Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
"Apa tadi Ayahmu meneleponmu?" Murti menatap wajah cucu semata wayangnya dengan tatapan sendu, dia tahu hubungan anak dan ayah itu jauh dari kata baik.
Meski semua itu tidak lepas dari keterlibatannya namun terpaksa dilakukannya demi kesehatan mental Mutiara.
Saat dia merelakan Mutiara hidup bersama Ayah dan istri kedua serta 2 saudara tirinya setelah putrinya yang tidak lain Bunda dari Mutiara meninggal hatinya benar-benar tidak tenang. Semua itu terbukti satu bulan kemudian Mutiara menyampaikan keinginan untuk ikut dengannya.
Beberapa bulan Mutiara hidup dengan dunianya sendiri dan itu seperti membuat luka Murti semakin menganga setelah kepergian putrinya.
Setelah melakukan konsultasi, beberapa kali menjalani psikoterapi serta keputusan Murti untuk lebih banyak meluangkan waktunya mendampingi serta banyak memberikan dukungan, Mutiara pun perlahan bisa melakukan kegiatan seperti anak-anak sebayanya meski tidak seceria sebelumnya.
Berkat semua itu Murti mengetahui dan mendukung bakat cucunya dalam hal menggambar yang bisa mengalihkan kesedihannya hingga mengantarkan Mutiara menjadi seorang designer.
"Iya Eyang" Jawab Mutiara tersenyum memperlihatkan dirinya tidak terlalu memikirkan ajakan Ayahnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Murti berharap apa yang jadi bahan bicara Mutiara dan Ayahnya tidak berdampak buruk pada Mutiara.
Mungkin saja jika dilihat dari segi usia Mutiara bisa dibilang gadis dewasa namun bagi Murti, Mutiara tidak lebih dari gadis kecil yang membutuhkan banyak kasih sayang dan pengertian dari orang sekelilingnya.
"Maaf Sayang, kalau kamu tidak ingin memberitahu tidak apa-apa, Eyang mengerti" Murti tidak ingin Mutiara salah paham atas semua keingintahuannya pada pembicaraan mereka itu.
Mutiara hanya tersenyum saat melihat semua sikap yang ditunjukkan Murti saat mengetahui Ayahnya menelepon kemudia berkata "Tidak ada yang perlu Mutiara sembunyikan dari Eyang, hanya saja Mutia berpikir apa Ayah menghubungi Eyang juga? Bukankah Mutiara belum menyinggung soal Ayah hari ini?"
"Benar, kemarin Ayahmu menghubungi Eyang menanyakan kabarmu dan meminta izin pada Eyang untuk menghubungimu, lalu tadi dia menelepon lagi memastikan nomor yang kamu gunakan masih nomormu yang lama. Ayahmu mengira kamu sudah mengganti nomor karena kamu lama mengangkat panggilan teleponnya" Eyang Murti menjelaskan panjang lebar agar Mutiara tidak salah paham.
"Kalau begitu apa yang dibicarakan Ayahmu?" Tanya Eyang Murti langsung.
"Ayah tadi meminta Mutiara meluangkan waktu hari sabtu nanti untuk datang ke rumah dan bermalam disana ada sesuatu yang ingin disampaikan Ayah. " Jawab Mutiara tenang.
"Hmm.. Begitu ya! kamu akan menerima ajakannya?"
"Menurut Eyang bagaimana? " Mutiara ingin segala keputusannya selalu ada keterlibatan Eyang Murti. Gadis itu menyadari dirinya bisa seperti sekarang ini tidak lepas dari usaha sang Eyang yang telah banyak mengorbankan banyak hal untuk dirinya.
"Kalau kamu memang punya waktu luang, pergilah. Sudah lama kalian berdua tidak bertemu dan berbicara secara langsung" Usul Eyang Murti yang hanya dibalas anggukan oleh Mutiara. Dia berharap hubungan Ayah dan anak itu bisa diperbaiki karena bagaimana pun Mutiara sebagai anak perempuan membutuhkan wali nikah saat dirinya telah menemukan jodohnya.
"Bagaimanapun dia adalah Ayahmu" Sambung Murti tersenyum pada Mutiara.
"Baik Eyang" Balas Mutiara
"Sekarang pergilah tidur, kamu perlu beristirahat setelah bekerja seharian." Murti menyadari aktifitas yang dilakukan cucunya sangat menguras tenaga fisik dan pikiran jadi saat itu bukan saat yang tepat jika dia menahan Mutiara untuk bertanya banyak hal.
