Aiza.
“Kamu ikut saya. Saya permisi dulu, pak.”
Ibnu menganggukkan kepalanya. Aiza melihat sebentar pada pria itu, baru kemudian mengikuti Haris keluar dari ruangan. Keduanya memasuki ruangan lain yang merupakan ruang kerja tim promosi. Terdapat delapan orang yang ada di dalam ruangan. Semua mata langsung tertuju pada Aiza.
“Perkenalkan dirimu.”
“Pagi semua. Perkenalkan nama saya Aiza Fauzia, saya karyawan baru di sini dan ditugaskan di tim promosi.”
“Selamat datang, Aiza,” sambut salah satu pegawai pria dengan ramah.
“Terima kasih, pak.”
“Mejamu di sana.”
Haris menunjuk kubikel yang paling ujung. Aiza segera menuju ke sana. dia menaruh tasnya di atas meja kubikelnya, kemudian menolehkan kepalanya ke kiri. Gadis itu melemparkan senyumannya pada gadis yang duduk di sebelahnya.
“Aiza,” gadis itu langsung memperkenalkan diri.
“Maya.”
“Sudah lama kerja di sini?”
“Sama seperti kamu.”
“Oh, baru juga?”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Maya. Sejenak dia memandangi Aiza, kemudian melanjutkan pekerjaan. Aiza terkejut ketika Haris menaruh sebuah berkas di mejanya. Sontak dia melihat pada atasannya itu.
“Ini adalah company profile tempat rekreasi yang dibangun Infinity Corp dengan Das Archipel. Kamu pelajari dan coba kamu susun konsep promonya seperti apa. Sebelum jam makan siang, harus sudah ada di meja saya.”
“Siap, pak.”
Aiza langsung membuka berkas di tangannya. The Forest adalah salah satu tempat wisata yang baru saja dibuka tiga bulan lalu. Dia sendiri pernah datang ke sana bersama dengan Fara. Sebelum menyusun konsep promo, dia lebih dulu mempelajari tentang The Forest dan mencari tahu tempat wisata sejenis.
Maya melirik pada Aiza. Dia cukup iri, rekan kerjanya itu langsung mendapatkan proyek penting di hari pertamanya kerja. Tidak seperti dirinya yang hanya diminta merekap program promo yang mereka lakukan bulan ini. Aiza nampak tenang mengerjakan tugasnya. Dia menyusun lebih dulu analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunities and Threatment). Singkatnya dia harus menyusun dulu apa yang menjadi kelebihan, kekurangan, peluang dan ancaman tempat wisata itu.
Aiza merentangkan kedua tangannya seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Dia menyimpan dulu hasil kerjanya, baru kemudian meninggalkan kubikelnya. Tiba-tiba saja dia ingin buang air kecil. Sepeninggal Aiza, Maya menggeser kursinya. Dia membaca hasil pekerjaan rekan kerjanya itu. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri, kemudian dengan cepat dia mengetikkan sesuatu. Gadis itu menghentikan apa yang dikerjakannya saat melihat Aiza masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat dia kembali ke tempatnya semula.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Aiza langsung mengeprint hasil kerjanya tadi. Setelah menyusun hasil print-nya, dia memasukkan ke dalam map, kemudian menuju ruangan Haris.
“Masuk!” seru Haris.
Aiza masuk ke dalam ruangan. Haris yang sedang berkutat dengan ponselnya segera mengangkat kepalanya.
“Ada apa?”
“Tugas yang bapak kasih, sudah selesai.”
Haris melihat jam di pergelangan tangannya, waktu baru menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Aiza menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari dugaannya. Tidak salah kalau gadis ini masuk melalui jalur rekomendasi. Ternyata sepada dengan kemampuannya.
“Kamu langsung berikan pada pak Irzal dan presentasikan langsung di depannya.”
“Hah? Saya, pak?”
“Iya. Kan kamu yang nyusun konsepnya.”
“Ngga diperiksa dulu sama bapak?”
“Biar pak Irzal langsung yang periksa.”
“Waduh, mamvus gue. Ck.. harus ketemu sama beruang kutub,” gerutu Aiza dalam hati.
Walau enggan, akhirnya Aiza melakukan apa yang diminta Haris. Bagaimana pun juga pria itu adalah atasannya. Gadis itu keluar dari ruangannya, kemudian segera menuju lift. Dia masuk ke kotak besi tersebut, lalu memijit tombol 11. Lift yang dinaikinya bergerak naik. Hanya sebentar saja Aiza sudah sampai di lantai 11. Gadis keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Irzal. Sebelum mengetuk pintu, Aiza menarik nafas panjangnya dulu.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!”
Tangan Aiza menggerakkan handle pintu. Kepalanya yang lebih dulu masuk. Dia melemparkan cengirannya ketika melihat Irzal dan Aidan tengah menatapnya. Gadis itu segera masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi menjelang siang, pak. Kenalkan saya Aiza, karyawan baru di bagian promosi.”
“Kapan masuk?” tanya Aidan.
