NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Bukan Papa-mu

"Aku bukan papanya."

Suara Arya memotong halaman yang mendadak sunyi.

Ia tidak menyambut tubuh Tata yang didorong ke arahnya. Arya justru bergeser agar anak itu tidak menabrak bahu kirinya, lalu menahan punggung kecil Tata dengan tangan kanan sampai kakinya kembali seimbang.

"Dan kamu tahu itu, Vanya."

Tangis Tata berhenti sesaat. Vanya berdiri dengan wajah pucat yang terlalu sempurna.

"Aku hanya ingin dia merasa punya keluarga," katanya lirih.

"Jangan mengajari anak memanggil orang lain Papa untuk menciptakan adegan."

Bisik-bisik muncul dari beberapa orang yang tadi menoleh. Reza membuka mulut, menutupnya, lalu membuka lagi.

"Ndan," katanya pelan tetapi masih cukup terdengar, "jadi ini bukan anak Ndan yang selama ini disembunyikan?"

Arya menatapnya.

"Saya hanya memastikan fakta sebelum meluruskan gosip," Reza buru-buru menambahkan.

"Kamu baru saja menciptakan kalimat gosipnya."

Reza langsung berdiri tegak. "Siap. Saya tidak akan mengulanginya."

Sayangnya, beberapa orang sudah saling pandang. Keisha tahu bantahan sering berjalan lebih lambat daripada pertanyaan yang memancing imajinasi.

Arya menghadap orang-orang di sekitar halaman. "Anak ini tidak memiliki hubungan biologis atau hukum dengan saya. Dia pasien yang berhak mendapat privasi. Jangan sebarkan foto, nama, atau dugaan apa pun."

Nada komandonya membuat beberapa ponsel yang sempat terangkat langsung turun. Seorang petugas keamanan meminta orang-orang membuka jalan menuju IGD.

Keisha merasakan sebagian tekanan di dadanya surut. Arya tidak hanya membantah untuk menjaga namanya sendiri. Ia juga menutup ruang agar Tata tidak berubah menjadi bahan tontonan.

Tata meringis dan memegang balutan. Keisha segera berjongkok di dekatnya.

"Lengannya sakit lagi?"

Anak itu menoleh kepada Vanya sebelum menjawab. "Tante jahat."

"Tata," kata Keisha tetap lembut, "Tante boleh periksa bagian luar perbannya? Tidak dibuka."

Tata ragu, lalu mengangguk kecil.

Balutan masih bersih dan tidak terlalu ketat. Jari-jarinya hangat, warnanya baik, dan bisa digerakkan. Keisha meminta Vanya memberi pereda nyeri sesuai instruksi tertulis bila waktunya sudah tepat, bukan menambah dosis sendiri.

"Kita harus kembali ke dalam untuk menyelesaikan surat pulang dan jadwal kontrol," katanya.

"Mas Arya bisa menggendong Tata," jawab Vanya. "Dia biasanya tenang kalau bersama Mas Arya."

"Tidak," kata Arya.

Vanya menatapnya seolah baru ditampar. "Kamu bahkan tidak mau menenangkan anak yang sakit?"

"Aku tidak akan ikut dalam kebohonganmu. Tata bisa berjalan dengan pendampingnya. Kalau dia terlalu sakit, petugas menyediakan kursi roda anak."

Keisha berdiri dan memberi isyarat kepada perawat. Sebuah kursi roda kecil dibawa keluar. Tata duduk setelah dibujuk, lalu mereka kembali ke IGD.

Di ruang edukasi, dokter jaga menjelaskan kembali perawatan luka. Keisha tidak mengambil alih. Ia hanya memastikan Vanya mampu mengulang jadwal obat, cara menjaga balutan, dan tanda bahaya dengan benar.

"Di tempat menginap, pindahkan minuman panas dari jangkauan anak dan jangan memakai taplak yang bisa ditarik," kata Keisha. "Pastikan ada orang dewasa di dekat Tata saat makan."

"Saya hanya meninggalkannya sebentar," jawab Vanya.

"Kecelakaan bisa terjadi dalam beberapa detik. Ini bukan soal menyalahkan, tetapi mencegah luka berikutnya."

Keisha meminta perawat memberi lembar keselamatan rumah dan nomor layanan jika balutan basah atau terlepas. Vanya menerimanya dengan senyum tipis, lalu menyelipkannya ke dalam tas tanpa membaca.

"Tolong baca sebelum pulang," kata Keisha.

Tatapan mereka bertemu. Kali ini Vanya membuka lembar tersebut dan membaca bagian pertama di depan petugas.