Mendengar titah Murti yang menyuruhnya istirahat sedangkan yang bersangkutan masih tetap setia dengan kegiatannya sendiri mengajak Mutiara untuk segera berdiri dan mendekati Sang Eyang lalu berkata "Eyang juga harus beristirahat, biar Mutiara yang menemani" Meraih tangan Eyang Murti, merangkulnya kemudian berjalan keluar ruang kerja. Tak lupa Murti segera mengunci ruangan itu.
"Benar, kamu harus menemani Eyang malam ini. Kamu sudah dewasa dan makin sibuk, jangan lupakan wanita tua ini," Canda Eyang Murti sambil terkekeh melihat tingkah cucunya.
"Tentu tidak Eyang! Mutiara akan selalu disamping Eyang. Mutiara bisa jadi seperti ini karena didikan Eyang" Mutiara menyahut pelan sambil berjalan mengimbangi langkah kaki Eyang Murti.
"Kalau bisa rubahlah sikapmu, bersikaplah seperti Salana sedikit, kamu itu terlalu dingin untuk ukuran seorang wanita" Mutiara hanya diam mendengar tuntutan Eyangnya meski dikemas dalam kata lembut namun dia tahu ada harapan tersembunyi di setiap katanya.
"Ayo masuk ke dalam kamar Eyang" Murti mengajak Mutiara ke dalam kamarnya. Dia sangat merindukan cucunya itu.
"Aku suka aroma kamar Eyang" Sahut Mutiara sambil mengitari kamar Eyang Murti, dilihatnya dua bingkai foto keluarga membuat Mutiara tersenyum. Jelas ada kerinduan dan harapan yang terkandung didalamnya.
"Wangi minyak angin orang tua kan" celetukkan Murti membuat Mutiara segera membalasnya.
"Wangi pengorbanan seorang wanita kuat yang tetap bertahan demi kehidupan cucunya" ucapan Mutiara membuat Murti tertawa pelan sambil mengelus tangan Mutiara.
"Mulai malam ini temani Eyang tidur. Jangan biarkan wanita tua ini kesepian karena telah ditinggalnya 2 orang kesayangan dan satu lagi mengikut suaminya jauh" Helaan nafas terdengar begitu berat.
"Baik" Mutiara menerima ajakan sang Eyang. Dia juga memiliki keinginan yang sama. Menemani hingga rasa sepi itu tak lagi terasa.
Mutiara membantu Murti untuk membaringkan tubuhnya serta mengatur posisi bantal agar mendapatkan posisi yang nyaman.
Setelahnya Mutiara juga membaringkan tubuhnya disamping Murti.
Keduanya terlelap dengan harapan dan doa yang sama.
.
"Bagaimana jawaban Mutiara?" Tanya Irena, Ibu tiri Mutiara pada Dwi. Dari nada bicaranya ada sedikit keraguan karena dia bertanya pada waktu yang tidak tepat namun rasa penasaran yang muncul sejak beberapa hari yang lalu membuat pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Aku menyuruhnya untuk datang kesini" sahut Dwi sambil membaringkan tubuh dan menutup matanya.
"Hari sabtu ini masaklah masakkan yang sudah kuberitahuka padamu tadi" sambungnya sambil berusaha untuk terlelap.
"Baiklah, tapi menurutmu dia akan menerima keputusanmu itu?"
"Usianya sudah hampir menginjak 29 tahun dan dia hingga kini belum juga dekat dengan lelaki manapun. Aku sebagai Ayahnya tentu saja khawatir"
"Bagaimana dengan Savira?"
Dwi tiba-tiba membuka matanya saat mendengar pertanyaan Irena.
"Kenapa dengan Savira?" Dwi merasa ada sesuatu yang salah dengan pertanyaan itu.
"Kamu juga harus memikirkannya" tuntut Irena yang tidak terlalu menyukai jika Dwi seakan-akan hanya memikirkan putri dari istri pertamanya.
"Apa yang harus dipikirkan, dia sudah beberapa kali membawa kekasih bahkan sekarang dia lagi berhubungan dengan pemuda anak Si Ruslan" Dwi menimpali dengan menyebutkan fakta yang diketahuinya.
"Tapi aku tidak menyetujui hubungan mereka" Sebagai seorang Ibu, Irena menganggap ada sesuatu yang salah dengan pemuda yang sedang menjalin hubungan dengan putrinya.
"Katakan sendiri pada Savira jangan mengeluh padaku" Dwi melanjutkan menutup matanya sambil memunggungi Irena.
"Anak itu susah diatur"
"Dia seperti itu karena kamu tidak mau membantu mendekatkannya dengan Rayden"
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/