Gibran Satya Dinarta, putra tunggal dari pebisnis ternama Asia, Satya Dinarta dan Ranti Dinarta. Gibran merupakan seorang CEO muda di perusahaan GS Group milik keluarganya.
Berbeda dengan CEO yang lain, otak Gibran agak sedikit geser karena sikapnya yang koplak dan somplak.
Dia rapat menggunakan celana boxer, menghadiri pesta pernikahan dengan sandal jepit, dan masih banyak lagi jal konyol dalam dirinya.
Suatu hari dia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Jasmine yang terlihat somplak padahal sifat aslinya sangat dingin dan anggun.
Jasmine bersikap somplak hanya untuk menutupi rasa sakitnya yang berasal dari keluarganya.
Bagaimana jika Gibran jatuh cinta dengan Jasmine? Penasarankan silakan baca..
Alur cerita ini sedikit lambat, jadi jika tidak langsung ke inti, itu adalah faktor kesengajaan.
ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSJC : Chapter 6
"Kok ditutup sih, Bun? Ayah buka lagi ya." Tangan Satya sudah kembali melingkar hendak membuka kancing baju Ranti tapi tangannya langsung di cubit dengan cubitan kecil oleh kuku Ranti yang tajam.
"Rasain nih, tangan nakal!" Ranti merasa puas saat melihat tangan suaminya merah dan langsung membiru.
"Bunda jahat banget sih sama ayah, kasian itu Bun tangan ayah." Gibran melihat ayahnya dengan tatapan prihatin.
"Dasar kucing garong si Bunda." Satya mengumpat sambil menatap Ranti dengan kesal.
"Apa?" Ranti bertanya seolah dia belum mencerna ucapan Satya.
"Gerandong." Satya menjawab lagi dengan kata-kata lain yang membuat Gibran menyembunyikan tawanya.
"Apa?“ Ranti kembali bertanya.
"Andong." Satya menjawab dengan cepat.
"Hah?" Mulut Ranti menganga belum mencerna ucapan suaminya, sedangkan Gibran sudah ngakak sambil berguling-guling di kasur sampai akhirnya jatuh ke lantai.
"Hahaha ... Ayah bilang apa?" ucap Gibran saat berguling-guling.
Bruk ... dia terjatuh, "Aduh, pinggang aku sakit banget."
"Odong-odong, Bun," tutur Satya sebelum menyadari kalau anaknya jatuh dari tempat tidur.
"Angge- angge orong-orong ora melu gawe melu momong." (Angge-angge orong-orong enggak ikut buat ikut merawat.) Ranti dengan asiknya malah bernyanyi dengan keras sambil berjoget.
"Ayah, tolong Gibran! Sakit banget pinggang Gibran, Yah!" teriak Gibran dengan suara yang sudah melemah.
Satya seketika langsung melihat ke ranjang Gibran yang ternyata sudah kosong. Dia pun segera memutari ranjang dan melihat Gibran sedang meringkuk seperti orang kesakitan. Namun, Satya menganggap itu hanya candaan Gibran saja karena anaknya itu sudah sering bercanda seperti saat ini.
"Makannya jangan kaya trenggiling, jatuh kan kamu biar tahu rasa hahaha ...." Satya malah menertawakan Gibran yang benar-benar kesakitan.
"Enak itu, Yah. Tahu rasa balado pedas manis mantul." Ranti membayangkan bagaimana enaknya tahu kriuk yang dibumbui dengan bumbu pedas manis.
Gibran sudah tidak bisa lagi untuk bicara, sakit yang di pinggang sudah tidak dia rasakan tapi sakitnya berganti ke bawah dadanya, rasa perih dan keringat dingin bercucuran dan bayangan ayahnya menjadi dua, tiga dan akhirnya padangan Gibran kabur sampai dia tidak sadarkan diri.
Satya yang melihat mata Gibran tertutup langsung berjongkok dan untuk mengecek apakah Gibran tidur atau pingsan. Namun, saat dia melihat wajah Gibran yang pucat, dia langsung tahu kalau putranya itu bukan tidur tapi benar-benar pingsan. Dan Satya pun panik dibuatnya.
"Bun, anak kita pingsan, badannya dingin kaya es kutub ini, gimana dong, Bun?" ucap Satya dengan suara yang bergetar serak.
"Dia beneran pingsan, Yah?" tanya Ranti ragu namun saat melihat kepanikan di wajah Satya, Ranti jadi percaya kalau anaknya benar-benar pingsan.
"Ya Allah, Gibran kenapa kamu bisa pingsan, Sayang. Bangun Gibran!" Ranti menggoncang tubuh Gibran dengan kuat dan hal itu membuat Satya harus menjitak kepala Ranti.
"Jangan diguncangin, Bun! Kamu mau bikin anak kita mati?" teriak Satya di tengah-tengah kepanikannya.
"Kalau meninggal, nanti kita bikin lagi, Yah," jawab Ranti dengan santainya.
Ya Allah, kenapa aku punya istri kaya gini? Di tengah-tengah kepanikan malah bicara seperti ini. Satya hanya bisa membatin dengan kesal.
"Ayah mau bawa dia ke rumah sakit!" ucap Satya langsung menggendong Gibran dan membawa keluar untuk menuju ke mobil.
"Tak gendong ke mana-mana, tak gendong ke mana-mana enak to? Mantab to? Where are you going?" Sambil berjalan ke garasi, Satya malah bernyanyi dengan garingnya, eh bukan garing tapi girangnya. ( Kalau tanya author mau ke mana, author jawab ke rumah masa depan kita :'))
"Biar bunda yang nyetir, Yah." Ranti langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah anak dan suaminya masuk ke dalam mobil.
