Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.
"Aaarrgghhh, di mana ini?" rasa pening kembali melanda hingga membuatku tak berani membuka mata lagi.
Sekilas aku teringat akan pertengkaran dengan tunanganku sebelumnya yang membuatku kehilangan fokus saat berkendara, hingga terjadilah kecelakaan itu.
Tanganku reflek memijat kening.
"Hei, mommy sudah sadar," suara gadis kecil memaksaku untuk membuka mata.
Pandangan yang awalnya kabur lama-lama menjadi terang, hingga nampak jelas di depan mataku kedua bocah tampan dan cantik nan polos sedang menatapku.
"Hai mommy," sapa keduanya.
"Mommy?"
Beberapa waktu mengenal keluarga ini, tak disangka ternyata aku melihat wajah yang sangat mirip denganku.
Hingga dirinya berani mengajakku bertukar peran, yang membawaku terlibat semakin dalam.
Bisa kah aku lepas dan menjauh? Atau malah jatuh semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shift Malam
Mau kemana?" tanya Kirani dari atas tempat tidur saat melihat Maxime telah berpakaian rapi lagi.
"Cari angin," kata Maxime tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
Dengan mobil sport Maxime keluar dari gerbang utama menuju tempat di mana teman-temannya sudah menunggu di sana.
Di sebuah klub malam, beberapa teman sudah menunggu.
"Aku dengar istri lo sudah balik, tapi kenapa tuh wajah masih ditekuk aja?" goda Axel.
Maxime Bagaskara membanting pantatnya di samping Axel.
"Kasih gue minumannya," pinta Maxime.
"Tumben? Kulihat lo sudah lama nggak minum" seru Axel.
"Stresss gue," Maxime meneguk gelas yang hampir terisi penuh itu.
"Mendingan kayak gue. Nggak usah berkomitmen. Daripada bikin pusing," ujar Axel.
Axel seorang cassanova yang terkenal di seantero klub malam yang tersebar di berbagai tempat itu.
"Gue bukan lo," balas Maxime.
"Daripada lo sekarang, kondisi gue lebih baik. Kewarasan gue masih terjaga karena bebas nggak terkekang," jawab Axel sombong.
"Siap-siap aja lo kena azab," olok Maxime.
"Lo nyumpahin gue, sialan" umpat Axel.
"Jelas lah. Lo tinggal tunggu waktu aja, akibat perbuatan lo yang suka celap celup itu," ejek Maxime.
"Gue begini juga karena lo," ungkap Axel.
"Apa? Patah hati karena Kirani lebih pilih gue daripada lo,"
Axel mengiyakan.
"Move on Bro. Ada cewek lain selain istri gue," imbuh Maxime.
"Tapi gue cintanya sama Kirani," balas Axel.
Meski mencintai Kirani, tapi Axel rela dan ikhlas jika Maxime yang menjadi suaminya.
Terang aja rela, Maxime lebih segalanya daripada Axel. Meski Axel juga berasal dari keluarga terpandang.
Tapi satu yang pasti, pilihan Kirani memang jatuh pada Maxime Bagaskara.
"Betewe, kenapa lo stress? Kirani buat ulah lagi?" tanya Axel.
"Hhhmmm, nggak sih. Seperti biasa, kebiasaan hang out dan tak perduli sama anak-anak tetap Kirani lakuin," kata Maxime.
"Terus apa yang buat lo galau seperti abege putus cinta gitu?" ejek Axel.
Maxime menceritakan kejadian yang dialaminya dua hari ini.
"Hah? Jadi ada Kirani kedua? Namanya Kirana?" tukas Axel kegirangan.
"Nggak mungkin. Kirani tak punya kembaran," kata Maxime menegaskan.
"Yeee.... Kali aja lo ada yang terlewat tentang silsilah keluarganya," timpal Axel penuh keyakinan.
"Nggak lah. Almarhum mertua gue nggak pernah cerita kalau Kirani ada kembaran. Kirani itu anak tunggal bro," tanggap Maxime.
"Tapi gue nggak habis pikir, buat apa Kirani akting kecelakaan dan seterusnya itu?" seru Axel.
"Makanya itu, gue harus cari tahu bro," Maxime beranjak setelah menghabiskan minuman yang tinggal separuh gelas itu.
"Mau kemana?" tanya Axel.
"Balik," jawab singkat Maxime.
"Isshhhh nggak seru lo. Jam segini sudah balik aja," kata Axel. Sementara teman yang lain pada turun melantai mengikuti musik yang lumayan mengganggu ritme gendang telinga.
Maxime mengangkat tangannya dan tetap beranjak pergi.
Ternyata setelah kepergian Maxime, Axel pun pergi juga.
.