“Baru hari ini. Masih fresh from the oven, hehehe..”
“Terus, ngapain kamu ke sini?” tanya Irzal dengan wajah tanpa ekspresi.
“Ya kali bapak berdua kangen pengen lihat wajah cantik saya.”
Apa yang dikatakan Aiza sontak memancing tatapan tajam Irzal. Kembali gadis itu melemparkan cengiran.
“Bersyanda pak.. bersyanda.. hehehe.. saya diminta pak Haris menyerahkan hasil kerja saya. Tadi saya diminta menyusun promosi The Forest.”
Aiza menyerahkan map di tangannya. aidan mempersilahkan Aiza untuk duduk. Gadis itu mendaratkan bokongnya di sofa single. Dia cukup lega ada Aidan di dalam ruangan. Setidaknya pria itu lebih ramah lingkungan dibanding Irzal.
“Ini kamu yang susun?” tanya Irzal.
“Iya, pak.”
“Kamu juga yang ngetik?”
“Iya, pak. Masa OB yang ngetik.”
“Sebelum diprint dicek dulu, ngga?”
“Ngga sih. Tapi saya yakin ngga ada yang salah kok.”
“Sini..”
Irzal menggerakkan jari telunjuknya, meminta Aiza untuk mendekat. Gadis itu bangun dari duduknya, kemudian mendekati Irzal. Pria itu meminta Aiza sedikit membungkukkan tubuhnya. Tanpa merasa curiga Aiza melakukannya, dan
PLETAK
Sebuah sentilan mendarat di kening gadis itu. Aiza langsung mengaduh seraya mengusap keningnya.
“Sakit, bang Bibie!” protes Aiza.
“Kamu bisa ngetik, ngga? Ini dua halaman typo semua isinya.”
“Masa sih?”
Karena tidak percaya, Aiza mengambil kertas di tangan Irzal. Benar saja, terdapat cukup banyak typo di dua halaman terakhir. Kening gadis itu mengernyit, setahunya tadi dia sudah mengecek dan tidak ada typo sama sekali.
“Betulin dulu proposalnya. Baru nanti kamu presentasi.”
“Iya, bang.”
“Ini kantor!”
“Eh iya, pak. Jangan marah-marah napa, pak. Nanti cepat tua loh.”
Melihat mata Irzal yang sudah melotot, Aiza buru-buru pamit kembali ke ruangannya. Tadinya dia berpikir akan mendapat pujian karena berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Namun ternyata sentilan yang didapat.
🍄🍄🍄
“Aiza!”
“Fara!”
Aiza melambaikan tangannya ketika melihat sepupunya. Bergegas dia keluar dari gedung kantor Infinity Corp. Fara memang sudah berjanji akan menjemput Aiza sepulang bekerja. Sepupunya itu tidak diperbolehkan membawa mobil selama seminggu oleh ayahnya. Sambil berlari Aiza menghampiri sepupunya. Hampir saja gadis itu terjatuh kalau tidak langsung dipegangi oleh Fara. Jalanan memang sedikit licin setelah diguyur hujan deras tadi siang.
“Hati-hati..”
“Mobil lo mana?”
“Parkirnya jauh. Harus jalan dulu.”
“Ah elo, kenapa parkirnya jauh.”
“Tadi gue mampir dulu ke More and Most Coffee. Gue parkir di dekat sana.”
“Minuman buat gue mana?”
“Beli sendiri. Kaga modal amat.”
“Dih.. dasar perekel jahe.”
Aiza langsung berlari meninggalkan Fara yang hampir saja berhasil menjitaknya. Dia berlari pelan menyusuri trotoar jalan yang ditumbuhi pepohonan. Kemudian timbul ide jahilnya. Dia menarik salah satu ranting pohon lalu melepaskannya. Tentu saja Fara yang berjalan di belakangnya terkena siraman air yang ada di dedaunan.
“AIIIIIIII!!!” teriak Fara kesal.
“Hahaha..”
Tak mau kalah, Fara pun melakukan hal yang sama. Kini giliran Aiza yang terkena air. setiap melewati pohon, keduanya selalu melakukan itu. Aiza berlari mendahului Fara. Dia menuju pohon yang jaraknya agak jauh. Kemudian dia menarik ranting pohon yang cukup lebat daunnya. Dilepaskannya pegangannya di ranting dan air di daun langsung jatuh menimpa orang di belakangnya.
“Hahaha.. mandi basah lo, Far.”
Aiza membalikkan tubuhnya. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang terkena siraman air bukanlah Fara, melainkan seorang pria muda yang tak dikenalnya. Pria itu menatap tajam padanya.
“Ya ampun…”
Aiza menutup mulut dengan kedua tangannya. Fara yang ada di belakang pria itu hanya tertawa saja sambil memegangi perutnya.
“Maaf om! Ngga sengaja!” setelah mengatakan itu, Aiza langsung kabur.
🍄🍄🍄
Siapa yang kena siraman air sisa hujan?
Siapa yang pernah narik² ranting habis hujan? Ayo ngaku,biar satu server sama aku😂