***
Sesampainya di rumah sakit, Gibran segera dibawa masuk ke dalam ruang IGD, sedangkan Satya menunggunya di luar ruangan bersama dengan sang istri. Terlihat jelas kepanikan dari wajah Satya dan juga Ranti.
Di dalam ruang UGD, Gibran mulai diperiksa dengan serius. Dokter dan suster saling membantu untuk memeriksa Gibran.
"Sus, suntikan jarum untuk memasang infus ya!" perintah dokter tersebut pada salah satu suster di sana.
"Baik, Dok." Suster yang diperintah segera melakukan tugasnya.
"Pasien ini kenapa, Dok?" tanya suster yang satu lagi karena sangat penasaran. Dia melihat Gibran baik-baik saja hanya saja dia melihat wajah Gibran yang pucat dan hawa dingin yang keluar dari tubuhnya.
"Ya Allah, ternyata pasien ini ...." Dokter tersebut mengecek nadi dan juga detak jantung Gibran, sampai akhirnya dokter itu hanya bisa menghembuskan napas berat.
"Kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Suster saya keluar dulu untuk memberitahukan keadaan pasien kepada keluarganya." Dokter itu langsung keluar setelah suster tersebut mengangguk.
Melihat dokter yang memeriksa anaknya sudah keluar dari ruang UGD, Satya dan juga Ranti segera menghampiri dokter tersebut dan mulai menanyakan keadaan Gibran dengan tidak sabar.
"Bagaimana kondisi putraku, Dok?" tanya Ranti dengan nada panik tapi juga penasaran.
"Bapak dan Ibu, sebaiknya kita bicarakan ini di ruangan saya saja, ya! Biar lebih enak," kata dokter tersebut mendahului mereka ke ruangannya.
"Dokter kira cemilan enak?" ucap Ranti dengan kesal yang langsung diam ketika Satya melotot ke arahnya.
Melotot kenapa sih dia, mau ku congkel kali matanya awas aja nanti di rumah aku ulek jadi perkedel. Ranti membatin dan menghentakkan kakinya dengan kesal di lantai kemudian mengikuti dokter berjalan ke ruangannya.
"Jadi bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Satya setelah duduk di dalam ruangan dokter tersebut.
"Detak jantungnya tadi sangat lemah, Pak. Dan setelah saya periksa denyut nadinya, badannya yang dingin kian terasa dan itu-"
"Maksud Anda apa, Dok? Denyut nadinya berhenti begitu, dia dingin karena dia kenapa?" tanya Ranti dengan berapi-api.
"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi-"
"Tapi apa, Dok? I-ini nggak mungkin, nggak mungkin anakku ... hiks ... hiks ...." Ranti menangis terisak, tubuhnya melorot hingga terduduk di lantai.
"Bunda yang tenang dulu, dokter itu belum selesai bicara kenapa Bunda menyimpulkan sendiri? Jangan nangis kaya anak kecil, Bun!" Satya membantu Ranti untuk bangun dan menyuruhnya duduk di kursi semula.
"Dokter, maafkan istri saya. Silakan Anda lanjutkan lagi!" punya Satya dengan nada seramah mungkin.
"Baik, Pak. Jadi kondisi putra Anda sekarang bisa Anda tebak sendiri, tubuhnya sangat dingin, bibirnya sudah membiru, mungkin kalau Anda membawa pasien kemari lebih awal, hal seperti ini tidak akan terjadi." Dokter itu malah berbicara tidak langsung ke intinya.
"Iya, terus maksud dokter itu apa?" tanya Ranti di tengah isakannya.
Aduh, kenapa bicara dengan keluarga ini susah sekali si? Lebih baik disuruh naik ke puncak gunung yang tinggi-tinggi sekali, kiri kanan ku melihat-lihat banyak pohon cemara.
Dokter tersebut menarik napas panjang kemudian berkata dengan tenang, "Tubuhnya kehilangan banyak energi karena belum mendapat asupan apa-apa hari ini, anak kalian hanya lemas karena belum makan," kata dokter tersebut.
"Hah?" Mulut Ranti menganga saat mendengar penjelasan dokter tersebut, tadi dia sudah mengira kalau anaknya meninggal ternyata hanya belum makan.
"Bun tutup mulutnya nanti ada nyam-" Belum sempat Satya menyelesaikan ucapannya hal yang dia takutkan sudah terjadi.
"Uhuk-uhuk." Ranti terbatuk-batuk saat seekor nyamuk dengan nyamannya masuk ke dalam mulutnya dan tertelan.
"Pffttt ...." Dokter tersebut menahan tawa saat melihat Ranti yang makan nyamuk. Begitu juga dengan Satya, dia menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil tangannya memegangi perutnya yang terasa kaku karena tertawa.
"Bun kalau laper bilang dong! Masa malah makan nyamuk, haha ...."
Bersambung ...
Aku slow update ya sayang, karena sibuk di dunia nyata, dan waktu buat nulis berkurang. Ini aslinya dah update dari berjam-jam yang lalu tapi proses reviewnya dua puluh abad maaf ya.
Ceritanya jangan terlalu banyak nyelenehnya, lebih baik diselang seling biar dapat feelnya. Kalau diterima ya, kalau nggak juga nggak pa"...🤭🤭🤭