Dengan rasa malas masih terasa, Kirana beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana?" tanya Berlian yang malam itu menginap di kos Kirana.
"Nih ada pesan barusan masuk. Kata kak Mega gue suruh gantiin Bondan,' ungkap Kirana.
"Emang lo masih ada ponsel? Katanya ponsel lo belum balik?" tanya Berlian.
Kirana menunjukkan ponsel jadul yang berbentuk pengasah pisau itu ke arah Berlian.
"Senjata pamungkas," canda Kirana saat mengangkat ponsel yang amat sangat lawas itu. Berlian terkekeh menanggapi.
"Kemana Bondan ?" tanya Berlian.
"Sakit katanya,"
"Lo juga sakit Kir. Kenapa musti lo yang gantiin? Gue aja yang berangkat," seru Berlian.
"Nggak usah Ber, yang ada malah gue ngerepotin lo mulu," tolak Kirana.
"Nggak papa lah. Anggep aja gue mau gantiin dua hari kemarin yang gue nggak masuk kerja tanpa ijin," jelas Kirana menambahkan.
"Kak Mega sepertinya sayang sama gue. Mau nambahin uang lemburan," ucap Kirana seraya menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Gue anterin deh. Ntar gue langsung balik," tukas Berlian.
"Ngapain balik? Lo tidur sini aja," kata Kirana.
"Nggak mau ah. Penunggu kos nya aja kerja, ngapain gue tetep di sini," tolak Berlian.
Minimarket tempat mereka bekerja memang buka dua puluh empat jam. Dan shift terbagi tiga. Karena Bondan kena shift malam ijin sakit maka Kirana musti menggantikan.
"Hati-hati Kir. Besok kabarin, gue jemput," kata Berlian saat sampai di depan toko.
"Bawel ah. Gue naik ojek online aja," jawab Kirana.
Kirana masuk minimarket dan mulai sibuk operan dengan teman yang shift sore.
"Kirana, gue balik ya," pamit temannya.
"Oke, hati-hati kalian," Kirana melambaikan tangannya ramah.
Kirana adalah sosok cewek yang supel dan ramah pada siapa saja.
Banyak juga pengunjung toko yang suka menggodanya, bahkan terang-terangan minta nomor ponselnya.
"Mumpung sepi, gue stok barang aja biar nggak ngantuk," gumam Kirana.
Kirana mengambil buku stok dan mulai mengelilingi etalase demi etalase yang terisi banyak barang dagangan.
Jam hampir menunjukkan tengah malam saat segerombolan anak muda masuk ke dalam toko.
Ngeri-ngeri sedap kalau ada pengunjung yang model beginian.
"Selamat datang, selamat belanja," sapa Kirana.
"Wah...wah...ternyata cewek cantik yang jaga. Godain yuukkkk," ujar salah satu cowok yang memandang ke arah Kirana.
'Mati aku, mereka mau ngapain?' hati Kirana begidik ngeri karena beberapa cowok mendekat ke arah meja kasir, apalagi teman cowok satu shiftnya tadi pamit ingin ngopi sebentar.
"Jaga sendirian Non, mana temannya?" seru cowok itu.
Satu cowok meringsek masuk ke dalam area kasir membuat Kirana tersudut ke pojok.
"Kalian mau apa? Di sini ada cctv yang bisa merekam semuanya," jelas Kirana.
"Ha...ha... Kita tak takut sayangku," sela yang lain.
Bunyi jantung Kirana tak karuan, keringat dingin mulai mengucur. Rasa takut muncul begitu saja. Hanya doa yang bisa disematkan. Semoga ada seorang pangeran tampan yang menolongnya. Eh keliru, semoga ada dewa penolong yang turun dari khayangan khusus untuk membantu Kirana Larasati.
Author kok malah kemana-mana sih? Omel Kirana dalam hati. Tak tahu apa kalau gue beneran takut.
Orang yang masuk ke area kasir mengeluarkan senjata tajam dan menodongkan ke arah Kirana.
"Buka laci uang kamu!" gertaknya.
Dengan tangan gemetaran Kirana membuka kunci laci. Kirana dengan sengaja melakukannya pelan-pelan, untuk menunggu seseorang masuk toko untuk menolongnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Happy Reading
Like, komen n' vote nya
Hadiah juga boleh deh. Ini mah author ngarep 😜
Kirana sudah mengandung lagi
Maxime & keluarga besar sudah bahagia
terima kasih thor🥰🥰🥰
harus bersedih atau bahagia ini😁
siapa yg telpon Maxime ?
kunci semua rahasia Kirana & Kirani ada di tangan Morgan ? ayo temukan Morgan segera Ricky
Fighting
yang lagi ngidam rujak cingur😄
suruhan Maxime atau Axel ?