"Siapa wali atau pengasuh utama Tata?" tanya petugas untuk melengkapi formulir.

"Saya," jawab Vanya. "Dia tinggal dengan saya."

"Hubungan dengan anak?"

Vanya berhenti sepersekian detik. "Keluarga. Saya yang merawatnya."

Keisha menangkap jeda itu. Namun formulir administratif bukan tempat menuduh tanpa data. Ia hanya memastikan nomor kontak dan alamat yang diberikan dapat diverifikasi oleh tim administrasi.

Setelah obat dan jadwal kontrol diserahkan, Vanya mengangkat Tata ke dalam gendongan. Kali ini ia tidak memaksa anak mendekati Arya.

"Kamu berubah," katanya kepada Arya di koridor. "Dulu kamu tidak sedingin ini kepada anak kecil."

"Aku tidak dingin kepada Tata. Aku menolak caramu menggunakan dia."

"Suatu hari kamu akan menyesal mengatakan itu."

Vanya pergi dengan langkah terukur. Tata menatap dari atas bahunya sampai pintu tertutup.

Reza mendekati Arya. "Saya akan meluruskan kepada orang yang tadi dengar bahwa Ndan bukan ayahnya."

"Cukup sampaikan fakta. Jangan menambahkan teori."

"Siap. Tapi kalau ditanya anak siapa?"

Arya menatap pintu tempat Vanya menghilang. "Bukan urusan mereka."

Keisha mendengar jawaban itu. Sedikit lega karena penolakan Arya begitu jelas, tetapi pertanyaan lain justru tumbuh.

Di area parkir yang lebih sepi, ia akhirnya bertanya, "Tata sebenarnya anak siapa?"

Arya memasukkan tangan kanan ke saku. "Bukan anakku. Itu yang perlu kamu tahu sekarang."

"Kenapa hanya itu?"

"Karena kisah anak itu melibatkan orang lain dan tanggung jawab lama yang belum boleh kuceritakan sembarangan."

"Apakah kamu sendiri yakin siapa orang tuanya?"

Arya tidak segera menjawab. "Aku yakin aku bukan ayahnya. Aku juga yakin Vanya tidak berhak memakai anak itu untuk mengaku kami keluarga. Selebihnya, ada informasi yang saling bertentangan dan harus diverifikasi."

"Kamu sudah tahu dia merawat Tata sejak kapan?"

"Beberapa tahun. Aku pernah diminta memastikan anak tersebut mendapat kebutuhan dasar. Itu bukan hubungan ayah dan anak, dan bukan alasan aku bertemu Vanya diam-diam."

Keisha meneliti wajahnya. "Kenapa kamu tidak bilang sejak pesan pertama?"

"Karena aku keliru mengira diam akan melindungi privasi anak dan menjauhkan Vanya dari kita. Sekarang diam justru memberinya ruang."

Pengakuan itu jujur, tetapi belum lengkap. Keisha ingin percaya pada Arya yang berdiri di bawah hujan dan bersumpah dengan kehormatan. Ia juga tahu kepercayaan tidak bisa hidup hanya dari potongan jawaban.

"Aku istrimu."

"Aku tahu."

"Kamu bilang tidak akan membuatku menjadi orang terakhir yang tahu lagi."

Rahang Arya mengeras. "Aku akan menjelaskan setelah memastikan beberapa hal."

"Kapan?"

"Tidak lama."

Jawaban itu mengingatkan Keisha pada semua pintu yang pernah Arya tutup dengan kata nanti.

"Tidak apa-apa," katanya, meski jelas ada apa-apa.

Arya meraih tangannya. Keisha tidak menolak, tetapi jemarinya juga tidak membalas genggaman.

"Kei."

"Kamu harus kembali ke markas. Saya harus menyerahkan dokumen kredensial."

Ia menarik tangan dengan pelan dan berjalan ke gedung administrasi. Tidak ada pertengkaran, tetapi jarak beberapa langkah di antara mereka terasa lebih dingin daripada halaman rumah sakit.

***

Di dalam mobil, Vanya memasang sabuk pengaman Tata dan meletakkan obat serta instruksi kontrol di samping kursinya. Anak itu mulai mengantuk setelah menangis.

Vanya menutup pintu, berdiri sendirian di sisi mobil, lalu mengirim pesan suara kepada seseorang.

"Dia belum menceritakan kepada istrinya soal Tata," katanya sambil tersenyum. "Bagus. Ruang mainku masih banyak."

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!